(Not) A Perfect Boy

(Not) A Perfect Boy
Part 16



'Mencoba memperbaiki jauh lebih baik daripada hanya diam tak melakukan apa-apa'


Happy reading


.


.


.


Tapi baru beberapa langkah, ada yang menahan tangannya. Adeeva berbalik melihatnya. Dan ternyata Sevanya yang menahan tangannya.


"Vanya? Ada apa?" Tanya Adeeva.


"Lo udah buat Arsen dalam masalah. Apa lo masih mau deketin Arsen?" Ucap Sevanya.


"Iya. Gue emang udah buat Arsen dalam masalah. Tapi bukan berarti gue harus jauhin Arsen."


"Harusnya lo mikir kalau Arsen sama lo akan terkena masalah. Jadi alangkah baiknya kalau lo jauhin Arsen, maybe," ucap Sevanya dengan senyum manisnya.


"Kenapa gue ngerasa lo nggak suka gue deket sama Arsen? Dengar ya Sevanya. Gue gak mau jauhin Arsen lagi. Gue nyadar gue **** waktu itu dengerin omongan lo!" Balas Adeeva lalu meninggalkan Sevanya.


***


Adeeva langsung duduk di bangkunya menghiraukan pandangan teman-temannya. Adeeva pusing banyak sekali masalah yang menimpanya. Karena itu, Adeeva ingin menyelesaikan masalahnya itu secepatnya.Ia berniat sepulang sekolah akan mendatangi rumah Resya dan meminta maaf pada cewek itu. Adeeva tidak ingin kehilangan sahabat seperti Resya.


***


Sepulang sekolah, Adeeva langsung mendatangi rumah Resya.


"Ini benar gak ya alamatnya," gumam Adeeva sambil memandangi sticky note yang berisikan alamat rumah Resya yang diberikan oleh Ken.


Setelah memastikan alamatnya benar, Adeeva pun memencet bel. Tak lama, pagar yang tinggi menjulang terbuka. Adeeva berdecak kagum melihat rumah Resya yang begitu besar.


"Ada perlu apa Dek?" Tanya satpam pada Adeeva.


"Apa benar ini rumahnya Resya?"


"Iya benar."


"Saya ingin bertemu dengan Resya. Saya temannya," ucap Adeeva.


"Tunggu sebentar," kata satpam itu lalu ke pos satpam menelpon seseorang. Tak lama, satpam itu sudah kembali di hadapan Adeeva.


"Silahkan masuk. Nona Resya ada di kamarnya," ucap satpam itu mempersilahkan Adeeva masuk.


Adeeva pun melangkah hingga sampai tepat di depan pintu lalu mengetuknya. Pintu pun terbuka menampakkan seorang ART.


"Silahkan masuk, Non," ucap Bibi Suti mempersilahkan.


"Iya makasih."


"Silahkan duduk. Saya ambilkan minum dulu."


"Nggak usah Bi, saya langsung ketemu Resya aja."


"Non Resya ada di kamarnya. Mau bibi panggilkan?"


"Gak usah Bi. Tunjukin aja kamarnya dimana."


"Mari Bibi antar, Non."


Bi Suti pun mengantar Adeeva sampai di depan kamar Resya.


"Makasih Bi."


"Iya sama-sama Non. Bibi permisi dulu ya," pamit Bi Suti.


Adeeva menghela napas lalu mengetuk pintu kamar Resya.


"Masuk!" Teriak Resya di dalam kamar.


Adeeva perlahan membuka pintu kamar Resya. Terlihat Resya sedang duduk di sofa memakan ice cream rasa coklat sambil menonton tv. Disekitarnya juga terdapat banyak pembungkus cemilan rasa coklat yang berserakan.


"Resya!" Panggil Adeeva membuat Resya berhenti menyuapkan ice cream di mulutnya dan berpaling menatap Adeeva.


"Adeeva ayo duduk," ucap Resya sambil membersihkan bekas makannya.


Adeeva pun duduk di sofa sebelah Resya.


"Ada apa Va?" Tanya Resya karena sedari tadi Adeeva hanya diam.


