
Happy Reading
.
.
.
"Itu sepupu kamu?" Kaget Adeeva.
"Iya. Emang kenapa?" Tanya Arsen heran.
"Keliatan masih muda gitu," gumam Adeeva.
"Ya emang masih muda. Masih 18 tahun. Kelas 3 SMA," Arsen memandang Adeeva geli.
Adeeva melototkan matanya, "Serius?"
"Iya serius, emang kamu pikir sepupu aku kek gimana?"
"Kirain udah 20an minimal 25 lah. Aku ngirain tadi dia juga kerja kantoran jadi suasana formalnya sampe kebawa-bawa rumah. Taunya masih muda gini."
"Mereka dijodohin. Udah ah mending sekarang kita samperin mereka." Arsen menarik pelan Adeeva dalam rangkulannya hingga ke atas pelaminan, tepat di depan kedua mempelai pengantin.
"Selamat bro" ucap Arsen menjabat tangan Vano, sepupunya. Diikuti oleh Adeeva.
"Thanks udah dateng. Dan hey siapa gadis di sampingmu itu?" Balas Vano menggoda Arsen.
Arsen melihat istri dari sepupunya ini mendengus. Ia tebak pasti kakak sepupu iparnya ini sedang jealous. Ugh jiwa jahil Arsen memberontak.
"Oh iya kenalin ini Adeeva, pacar gue," Arsen memperkenalkan Adeeva dengan sepupunya.
"Adeeva."
"Elvano."
Arsen berdehem hingga pandangan Vano dan Adeeva tertuju padanya. Arsen mengarahkan dagunya ke arah Aileen yang sedang melamun.
"Lin? Aileen" panggil Vano menggoncang pelan bahu istrinya.
"Hah?!" Kaget Aileen.
"Kok melamun? Kenalin ini sepupu saya, Arsen" ucap Vano memperkenalkan Aileen dengan Arsen
"Oouh. Aileen" ucap Adeeva membalas uluran tangan Arsen.
"Arsen."
"Aileen." Kini Adeeva menjabat tangan perempuan di samping Arsen.
"Adeeva."
"Cepat dapat momongan ya. Gue gak sabar dipanggil uncle tampan" ucap Arsen balik menggoda Vano.
"Tentu saja" balas Vano santai membuat Aileen membelalakkan matanya. Arsen yang melihatnya terus menahan tawa. Jangan sampai ia tertawa dengan hebohnya di sini dan akan membuat malu Adeeva.
"Kenapa memandang saya seperti itu?" Tanya Vano karena istri mungilnya itu memandangnya dengan mulut yang terbuka.
"Aileen seneng sampai-sampai tidak mampu mengucapkan sepata-kata. Eaaaa!" Celutuk Arsen yang mendapat tabokan dari Adeeva yang sedari tadi hanya diam di samping Arsen.
"Apaan sihh!" Ucap Aileen memalingkan wajahnya yang sudah memerah.
"Ciee istri lo blushing, Van" goda Arsen yang kali ini dapat cubitan diperutnya. Dari siapa lagi? Tentu saja dari Adeeva, Sang Pacar tercinta.
"Bisa gak jahil? Muka Aileen sudah memerah itu" Ucap Adeeva memandang Arsen jengah.
"Please, kali ini aja jahilnya jangan kumat," batin Aileen tersenyum miris.
"Heheh maap-maap!" Cengir Arsen.
"Kalian turun gih yang lain mau salaman juga. Bukan lo doang!" Usir Aileen dengan kalimat sinisnya. Adeeva memakluminya karena jika ia berada di posisi Aileen, ia akan melakukan hal yang sama jika bertemu orang seperti Arsen yang sayangnya adalah pacarnya.
"Yang sopan Aileen!" Tegur Vano yang diabaikan oleh Aileen. Tampaknya Aileen sudah kesal dengan Arsen.
"Idihhh si mungil marah. Jangan suka marah-marah ntar makin pendek lho Cil"! Baalas Arsen.
"Apa tadi? Mungil? Emang cewek lo gak mungil? Arsen yang terhormat?" Balas Aileen masih dengan sinisnya.
Arsen yang mendengarnya sontak memandang Adeeva yang berdiri di sebelahnya. Memandang dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu memandang Aileen. Wahh ternyata ceweknya juga mungil.
Sedangkan Adeeva? Jangan ditanya lagi. Wajahnya kini mulai mendung, muram.
