(Not) A Perfect Boy

(Not) A Perfect Boy
Part 33



Happy Reading


.


.


.


Minggu sore, Resya memutuskan untuk bertemu Fandi di salah satu kafeteria.


"Gue udah dapet buktinya," ucap Resya menatap Fandi dengan senyum yang merekah.


Fandi tersentak, "Serius lo? Gue kirain lo ngajak gue ke sini buat nyari bukti. Ternyata udah ada."


"Yap. Kita tinggal ngasih ini ke Adeeva, dan beres." Resya menunjukkan sebuah falshdisk pada Fandi.


"Ini rekaman cctv di club. Lo tau? Wajah seseorang itu terlihat jelas di video ini. Dan gue pastiin Adeeva akan terkejut dan merasa bersalah udah nuduh kita," jelas Resya tanpa diminta Fandi.


"Bukannya rekaman itu sudah dihapus? Kok tiba-tiba lo punya?" Tanya Fandi heran.


"Ada seseorang yang ngasih gue," jawab Resya.


"Hah? Siapa?"


"Gak tau. Tadi malem gue ke club. Gue ngeliat Dion dan gue samperin tapi gue gak diacuhkan. Lalu Dion pergi, gue ikutin. Tiba-tiba ada yang bekap gue. Dan tadi pagi gue bangun di kamar gue sendiri dan ada flashdisk ini di handbag gue," cerita Resya.


"Siapa yang udah bantuin kita. Gak mungkin dia ngelakuin itu tanpa tujuan apapun. Dan lagi, dimana dia tau kalau kita butuh video rekaman itu?" Heran Fandi.


"Gue mikirnya juga gitu. Tapi yaudahlah itu dipikirin nanti. Yang terpenting sekarang kita udah punya bukti. Lo simpan gih." Resya memberikan flashdisk itu pada Fandi.


"Kok gue?"


"Lo kan laki. Kalau ada yang macem-macem bisa lo lawan. Bisa aja kan? Dion tau dan mau hancurin. Dia kan punya banyak mata-mata," bisik Resya.


Fandi meneguk ludahnya kasar. Ia mulai ketakutan. Bela dirinya tidak begitu bagus.


"Lo aja. Lo kan kaya. Sewa bodyguard aja!"


"Kalau gue suka dikawal, udah dari dulu gue terima kemauan mami papi gue buat pake bodyguard!"


"Yaudah gue simpen." Fandi setengah ikhlas menerima flashdisk itu.


"Nah gitu dong! Gue pulang dulu. Bye!" Pamit Resya lalu meninggalkan Fandi.


***


Dalam perjalanan pulang, Resya bersenandung kecil sambil menyetir mobilnya. Hingga tiba-tiba Resya mengerem mendadak saat ada mobil yang menghadangnya.


Kaca mobilnya diketuk secara brutal. Resya dipaksa keluar oleh preman yang terdiri dari beberapa orang. Hingga preman itu mengancam akan memecahkan kaca mobilnya jika ia tidak keluar. Resya akhirnya keluar daripada ia kena pecahan kaca.


Ia diseret oleh preman itu secara paksa memasuki mobil yang mengahadangnya tadi. Resya teru memberontak namun cengkraman di kedua lengannya malah mengerat. Mungkin lengan Resya sudah memerah saat ini.


"Lepasin gue!!!" Teriak Resya.


Ia tak hentinya memberontak hingga membuat para preman kewalahan. Salah satu preman membius Resya bingga cewek itu pingsan.


***


Resya mengerjabkan matanya. Ia melihat sekitar yang nampak kotor karena berdebu. Ia bergidik jijik saat melihat tikus lewat dekat kakinya yang terikat. Wait! Terikat?


Resya terbelalak kaget melihat kaki dan tangannya terikat di kursi. Siapa yang menyekapnya? Ia ingin teriak tapi mulutnya terbekap. Shit!


Pintu ruangan itu terbuka pelan dan muncullah lelaki jangkung. Resya menajamkan penglihatannya melihat siluet pria itu.


"Bagaimana rasanya, hmmm? Enak?" Tanya Dion yang sudah berada di depan Resya.


"Kenapa diam? Tidak punya mulut?" Tanya Dion lagi.


