(Not) A Perfect Boy

(Not) A Perfect Boy
Part 26



Happy Reading


.


.


.


"Adeeva. Gue mau ngomong sesuatu sama lo," ucap Sevanya menghalangi jalan Adeeva yang ingin menuju kelasnya.


Adeeva menghela napas sejenak. Entah apa yang akan diucapkan Sevanya padanya kali ini. Apa cewek itu tidak terima ia jadiaan sama Arsen?


"Ya. Ada apa?" Balas Adeeva.


Tampak Sevanya memandang sekitar seperti mencari sesuatu.


"Kita duduk di situ yuk. Biar nyaman," ajak Sevanya menunjuk sebuah bangku yang tak jauh dari posisi mereka saat ini.


"Jadi apa yang mau lo omongin?" Tanya Adeeva saat mereka sudah duduk di bangku yang ditunjuk Sevanya tadi.


"Gue mau minta maaf sama lo," jawab Sevanya.


"Minta maaf?" Tanya Adeeva memastikan bahwa ia tak salah dengar.


"Iya. Minta maaf. Gue mau minta maaf atas sikap gue selama ini ke elo. Gue janji gue nggak akan kek gitu lagi. Maafin gue ya Va," ungkap Sevanya menggenggam tangan Adeeva.


Adeeva menatap manik mata Sevanya yang berwarna hitam legam. Ia mencoba mencari setitik kebohongan di mata Sevanya. Namun nihil, yang ia lihat hanya ketulusan dan penyesalan. Akhirnya Adeeva memutuskan untuk memaafkan Sevanya. Tak ada salahnya memberikan kesempatan kedua, bukan?


"Iya gue maafin," balas Adeeva dengan senyum manisnya. Sontak Sevanya langsung memeluk Adeeva dengan erat.


"Makasih, Va. Lo emang baik banget. Lo maafin gue yang udah jahat sama lo. Tapi asal lo tau Va, gue ada alasan kenapa gue ngelakuin itu yang belum bisa gue kasih tau lo. Sekali lagi, makasih udah maafin gue," ucap Sevanya masih memeluk Adeeva. Tak ada yang dilakukan Adeeva selain membalas pelukan Sevanya. Adeeva senang bisa baikan dengan Sevanya.


"Lo bisa kapanpun cerita sama gue. Yang penting sekarang gak ada masalah lagi kan. Gue seneng bisa sedekat ini sama lo," balas Adeeva menepuk punggung Sevanya.


"Udah ah mewek-meweknya. Lo mau kemana?" Tanya Adeeva melepaskan pelukan Sevanya.


"Gak kemana-mana gue emang cuman mau nemuin lo," balas Sevanya sembari memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan.


"Ouh gitu ya. Yaudah gue mau ke perpus dulu mau pinjam buku fisika," pamit Adeeva.


"Gue temenin. Sekalian gue mau minjem buku geografi," tahan Sevanya.


"Yaudah yuk."


"Yuk."


Akhirnya Adeeva dan Sevanya bersama ke perpustakaan. Sesekali mereka membicarakan sesuatu. Kelihatannya mereka lebih akarab sekarang. Ya harusnya sedari dulu sih.


***


Adeeva telah sampai di rumahnya. Ia langsung menghempaskan tubuhnya karena merasa kelelahan. Otaknya merasa terkuras di pelajaran fisika siang tadi. Bayangkan saja, kalian belajar fisika di siang hari; mencari besarnya kalor dan suhu, asas black, proses pemuaian zat, cara perpindahan kalor, perubahan wujud kalor. Lama-lama Adeeva yang akan berubah wujud entah dari padat menjadi cair atau gas.


Bahkan Adeeva sama sekali belum mengganti seragamnya yang sudah kusut. Baru saja Adeeva memejamkan matanya tiba-tiba ketukan pintu membuat Adeeva membuka matanya lagi.


"Masuk!" Teriak Adeeva agak kencang masih dengan posisi baring.


Pintu kamar Adeeva pun terbuka. Muncullah bi Suti salah satu ART di rumah keluarga Adeeva saat ini.


"Non Adeeva ada paket buat non," ucap bi Suti.


"Taroh di meja belajar aja bi," balas Adeeva kembali memejamkan matanya hingga ia tertidur.


***


"Va! Arsen masuk rumah sakit!" Ucap Ken terburu-buru menghampiri Adeeva yang baru saja sampai di sekolah tepat pada pukul 7.30 am. Tadinya ia menunggu Arsen, ia pikir Arsen akan menjemputnya pagi ini. Namun setelah menunggu lama Arsen tak kunjung datang akhirmya Adeeva diantar Dion ke sekolah.


Tadinya Adeeva kesal. Namun setelah tau apa yang terjadi, kekesalan itu telah raib entah kemana dan tergantikan dengan rasa cemas.


