(Not) A Perfect Boy

(Not) A Perfect Boy
Part 38



Happy reading


.


.


.


"Kamu masih bersama gadis itu?" Tanya Karina memandang tajam Arsen.


"Arsen gak bisa mutusin Adeeva," balas Arsen.


"Kalau begitu biar Adeeva yang memutuskanmu!"


"Nggak Tan! Arsen nggak mau pisah sama Adeeva!" Gertak Arsen.


"Saat ini belum waktunya kamu untuk pacar-pacaran. Kamu harus belajar agar bisa meneruskan bisnis papa kamu!"


"Arsen akan melakukannya Tan. Tapi please, jangan pisahkan Arsen dengan Adeeva."


"Kalau begitu buktikan. Setelah kamu lulus tahun depan, kamu harus ambil jurusan bisnis di Harvard university!"


"Bagaimana?" Lanjut Kirana karena tak mendengar sepatah kata pun dari mulut Arsen.


"Kamu tau kan. Tante tidak pernah main-main dengan ucapan Tante. Kamu pilih. Putuskan Adeeva atau kuliah bisnis di Harvard. Kalau kamu memutuskan Adeeva, kamu bisa kuliah di sini dan tentunya kamu tidak jauh dari kedua orang tuamu," lanjut Karina yang tau betul kelemahan Arsen.


"Ok. Arsen akan lanjut di Harvard...... puas?!" Tangan Arsen terkepal namun mukanya hanya menampilkan muka datar.


"Pilihan yang bagus juga. Tante pegang ucapan kamu. Baiklah kalau begitu Tante pulang dulu. Bye ponakan tersayang," ucap Karina sebelum meninggalkan rumah Arsen.


"Aarrggghhhhh!!"


***


Adeeva keluar dari kamarnya pagi ini dengan tatapan kosong. Saat ia menutup pintu kamarnya, Dion pun melakukan hal yang sama. Dion tersenyum menghampiri Adeeva.


"Selamat pagi Adeeva," sapa Dion yang tak diindahkan oleh Adeeva.


"Kamu kenapa?" Tanya Dion khawatir saat tak mendapat sahutan dari Adeeva. Hanya muka datar sebagai balasannya.


"Va, ak---"


"Kenapa? Gak suka?!" Sentak Adeeva menatap Dion tajam. Sedari tadi ia menahan amarahnya. Namun Dion masih saja tidak menjauh darinya.


"Kamu kenapa jadi begini Va? Kamu ada masalah? Bilang sama aku," Ucap Dion masih saja khawatir. Pasalnya ini pertama kalinya ia melihat Adeeva seperti ini.


"Ya! Dan masalahnya itu kak Dion!"


Dion mengeryit heran.


"Aku?" Tanya Dion heran sembari menunjuk dirinya.


"Bisa nggak? Kak Dion gak usah pura-pura gak tau!" Adeeva melengos. Malas menatap Dion.


"Pura-pura apa? Aku nggak ngerti Va," balas Dion.


"Ck. Aku udah tau semuanya!" Ucap Adeeva menekan kata semuanya lalu meninggalkan Dion yang terpaku.


Adeeva bahkan tidak sarapan dan malah langsung pergi ke sekolah. Ia muak berada satu tempat dengan pria itu.


***


"Va, lo udah liat?" Tanya Resya dengan pelan yang dijawab anggukan lesu oleh Adeeva.


"Dia itu gila Va. Dia terobsesi sama lo. Dia akan ngelakuin segala cara buat dapetin lo. Termasuk nyelakain gue," ungkap Resya yang membuat Adeeva tersentak.


"Nyelakain lo? Maksud lo kak Dion yang udah nusuk lo?" Tanya Adeeva tak menyangka.


"Iya. Bahkan dia juga yang buat Arsen kecelakaan," jelas Resya.


"Tapi kenapa? Kenapa dia begitu tega?" Adeeva merasa frustasi hingga ia memijit keningnya.


"Gue dianggap pengganggu. Sedangkan Arsen, dia pacar lo. Dia nggak mau lo pacaran sama Arsen."


"Benar-benar gila!"


"So, gpp kan kalau gue laporin ke polisi?" Tanya Resya pelan.


