(Not) A Perfect Boy

(Not) A Perfect Boy
Part 7



'Harapan tak hanya diucapkan.Tapi juga diperjuangkan agar bisa terkabul '


Happy reading


.


.


.


Adeeva berbalik untuk melihat orang itu. Dan ternyata orang itu adalah Fandi.


"Ma-mak...makassih," ucap Adeeva dengan gugup. Bagaimana tidak gugup? Fandi hanya berjarak beberapa senti di depannya.


"Sama-sama. Btw lo ada tugas kimia juga?" Tanya Fandi masih dengan posisinya seperti tadi.


"Ini Fandi emang gak nyadar atau sengaja sih. Gak tau apa kalau gue gak nyaman," gerutu Adeeva dalam hati.


"Ah iya ada tadi baru dikasih," jawab Adeeva dengan senyum paksanya dan mencoba bergeser.


"Mau ngerjain bareng? Kebetulan kelas gue kemarin dikasi tugas juga. Halaman 52 kan?"


"Iya halaman 52. Kalau gitu gue ambil buku gue di kelas gue dulu," Adeeva langsung ngacir ke kelasnya untuk mengambil buku tugas kimianya. Resya bahkan heran melihat Adeeva lari begitu. Tak lama, Adeeva sudah duduk di kursi perpustakaan dengan Fandi yang berada di sampingnya.


"Yang nomor 2 gimana cara kerjanya?" Tanya Adeeva pada Fandi. Fandi pun dengan lancar menjelaskan pada Adeeva. Beberapa menit berlalu tapi yang dilakukan Adeeva sekarang hanya menopang dagu dan memandangi Fandi yang sedang serius mengerjakan soal-soal kimia.


"Ini sih namanya aja yang belajar bareng kalau dia yang ngerjain semua," batin Adeeva.


"Nah udah selesai," ucap Fandi.


"Makasih loh Fan. Udah bantuin. Pasti gue dapat 100 nih nanti."


"Sama-sama. Mmmm btw lo suka kan?"


"Suka kok iya suka banget," ucap Adeeva.


"Suka lah siapa sih yang gak suka tugasnya dikerjain," sambung Adeeva dalam hati.


"Syukurlah kalau lo suka. Jadi nggak sia-sia kalau gitu," ujar Fandi dengan senyum mengembang.


"Ini Fandi ngomong apa sih? Gak ngerti gue apa yang dia maksud," batin Adeeva dengan cengo.


***


Pulang sekolah kali ini Adeeva menaiki sebuah bis. Untunglah keadaan bis tidak terlalu ramai hingga Adeeva bisa mendapat tempat dudik dekat jendela. Adeeva hanya menyandarkan kepalanya pada kaca jendela bis dan memandang bosan jalanan. Namun mata Adeeva langsung terbelalak melihat orang yang dilenalnya berada di sebuah toko bunga.


"Arsen?" Gumam Adeeva tak sadar.


Bis sudah melewati toko bunga itu tapi Adeeva langsung menoleh ke belakang melihat Arsen yang sedang memegang bunga dengan senyuman tak luput dari bibir cowok itu. Hingga cowok itu melangkah menuju mobilnya, Adeeva sudah tak melihatnya. Adeeva kembali memperbaiki duduknya dan menyenderkan kembali kepalanya di jendela.


"Apa Arsen udah punya pacar? Kok gue kayak ngerasa gak seneng gitu. Sesak rasanya," batin Adeeva memandang kosong jalanan.


***


Hari minggu ini, Arsen berniat untuk mengajak Adeeva untuk jalan-jalan sekaligus belajar bareng. Arsen tau kalau Adeeva adalah tipe cewek yang pintar gak kayak Resya yang kerjanya kalau gak baca novel ya stalking cogan atau idola-idolanya yang bejibun.


Entah bagaimana perasaan Arsen yerhadap Adeeva saat ini, yang jelas dia nyaman sama Adeeva. Sudah Arsen jelaskan bahwa Adeeva berbeda dengan temannya yang lain bukan hanya Resya saja. Bersama dengan Adeeva, Arsen merasa lebih tenang. Bisa membuat ia meringankan beban masalahnya. Hidupnya yang terasa suram perlahan kembali cerah.


Setelah bersiap-siap, Arsen segera menuju ke rumah Adeeva. Sesampainya di rumah Adeeva, ia disambut dengan muka bantal Adeeva yang sangat lucu di matanya hingga tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum.


"Arsen? Ada apa?" Tanya Adeeva sambil memperbaiki penampilannya yang acak-acakan.


"Mau ngajak lo keluar," jawab Arsen.


"Kemana?"


"Ke taman. Itu sih kalau lo mau belajar bareng gue lagi," balas Arsen sambil menggaruk tengkuknya.