"Kenapa? Baru nyadar?" Cibir Aileen.
"Iya cewek gue mungil. Tapi gak suka marah-marah kayak lo," balas Arsen dan segera menarik tangan Adeeva segera turun dari pelaminan saat melihat Aileen telah mengambil ancang-ancang melemparnya dengan high heels. Arsen tidak mau merasakan lagi kepala terkena ujung high heels. Sudah cukup Resya yang pernah melemparkan ia benda laknat itu.
Adeeva melepaskan tangannya yang ditarik Arsen. Untung saja ia tidak keseleo karena memakai heels.
"Kamu tuh ya nariknya kencang sampe aku terseok-seok!" Kesal Adeeva.
"Maaf sayang. Soalnya kalau gak lari ntar bisa kena high heels pengantin. Kan gak lucu. Sakit iya."
"Itu karena kamu jahil. Kalau aku jadi Aileen, aku bakal ngelakuin hal yang sama kalau ketemu orang yang nyebelinnya kayak kamu!" Sembur Adeeva membuat Arsen meringis.
"Makan yuk," ajak Arsen yang diangguki Adeeva.
***
Arsen dan Adeeva telah selesai makan. Sebenarnya Arsen sudah berniat pulang. Namun ia urungkan ketika mengetahui jika akan ada sesi pelemparan bunga. Ia bertekad untuk menangkap bunga itu. Bukan cuma Resya saja yang bisa, dirinya juga bisa.
Adeeva sedang sibuk dengan ponselnya sedangkan Arsen malah celingak-celinguk. Hingga ia melihat sepupunya yang sedang membuka sepatu istrinya setelah foto keluarga.
"Idiihhhh bisa sweet juga tuh sepupu tembok gue," batin Arsen memandangi Vano dan Aileen.
Akhirnya Arsen memutuskan untuk menyamperi mereka.
"Sayang, kita foto-foto juga yuk sama mereka," ajak Arsen menunjuk Vano dan Aileen.
"Boleh. Yuk."
Saat mendekat samar-samar Arsen mendengar Vano yang sedang mengomel. Sekali lagi Arsen berdecak dalam hatinya, "Bisa ngomel juga ternyata."
"Maaf" cicit Aileen yang didengar Arsen dan Adeeva .
"Gue nggak dimarahin!" Bela Aileen.
"Terus apa cil?" Tanya Arsen dengan tatapan mengejeknya.
"Ditegur Nyet!" Balas Aileen sengit.
"Va, masa aku dipanggil monyet," adu Arsen pada Adeeva dengan manjanya. Hal itu membuat Aileen jijik melihatnya. Sedangkan Adeeva ingin rasanya ditenggelamkan sekarang atas sikap Arsen.
"Dasar manja. Cowok kok manja!" Cibir Aileen.
"Maafin Arsen ya Lin," ucap Adeeva tak enak. Tapi percuma Adeeva merasa tak enak. Karena ia dan Vano seakan hanya jadi pajangan di situ.
"Emang cuma cewek yang harus manja? Cowok juga dong!" Balas Arsen.
"Nyenyenye."
"Aileen!" Tegur Vano (lagi).
"Iya iya maaf!" Ringis AileenĀ yang mendapat tawa dari Arsen.
"Lagian lo ngapain lagi ke sini? Gak balik ke hutan?" Tanya Aileen memandang Arsen sengit.
"Mau foto sama sepupu gue lah!" Balas Arsen santai.
"Gak mau."
"Gue gak minta pesetujuan elo cil. Gue mau foto sepupu gue. Dan elo bukan sepupu gue. Ngerti cil?"
"Sepupu lo itu suami gue dan otomatis gue itu sepupu ipar lo. Van tuaan lo apa dia?"
"Saya," jawab Vano.
"Ternyata benar apa yang Arsen katakan. Bahkan sama istrinya saja formal gitu." Batin Adeeva menatap Vano.
"Nah jadi lo harus sopan sama gue. Karena gue itu kakak sepupu ipar lo!" Ucap Aileen sambil menunjuk Arsen.
"Idiiihhhh pengen banget lo diakuin sama gue."
"Ngebunuh monyet dosa gak?"
"Aileen."
"Ck. Iya iya."
Akhirnya setelah adu mulut Aileen dan Arsen selesai, mereka berfoto dengan ria. Hingga... ketika Arsen bertukaran dengan Adeeva yang berada di samping Aileen.