Resya tetap diam. Tak ada niat untuk membalas ucapan Dion dengan mulut terbekap. Ia tak akan melakukan hal yang sia-sia dengan berteriak dengan keadaan seperti ini. Percuma! Dion tidak akan mengerti apa yang ia ucapkan. Yang dilakukan Resya hanya memutar bola matanya malas.


"Ouh aku lupa. Mulut manismu itu masih terbekap. Biar kubantu bukakan. Aku baikkan?" Dion menunduk dan melepasak ikatan kain di mulut Resya.


Dion mengangkat kepalanya menatap Resya dengan jarak sangat dekat. Ia tersenyum menatap Resya.


"Cuihh dasar pengecut!" Resya tersenyum miring hingga membuat amarah Dion mulai terpancing.


"Shut up!" Desis Dion yang tak diindahkan oleh Resya.


"Kenapa? Emang bener kan? Lo tuh beraninya cuma sama yang lemah. Lo itu lebih tua dibandingkan gue dan teman-temen gue. Tapi sikap lo sama sekali gak sesuai sama umur lo itu!" Sinis Resya memalingkan wajahnya.


"Uhukk uhukkkk! Lepasin!" Resya terbatuk karena Dion saat ini tengah mencekik lehernya.


"Kamu! Gadis kecil yang selalu ikut campur urusanku! Kalau kamu tidak ikut campur, aku tidak akan melakukan ini!" Bentak Dion membuat Resya memejamkan matanya sejenak. Ia berusaha mengambil napas untuk berbicara.


"Gue nggak akan ikut campur kalau lo nggak seret gue!" Ucapan Resya yang tertatih itu membuat Dion melepaskan cekikannya.


"Lo kan? Yang ngirim foto-foto gue, Arsen, dan Fandi ke Adeeva? Hingga Adeeva salah paham ke gue? Licik ya lo!"


"Aku ngelakuin itu untuk menjauhkan Adeeva dari cowok itu! Apa kamu tidak bisa mengerti? Kalau aku cinta sama Adeeva?!"


"Ya gue ngerti kalau lo cinta sama Adeeva. Tapi dia itu adik kamu!" Ucapan Resya terbalas dengan tamparan di pipinya hingga terdapat bekas merah dan luka di sudut bibirnya.


"Dari awal aku nggak pernah anggap Adeeva sebagai adik! Dari awal aku nggak setuju atas pernikahan orang tua kami! Tapi tak ada yang mendengarkanku!" Dion mencengkram pipi Resya. Namun Resya memalingkan wajahnya hingga cengkraman itu terlepas.


"Lo gila tau gak. Gimanapun juga, sekarang Adeeva itu adik lo. Lo harus terima keadaan!"


"Jadi, bener kalau lo yang nyelakain Arsen?"


"Tentu saja, siapa lagi? Hanya dia yang selalu membuat moodku hancur, dia selalu menyentuh milikku! Dan aku tidak suka itu. Adeeva hanya milikku. Just mine!" Dion tertawa keras hingga membuat Resya membatin, "Sinting!"


"Dan sekarang. Saatnya kamu mendapat hukumanmu. Kali ini kamu tidak akan lepas!" Dion mengeluarkan sebuah belati. Ia melangkah perlahan mendekati Resya. Resya mulai ketakutan. Apa Dion akan benar-benar membunuhnya?


"Lo gak serius kan?" Tanya Resya gemetaran.


"Tentu saja aku serius!" Balas Dion tersenyum jenaka. Seakan-akan ekspresi ketakutan Resya adalah lelucon baginya.


"Kemana sikap pemberanimu tadi?" Tanya Dion remeh.


"Ahh! Apa kamu tidak mau merasakan belati ini? Jika kamu mati, tidak akan ada yang ikut campur lagi urusanku!" Dion terus mendekati Resya dengan langkah pelan.


"Aarrrggghh!!!" Dion benar-benar menusukkan belati itu diperut Resya. Namun bukan Resya saja yang menjerit kesakitan, Dion pun melakukannya. Karena saat ia menusuk Resya, sebuah belati juga tertancap di punggungnya. Tancapan itu lumayan dalam karena belati itu dilempar oleh seseorang.


Dion berbalik dan melihat si pelempar belati. Seorang pria jangkung yang menurut Dion bahkan lebih tinggi darinya.


Pria itu mengenakan hoodie hitam. Ia tak dapat melihat wajahnya karena keadaan temaram. Apakah pria ini yang menggagalkan rencananya tadi malam?


