
'Setiap orang punya kelebihan dan kekurang masing-masing, termasuk Arsen.'
Happy Reading
.
.
.
Adeeva membelalakkan matanya melihat seseorang yang sedang berjalan di lorong. Bukan Arsen, tapi dokter yang menangani Bunda Arsen. Adeeva bisa menanyakan dimana ruanh Bunda Arsen kalau memang ada Arsen. Tak mau membuang waktu, Adeeva segera beranjak dari duduknya dan menghampiri dokter itu.
"Permisi Dok. Bisa tanya sebentar?"
"Iya bisa," balas sang Dokter.
"Kalau boleh tau, apa Arsen ada disini?" Tanya Adeeva.
"Kamu temannya Arsen kan yang waktu itu pantas terasa tidak asing. Arsennya ada di ruang rawat Ibunya."
"Hehe iya, Dok. Tapi ruangannya dimana ya Dok?" Tanya Adeeva.
Setelah mendapat jawaban, Adeeva memgucapkan terima kasih dan berlalu ke ruangan Bunda Arsen.
Sesampainya di depan pintu ruangan Bunda Arsen.Adeeva mendengar suara meskipun samar-samar. Adeeva pun membuka pintu dengan perlahan dan tidak ada bunyi.
Adeeva tertegun melihat pandangan di depannya. Dimana, Arsen dengan peci di kepalanya sedang melantunkan ayat suci Al-Qur'an dengan syahdunya.
Adeeva sampai merinding mendengarnya. Adeeva mengalihkan pandangannya ke depan sofa.Terdapat sarung dan sajadah yang terlihat tidak sempurna lipatannya.
"Subhanallah." Arsen membuat Adeeva takjub. Kini Adeeva mengerti bahwa jangan menilai seseorang dari covernya saja.
Terbukti Fandi yang kelihatan baik aslinya cowok berengsek. Sedangkan Arsen yang kelihatan nakal/bad boy aslinya cowok baik-baik.
Lama Adeeva terdiam hingga Arsen selesai mengaji. Cowok itu mengecup kening bundanya. Setelah itu Arsen berbalik hendak menyimpan Al-Qur'an. Namun saat berbalik dia melihat Adeeva berdiri di depan pintu.
"Adeeva!" Gumam Arsen terkejut.
Adeeva pun melangkah mendekati cowok itu.
"Arsen!" Panggil Adeeva menyadarkan Arsen dari keterkejutannya.
"Ehh sorry sorry. Gue beresin dulu Va" ucap Arsen merapikan barang-barangnya.
"Duduk Va," ucap Arsen mempersilahkan setelah selesai merapikan barangnya.
"Iya," balas Adeeva dan duduk di sofa.
Arsen membuka pecinya dan menyimpannya. Setelahnya, Arsen mengacak rambutnya. Adeeva sampai terpukau dibuatnya. Arsen terlihat seperti aktor-aktor Hollywood. Tunggu!Apa tadi? Sepertinya Adeeva sudah tertular virus lebaynya Resya.
"Hey Va! Kok ngelamun sihh!"
"Ahh enggak. Anuu gue... guee mau minta maaf. Gara-gara gue lo jadi diskors."
"Harusnya gue yang minta maaf. Gue udah ngomong kasar sama lo."
"Jujur waktu lo ngomong kek gitu rasanya sakit, gue kecewa sama lo. Tapi setelah gue pikir-pikir, siapapun pasti akan berpikiran sama kayak lo.Bahkan gue sekalipun!" Jelas Adeeva.
"Va maafin gue. Saat itu piliran gue lagi kacau dan bertepatan dengan itu gue ngeliat orang yang gue sayang hampir dilecehkan. Gue nggak bisa nahan emosi gue, Va!" Ungkap Arsen menggenggam tangan Adeeva.
"Gue udah maafiin lo kok. Oh ya ini undangan buat lo. Datang yaa," ucap Adeeva pada Arsen yang sedang memandang undangan yang telah diberikan oleh Adeeva.
"Iya gue bakal dateng."