"Mau kok, kalau gitu gue siap-siap dulu ya," pamit Adeeva lalu segera ke kamarnya ganti baju. Tak lama kemudian Adeeva sudah berdiri di samping Arsen dengan baju hijau dan rok bunga bunga dan wedges warna hitam dan jangan lupakan tas selempang warna hijaunya.


"Kenapa liatin gue kek gitu? Gue salam kostum ya?" Tanya Adeeva heran.


"Lo cantik," ucap Arsen tak sadar yang membuat Adeeva tersipu malu.


"Mmm mama lo mana?mau minta izin dulu" tanya Arsen.


"Mama lagi keluar".


"Minta nomor telpon lo dong" ucap Arsen menyodorkan hpnya pada Adeeva.


"Buat apa?" Tanya Adeeva heran tapi tetap memberikan nomor mamanya.


"Mau minta izin. Gue nggak mungkin ngajak keluar anak orang kalau gak izin" balas Arsen membuat Adeeva rasanya gimana gitu susah dijelasin.


Via telpon


Halo Assalamualaikum Tan, ini Arsen


...


Gini Tan. Arsen mau ngajak Adeeva keluar mau belajar bareng kalau tante izinin.


...


Iya Tan makasih. Assalamualaikum.


...


Via telpon end


"Aku udah ngelakuin satu kesalahan dengan membuka hatiku untukmu meski tau pada akhirnya akan sakit," batin Adeeva  mengingat kemarin Arsen di toko bunga.


"Bolehkah aku berharap kamu akan membalas rasa ini? Bolehkah alu berharap kalau kamu belum memiliki belahan jiwa? Bolekah aku berharap bahwa aku lah yang akan menjadi belahan jiwamu?" Batin Adeeva lagi dengan memandangi taitan tangan mereka.


***


Selang 30 menit, sampailah Arsen dan Adeeva di taman. Di bawah pohon rindang beralaskan tikar dengan beberapa buku di atasnya Arsen sedang belajar. Tapi tiba-tiba pandangan Adeeva tertuju pada penjual es krim yang sedang berjualan. Rasanya Adeeva ingin makan es krim. Sontak saja Adeeva langsung menghampiri penjual es krim itu berniat membeli es krim.


"Bang es krim rasa vanila satu" pesan Adeeva. Penjual es krim itu pun menyerahkan pesanan Adeeva.


"Ini neng harganya 15000" ucap penjual es krim.


"Bentar ya bang" ucap Adeeva seraya merogoh tasnya. Dia mencari dompetnya tapi hasilnya tidak ada. Adeeva mulai panik.


"Bentar bang saya cari dompet dulu," ucap Adeeva masih terus mencari dompetnya.


"Cepet neng," balas si penjual.


"Duhh gimana nih dompet gue ketinggalan di rumah," gumam Adeeva panik. Arsen yang melihat itu langsung menghampiri Adeeva.


"Lo kenapa?" Tanya Arsen.


"Lupa bawa dompet. Hehehe," cengir Adeeva.Arsen hanya tersenyum kecil lalu memberikan penjual uang dengan nominal 100.000.


"Kembaliannya buat abang aja," ujar Arsen.


"Makasih Mas," balas penjual es. Setelah itu mereka (Arsen & Adeeva) kembali ke tempat mereka semula.


"Lo suka vanila ya?" Tanya Arsen melihat Adeeva yang sedang memakan es krim.


"Nggak juga. Biasa aja. Eh lo mau? Harusnya gue pesan dua tadi," ucap Adeeva menghentikan kegiatan makannya.


"Bayar pake apa?" Canda Arsen membuat Adeeva cemberut.


"Besok gue ganti uang lo kok," ucap Adeeva.


"Hahaha canda Va baper amat. Gue ikhlas kok," ujar Arsen dengan tawanya.


"Lucu banget sihhh," lanjut Arsen mencubit pelan pipi chubby Adeeva.


"Auwww sakit tau. Situ kira pipi saya apaan," ringis Adeeva.


"Abis pipi lo chubby kayak bakpao aja. Gemes kan jadinya," balas Arsen mengapit pipi Adeeva dengan ibu jarinya dan jari telunjuknya.


"Sakit tau," ringis Adeeva mengusap pipinya yang memerah.


"Aduuhhh maaf ya. Gue kekencangan tadi ya," ucap Arsen merasa bersalah sambil ikut mengusap pipi Adeeva. Dengan jarak yang dekat mereka saling bertatapan. Tapi Adeeva langsung memutuskan aksi tatap-tatapan itu dengan mencubit pipi Arsen membuat cowok itu mengaduh kesakitan.


"Tuhhh rasain emang enak ngatain pipi gue chubby situ sendiri gak nyadar kalau pipinya chubby juga," ejek Adeeva.


"Sakit nih. Gak mau usapin pipi gue juga?"


