(Not) A Perfect Boy

(Not) A Perfect Boy
Part 6



'Rasa itu tlah ada. Entah kamu menyadarinya atau tidak.Tapi nyatanya ia telah diam-diam mengusik pikiranmu'


Happy reading..


.


.


.


Sesampainya, Adeeva langsung membuka helm full face orang itu. Dan Adeeva langsung terbelalak kaget melihat orang yang tergeletak di depannya ini ialah ARSEN.


"Arsen!" Panggil Adeeva sambil menepuk-nepuk pipi Arsen. Beberapa saat kemudian, perlahan Arsen membuka matanya.


"Adeeva lo ngapain disini? Pergi!!! Tempat ini berbahaya!" Ucap Arsen pelan dan berusaha bangun.


"Terus gue ninggalin lo disini? Gitu?" Balas Adeeva dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Lo b*go atau apasih? Kalau lo tau tempat ini berbahaya, lo ngapain malah datang kesini!" Lanjut Adeeva sambil membantu Arsen bangun lalu memapahnya ke pinggir jalan. Arsen mengeluarkan handphonenya yang layarnya sedikit retak karena terjatuh tadi lalu menelpon supirnya untuk menjemputnya.


"Lo ngapain disini malam-malam?" Tanya Arsen.


"Gue abis jalan-jalan tadi. Tapi waktu gue mau pulang gak ada taksi ataupun angkot yang lewat," ungkap Adeeva.


"Lo sendirian?"


"Ya iya sendirian. Emang mau sama siapa coba."


"Harusnya lo bilang kalau mau jalan-jalan sama gue atau Resya. Gimana kalau lo kenapa-napa di jalan?"


"Iya sorry gue takut ganggu, terus lo sendiri ngapain disini? Balapan?" Tanya balik Adeeva.


"Iya," jawab Arsen dengan lesuh.


"Lo kenapa sih harus ikut balapan? Apa lo nggak peduli sama nyawa lo sendiri? Apa lo nggak peduli sama orang-orang yang sayang sama lo ngeliat lo kek gini? Apa elo nggak peduli bagaimana khawatirnya orang yang sama lo, gue nggak habis sama lo," ucap Adeeva.


"Lo nggak ngerti Va apa yang gue rasain," balas Arsen sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pandangan kosong.


"Gue gak bakal ngerti kalau lo nggak pernah mau bilang sama gue apa masalah lo. Arsen semua orang punya masalah sendiri yang membedakan cuma bagaimana cara orang itu menyelesaikan masalahnya."


"Inilah cara gue menyelesaikan masalah."


"Tapi apa masalah lo terselesaikan? Apa dengan ngerokok sama balapan masalah lo langsung hilang?"


"Nggak."


"Terus kenapa lo ngelakuin itu?"


"Gue gak tau harus ngapain Va," ucap Arsen dengan nada frustasi.


"Banyak hal-hal positif yang bisa lo lakuin. Pikirin mateng-mateng cara yang bisa buat masalah lo itu selesai," nasehat Adeeva.


"Gue usahain."


"Arsen gue boleh minta satu hal nggak sama lo?"


"Apa?"


"Jangan bikin gue khawatir lagi sama lo?"


***


Adeeva merebahkan tubuhnya di kasur, ia masih kepikiran dengan Arsen. Sedikit demi sedikit ia mulai tahu tentang cowok itu. Tiba-tiba Adeeva menepuk pelan keningnya.


"Gue kenapa ngomong kek gitu tadi, kalau Arsen gr gimana? Bisa-bisanya gue ngomong kek gitu sama dia. Begoooo...b*go....begooo," gumam Adeeva lalu menenggelamkan kepalanya di bantal.


Esoknya, Adeeva baru saja selesai mandi. Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk oleh Mamanya. Adeeva pun segera membuka pintu lalu menyembulkan lepalanya keluar.


"Ada apa Ma?"


"Itu, di depan ada temen kamu."


"Siapa Ma?"


"Mama tidak tau namanya tadi lupa tanya. Kamu ngapain seperti itu?"


"Baru selesai mandi Ma."


"Yaudah cepet pakai baju dan dandan yang cantik. Ntar teman kamu kelamaan nunggunya."


Baru saja Adeeva mau bertanya temannya yang datang itu cewek atau cowok. Tapi yasudah lah mungkin itu Resya.


Tak lama kemudian Adeeva pun keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang tamu.


