
Happy Reading
.
.
.
Bel jam keenam telah berbunyi beberapa puluh menit yang lalu. Tangan Ken dan Adeeva sudah terasa sanagt pegal karena sejak tadi hormat mengahadap tiang bendera. Sedari tadi pula Ken tak hentinya menggerutu. Segala makian dan umpatan telah ia ucapkan. Bahkan Ken dengan rajinnya mengabsen nama-nama binatang. Wah warbiyasah. Maklumlah anak Ipa 1 :v
"Apaan coba tuh pak Kerintong nyuruh lari segala. Gak tau apa kalau gue rajin olahraga di rumah. Ini juga ngapain harus hormat ngadap di tiang bendera. Upacara di hari senin aja gue males hormat. Apa lagi ini? Yang gak upacara. Pengertian dikit kek sama siswanya. Jangan cuman dikasi rumus sudut segitiga cosinus sinus cotan bacot anjeng," gerutu Ken tiada hentinya. Adeeva saja heran. Mulut Ken melebihi cewek. Ceeewetnya minta ampun. Gak bisa diem dari tadi. Adeeva yang cewek aja diem. Meskipun dalam hatinya mengeluh.
"Ken udah napa. Gue makin pusing dengerin lo nyerocos mulu," kesal Adeeva sambil mengusap peluh di lehernya.
"Ya abis pak Kerintong nyebelin. Gak tau apa kalau gue tauh anak baik-baik, rajin, dan suka nabung," cerocos Ken.
"Au ah. Kek cewek tau gak."
Baru saja Ken mau membalas ucapan Adeeva tetapi terhenti ketika mendengar suara bel pertanda jam keenam telah selesai dan jam ketujuh segera dimulai. Ken dan Adeeva lantas menghembuskan napas lega. Hukuman mereka telah usai.
"Akhirnya. Capek banget gila," gumam Ken mengipas-ngipaskan tangannya di depan wajah sembari melangkah menuju pinggir lapangan diikuti Adeeva di belakangnya.
"Panas-panas gini enaknya yang dingin-dingin," gumam Ken membuka kancing seragamnya hingga kaos oblong yang dipakai sebagai dalaman terlihat.
Sekarang ini Ken dan Adeeva duduk di bangku dekat lapangan. Bangku itu berada tepat di bawah pohon yang rindang hingga suasana sedikit sejuk.
"Va! Nyaut kek. Gue berasa ngomong sendiri dari tadi," ucap Ken memejamkan matanya sambil menyandar.
"Hm iya," balas Adeeva dengan lelah.
"Gue mau minum yang dingin-dingin tapi malem ke kantin. Va, lo ke kantin kem beliin min--num," Ken tersentak ketika ia merasakan sesutu yang dingin di pipinya. Ia membuka matanya dan mendapati Sevanya tengah menempelkan sebotol minuman isotonik di pipinya. Sevanya memang bisa diandalkan. Selalu ada untuknya ketika dibutuhkan.
"Cowok apa lo nyuruh cewek ke kantin beliin lo minum sedangkan yang lo suruh sama lelahnya kayak lo!" Sembur Sevanya.
"Hehehe. Maap maap," cengir Ken dan segera meminum minumannya.
"Nih buat kamu juga Va." Sevanya memberikan sebotol lagi buat Adeeva yang langsung diterima dengan senang oleh Adeeva.
"Gue pikir cuman Ken yang lo beliin," canda Adeeva.
"Ya enggak lah. Mana mungkin gue tega sama lo yang notabennya sahabat gue juga," balas Sevanya dengan senyumnya yang langsung menular ke Adeeva.
Ken yang melihatnya diam-diam ikut tersenyum merasa senang melihat kedua sahabatnya.
"Makasih ya Vanya," ucap Adeeva setelah menutup botol minumannya.
"Lo emang bisa diandelin ya." ucap Ken menarik pinggang Sevanga hingga cewek itu yang tadinya berdiri kini terduduk di samping Ken.
"Gak ngucapin makasih juga nih?" Tanya Sevanya pura-pura ngambek.
"Cieee ngambek. Yaudah nih makasih Seva-ku," ucap Ken yang telah bersandar di bahu Sevanya dengan tangan masih memeluk pinggang cewek itu.
"Kalian kek orang pacaran. So sweet," celutuk Adeeva dan segera kabur sebelum di lempar botol oleh Ken.
***
"Lukanya parah. Harusnya kak Dion tidak membuatnya separah itu!" Marah Dhea yang saat ini berada di kantor kakaknya, Dion.