"Lo serius, Ken? Lo lagi nggak bercanda kan? Sumpah bercanda lo gak lucu!" Tanya Adeeva berharap bahwa tadi Ken ganya bercanda seperti biasanya.


"Apa lo gak liat muka gue serius sekarang?" Tanya Ken kesal.


"Gue harus ke rumah sakit sekarang!" Ucap Adeeva segera berbalik menuju keluar sekolah.


"Ehh Va tungguin! Emang lo tau Arsen di rumah sakit mana, huh?" Teriak Arsen mengejar Adeeva.


***


Kini Ken dan Adeeva telah sampai di rumah sakit tempat Arsen dirawat. Adeeva melangkah dengan cepat menuju ruang IGD.


"Yaampun Arsen kamu kok bisa kecelakaan kek gini sih. Hikkssss," isak Adeeva saat melihat kondisi Arsen yang terlihat parah dimatanya.


Arsen yang tadinya tertidur langsung terbangun saat mendengar suara isak tangis. Tiba-tiba ia meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang terbalut perban.


"Sshhhh!" Ringis Arsen. Adeeva yang melihatnya langsung mendekat dan memegang tangan Arsen yang satunya.


"Arsen, kamu kenapa? Aku panggil dokter ya!" Ucap Adeeva yang terdengar panik.


"Kamu siapa?" Tanya Arsen sembari memandang Adeeva dengan kerutan di dahinya yang terbalut perban.


Adeeva merasa jantungnya berhenti berdetak seketika. Dunianya seakan runtuh saat itu juga. Arsen, kekasihnya, melupakannya? Apa lagi ini?


"Arsen. Kamu-- kamu nggak inget siapa aku?" Tanya Adeeva dengan suara yang bergetar masih menggenggam tangan Arsen.


"Memangnya kamu siapa? Aku siapa?" Tanya Arsen seperti orang linglung.


Tak dapat ditahan, tangis Adeeva pun pecah seketika. Ia langsung memeluk Arsen dengan erat. Ia bahkan tak mendengar ringisan Arsen karena terlalu kalut dilupakan oleh Arsen.


Arsen pun tak melepaskan pelukan Adeeva. Tapi malah membalasnya. Tak peduli bahwa ia merasakan sakit di dadanya akibat kecelakaan tadi.


"Hikkkssss. Aku Adeeva. Pacar kamu. Masa kamu lupa sih sama aku. Hikkssss. Kamu jahat," ucap Adeeva sesegukan akibat menangis.


Harusnya ia mengajak Sevanya tadi. Sesekali mengajak bolos tak apalah daripada ia menjadi penonton drama menye-menye yang diciptakan oleh Arsen.


Akhirnya penantian Ken pun telah usai. Adeeva melepaskan pelukannya namun masih sesegukan.


Bukkkkk


"Awwwww!"


"Ken! Lo tuh apa-apaan sih. Arsen lagi sakit malah kamu timpuk palanya. Ntar kalau dia gak bisa inget gue gimana?" Marah Adeeva saat Ken tiba-tiba melemparkan ranselnya yang berisi sedikit buku dan jaket.


Arsen yang mendapat lemparan itu langsung terbaring yang tadinya ia sedang duduk. Saking kencangnya Ken melempar ransel itu. Terniat memang.


"Lo percaya Va? Kalau gie sih nggak ya," cibir Ken sembari mendekati Arsen dan mengambil kembali ranselnya. Lalu Ken kembali menimpuk Arsen. Kali ini mengenai dada Arsen.


"Lo gila ya, Ken? Sakit ****. Lo mau bunuh gue? Kalau gue mati, lo yang pertama kali gue gentayangin!" Kesal Arsen karena sudah dua kali Ken menimpuknya tepat pada lukanya.


"Tuh kan Va. Bener yang gue bilang!" Ucap Ken sambil bersidekap dada.


Jangan tanyakan Adeeva saat ini. Karena tanduknya sudah keluar. Wajahnya yang tadinya memerah karena menangis kini semakin memerah karena kesal.


"Lo tuh jahil amat sih?! Bisa mggak sih lo nggak bikin gue kesel? Gue pikir tadi lo lupain gue. Hiksss lo jahat!" Isak Adeeva sembari memukul Arsen.


"Maaf sayang. Ini aku beneran sakit lho. Jangan kamu pukul-pukul. Kalau aku mati gimana? Kamu siap menjanda?" Bujuk Arsen dengan konyolnya.


"Apaan menjanda! Bahasa kamu ya!" Kesal Adeeva.


"Rasain tuh! Siapa suruh pacar sendiri dijahilin. Kek gue dong. Gak pernah ngejahilin pacar," celutuk Ken.