Dion berusaha membuka belari di punggungnya. Ia mendekati sang pelempar berniat melawannya. Namun sebuah lemparan belati didapatkannya lagi. Kali ini tertancap di sepatunya. Dion pun terjatuh dan meringis kesakitan. Darah terus keluar dari punggungnya dan kakinya.


Pria berhoodie itu mendekat dan meraih tangan Dion lalu mengiris telapak tangan Dion garis vertikal. Pria berhoodie itu masih ingin melanjutkan aksinya namun sebuah suara lirih menghentikannya.


"Tol--long shhh sakit!" Ringis Resya. Ia ingin menahan darah yang keluar dari perutnya namun kedua tangannya masih terikat. Pria berhoodie itu segera menghampiri Resya dan membuka ikatan dan pisau yang tertancap di perut Resya lalu menggendong cewek itu yang kini sudah pingsan. Pria itu meninggalkan ruangan itu tanpa mempedulikan Dion yang merintih kesakitan namun tetap berusaha meraih ponselnya dan memanggil anak buahnya.


***


Adeeva dan keluarganya -minus Dion- kini sedang bersantai di ruang keluarga setelah makan malam.


"Arsen itu anaknya sopan ya. Papa suka," ucap Hendra membuka suara.


"Arsen memang anak yang baik. Sejak dulu kalau mau ngajak pergi Adeeva pasti izin dulu. Gentle!" Imbuh Intan di sebelah suaminya.


Adeeva dan Dhea tersenyum mendengarnya.


"Oh iya kalian tau Dion kemana?" Tanya Hendra pada kedua anaknya.


"Nggak, Pa!" Jawab Adeeva.


"Kak Dion bilang mau ke kantor tadi pagi. Katanya ada berkas penting yang harus ia tanda tangani," jawab Dhea.


"Anak itu. Tidak bisa sehari saja tidak bekerja," ucap Hendra menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tiba-tiba bi Suti datang tergepoh-gepoh.


"Tuan, Nyonya, tuan muda masuk rumah sakit," lapor bi Suti membuat semua yang ada di ruang keluarga itu tersentak.


Mereka langsung ke rumah sakit setelah mengetahui alamat rumah sakit Dion dirawat.


Sesampainya di rumah sakit, mereka memasuki ruang rawat Dion. Didapatinya Dion terbaring dengan posisi miring. Dion tidak memakai selimut hingga kakinya yang terbalut perban terlihat.


"Astagfirullah, Nak. Kamu kenapa bisa begini," isak Intan melihat kondisi putranya.


"Aku gpp," balas Dion memandangi keluarganya satu per satu.


"Kamu jelaskan sama papa. Siapa yang melakukan ini padamu!" Ucap Hendra saat melihat telapak tangan Dion yang terdapat luka garis vertikal. Sudah jelas itu bekas irisan pisau.


"Dan juga kenapa kenapa kak Dion miring gitu? Punggung kakak sakit?" Tanya Dhea heran.


"Habis ditusuk oleh orang yang tidak menyukaiku. Mungkin saingan bisnis," jawab Dion.


Sedangkan Adeeva hanya terdiam. Karena melihat kondisi Dion saat ini mengingatkannya akan kejadian yang menimpanya dulu.


Ponsel Adeeva berdering. Tertera nama Arsen di layar ponselnya. Adeeva segera meminta izin mengangkat telepon.


"Halo."


"Va, kamu dimana?"


"Aku lagi di rumah sakit."


"Jadi kamu sudah tau? Tapi kenapa aku gak liat kamu?"


"Tau apa? Aku kan lagi di ruang rawatnya kak Dion. Kamu di rs juga?"


"Resya, Va. Resya masuk rs. Dia kritis sekarang."


"Kamu dimana?"


"Di depan ruang ICU."


"Aku ke sana sekarang." Adeeva memutuskan panggilan secara sepihak lalu masuk ke ruang rawat Dion.


"Pa, Ma, Adeeva izin keluar dulu ya." Izin Adeeva. Setelah mendapat izin, ia segera keluar menuju tempat Arsen berada.


Saat dekat di ruang ICU, Adeeva bisa melihat Arsen, Ken, dan Sevanya. Ia menghampiri mereka.


"Arsen."


-TBC-