(Not) A Perfect Boy

(Not) A Perfect Boy
Part 28



Happy Reading


.


.


.


Adeeva telah sampai di rumahnya. Ketika ia membuka pintu ia disambut oleh mamanya yang terlihat cemas. Mamanya tidak sendiri. Dia ditemani oleh Dhea.


"Adeeva. Nak kamu dari mana saja? Kami semua khawatir!" Ucap Intan sambil memeluk Adeeva yang tubuhnya terasa lemas dan pucat.


Tak ada sahutan akhirnya Intan melepaskan pelukannya lalu memegang kedua pipi Adeeva. Ia memandangi wajah Adeeva lekat.


"Astagfirullah. Kamu kenapa pucat begini nak? Kamu kenapa bisa kek gini?" Intan menuntun Adeeva duduk di sofa.


"Aku ambilin kak Adeeva air dulu, Ma," pamit Dhe segera ke dapur memangambilkan air untuk kakaknya.


"Kamu dari mana saja? Kamu tau kita semua khawatir. Mama telpon kamu gak angkat. Lalu setelahnya gak aktif. Mama benar-benar khawatir," ucap Intan mengelus kepala Adeeva yang menyandar di sofa.


Tak lama kemudian datanglah Dhea dari dapur dengan segelas air di tangannya.


"Ini kak minum dulu. Aku bantuin," ucap Dhea membantu Adeeva minum.


"Kakak darimana saja? Kami khawatir ,Kak!" Lanjut Dhea setelah Adeeva minum.


"Aku ketiduran di sekolah. Jadinya telat pulang. Hp aku di kelas dan pas aku mau nelpon kalian hp aku lowbat. Maaf ya udah buat Mama sama Dhea khawatir," ucap Adeeva dengan pelan.


"Terus kenapa wajah kamu pucat kek gini?" Tanya Intan.


"Aku tadi lari dari sekolah ke jalan raya, Ma. Mama tenang aja. Aku cuman kecapean aja kok," balas Adeeva.


"Ya ampun kamu pasti belum makan siang kan. Ini udah malam lho. Mama anterin kamu ke kamar. Kamu bersih-bersih dulu ntar mama bawain kamu makan malam. Habis itu kamu istirahat," ucap Intan lalu membantu Adeeva bangun.


"Kalau gitu Dhea ke kamar dulu ya ma." Pamit Dhea.


***


Intan membuka pintu kamar Adeeva. Terlihat Adeeva yang sedang berbaring. Intan menyimpan nampan yang diatasnya terdapat makanan dan minuman untuk Adeeva. Perlahan ia membangunkan Adeeva yang sedang terlelap.


"Adeeva. Bangun dulu yuk makan malam. Nih mama bawain buat kamu. Makan dulu ya, nak. Nanti lanjut tidur setelah makan," ucap Intan membangunkan Adeeva.


Perlahan Adeeva membuka kedua kelopak matanya. Ia pun bangun bersandar di kepala ranjang.


"Mama suapin ya?" Tawar Intan yang langsung ditolak Adeeva.


"Gak usah Ma. Adeeva bisa sendiri. Mending Mama istirahat aja. Lagian Adeeva udah ngerasa lebih baik kok. Jadi Mama gak perlu khawatir," tolak Adeeva halus.


"Mama temenin kamu aja. Kalau kamu sudah habisin makanan kamu, baru mama keluar."


"Yaudah kalau Mama maksa," balas Adeeva lalu memulai makan makanannya hingga habis.


"Papa belum pulang ya, Ma?" Tanya Adeeva setelah meletakkan gelas yang isinya sudah kosong di atas nampan. 


"Papa? Papa belum pulang. Tadi Papa nelpon kalau dia harus lembur," jawab Intan.


"Kalau kak Dion? Udah pulang juga, Ma?" Tanya Adeeva lagi.


"Dion? Belum pul-- astagfirullah. Mama lupa nelpon kakak kamu. Dia keluar cari kamu tadi! Udah sekarang kamu tidur ya. Mama ke bawah dulu mau nelpon kakak kamu," ucap Intan tergesa-gesa.


"Iya, Ma" balas Adeeva lalu membaringkan tubuhnya.


***


"Kok lo bisa jatuh sih?" Tanya Resya yang kini sedang berada di ruang rawat Arsen sambil mengupas jeruk untuk Arsen.


"Gue mau jemput Adeeva kemarin. Pas di jalan sebelum masuk komplek rumah Adeeva, ban motor gue tiba-tiba bocor dua-duanya. Mungkin ngelindas paku," ucap Arsen lalu memakan jeruk yang diberikan Resya.  Lalu melanjutkan ucapannya "Setelah itu motor gue oleng. Gue mau berenti. Tapi tiba-tiba ada yang nendang motor gue dan akhirnya gue jatuh."