Cekrekk
"Awww. Lepasin!!" Jerit Aileen memukul-mukul lengan Arsen yang mengapit lehernya.
"Kamu mau bunuh istri saya? Lepasin!" Ucap Vano menyingkirkan tangan Arsen dari istrinya.
"Tadinya mau ngerangkul ehh taunya kecekik. Pendek sihh. Kirain rangkul bahu ternyata leher," balas Vano dengan tawanya.
Bamun tawa itu terhenti saat melihat Aileen kembali mengambil ancang melempar benda yang mirip sabit kata Vano.
"Adeeva. Pulang yuk. Udah malem. Sekali lagi selamat ya Bro!" Pamit Arsen menarik tangan Adeeva segera. Selalu begitu. Adeeva bahkan belum pamit pada pengantinnya.
"Cepet nyusul ya!" Ucap Aileen sebelum Arsen dan Adeeva pergi.
"Tenang aja. Gue bakal cepat nyusul!" Balas Arsen dengan suara yang agak keras. Tak peduli pandangan orang lain.
"Nyusul kakek gue di kuburan!" Balas Aileen dengan tawanya.
"Sialan!" Umpat Arsen.
"Au ah aku pusing gara-gara kamu!" Ucap Adeeva kesal.
"Maaf sayang."
"Udah ah yuk pulang."
"Pulang?"
"Iya pulang. Kan tadi kamu udah bilang mau pulang. Yuk pulang sekarang."
"Maksud aku pulang ke tempat kita tadi." Jawaban Arsen membuat Adeeva melotot. Arsen benar-benar.....
"Kita tunggu sampai sesi pelemparan bunga baru pulang." Lanjut Arsen.
Adeeva hanya bisa pasrah hingga sesi pelemparan bunga dilakukan. Adeeva dengan setengah ikhlas ikut sesi pelemparan bunga. Hanya karena Arsen menariknya.
Bahkan ia tak menyadari bahwa bunga telah terlempar dan coba tebak siapa yang menangkapnya? Ya. Tepat sekali Arsen. Arsen berhasil menangkap bunganya dan jingkrak-jingkrak kesenangan.
Adeeva baru tersadar saat Arsen jingkrak-jingkrak. Ia langsung menutup mukanya malu akan tingkah Arsen. Hingga Arsen melepaskan tangan Adeeva dari mukanya. Arsen menyodorman bunga yang ditangkapnya, "Buat kamu."
***
Dalam waktu yang sama di lain tempat. Resya sedang bersiap-siap ke club itu lagi. Ia sudah siap dengan gaunnya yang panjangnya di atas lutut yang cukup ketat hingga menampilkan lekuk tubuhnya.
Resya mengoleskan lipstick warna merah darah di bibirnya. Ia akan bersenang-senang malam ini. Sekaligus mencari sesuatu yang bisa dijadikan bukti pada Adeeva. Ia tidak main-main dengan omongannya tempo hari.
Kini Resya telah sampai di club. Banyak pasang mata yang memandangnya lapar namun diabaikannya. Ia segera memesan vodka lalu duduk di depan bartender.
Matanya terus menjelajah tempat itu. Hingga pandangannya tertuju pada sofa bagian sudut. Sungguh beruntungnya ia malam ini. Dion ada di sana sedang duduk sendirian. Ia akan mendekati target.
Sambil memegang segelas vodkanya ia mendekati Dion dan menyapanya.
"Kak Dion. Kebetulan kita ketemu di sini."
Dion tetap diam dan menikmati minumannya. Hingga ia mendongak menatap Resya lalu mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu. Resya menaikkan sebelah alisnya. Ia diabaikan? Yang benar saja.
"Kak Dion sendiri atau nunggu sesorang?" Tanya Resya basa-basi. Namun ia tetap terabaikan.
Dion tiba-tiba berdiri meninggalkan Resya. Resya yang kesal segera mengikuti kemana perginya Dion. Ia tak menyadari bahwa Dion melangkah menjauh dari keramaian. Karena di pikiran Resya terfokus untuk mengikuti sang target.
Lebih parahnya lagi Resya juga tidak tau bahwa kini ia pun sudah menjadi target. Hingga seseorang membekap mulut Resya. Pandangan Resya mulai buram. Ia ingin meneriaki Dion yang punggungnya masih kelihatan. Namun ia tak mampu. Tubuhnya mulai lemas hingga semua gelap.
-TBC-