Adeeva terdiam sejenak lalu mengangguk pelan. Bagaimanapun Dion sudah kelewatan. Ia sudah dua kali mencelakakan orang. Hingga hampir merenggut nyawa.


***


Adeeva telat pulang karena ia membersihkan kelas terlebih dahulu sebelum pulang. Untungnya ada Arsen yang setia menemaninya meskipun cowok itu hanya terus mengganggu teman-temannya.


Kini Adeeva menunggu Arsen di depan gerbang sekolah. Arsen sedang pergi mengambil motornya di parkiran.


Tiba-tiba ia melihat mobil yang tidak asing. Yak. Itu mobil Dhea. Ngapain Dhea ke sekolahnya? Tumben.


Saking fokusnya Adeeva memandangi mobil Dhea yang kini terparkir sembarangan, ia tak menyadari Arsen yang sudah berdiri di sampingnya.


"Sayang!" Arsen menggoyangkan bahu Adeeva hingga Adeeva mengalihkan pandangannya ke arah Arsen.


"Dhea." Tepat saat Adeeva mengucapkan itu, Dhea turun dari mobilnya dengan wajah sembab.


Dhea berlari menghampiri Adeeva dan berlutut di depan Adeeva. Sontak Arsen dan Adeeva terkejut. Ditambah lagi Dhea malah terisak.


"Hiksss tolong bebaskan kak Dion," isak Dhea menundukkan kepalanya.


Adeeva memalingkan kepalanya tak berkata apa-apa. Arsen berdehem sebentar.


"Memangnya kenapa dengan kakak lo?" Tanya Arsen pada Dhea.


Dhea terlihat menelan salivanya kasar lalu berkata, "Kak Dion ditangkap polisi."


Arsen terdiam sejenak lalu menatap Adeeva yang masih bergeming dengan posisinya tadi.


"Terus apa hubungannya dengan Adeeva?" Tanya Arsen menatap Dhea dengan alis terangkat.


"Ya tentu saja ada. Aku dengar tadi nama kak Adeeva disebut-sebut. Pasti kak Adeeva yang laporin kak Dion. Sebenarnya apa salah kak Dion?!" Sentak Dhea.


"Lo bela-belain turunin harga diri lo dengan berlutut seperti itu hanya untuk kakak berengsek lo itu?" Tukas Arsen.


"Jaga ucapan kamu! Kak Dion adalah kaka terbaik buat aku!" Dhea tidak terima kakaknya dijelek-jelekkan.


"Kakak terbaik buatmu tapi tidak dengan Adeeva! Kakak macam apa yang mencintai adiknya sendiri?" Gertak Arsen memandang lekat Dhea yang kini menunduk.


"Oh jadi lo udah tau? Ouh apa lo tau juga kalau kakak tersayang lo itu pernah mau lecehin gue?" Sentak Adeeva yang tak tahan mendengar percek-cokan Arsen dengan Dhea.


Dhea tersentak hingga ia mendongak menatap Adeeva sambil geleng-geleng kepala. Ia merasa tak percaya apa yang diucapkan Adeeva.


"Nggak! Kamu pasti bohong. Kak Dion nggak mungkin ngelakuin itu. Nggak!" Jerit Dhea.


"Apa yang gue omongin Adeeva itu benar. Bahkan kakak lo itu dengan teganya nyulik Resya, nyekap Resya, nusuk Resya hingga Resya hampir saja merenggut nyawa!" Sentak Arsen. Sebenarnya ia juga tidak tega. Namun egonya yang menang kali ini.


"Nggak!!! Nggak mungkin! Kak Dion itu baik. Ini semua karena dia terlalu cinta sama kak Adeeva. Kak Adeeva maukan? Sama kak Dion. Kak Dion pasti senang," ucap Dhea yang terlihat seperti orang gila.


"Cukup Dhea! Kalau kak Dion masuk penjara, itu sudah sepantasnya atas apa yang sudah ia perbuat!" Ucap Adeeva yang terlihat sudah bisa mengontrol kembali perasaannya.


"Jangan berusaha melindungi seseorang yang telah berbuat kesalahan. Meskipun Dion kakak lo, lo harus bisa terima keadaan!" Ucap Dion merangkul Adeeva lalu membawanya masuk ke dalam mobilnya.