"Pasti ada orang yang sengaja celakain lo. Paku-paku itu pasti sengaja di taroh di jalan sebelum lo lewat. Terus saat motor lo oleng, dia nendang lo," ucap Resya lalu duduk di sofa ruangan Arsen.


"Tapi kok dia tau sih kalau gue bakal lewat jalan itu?"


"Pasti dia orang terdekat. Yang pastinya tau kalau lo udah jadian sama Adeeva," sahut Resya.


"Mungkin gak sih? Kalau yang ngelakuin itu Dion? Dia udah tau kalau gue pacaran sama Adeeva."


"Gak ada yang tidak mungkin."


"Ck. Lo udah ngasih Adeeva bukti itu?"


"Belum. Masih gue simpen. Lagi males gue," jawab Resya sambil memainkan hp--nya.


"Lo kok jadi acuh tak acuh gini sih, Sya?" Keluh Arsen.


"Gak tau kenapa. Gue masih kesel sama Adeeva. Ntar ah kalau mood gue udah baik. Lo tau kan? Kalau mood gue gak baik, gue gak bisa nahan emosi gue. Daripada nanti makin runyem. Lebih baik nunda dulu." Resya masih asyik dengan aktivitasnya.


"Yaudah. Gimana baiknya aja. Sekarang gue mau tidur. Jan ganggu!" Ucap Arsen sambil memperbaiki posisi bantalnya lalu baring.


"Gak usah bangun sekalian!"


***


"Adeeva!" Panggil Hendra setelah mereka selesai sarapan.


"Ya, Pa."


"Mulai sekarang kamu kalau mau kemana-mana di antar sama sopir ya? Kali ini kamu jangan nolak lagi!" Ucap Hendra tegas.


"Iya, Pa." Balas Adeeva mengiyakan. Karena jujur saja Adeeva saat ini masih kepikiran kejadian kemarin. Ketika diganggu preman. Ia tak mau sampai kejadian itu terulang lagi. Ditambah lagi saat ia menyaksikan dengan jelas mulut preman itu robek hingga telinga. Adeeva bergidik ngeri mengingatnya.


"Kamu kenapa Adeeva?" Tanya Intan heran.


"Ah? Nggak kok ma. Adeeva cuman--"


"Kalau kamu nggak nyaman pake sopir, biar kakak aja yang anter kamu," sahut Dion yang sejak tadi hanya diam menperhatikan.


"Gak usah Kak. Biar supir aja. Ntar Kakak repot. Lagian kan Kakak banyak urusan di kantor," balas Adeeva dengan senyumnya.


"Benar kata Adeeva. Kamu lebih baik fokus kerja saja. Sekalian cari pacar. Bawa ke rumah kenalin sama  kita. Kalau cocok ya langsung nikah!" Tambah Hendra.


"Dion berangkat dulu!" Pamit Dion. Tanpa menunggu balasan ia langsung meninggalkan meja makan.


"Kamu tuh Mas. Dion jadi ngambek. Gak usah dipaksa!" Sahut Intan.


"Jangan Mas! Biarkan Dion mencari pasangannya sendiri. Jangan sampai karena mas menjodohkannya, Dion jadi benci sama Mas," ucap Intan sembari menggenggam tangan suaminya.


"Baiklah."


"Ma, Pa, Adeeva berangkat dulu. Assalamualaikum." Pamit Adeeva menyalami tangan kedua orang tuanya.


***


Fokus Resya teralihkan ketika seseorang membuka pintu ruang rawat Arsen. Alisnya naik sebelah saat melihat siapa yang datang.


"Wahh siapa yang datang pagi-pagi ke sini," sambut Resya dengan nada congkaknya.


Dhea masuk setelah menutup pintu dengan pelan.


"Resya? Wah ternyata kamu ada di sini," balas Dhea dengan senyum manisnya yang membuat Resya muak melihatnya.


"Lo ngapain di sini?" Tanya Resya bersidekap dada dan kaki menyilang.


"Mau jenguk Arsen," jawab Dhea sambil melangkah mendekati brangkar Arsen lalu meletakkan buah yang dibawanya di nakas.


"Lo kok bisa tau kalau Arsen masuk rumah sakit?"


"Ya taulah. Kan aku yang nolongin kemarin,"


"Ouh jadi elo yang nolongin Arsen kemarin? Huh! Bilang aja kalau lo tuh cuman carmuk!"


"Maksud lo apa? Aku gak ngerti!"


"Lo gak usah sok polos deh! Lo kan yang ngerencanain ini semua? Buat Arsen celaka terus lo dateng seakan lo itu pahlawan. Ck," ungkap Resya.