"Arsen? Lo ngapain disini?" Tanya Adeeva langsung saat melihat Arsen yang sedang duduk di sofa ruang tamu rumahnya.


"Emang gak boleh ya? Yaudah gue pulang ya," balas Arsen hendak beranjak tapi Adeeva menahannya.


"Ehh jangan. Sorry tadi gue kirain Resya."


"Okay."


"Btw ada tujuan lo ke sini?"


"Gue mau ngajak lo jalan."


"Lo kan masih sakit, mending lo istirahat aja dulu di rumah supaya cepet sembuh."


"Bawel, gue udah mendingan. Kalau gue di rumah bisa mati kebosanan gue. Lagian gue bawa mobil jadi gampang."


"Yaudah gue minta izin dulu sama mama gue dulu."


"Gak usah gue udah minta izin tadi. Lagian mama lo lagi ke pasar."


"Yaudah kalau gitu kita berangkat."


"Ayoooo," balas Arsen lalu menggandeng tangan Adeeva keluar rumah.


"Gue kunci pintu dulu."


"Ok."


Mereka pun akhirnya berangkat untuk jalan-jalan. Mereka mengunjingi banyak tempat. Kebersamaan itu membuat keduanya merasa bahagia. Senyum bahagia tak pernah lepas di bibir keduanya dengan tangan saling terpaut.


"Tangan kamu telah diciptakan Tuhan dengan sangat pas untuk mengisi ruas di tanganku," Ucap Arsen memandangi tautan tangan mereka.


"Gombal!" Balas Adeeva dengan salting.


"Gak gombal kok. Nihh coba liat pas kan?" Tanya Arsen mengangkat tautan tangan mereka dengan menaik turunkan alisnya.


"Paan sihh nggak kok," elak Adeeva dengan muka sudah memerah dan mencoba melepaskan tangannya.


"Gak usah dilepas ntar tangan gue terasa hampa gak ada tangan lo yang ngisi setiap ruasnya," cegah Arsen.


Tak terasa sudah sore, Arsen dan Adeeva sudah berada di dalam mobil. Tak lama kemudian mobil berhenti dipekarangan rumah yang sangat besar dan megah.


"Ini dimana?" Tanya Adeeva pasalnya dia kira Arsen bakal langsung mengantarnya pulang ke rumah. Tapi sekarang malah berhenti di depan rumah megah.


"Ini di rumah gue, gpp kan kalau kita mampir sebentar?" Jawab Arsen.


"I...ii..iiyyyaaa gpp kok," balas Adeeva gugup. Lalu Arsen pun turun dan membukakan pintu mobil buat Adeeva. Mereka memasuki rumah Arsen. Dan baru saja mereka masuk tiba-tiba ada yang menghampiri mereka.


"Hai Boy, daritadi tante nungguin kamu. Kamu kemana aja? Kata Mbok kamu abis jatuh dari motor," omel tante Karina (tante Arsen).


"Arsen abis jalan-jalan. Arsen udah mendingan."


"Syukurlah kalau kamu sudah mendingan, Tante cuma mau mastiin kamu baik-baik saja. Kalau begitu Tante pergi dulu. Jaga diri baik-baik. Jangan ugal-ugalan bawa motor!" Pamit tante Karina dan berlalu dari hadapan Arsen dan Adeeva.


"Arsen! Itu tadi tante kamu ya? Gue kira mama lo tadi," ucap Adeeva mencairkan suasana yang sunyi.


"Iya."


"Btw mama lo kemana?"


"Bunda....................lagi ada urusan di luar."


"Ohhh gitu."


"Duduk dulu Va."


"Iya."


"Lo mau kan temenin gue belajar bentar? Kan besok jam terakhir ulangan biologi. Nahhh ajarin gue juga kan nilai lo tinggi biologi."


"Belajar? Gak salah? Maksud gue, gue kan gak pintar-pintar amat lo maunya malah belajar ama gue. Sama yang pinter aja Sen, si Yoga tuh atau Titin atau siapa lah."


"Loh emang kenapa? Gini ya, seberapa pintar pun orang di luar sana kalau gue gak nyaman sama mereka, gue gak bakal paham."


"Jadi lo nyaman sama gue gitu?" Tanya Adeeva tapi hanya dibalas senyum manis oleh Arsen.


***


"Ngelamun mulu!" Ucap Resya mengagetkan Adeeva.


"Nggak kok, siapa juga yang ngelamun," elak Adeeva senyam-senyum.


