
Happy Reading
.
.
.
"Setelah dari kafe, Resya lewat jalan anggrek," ucap Aldrian memandangi laptopnya.
"Itu jalan menuju rumah Resya," sahut Arsen.
Aldrian tampak mengutak-atik laptopnya lagi.
"Setelah itu dia di bawa ke Jakarta Timur tepatnya di jalan Diponegoro," ucap Aldrian.
"Ngapain Resya di sana?" Gumam Fandi.
"Sepertinya di sekitar jalan sini Resya disekap. Daerah sini ada rumah kosong," jelas Aldrian.
Aldrian kembali mengutak-atik laptopnya.
"*****!" Umpat Arsen melihat laptop Aldrian yang menampilkan tayangan cctv di jalan itu. Arsen mengacukan jempol atas kejeniusan Aldrian. Warbiyasah.
Aldrian mempause tayangan itu saat sebuah mobil lewat tepat di jam 17.43. Aldrian memicingkan matanya.
"Mobil ini yang menculik Resya," ucap Aldrian lalu jarinya berkutat kembali di keyboard. Lalu gambar di laptop berubah arah tepatnya berputar 90° hingga platnya terlihat.
"Catat Fan!" Pinta Arsen yang langsung dilaksanakan oleh Fandi.
"Eh tapi Al. Kok lo bisa tebak tuh mobil yang nyulik Resya?" Tanya Fandi penasaran. Aldrian mengembalikan gambar seperti semula.
"Lo perhatiin jendela tengah mobil ini. Kalau diperhatikan lebih jelas, kita bisa liat bayangan seseorang dalam mobil itu," jelas Aldrian.
"Eh iya ada tuh!" Seru Arsen.
"Kalau diperkirakan, ponsel Resya berada tepat di jalan ini saat jam 17.43 sesuai waktu di kamera cctv."
"Lo gak bisa ngelacak siapa bos mereka?" Tanya Fandi.
"Sorry. Gak ada alat pelacak ataupun nomor ponsel mereka jadi gue gak bisa. Dan sepertinya bos mereka gak lewat jalan di sini. Ini rumah kosongnya." Aldrian memperlihatkan sebuah gambar rumah.
"Memang ada beberapa jalan bisa sampai ke rumah kosong ini," lanjut Aldrian.
"Lo gak bisa retas kamera cctv jalan yang lo maksud itu?" Tanya Arsen
"Gue coba," balas Aldrian.
Tak lama kemudian. Muncullah beberapa jalan yang dimaksud Aldrian.
"Rame banget. Gimana kita bisa tau coba," keluh Fandi.
"Kita juga gak tau apakah bos mereka duluan sampai di tempat atau tidak. Kalau kalian mencurigai seseorang, kasih nomor ponselnya aja ke gue. Ntar kita buktiin beneran apa nggak," ucap Aldrian.
Arsen dan Famdi bertatapan. Sepertinya mereka sepemikiran namun mereka masih ragu.
"Dion," gumam Fandi.
"Besok gue coba minta di Adeeva," ucap Arsen.
"Kalau gitu gue pulang dulu," pamit Aldrian memberekan peralatannya.
"Ok. Thanks ya Bro," ucap Arsen dan Fandi.
"Ya. Gue duluan." Aldrian pun meninggalkan rumah Fandi.
"Gila! Si Al jenius banget pantes ya juara umum 1," decak Arsen dengan kagum.
"Lebay lo!" Sahut Fandi.
"Sirik ae lo!"
***
"Kalau gue minta langsung pasti Adeeva curiga. Kalau gue jujur pasti Adeeva bakal marah lagi. Mending gue ambil diem-diem aja," batin Arsen yang sedang berjalan di koridor.
"Woiy Sen!" Panggil Ken berlari mendekati Arsen. Tiba-tiba ide cemerlang mendarat di otak Arsen.
"Ken! Gue sama Fandi lagi nyelidikin sesuatu," ucap Arsen merangkul Ken.
"Lo nyelidikin sesuatu tapi lo baru bilang ke gue? Sobat macam apa lo!" Kesal Ken memalingkan wajahnya tapi Arsen langsung memegang wajah Arsen menghadap ke arahnya lagi.
"Gue liat lo sibuk. Sebagai sahabat yang baik, gue gak mau gangguin lo lah!" Balas Arsen.
"Alasan aja lo! Sebenarnya lo nyelidikin apaan?"