***
Kini tibalah hari yang ditunggu-tunggu,yaitu hari pernikahan Intan dengan Hendra. Selama proses akad nikah berlangsung, Adeeva risih dipandangi oleh Dion atau sekarang bisa dibilang kakak. Kakak tiri tepatnya.
Entah kenapa dari awal bertemu Dion selalu menatapnya seperti itu dan apakah kesialan atau apa, sekarang ia satu mobil dengan Dion.
Syukurnya tidak berdua saja tapi bertiga dengan Dhea. Kalau kalian tanyakan mereka akan kemana? Jawabannya adalah mereka akan ke hotel tempat resepsi pernikahan orang tua mereka.
"Kak Adeeva, Kakak sekolah dimana? Aku lupa hehe," tanya Dhea pada Adeeva.
"Di Sylnd high school," jawab Adeeva dengan senyumannya.
"Wahhh sekolahnya kan keren banget!"
"Iya."
"Eh udah sampai. Turun yuk Kak!" Ajak Dhea.
Adeeva mendongkak melihat sekitar ternyata memang sudah sampai. Tak sengaja mata Adeeva tertuju pada kca spion tengah mobil. Dion tengah memandangnya lewat kaca spion tengah mobil itu dengan tatapan yang menurut Adeeva 11 12 dengan tatapan Aldrian.
Bedanya ini bukan tatapan membunuh. Adeeva sulit menebaknya.
Adeeva menghindari tatapan itu dengan segera turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam hotel bersama Dhea. Kini Adeeva malah heran kenapa Dhea cekikikan mulu.
"Dhea kamu kenapa cekikikan mulu dari tadi?" Tanya Adeeva.
"Liat Kak Dion di belakang deh Kak!" Pinta Dhea yang langsung dituruti oleh Adeeva. Tapi hanya sebentar, Adeeva berbalik lagi.
"Udah.Emang Kak Dion kenapa?" Tanya Adeeva heran.
"Perhatiin deh Kak. Mukanya sok cool gitu tapi jalannya pincang. Hahahahah!"
"Pincang? Kok bisa? Apa dari dulu emang udah pincang?"
"Haahaha nggak Kak. Sekitar seminggu yang lalu dia kecelakan katanya," jelas Dhea.
"Ohh gitu."
"Iya Kak."
Sesampainya di dalam sana, Adeeva menghampiri kedua orang tuanya.
"Selamat Ma, Pa," ucap Adeeva memberikan selamat dengan memeluk Mamanya.
Tak lama,terdengar suara heboh di belakangnya. Adeeva pun berbalik. Ternyata teman-temannya, Arsen, Sevanya, Ken, dan Resya. Tentu saja yang membuat suara heboh itu adalah Resya dan Ken yang mulutnya gak bisa diam dengan ocehan.
Setelahnya mereka turundari pelaminan dan menuju stand kue. Resya tak tau malaunya langsung memakan kue yang rasa coklat.Tapi Ken dengan jahilnya mengambil semua kue coklat. Hingga membuat Resya memarahi Ken dengan mulut yang penuh dengan kue membuat ucapannya tidak jelas.
Arsen dan Adeeva yang melihatnya hanya tertawa. Tiba-tiba pandangan Arsen tertuju pada seseorang. Sontak mata Arsen terbelalak melihatnya. Arsen tau orang itu. Arsen tak menyangka.
"Adeeva!" Panggil Resya.
"Apa?"
"Cowok yang di sebelah sana lo kenal gak?"
"Yang mana?"
"Itu lohh yang pake jas item!"
"Kakak tiri gue!" Jawab Adeeva pelan.
"Kenalin dong Va," ucap Resya menarik tangan Adeeva menuju Dion.
Sedangkan Arsen hanya mengikut di belakang. Jangan tanyakan Ken dan Sevanya karena dua anak itu entah pergi kemana setelah Ken dan Resya adu mulut.
Resya dengan semangatnya menarik tangan Adeeva tak melihat wajah Adeeva yang sudah pucat. Rasanya mau di bawa ke malaikat maut saja.
"Hh hhai kak!" Sapa Adeeva pada Dion.