"Gue kesini ingin minta maaf sama lo. Harusnya gue nggak kek gituu sama sahabat gue sendiri. Please maafin gue Sya. Gue nggak mau kehilangan sahabat kayak lo," ucap Adeeva.


"Iya gue maafin kok," balas Resya memeluk Adeeva.


"Makasih Sya lo emang sahabat terbaik gue," ujar Adeeva.


"Iya dong. Jadi lo beneran suka kan sama Arsen?" Goda Resya membuat pipi Adeeva merona.


"Iya," jawab Adeeva singkat.


"Ciee akhirnya ngaku juga. Pj pj pj!"


"Apaan pj pj ditembak aja belom," gerutu Adeeva.


"What? Belum pacaran? Gue pikir lo udah jadian ama Arsen. Waktu malem minggu Arsen nyamperin lo nggak?"


"Malam minggu? Itu kan kejadian pas di club," batin Adeeva.


"Va!! Hey kok malah ngelamun sih?!"


"Ehh sorry. Emang kenapa?"


"Jadi pas malming gue, Arsen, Ken, Vanya ngumpul di cafe waktu gue pulang dari mall yang kita ketemu itu. Nah gue bilang gue ketemu lo di mall sama Fandi. Abis itu Arsen langsung cabut. Gue kirain mau nyamperin elo!" Ungkap Resya.


"Ohh gitu yaa."


***


Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 wib. Tapi mamanya belum pulang juga. Adeeva khawatir, biasanya mamanya akan menghubunginya jika akan pulang telat pulang. Tapi kali ini mamanya tidak menghubunginya.


Adeeva sudah beberapa kali menelpon mamanya tapi selalu tidak aktif. Adeeva terus mondar-mandir sesekali melihat jam di dinding.


Tiba-tiba terdengar suara mobil di depan rumah. Adeeva langsung membuka pintu dan terlihat mamanya dengan om Hendra melangkah ke arahnya membuat Adeeva menghembuskan napas lega.


"Ma! Mama dari mana aja? Adeeva khawatir."


"Papa minta maaf ya Adeeva. Tadi Papa ajak Mama kamu urus pernikahan," ucap Hendra.


"Iya Papa. Adeeva jadi lega ternyata Mama lagi sama Papa. Tadi Adeeva khawatir banget karena ponsel Mama gak aktif," balas Adeeva dengan senyumnya.


"Baiklah kalau gitu Papa pulang dulu," pamit Hendra sambil mengusap kepala Adeeva.


"Mas pulang dulu," pamit Hendra pada Intan yang langsung dibalas anggukan.


Sepulangnya Hendra, Intan langsung beranjak dari duduknya. Tapi Adeeva langsung menahannya dengan memeluk Mamanya.


"Maafin Adeeva Ma. Adeeva tau kalau Adeeva salah. Tapi tolong jangan diemin Adeeva kek gini. Lebih baik Mama marah-marah sama Adeeva," ucap Adeeva dengan isakannya.


"Maafin Mama juga ya sayang. Mama ngelakuin ini karena Mama mau kamu menyadari kesalahan kamu dan tidak mengulanginya lagi. Sekarang kamu ngerti kan gimana rasanya kalau orang yang kamu sayang nggak pulang dari luar dari jam yang seharusnya."


"Iya Ma. Adeeva ngerti. Adeeva gak bakal ngulangin lagi," ucap Adeeva.


"Yaudah. Mama ada sesuatu," sambil melepaskan pelukannya. Lalu membuka tasnya mengambil sesuatu yang ternyata sebuah undangan pernikahan.


"Ini undangan buat teman-teman kamu. Tapi cuma Arsen, Resya, Ken, dan Sevanya. Kalau kamu mau undang teman kamu yang lain boleh kok. Ntar Mama urus lagi," ucap Intan memberikan 4 undangan pada Adeeva.


"Ini aja Ma. Lagian cuma mereka yang akrab sama Adeeva."


"Baiklah kalau begitu. Kamu sudah makan?" Tanya Intan.


"Belum Ma. Kan nungguin Mama," jawab Adeeva.


"Yaudah, Mama ganti baju dulu baru masak buat kita."


"Iya Ma," ringis Adeeva.


