
'Cukup jangan pentingkan egomu lagi maka semua masalah akan selesai'
Happy reading
.
.
.
Namun Adeeva tiba-tiba merasakan sebuah tangan memasangkan topi di atas kepalanya.
Adeeva pun mendongkak dan yang dilihatnya adalah punggung Arsen yang perlahan menjauh darinya.
Adeeva memegang topi yang terpasang di kepalanya. Tak salah lagi, pasti dari Arsen.
Untuk apa Arsen melakukan itu? Apa cowok itu pikir Adeeva akan luluh hanya dengan sebuah topi? Tapi yasudahlah terserah cowok itu, yang penting Adeeva hari ini selamat dari hukuman.
Adeeva pun melanjutkan langkahnya menuju lapangan tanpa rasa khawatir lagi dan ia ikut berbaris dengan teman sekelasnya.
Adeeva mencoba mencari Arsen, tapi cowok itu tak ada di barisan kelas.
Tak salah lagi, cowok itu pasti tidak ikut upacara. Sekilas terbesit rasa bersalah di hatinya. Namun Adeeva segera menepisnya.
Setelah upacara selesai, Adeeva langsung bergegas ke kelasnya dan langsung meletakkan topi Arsen di atas meja cowok itu. Untunglah sang pemilik meja belum datang.
Baru saja Adeeva duduk di tempatnya, sudah ada Resya menyapanya.
"Selamat pagi Va," sapa Resya.
"Pagi," balas Adeeva agak kaku.
"Tadi lo abis dari meja Arsen ya?" Tanya Resya dan duduk di samping Adeeva.
"Iya, emang kenapa? Oh gue tau. Tenang aja gue cuman balikin topi Arsen kok gak lebih," balas Adeeva dengan datar.
"Maksud lo apasih? Lo seakan-akan bilang kalau gue cemburu dan suka sama Arsen," Ujar Resya dengan nada tak suka.
"Ya emang apa lagi? Tadi lo nanya ngapain gue ke meja Arsen kan? Itu seakan lo cemburu atau apalah itu."
"Please deh Va! Tadi gue cuman nanya iseng doang. Lagian yaa, apa lo nggak ngeliat kalau selama ini gue seneng banget kalau lo sama Arsen? Lo nyemburuin orang yang salah Va. Karena bagi gue, Arsen itu adalah sosok kakak bagi gue. Dia selalu jagain gue layaknya seorang saudara. Bukan cuma Arsen aja, tapi Ken dan Vanya pun begitu. Bahkan lo udah gue anggap juga seperti mereka. Tapi akhir-akhir ini lo buat gue sedih Va. Lo kayak ngebuat jarak diantara kita!" Jelas Resya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Tapi sekarang gue ngerti. Lo nggak suka gue deket Arsen kan? Okay gue bakal jauhin Arsen," sambung Resya dan berlalu keluar kelas.
Resya yang awalnya ingin menggoda Adeeva malah jadi malapetaka buat mereka berdua.
Sedangkan Adeeva terdiam mencerna perkataan Resya. Ohh tidak. Adeeva telah membuat Resya bersedih. Adeeva sadar kalau dia egois. Ia selalu mengikuti egonya.
Arsen dan Resya udah temenan jauh sebelum ia ada. Harusnya ia tidak cemburu pada Resya.
Dari dulu Resya selalu mendukungnya dengan Arsen, Resya selalu baik padanya. Bahkan cewek itu sudah menganggapnya sebagai keluarga. Hal itu membuat Adeeva menangis atas kebodohannya.
"Gue harus minta maaf sama Resya," batin Adeeva lalu hendak mengejar Resya tapi diurungkan karena guru masuk.
Selama pelajaran berlangsung, Adeeva tidak pernah fokus pada apa yang diterangkan guru. Hingga suara guru mengagetkan Adeeva.
Adeeva mendongak saat mendengar nama Arsen disebut. Disana, berdiri cowok itu dengan tampang berantakan dengan baju keluar, kusut, dasi yang tidak tersimpul sempurna, rambut acak-acakan dan jangan lupakan dengan wajah yang lebam.
Cowok yang biasanya gak pernah diam dengan tingkahnya, cowok yang humoris sekarang malah dingin yang terkesan cuek.
Arsen yang biasanya selalu melawan perkataan guru, sekarang hanya menjawab singkat dan sekenanya saja masih dengan raut datar.
Arspun pun dikeluarkan oleh guru yang mengajar karena keterlambatannya masuk kelas.
Sebelum keluar, Arsen menoleh untuk menatap Adeeva sebentar dan melemparkan senyuman kecil lalu keluar.
Arsen adalah cowok berandalan sekaligus cowok yang disukainya. Seandainya cowok itu merasakan hal yang sama tentunya Adeeva akan sangat senang.