"Nggak," balas Adeeva langsung.


"Ehh tapi beneran gue gak perlu ganti uang lo nih?" Lanjut Adeeva.


"Iya Adeeva."


"Makasih loh."


"Sama-sama. Btw kalau lo nggak suka banget sama rasa vanilla. Terus favorite lo apa?" Tanya Arsen penasaran.


"Gue gak ada yang favorite gitu. Bagi gue kalau makan sesuatu semua sama, gak harus rasa ini atau itu. Tergantung mood aja sih palingan,"  balas Adeeva memakan kembali es krimnya.


"Ohh beda banget ya sama Resya. Tuh anak kalau makan apa-apa coklat. Dia gak pernah dalam sehari gak makan coklat," ucap Arsen  dengan tawa kecilnya. Mendengar ucapan Arsen membuat Adeeva mengentikan kegiatannya.


"Lanjut belajar yuk," ajak Adeeva sambil membuka buku pelajarannya. Hal itu membuat Arsen mengeryit heran.


"Apa ada kata-kata gue yang salah? Kenapa Adeeva jadi diem kek gini? Huufffttt cewek emang susah di pahami," batin Arsen.


"Ayo," balas Arsen.


Mereka pun melanjutkan belajar yang sempat tertunda tadi karena beli es krim. Arsen terus menyimak dengan baik. Namun, sebenarnya sih bukan menyimak tapi memandang Adeeva yang tampak serius menjelaskan materi padanya dan sesekali memakan es krimnya hingga habis. Adeeva agak risih sebenarnya tapi mengalihkannya dengam memakan es krim. Namun sekarang es krimnya sudah habis. Pretttt.


"Napa sih natapin gue mulu?" Tanya Adeeva.


"Siapa juga yang nagipin elo? Gue natap bunga di belakang lo," elak Arsen. Sontak saja membuat Adeeva menengok ke belakang memastikan apa yang di ucapkan Arsen. Tapi hasilnya nihil tak ada bunga yang dimaksud Arsen adanya hanya pohon.


"Ngelak lo. Udah nih kerjain," ucap Adeeva menyodorkan buku yang berisi soal-soal pada Arsen. Baru saja Arsen mau mengambipnya tiba-tiba hp Arsen berbunyi tanda panggilan masuk. Arsen mengambil hpnya di saku jaketnya lalu melihat nama penelpon. Setelah itu pergi agak menjauh dari Adeeva untuk mengangkat telponnya.


Adeeva terus memandangi Arsen yang sedang menelpon dengan wajah panik? Terlihat jelas Arsen mengacak rambutnya. Tak lama, Arsen sudah kembali di depan Adeeva.


"Va ... lo bisa pulang sendirikan?" Tanya Arsen tergesa-gesa.


"Memangnya ada apa Arsen? Kok lo kayak panik gitu?" Tanya balik Adeeva melihat kepanikan di raut wajah Arsen.


"Gue ada urusan mendadak. Penting banget. Gpp kan gue tinggal? Nihh  uang, lo pulang naik taksi. Maaf gak bisa nganterin pulang. Bye!" Seru Arsen dengan rasa bersalah dan  meberikan 3 lembar uang seratus ribu pada Adeeva lalu segera meninggalkan Adeeva di taman sendirian. Adeeva merasa telah terjadi sesuatu hingga Arsen panik begitu. Adeeva segera merapikan bukunya dan buku milik Arsen lalu segera ke pinggir jalan dan menghentikan taksi yang lewat.


***


Arsen berhenti tepat di parkiran rumah sakit. Pikiran Arsen hanya tertuju pada sosok yang sangat berarti dalam hidupnya yang terbaring di dalam sana. Perasaan Arsen kalut saat menerima telpon dari dokter tadi. Arsen berlari menelusuri lorong-lorong rumah sakit hingga sampailah ia di depan ruang vip  tempat sesorang itu di rawat selama dua tahun belakangan ini. Arsen tidak bisa tenang, ia terus mondar mandir sesekali melihat pintu. Arsen lalu duduk di kursi menunduk memegang kepalanya dan mengacak-acak rambutnya. Arsen hanya berharap kepada Tuhan agar bisa menyelamatkan orang yang ping ia sayang dan cintai.


Arsen tak menyadari seseorang sedari tadi memperhatikannya di balik tembok. Arsen mendongak dengan mata berkaca-kaca seraya memandangi pintu. Lalu menutup wajahnya dengan tangannya. Tak lama kemudian Arsen bangkit dari duduknya. Namun sebuah suara jatuh dan mengaduh membuat Arsen mengeryit. Suaranya tidak asing menurutnya. Arsen langsung berbalik untuk melihat sumber suara itu. Dan betapa terkejutnya Arsen ketika melihat orang itu.


"Adeeva!"


-TBC-