"Hai. Ada apa Adeeva?" Balas Dion dengan senyumannya.
"Bisa senyum ternyata," batin Adeeva memandangi Dion. Deheman dari Arsen menyadarkan Adeeva dari lamunannya.
"Ehh ini Kak teman aku. Kenalin!" Ucap Adeeva.
"Resya Kak," ucap Resya menjabat tangan Dion.
"Dion."
Lalu bergantian dengan Arsen. Tapi ada yang beda. Arsen dan Dion saling menatap tajam.
"Dhea mana Kak?" Tanya Adeeva.
"Lagi ngumpul sama teman-temannya."
"Oohh."
Tiba-tiba suara host menggema mengatakan bahwa acara lempar bunga akan dimulai. Sebenarnya Intan tidak ingin ada acara lempar bunga begini tapi atas bujuk Dhea akhirnya ia menyetujui.
"Kak! Masih jomblo kan? Ayo kita kesana!" Ajak Resya tak tau malunya menarik tangan Dion tak peduli langkah cowok yang ditariknya terseok-seok.
"Va ada yang mau gue omongin nanti," ucap Arsen.
"Apa? Kenapa gak sekarang aja?" Tanya Adeeva.
"Ntar aja. Sekarang waktunya kita ke sana," balas Arsen dan menarik tangan Adeeva untuk menyusul Resya.
Tiba saatnya bunga dilempar. Semuanya sudah bersiap-siap.3....2......1
Dannnnn...........
Haapppppp!!!!
Bunga itu ditangkap dengan sempurna oleh Resya.Jangan ditanyakan,Resya pastinya sudah jingkrak-jingkrak saking senangnya.
"Arsen!! Adeeva!!! Gak lama lagi gue bakal nikah!!!" Teriak Resya masih dengan tak tau malunya.
Setelahnya,Resya berselfie ria dengan bunganya.Tak lupa untuk mengupload di akun sosmednya.
***
Arsen dan Adeeva melangkah keluar dari gedung hotel. Mereka tak menyadari sepasang mata yang memerhatikan mereka. Tepatnya salah satu diantara mereka.
Tibalah Arsen dan Adeeva di taman dekat hotel.
"Va lo udah akrab sama kakak lo?" Tanya Arsen.
"Nggak juga. Bahkan baru tadi gue yang nyapa duluan. Abis dia kayak dingin + cuek gitu. Emang kenapa sih?"
"Yaaa gpp cuman nanya aja."
"Cuma itu yang lo mau bicarain? Kalau gitu gue masuk dulu natar Mama cariin," ucap Adeeva hendak berdiri.
"Apa lo nggak ngerasa aneh sama Kakak lo?" Tanya Arsen menghentikan niat Adeeva yang hendak berdiri.
"Maksud lo?"
"Tatapannya beda Va."
"Beda apanya Sen?"
"Dia natap lo beda. Bukan tatapan seorang kakak pada adik."
"Terus tatapan apa yang lo maksud itu?" Tanya Adeeva menantang.
"Tatapan seorang pria pada wanitanya."
"Gak mungkin Sen. Gak usah mengada-ngada," ucap Adeeva tak percaya.
"Gue gak mengada-ngada Va. Gue cowok. Gue tau tatapannya ke lo itu beda."
"Arsen! Gue nggak ngerti kenapa lo jadi kek gini. Lo nggak suka sama kakak gue?"
"Bukannya gue gak suka Va. Tapi percaya sama gue, please!" Ucap Arsen lembut menggenggam tangan Adeeva.
"Kali ini gue sulit percaya sama lo. Lo ngomong ngelantur Sen. Mungkin lo kurang tidur. Ok sekarang gue mau masuk ke dalam. Terserah lo mau ikut apa nggak!" Ucap Adeeva melepaskan tangannya dari genggaman Arsen dan berdiri hendak melangkah masuk ke dalam hotel. Tetapi ucapan Arsen menghentikan niatnya lagi.
"Apa lo tau? Siapa yang udah hampir lecehin lo di club? Apa lo bakal percaya sama gue, ADEEVA QUANECIA?"
-TBC-