Setelahnya, Arsen memegang bahu Dhea dan membantunya berdiri.


"Sekarang lebih baik lo tenangin diri lo. Oh ya. Bukan Adeeva yang ngelaporin kakak lo. Semarah-marahnya Adeeva, ia gak akan tega laporin kakak lo," ucap Arsen menepuk sekali bahu Dhea lalu menyusul Adeeva ke dalam mobil.


Dhea terhenyak. Ia harus bagaimana? Ia tak tega melihat kakaknya terjerat dalam jeruji besi. Namun di satu sisi, kakaknya memang bersalah.


Dhea hanyalah gadis lugu yang begitu menyayangi kakaknya. Ia akui apa yang sudah diperbuatnya dengan kakaknya adalah suatu kesalahan. Gadis lugu itu perlahan berubah hanya karena cinta. Namun cinta itu kini telah pudar tergantikan dengan rasa benci. Tapi ia tetaplah gadis lugu yang berusaha membenci namun tak bisa. Ia malah benci dengan dirinya sendiri. Jadi siapa yang salah di sini?


***


Adeeva dan Arsen kini telah sampai di halaman rumah Adeeva. Adeeva terlihat melamun hingga Arsen mengusap lengan Adeeva.


"Eh udah sampai ya. Mampir dulu ya," ucap Adeeva melepas seatbelt.


Arsen terdiam sejenak, seperti memikirkan sesuatu. Sedetik kemudian Arsen mengangguk menyetujui.


"Assalamualaikum," ucap Arsen dan Adeeva saat memasuki rumah.


"Waalaikumsalam," jawab Hendra.


Adeeva mengedarkan pandangannya. Ia melihat mamanya yang terdiam.


"Ma," panggil Adeeva.


Plakkkkk


Semua tersentak saat Intan tiba-tiba menampar Adeeva.


"Ma," Hendra berusaha menenangkan istrinya.


"Diam, Pa!" Sentak Intan.


"Mama kenapa nampar Adeeva?" Isak Adeeva. Arsen segera merangkul Adeeva berusaha menenangkan.


"Kamu! Mama kecewa sama kamu Adeeva! Jadi saat itu kamu dari tempat hiburan malam? Bahkan kamu hampir saja dilecehkan jika saja tidak ada Arsen yang menolongmu! Apa kamu tidak berpikir jika saja tidak ada Arsen, kamu akan berakhir seperti apa? Dan lagi! Yang hampir melecehkan kamu itu--" Hendra segera menenangkan istrinya dengan membawanya duduk di sofa ruang tamu.


"Sudah Ma. Jangan marahi Adeeva seperti itu. Dion yang bersalah di sini. Apa kamu tidak liat bahwa tidak ada yang mengganggu Adeeva selain Dion? Dan Adeeva. Papa minta maaf atas kelakuan Dion. Papa minta maaf Adeeva."


Adeeva melepaskan rangkulan Arsen lalu menghampiri kedua orang tuanya yang duduk si sofa.


"Pa, Ma Adeeva minta maaf. Adeeva sama sekali gak berniat ke tempat itu. Maafin Adeeva. Hikksssss," isak Adeeva berlutut di depan kedua orang tuanya.


"Jangan seperti itu Adeeva. Ayo berdiri," ucap Hendra memegang bahu Adeeva membantu Adeeva berdiri lalu duduk di sofa.


"Ma. Maafin Adeeva," rengek Adeeva dengan isak tangisnya.


Intan yang tak tahan mendengar isakan Adeeva akhirnya memeluk anak yang dilahirkannya itu.


"Mama cuma takut kamu kenapa-napa Adeeva. Kamu itu anak perempuan. Kamu harus bisa jaga diri kamu," ucap Intan mengusap punggung Adeeva.


"Arsen," panggil Intan melepaskan pelukannya pada Adeeva dan beralih menatap Arsen.


"Iya, Tan?" Balas Arsen.


"Tante percayakan Adeeva sama kamu," ucap Intan tersenyum menatap Arsen dan Adeeva bergantian.


"Makasih Tan. Arsen akan menjaga Adeeva sebaik mungkin."


-TBC-


1 part menuju ending.


Jangan lupa vote ya.


Dan baca juga cerita aku yang satunya.


Judulnya 'my beloved husband'


Ok see u next part