"Napa lo? Tadi ngelamun sekarang senyam senyum, kerasukan lo?" Ejek Resya tapi tak dipedulikan oleh Adeeva yang malah terus senyam-senyum gak jelas.


"Adeeva lo denger gue gak sih!" Teriak Resya kesal.


"Iya." jawab Adeeva singkat yang membuat Resya tambah kesal. Adeeva masih terus senyam senyum sambil menopang dagunya hingga tak sadar kalau Resya mengambil sesuatu di lacinya.


"Ada coklat lagi nih Va. Gue makan ya sebagai ganti lo yang buat gue kesal tadi."


"Iya," jawab Adeeva dan langsung saja Resya melahap coklat itu.


"Hai selamat pagi Adeeva," sapa Arsen yang baru saja masuk kelas.


"Selamat pagi juga Arsen," sapa balik Adeeva dengan muka yang merona.


"Hellow!!! Gue gak disapa juga gitu?" Protes Resya.


"Nggak!" Balas Arsen dan Adeeva kompak.


"Cieeeee kompak tau deh yang jodoh," goda Resya.


"Apaan sih lo Sya," ujar Adeeva sedangkan Arsen hanya tersenyum lalu berlalu ke tempatnya yang di belakang.


"Eh lo ada sesuatu ya sama Arsen?" Tanya Resya penasaran.


"Nggak ada kok. Perasaan lo aja kali," jawab Adeeva.


"Masa sih?"


"Emang gak ada apa-apa kok," tegas Adeeva.


"Yaudah sih santuy, btw kemarin lo kemana aja? Gue telpon gak diangkat, gue ke rumah lo tapi elonya gak ada trus nyokap lo bilang kalau lo lagi jalan sama cowok. Lo jalan sama siapa? Hayyyoooo ngaku!" Tanya Resya.


"Iya emang kemarin gue jalan-jalan."


"Sama siapa?"


"Lo nanya mulu ya dari tadi kayak wartawan aja lo."


"Sama siapa Adeeva? Gue kepo nih jangan sampai gue mati gara-gara kepo sama lo!" Cerocos Resya.


"Sama A-" ucapan Adeeva terpotong oleh guru yang sudah masuk dalam kelas.


"Oh ya Resya kan bilang kalau mereka gak pernah sekalipun ke rumah Arsen. Tapi kan mereka udah sahabatan agak lama. Lah gue? Kenalnya aja baru tapi kok bisa?" Batin Adeeva.


***


Bell istirahat sudah berbunyi tapi Adeeva belum berniat meninggalkan tempat duduknya begitupun dengan Resya.


"Va kira-kira siapa yang ngasih lo coklat ya?" Tanya Resya.


"Mmmm nggak tau," jawab Adeeva.


"Lo nggak berniat cari tau?"


"Nggak!"


"Ck masa lo nggak mau tau siapa secret admirer lo" cibir Resya.


"Bikin repot aja. Lagian gue nggak minta dia ngasih coklat ke gue. Gue gak ada urusan sama dia ngapain gue cari."


"Yaudah sih. Tapi kalau ada lagi beneran gue yang makan ya."


"Iya iya. Kan kemarin gue udah bilang."


"Hehe siapa tau lo lupa."


"Lo pikir gue udah pikun?"


"Yakali aja."


"Ihhh nyebelin."


"Haha canda."


"Lo gak mau keluar kelas?" Tanya Adeeva.


"Nggak! Emang kenapa?"


"Gue mau ke perpus, kalau gitu gue pergi dulu ya bye."


"Bye."


Adeeva pun melangkahkan kakinya menuju perpustakaan. Ia berniat meminjam buku kimia untuk mengerjakan tugasnya. Sesampainya Adeeva di perpus, ia langsung mencari buku yang diinginkannya. Tak lama kemudian, Adeeva sudah menemukannya tapi..... tempatnya tinggi banget. Adeeva yang tingginya hanya 153 cm mana sampai. Nasib orang pendek. Adeeva melompat lompat untuk menggapai buku kimia itu tapi tetap tidak bisa. Baru saja Adeeva mau berbalik untuk mencari kursi tapi terhenti saat ada lengan terulur di atasnya mengambil buku yang diinginkan Adeeva.


"Ini bukunya," ucap orang itu.


Adeeva berbalik untuk melihat orang itu. Dan ternyata.....


-TBC-


Halo gaes jangan lupa like and comment ya.


Maaf kalau membosankanšŸ¤—.