Bagaimana tidak? Selama ini mamanya lah yang selalu memasak untuk mereka makan. Adeeva hanya tau masak mie rebus sama telur ceplok. Kenapa sih gak nurunin bakat masak mama? Pikir Adeeva.


***


"Nih undangan buat lo!" Ucap Adeeva memberikan undangan pada Resya yang baru saja sampai di kelas.


"Lo mau nikah?" Heboh Resya yang membuat Adeeva geram.


"Iya gue mau nikah!" Cetus Adeeva.


"Serius? Sama siapa?"


"Sama Zayn Malik!"


"Kw?"


"Ihh pagi-pagi udah bikin gue kesel aja. Makanya nih baca!" Ucap Adeeva dengan jengkel.


Sedangkan Resya akhirnya membaca nama yang tertera di undangan.


"Ohh jadi tante Intan sama om Hendra yang mau nikah," ucap Resya mangguk-mangguk.


"Datang ya," ujar Adeeva.


"Sure! Eh tapi bawa pasangan gak?"


"Ya nggak perlu lah. Lagian kalau harus bawa pasangan, lo sama siapa emangnya?" Ejek Adeeva.


"Si tamvan Aldrian Gavin Syalendra!" Balas Resya sambil menaik-turunkan alisnya.


"Emang lo siapanya Aldrian? Sampai mau diajakin sama lo ke kondangan?"


"Gue? Kenalin, calon Mrs. Syalendra!" Ucap Resya dengan pdnya yang langsung mendapat toyoran dari Adeeva.


"Pokoknya lo datang aja, gak usah bawa pasangan. Okay!"


"Okay."


***


Resya, Adeeva, Ken, dan Vanya sedang makan bareng di kantin.


"Jadi, Arsen beneran di skors?" Tanya Vanya memulai pembicaraan.


"Iya," jawab Resya.


"Ini pertama kalinya Arsen di skors kan? Senakal-nakalnya Arsen di sekolah tapi nggak pernah sampai di skors!" Ucap Sevanya menatap Adeeva.


Sedangkan yang ditatap hanya diam membisu.


"Tuhh anak palingan lagi senang-senang deh di skors!" Celutuk Ken dengan tawanya.


"Bener banget tuhh. Kan sama aja kalau dia bolos!" Imbuh Resya.


"Guys ini undangan buat kalian. Datang yaa," ucap Adeeva memberikan undangan pada Ken dan Vanya.


"Siapa yang mau nikah?" Tanya Ken.


"Nyokap gue. Kalau gitu gue duluan ke kelas yaa," ucap Adeeva lalu meninggalkan area kantin.


"Harusnya lo nggak ngomong kek gitu. Arsen aja biasa-biasa aja kan? Tadi lo seakan sengaja mau jojorin Adeeva!" Ucap Resya pada Sevanya yang sempat di dengar Adeeva.


"Emang kalau dipikir-pikir ini gara-gara Adeeva sampai Arsen di skors. Tapi gak ada salahnya. Cowok akan rela ngelakuin apapun untuk melindungi orang yang dia cintai!" Ucap Ken.


***


Kini Adeeva sedang berada di halte. Terlihat ia sedang menelpon seseorang sedari tadi.


"Kok nggak aktif sih!" Gerutu Adeeva.


Akbirnya Adeeva memutuskan untuk mendatangi rumah Arsen. Yah. Sedari tadi yang ditelpon Adeeva adalah Arsen.


Sesampainya di rumah Arsen, ternyata cowok itu tidak ada. Kata satpam di rumah Arsen, Arsen keluar dari tadi pagi hingga sekarang belum pulang.


Adeeva mencoba menebak kira-kira dimana Arsen berada. Hingga pikiran Adeeva langsung tertuju pada rumah sakit. Bisa saja cowok itu berada di RS menemani bundanya.


Masih mengenakan seragam sekolahnya dan peluh yang menghiasi wajahnya, Adeeva segera memesan ojol lalu ke RS.


Sesampainya di RS, Adeeva mencoba mengingat dimana ruangan bunda Arsen. Setelah beberapa lama, akhirnya Adeeva duduk di salah satu kursi tunggu karena lelah mencari. Adeeva membelalakkan matanya melihat seseorang yang sedang berjalan di lorong.


-TBC-