"Gue am Fandi nyelidikin siap yang udah nusuk Resya. Dan gue curiga sama seseorang. Nah sekarang gue mau minta tolong sama lo. Nanti di kantin lo pinjam hp-nya Adeeva terus lo cari kontak yang namanya Dion terus lo kirim ke gue. Abis itu lo apus chatnya biar Adeeva gak liat. Ok?!" Jelas Arsen menguatkan rangkulannya.
"Jadi lo nyelidikin itu? Wahh benar-benar parah lo Sen!"
"Ck. Yang penting kan sekarang lo udah tau!"
Ken dan Arsen pun melangkah bersama dan saling merangkul yang dihiasi percek-cokan mereka.
***
Ken dan Arsen saling tatap-tatapan. Saat ini mereka(Arsen, Ken, Adeeva, Sevanya, dan Fandi) memang berada di kantin. Adeeva, Sevanya, dan Ken asyik menikmati makanannya.
Arsen memberi kode pada Ken untuk segera memulai aksinya.
"Ya ampun gue lupa bawa buku pr fisika gue. Va, pinjem hp lo dong. Hp gue ketinggalan di kelas. Gue mau nelpon mama gue," ucap Ken yang langsung mendapat perhatian oleh penghuni meja itu.
"Bukannya kit-- aww" ucapan Fandi berakhir ringisan ketika Arsen menginjak kakinya.
Fandi menatap Arsen protes yang langsung dibalas kedipan oleh Arsen. Fandi yang mengerti langsung mingkem.
"Bukannya apa Fan?" Tanya Sevanya memicingkan matanya curiga.
"Maksud gue bukannya kita ulangan fisika nanti ya. Gituu," balas Fandi.
"Tapi kan kita harus kumpul pr baru bisa ikut ulangan," ucap Ken.
"Pake hp gue aja," tawar Sevanya mengeluarkan ponselnya.
"Ah gak usah, Sev. Gue kan udah sering pinjem hp lo. Sekali-kali pinjem hp Adeeva gpplah," tolak Ken.
"Nih!" Adeeva memberikan ponselnya pada Ken yang langsung diterima cewek itu dengan senang.
"Yahh gak aktif," ucap Ken pura-pura sedih.
"Nih Va," lanjut Ken mengembalikan ponsel Adeeva lalu mengedipkan matanya ke arah Arsen.
"Lho? Terus gimana? Kalau buku lo gak ada lo gak bisa ikut ulangan dong?" Ucap Adeeva.
"Ntar ikut susulan aja," balas Ken.
Sevanya yang tau Ken berbohong hanya diam. Tak mau ikut campur. Entah kali ini Ken ada rencana apa lagi.
***
"Gimana?" Tanya Arsen pada Aldrian.
Saat ini Arsen, Fandi, Ken, dan Aldrian sedang berada di perpus. Mereka tam menghiraukan para sisiwi yang memperhatikan mereka. Bagaimana tidak? Baru kali ini mereka melihat para cogan itu berkumpul. Sungguh hal yang tak bksa dilewatkan. Baik adik kelas maupun kakak kelas terus memperhatikan dengan pandangan memuja.
"Bisa jadi dia pelakunya. Dia ke jalan Diponegoro tepat di rumah kosong itu di jam 17.56. Seperti yang kemarin kita liat di cctv jalan, Resya lewat di jam 17.43 bisa jadi mereka sampai pukul 17.45 lalu mereka menyekap Resya dan akhirnya si bos datang," jelas Aldrian dengan suara rendah takut ada yang mendengar percakapan mereka.
"Tapi kita juga heran. Siapa yang nolong Resya," sahut Fandi.
"Dia pake hoodie. Mukanya gak keliatan," imbuh Arsen.
"Lo bisa retas cctv rumah sakitnya gak?" Tanya Ken yang langsung dituruti Aldrian.
"Sepertinya udah dihapus," ucap Aldrian.
"Lo gak bisa kembaliin gitu?" Tanya Fandi berharap.
"Sorry. Gue gak bisa kalau soal itu," jawab Aldrian.
"Yaudah kalau gak bisa. Tau pelakunya aja kita udah syukur alhamdulillah," ucap Arsen.
"Kita harus laporin secepatnya ke polisi," ucap Ken dengan geram.
"Kita nunggu situasi yang baik dulu. Soalnya kata Adeeva, Dion masuk rumah sakit bertepatan dengan hari itu," ujar Arsen.
"Gue gak peduli dia mau sakit kek. Pokoknya dia harus membusuk di penjara. Dia udah nyakitin Resya. Bahkan sampai saat ini kita belum tau kondisi Resya," marah Ken.