Tak peduli seberandal apapun cowok itu.
'HOW BAD YOU ARE. I WILL FIX YOU'
***
Bel istirahat baru saja berbunyi. Guru pun sudah keluar. Apalagi teman sekelasnya? Jangan ditanyakan lagi.
Adeeva pun menyimpan bukunya di laci tapi ada yang mengganjal. Ternyata sebuah coklat.
"Apa dari Arsen lagi?" Tebak Adeeva.
Adeeva mencari-cari kertas di lacinya. Tapi tidak ada.
"Berarti bukan dari Arsen, Arsen dulu ngasihnya pake note. Tapi merek coklatnya sama kok. Dan kalaupun bukan Arsen yang ngasih, terus siapa? Apa gue punya secret admirer? Tapi masa sih? Imposible!" Batin Adeeva sambil mamandangi coklat itu.
Tiba-tiba tatapannya tertuju pada tulisan di kertas kecil yang tertempel pada pembungkus coklat itu.
Adeeva memperhatikannya dengan kening mengerut. Kertasnya berukuran sangat kecil dan berbentuk persegi panjang dengan tulisan kecil membuat Adeeva kesulitan membacanya.
"Ke...tam..man...bell..lakang. Ke taman belakang!" Eja Adeeva.
Adeeva pun segera menuju ke taman belakang untuk menuntaskan rasa penasarannya tentang siapa yang memberikannya coklat.
Saking penasarannya itu, Adeeva sampai berlari agar cepat sampai hingga ia tak menyadari bahwa ada yang mengikutinya di belakang.
Sesampainya di taman, Adeeva terlihat kecewa karena yang didapatinya bukan Arsen tapi Fandi. Tapi kenapa ia harus kecewa? Bukan kah ia sedang marah pada Arsen? Apa yang ia harapkan terhadap Arsen?
"Adeeva, akhirnya kamu datang juga, Aku khawatir banget sama kamu," ucap Fandi menggenggam tangan Adeeva tapi sang pemilik tangan langsung melepaskan genggaman itu.
"Adeeva kamu kemana aja malam itu? Aku nyariin kamu dimana-mana."
"Bener lo nyari gue?" Tanya Adeeva tak percaya.
"Iya Aku nyariin kamu. Kamu pamit ke toilet tapi gak balik-balik. Akhirnya Aku ke toilet buat nyariin kamu tapi kamu nggak ada. Aku telpon, gak aktif. Aku ke rumah kamu, ntar kalau kamu gak ada mama kamu pasti curiga,
"Bullshit! Gue pikir lo cowok gentle ternyata gue salah. Lo janji jemput gue jam 7 tapi datangnya jam 9. Lo buat gue pake baju kekurangan bahan terus bawa gue ke tempat terkutuk itu seakan lo mau jadiin gue umpan disana. Dan yah, lo berhasil jadiin umpan karena gue hampir aja dilecehin. Apa lo tau? Gara-gara itu mama gue jadi diemin gue! Dia kecewa sama gue! Apa lo tau rasanya lo satu atap sama nyokap lo tapi berasa kayak orang asing. Huh!" Desis Adeeva menatap tajam Fandi.
"Va! Aku nggak tau. Aku gak bermak--" ucapan Fandi terpotong oleh sebuah pukulan dari seseorang.
"Arsen," gumam Adeeva melihat Arsen yang sedang memukul Fandi.
"Iya emang gue kenapa?" Balas Fandi sengit membuat emosi Arsen memuncak hingga kembali memukul Fandi.
"Lo tuh cowok harusnya jagain cewek. Bukan malah membawanya ke tempat terlarang *******!"
"Lo tuh nggak tau apa-apa mending gak usah ikut campur!" Maki Fandi.
"Iya, gue emang gak tau apa-apa tapi satu yang gue tau kalau lo itu cowok pengecut, cuihhh!" Maki balik Arsen membuat Fandi geram dan membalas pukulan Arsen.
Adeeva berusaha melerai tapi kedua cowok itu tak mempedulikan suara Adeeva.
"Mati lo anjing!!!" Maki Arsen.
"Elo yang mati!" Balas Fandi.
"STOP!!!!!" Jerit Adeeva masih mencoba melerai kedua cowok itu tapi tetap tidak dipedulikan oleh keduanya.
Hingga pada saat Fandi sudah babak belur dan tak mampu berdiri, Arsen ingin memberikan pukulan untuk terakhir kalinya jika saja Adeeva tidak memeluknya dari belakang.
"Stop it, please!" Ucap Adeeva dengan lirih memeluk Arsen dari belakang membuat Arsen menghentikan gerakannya yang hendak memukul Fandi.
"Jangan buat diri lo dalam masalah hanya karena gue," lirih Adeeva yang membuat Arsen menggenggam tangan Adeeva yang berada di perutnya.