"Idiiihhhh itu kan karena lo gak punya pacar ******," balas Arsen membuat Kem mengusap dadanya mencoba sabar. Tapi justru di penglihatan Arsen malah lebay.


"Sayang. Maafin aku ya? Janji deh gak bakal gitu lagi. Ya? Ya? Ya? Maafin aku," bujuk Arsen menampilkan puppy eyesnya. Ken yang melihat itu pun bergidik jijik.


"Yaudah aku maafin. Janji ya." Akhirnya Adeeva pun luluh dan kini tengah berpelukan dengan Arsen membuat Ken hanya mengeratkan pelukannya pada ranselnya. Maklum mau berpelukan juga tapi tak ada pasangan.


Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan seorang gadis berbalut seragam SMA. Ia nampak kaget melihat keberadaan Ken dan Adeeva. Begitupun sebaliknya.


"Dhea? Kamu ngapain di sini?" Tanya Adeeva sembari melepaskan pelukannya dengan Arsen.


"Sayang, Dhea yang nolongin aku tadi," sahut Arsen.


***


Ken dan Adeeva telah kembali ke sekolah tepat saat jam istirahat. Adeeva tampak murung sejak pulang dari rumah sakit tadi.


"Dhea. Adik lo kan?" Tanya Ken pada Adeeva yang berjalan di sampingnya menuju kelas. Kelas mereka memang berdampingan. XI Ipa 1 di pojok lalu di sampingnya kelas XI Ipa 2, kelas Adeeva.


"Iya," jawab Adeeva singkat.


"Kok bisa sih dia nolongin Arsen? Emang lo gak berangkat bareng tadi pagi?" Tanya Ken lagi.


"Nggak. Dia berangkat duluan tadi. Gue berangkatnya sama kak Dion. Kenapa?" Tanya Adeeva balik.


"Ya gpp sih. Gue cuman ngerasa janggal gitu aja. Tapi mungkin cuman pemikiran gue aja kali ya," balas Ken.


"Bukam cuman elo. Tapi gue juga Ken. Gue ngerasa janggal sama kejadian ini."


Harusnya itu yang Adeeva katakan. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya kata "Ya".


"Kalian berdua! Berhenti melangkah!" Teriak seseorang di belakang mereka.


"Va. Lo denger gak? Keknya ada yang bicara tapi gak ada orangnya. Seten kali ya? Gue jadi merinding Va," ucap Ken masih melangkah santai bersama Adeeva yang bengong.


"Huh? Ada apa?" Kaget Adeeva karena suara Ken yang agak keras itu.


"Kek ada yang ngomong tapi gak ada orangnya," jawab Ken sembari mengelus tengkuknya.


"Ah masa sih? Sekolah ini gak ada hantunya kan?" Adeeva benar-benar percaya apa yang dikatakan Ken. Ia tak mendengar teriakan di belakangnya tadi.


"Beraninya kalian bilang bapak setam dan hantu! Dasar kurang ajar kalian!" Maki seseorang yang saat ini tengah menarik telinga Adeeva dan Ken.


"Aduuhhh sakit pak. Lepasin. Sakit telinga saya pak," ringis Adeeva saat telinganya tiba-tiba ditarik oleh pak Rinto, guru matematikanya.


"Iya nih pak. Sakit tau. Ntar kalau telinga saya copot, gimana pak? Bapak mau gantiin?" Imbuh Ken.


"Saya tidak peduli! Sekarang kalian ngaku! Kalian baru datang kan?" Tuduh pak Rinto.


"Enggak kok pak. Kita datang dari tadi pagi," bela Ken.


"Tapi cabut lagi terus baru balik sekarang. Awokawokawok," lanjut Ken dalam batinnya.


"Terus kenapa tas kalian masih ada di punggung kalian? Bukannya simpan di kelas?"


"Abis belajar biologi di lab, Pak," jawab Adeeva cepat.


"Kamu mau kibulin saya? Jangan kalian pikir kalau saya tidak tau kalau kalian tidak sekelas! Sekarang kalian berdua lari keliling lapangan upacara 3 kali lalu hormat di depan tiang bendera sampai jam keenam selesai!" Ucap pak Rinto demgan tegas.


"What? Pak jangan dong, Pak. Matahari terik banget nih. Jangan hukum ya, Pak? Janji deh gak bakal telat lagi," rayu Adeeva sambil menyatukan kedua telapak tangannya memohon.


"Gak bisa!" Balas pak Rinto.


"Kalau gitu kurangin dah pak. Lari aja gak ush hormat," tawar Ken.


"Tidak bisa! Sekarang kalian ke lapangan sekarang juga!!!" Ucap pak Rinto mutlak.


Mau tak mau Ken dan Adeeva melamgkah gontai menuju lapangan. Huhhhh sungguh sial.


-TBC-