"Tapi lo hargain Adeeva juga dong. Dia kakaknya Adeeva. Kita cari waktu yang pas. Okay?" Bujuk Arsen.
Ken langsung keluar dari perpustakaan meninggalkan mereka.
"Resya sudah berada di Indo," ucap Aldrian membuat Fandi dan Arsen tersentak.
"Serius lo Al?" Seru Arsen yang dijawab anggukan oleh Aldrian.
"Lo tau darimana?" Tanya Fandi heran.
"Kan kemarin kalian nyuruh gue lacak nomornya Resya. Dan kemarin gue liat posisi Resya udah ada di Indo, Jakarta," jelas Aldrian.
"Kok lo baru bilang?" Kesal Arsen.
"Kemarin kalian cuman tanya pas hari kejadian itu," balas Aldrian lalu melangkah keluar perpustakaan meninggalkan Arsen dan Fandi yang melongo.
***
Arsen, Ken, dan Fandi kini berada di depan rumah Resya yang megah. Ia dicegah oleh satpam untuk masuk. Sedari tadi Arsen dan Ken tak berhenti merayu satpam itu, bahkan Ken mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan. Tapi dengam belagu satpam itu malah menjawab, "Tuan saya menggaji saya puluhan kali lipat lebih dari itu!"
Bagaimana Arsen dan Ken tidak kesal? Jangan tanyakan Fandi karena ia malah asyik nyender di pagar sambil membaca buku. Maklumlah rang pintar.
Tiba-tiba sebuah mobil Lamborghini hitam mendekat. Semuanya langsung menyingkir. Namun mobil itu berhenti di samping gerbang yang telah terbuka. Muncullah nyokap Resya.
"Arsen? Ken? Dan?.....?" Tanya Sarah -mami Resya- memandang Fandi.
"Fandi, temannya Resya di sekolah Tante," sahut Fandi sopan.
"Dan Fandi. Kalian ngapain di sini?" Tanya Sarah.
"Kami mau menjenguk Resya, Tante," jawab Arsen.
Sarah tampak terdiam sejenak lalu menatap anak muda di depannya satu per satu.
"Kalau gitu kenapa masih di sini? Ayo masuk. Resya pasti senang dengan adanya kalian," ucap Sarah mengizinkan.
"Wah makasih tante," ucap Ken, Arsen, dan Fandi lalu segera menaiki motor mereka melewati gerbang. Sempat Ken menatap satpam dengan tatapan mengejek.
***
"Resya, ini ada teman-teman kamu," ucap Sarah memasuki kamar Resya.
Resya yang sedang membaca novel kesukaannya mendongak menatap maminya.
Alisnya mengerut. Ia belum memberitahukan pada siapapun bahwa ia telah pulang.
"Siapa Mi?" Tanya Resya menutup bukunya.
"Arsen, Ken, dan Fandi," jawab Sarah.
"Suruh masuk kamar aja Mi," ucap Resya.
Maminya pun keluar dan tak lama kemudian muncullah ketiga sahabat Resya. Resya tersenyum menatap sahabatnya satu per satu.
Fandi terhuyung ke depan saat Ken dan Arsem menabraknya dari belakang yang kini telah berhambur memeluk Resya. Fandi boleh ikutan gak sih?
"Woiy lepasin gue!! Lo pada mau bunuh gue? Lepasin!!!!" Jerit Resya melambaikan tangannya pada Fandi meminta bantuan.
Fandi segera bertindak. Ia menarik kerah baju Arsen dan Ken.
"Eh lo tuh apa-apaan sih Fan?" Kesal Ken.
"Tau nih. Lagi kangen ama Resya juga," timpal Arsen.
"Gue juga kangen tapi gak segitunya juga kali. Resya kan baru sembuh. Gimana kalau perutnya luka lagi?" Fandi segera mendekati Redya lalu memeluknya dengan lembut yang langsung dibalas oleh cewek itu.
"Ehh curang lo Sya! Tadi gue yang meluk gak lo balas," kesal Ken melihat Resya dengan senang hati membalas pelukan Fandi. Arsen mengangguk menyetujui ucapan Arsen.
"Bodo!" Balas Resya.
"Ehh Sya. Gue mau tanya. Boleh?" Mimik Arsen lalu berubah serius.
"Nanya apa? Tumben lo izin mau nanya," balas Resya.
"Apa benar? Dion yang udah nyekap dan nusuk lo?"
-TBC-