"Apapun aku lakuin jika itu menyangkut kamu," balas Arsen.
Di bawah pohon rindang, disekelilingi bunga yang bermekaran, dengan angin yang berhembus menemani kedua remaja yang saling menikmati pelukan.
***
"Bisa jelaskan apa yang barusan terjadi?" Tanya Bu Resti guru bk.
"Arsen tiba-tiba datang mukul saya Bu," ujar Fandi pada Bu Resti tapi tatapannya mengarah ke Arsen dengan tajam.
"Arsen kenapa kamu memukul Fandi?"
"Karena dia udah ngelakuin kesalahan Bu!" Jawab Arsen datar.
"Bu, saya merasa tidak punya kesalahan sama dia. Ibu tau kan saya gak suka cari masalah," bela Fandi melihat sinis pada Arsen.
Sedangkan Arsen hanya menatap datar bu Resti.
"ARSEN!!" Tegas Ibu Resti menatap Arsen meminta penjelasan.
"Dia emang gak buat kesalahan pada saya Bu. Tapi pada Adeeva," jelas Arsen.
"Apa itu benar Adeeva?" Tanya Bu Resti pada Adeeva.
Sejenak Adeeva terdiam memandang Arsen.
"I..ii..iy..iyya Bu."
"Apa? Adeeva kamu jangan mengarang. Kamu jangan takut sama Arsen. Katakan yang sebenarnya!" Potong Fandi yang membuat Adeeva menatapnya tak percaya.
"Maksud lo apa? Gue udah ngatain yang sebenarnya Fan," ucap Adeeva.
"Bu! Ibu percayakan sama saya?" Tanya Fandi memandang Bu Resti.
"Sebenarnya kesalahan apa? Dari tadi kalian terus mengatakan kesalahan. Ibu jadi pusing mendengarnya, dan kamu Arsen, kamu pikir kamu siapa seenaknya menghukum?" Balas Bu Resti memijat keningnya.
Tak ada jawaban.
"Kesalahan apa Adeeva?" Tanya Bu Resti pada Adeeva tapi Adeeva ragu mengatakannya. Adeeva malu.
"Di..ddiiia..dia--"
"Tuhkan Bu, dia pusing nyari alasan. Mungkin mereka ngelakuin itu untuk merusak nama baik saya di sekolah ini Bu. Terbuktikan? Mereka berhasil. Sekarang, untuk pertama kalinya saya masuk bk sebagai siswa yang buruk."
"Benar kata Fandi. Fandi itu siswa yang berprestasi di sekolah ini dia lelaki baik-baik. Juga seorang ketua osis dan tidak pernah berbuat onar semasa sekolah disini!" Ucap Bu Resti yang membuat Arsen mengepalkan tangannya.
Arsen sedari tadi terdiam hanya untuk memberikan kesempatan pada Adeeva untuk menjelaskan atas apa yang Fandi lakukan.
Tapi sepertinya Adeeva takut. Terbukti tangannya sampai gemetar.
"Lelaki baik-baik mana yang memaksa perempuan ke club?" Desis Arsen tajam.
"Gak usah ngarang Arsen!" Bela Fandi.
"Arsen apa kamu punya bukti? Jangan seenaknya menuduh Fandi yang tidak-tidak!" Tanya Bu Resti.
Arsen terdiam karena dia merasa tidak memiliki bukti. Tapi...
"Adeeva saksinya Bu!" Sahut Arsen mantap.
"Iya Bu. Apa yang Arsen katakan benar. Fandi--"
"Kalian gak usah mengarang cerita dan kalaupun itu benar harusnya diselesaikan dengan baik. Jangan asal memukul dengan alasan telah membuat kesalahan. Memang kamu pikir kamu siapa? Karena itu saya lebih percaya sama Fandi. Siswa berandal macam kamu mana bisa dipercaya!" Potong Bu Resti.
"Bu, Arsen tidak berbohong!" Bela Adeeva.
"Adeeva! Kamu tidak usah membela Arsen. Harusnya kamu tidak terpengaruh oleh Arsen. Kali ini kamu Ibu maafkan. Dan kamu Arsen, kamu di skors selama 3 hari. Sekarang kalian berdua minta maaf sama Fandi," ucap Bu Resti.
"Never!" Ucap Arsen lalu keluar dari ruang itu.
"Saya tidak akan minta maaf sama Fandi Bu karena saya tidak salah. Permisi!" Ucap Adeeva tegas lalu menyusul Arsen keluar.
Adeeva mengedarkan pandangannya mencari Arsen. Setelah melihat Arsen, Adeeva berniat menyusulnya.
Tapi baru beberapa langkah, ada yang menahan tangannya. Adeeva berbalik melihatnya. Dan ternyata...
-TBC-
Gimana?Bagus gak?
Jangan lupa like yaa
See u next part..