"Nggak! Aku sama sekali gak ngelakuin itu. Kemarin aku ngeliat krang kecelakan terus aku tolong dan ternyata itu Arsen. Aku nggak mungkin tega celakain Arsen," bela Dhea tak rela dituduh.


"Tzz das ist aber nur quatsch! Apa sih yang gak bisa dilakuin kalau udah cinta? Gak memandang baik buruknya cara yang dilakukan asalkan bisa bersama orang yang kita cinta. Ya gak sih?"


"Kok kamu nuduh aku sih!" Ucap Dhea dengan nada sedihnya.


"Lo gak usah drama deh. Mending sekarang lo pergi. Gue muak liat muka lo. Sana pergi!" Usir Resya.


Dhea yang diusir seperti itu tanpa sadar mengepalkan tangannya. Ia ingin membalas hinaan Resya namun ditahannya karena takut Arsen mendengar. Ia tidak mau citranya rusak di depan orang yang ia cintai.


"Kenapa masih di sini? Budek lo? Atau gak bisa bahasa manusia?" Ucap Resya dengan kalimat pedasnya.


"Yaudah aku ke sekolah dulu. Salamin sama kak Arsen," pamit Dhea segera keluar dari ruangan itu.


"Cihhh. Ogah banget gue. Lagian orangnya udah denger. Woi Sen!!! Gak usah pura-pura tidur deh!" Kesal Resya.


Arsen yang ketahuan pura-pura tidur langsung tertawa keras.


"Udah ah gue mau cabut. Kesel gue!" Resya langsung keluar meninggalkan Arsen yang masih asyik tertawa. Sepertinya otak Arsen sudah koslet. Untung temen.


***


"Eh ntar kita jenguk Arsen yuk!" Ajak Sevanya pada Ken, Adeeva, dan Resya.


"Boleh."


"Kuylah."


"Gue nggak!" Jawab Resya berbeda dengan lainnya.


"Lho kenapa? Tumben lo cuek sama Arsen?" Tanya Ken menghentikan makan soto ayamnya.


"Gue udah jenguk tadi pagi. Soalnya pulang sekolah nanti gue mau quality time sama keluarga gue. Kalian tau kan jarang bisa kumpul," jawab Resya lalu melanjutkan makan nasi gorengnya.


"Ouh kirain kenapa. Yaudah kita bertiga aja," ucap Ken santai.


"Ken. Lo bawa mobil? Tanya Sevanya.


"He em. Napa mau nebeng?" Tanya Ken balik.


"Iya. Sekalian kita bareng Adeeva. Mau kan Van?" Ajak Sevanya.


"Tapi gue nelpon supir gue dulu ya? Ntar dia jemput lagi," jawab Adeeva.


"Sekarang lo pake supir?" Tanya Ken.


"Iya," jawab Adeeva pucat karena teringat kejadian kemarin.


"Kok lo pucat Va? Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Sevanya khawatir.


Resya yang sejak tadi asyik makan langsung mendongak menatap Adeeva. Benar apa yang dikatakan Sevanya. Muka Adeeva memang pucat. Resya ingin bertanya sesuatu tapi ia urungkan.


"Kemarin gue ketiduran di roof top. Pas gue pulang, di jalan gue dicegat preman. Gue ditarik ke gedung kosong. Untung aja ada yang nolongin gue. Kalau nggak, gue gak bisa bayangin apa yang terjadi nantinya," cerita Adeeva.


"Ya ampun Va. Tapi lo gpp kan?" Tanya Sevanya.


"Gpp kok. Gue cuman sedikit trauma aja. Tapi udah mendingan kok," jawab Adeeva.


"Lo tau? Siapa yang nolongin lo?" Tanya Ken yang telah selesai makan. Sedangkan Resya hanya sibuk dengan ponselya tapi indra pendengarnya terus merekam baik-baik apa yang diucapkan Adeeva.


"Nggak. Soalnya dia pakai hoodie. Mukanya nggak keliatan."


"Emang lo nggak basa basi gitu?" Tanya Ken.


"Nggak. Soalnya gue langsung pergi. Gue takut!" Jawab Adeeva dengan suara bergetar.


"Ehm. Gue ke kelas dulu. Ada perlu," pamit Resya yang langsung cabut dari situ.


"Tuh anak kenapa sih? Tiba-tiba jadi pendiem. Dia aneh tau gak kalau jadi kalem," heran Ken menatap kepergian Resya.


"Lagi gak mood kali." Sahut Sevanya.


"Dia di kelas juga gitu?" Tanya Ken pada Adeeva yang langsung diangguki Adeeva.


"Gue susul Resya dulu," pamit Ken dan segera menyusul Resya.


Adeeva dan Sevanya hanya meratapi kepergian Ken dan Resya dengan pikiran masing-masing.


-TBC-