"Jadi lukanya parah? Kenapa tidak mati saja sekalian?" Balas Dion membuat Dhea naik pitam.
"Kak Dion apa-apaan sih? Rencana kita gak gitu kan? Kak Dion udah setuju kalau kita misahin Arsen Adeeva supaya Adeeva bisa sama kakak dan Arsen sama aku! Kenapa tiba-tiba kak Dion ingin melenyapkan Arsen?!" Teriak Dhea.
"Bocah itu sudah memacari Adeeva. Dia sudah merebut apa yang harusnya jadi milikku. Kamu pikri kakak akan tinggal diam? Huh! Yang benar saja!" Balas Dion masih melanjutkan membaca berkas-berkas lalu menandatanganinya.
"Gak boleh gitu dong kak. Pokoknya Dhea gak mau tau. Pokoknya kakak gak boleh nyelakain Arsen lagi. Aku nyesel udah nyetujuin rencana kakak untuk nyelakain Arsen lalu aku bertindak seolah pahlawan yang menolong Arsen! Aku gak mau sampai kehilangan Arsen karena rencana buruk kakak!" Ucap Dhea lalu segera keluar ruangan kakaknya.
"Gak janji," balas Dion yang entah di dengar oleh Dhea atau tidak.
***
Hari ini kelas XI IPA 2 di jam terakhir belajar Seni Budaya. Kebetulan hari itu guru mata pelajaran Seni Budaya tidak bisa masuk karena ada halangan. Tapi begitulah meskipun tidak belajar akan tetap diberikan tugas. Adeeva segera menyelesaikan tugasnya, yaitu menggambar di kertas HVS lalu dikumpul di ketua kelas. Sedangkan Resya yang duduk di sampingnya malah asyik tidur.
Sejak kbm tadi pagi mereka salimg diam. Ke kantin pun tidak barengan. Resya pergi ke perpustakaan bareng Fandi. Entah ia membaca novel atau tidur.
Sedangkan Adeeva, ia bersama Ken dan Sevanya ke kantin. Mereka semakin akarab sejak kemarin. Rencananya sepulang sekolah nanti mereka akan ke rumah sakit menjenguk Arsen. Resya pun akan diajak. Tentunya bukan Adeeva yang mengajak. Tapi Ken. Namun sayangnya Rrsya tidak bisa ikut karena ia harus menjemput orang tuanya di bandara.
"Arkam! Gue izin ke toilet ya," izin Adeeva pada ketua kelas.
"Iya. Tapi jangan kabur ya. Belom jam pulang!" Balas Arkam yang sedang main game disertai headset di telinganya yang Adeeva yakini hasil minjam secara paksa.
"Iya iya gak bakal kabur. Gue murid teladan kali!" Balas Adeeva.
"Yeee terus kemarin apa? Kenapa lari-lari di lapangan? Kenapa hormat di depan tiang bendera padahal lagi gak upacara? Saking teladannya ya lo!" Ucap Arkam yang mengundang tawa teman sekelasnya.
"Au ah. Dasar ketua kelas nyebelin!" Ucap Adeeva lalu keluar kelas menuju toilet. Setelahnya Adeeva berniat kembali ke kelas namun ia uringkan. Ia melangkahkan kakinya menuju rooftop sekolah. Sudah lama ia tidak ke sana.
Adeeva duduk di salah satu bangku setelah ia melapnya. Ia duduk menyandar menikamati hembusan angin yang menerpa.
Adeeva memejamkan matanya. Ia kembali mengingat memori ketika ia dan Arsen berada di tempat ini. Banyak kejadian yang ia alami. Saat pertama kali ia melihat Arsen merokok di tempat ini, pertama kalinya ia melihat Arsen menangis, saat pertama kalinya Arsen memeluknya. Rasanya Adeeva kembali merasakan kehangatan pelukan itu oleh angin yang kian berhembus di siang hari. Hingga Adeeva jatuh tertidur.
***
Senja telah menyapa langit beberapa saat yang lalu. Silau matahari yang hampir tenggelam membangungkan Adeeva dari tidurnya. Adeeva mengerjap-ngerjapkan matanya. Pandangannya yang tadinya kabur kini telah jelas. Sangat jelas. Hingga Adeeva bisa melihat langit yang sudah berwana keorange-an.
"Gawat!"
Adeeva segera berlari dari rooftop menuju kelasnya. Lorong-lorong kelas yang sepi dan cahaya yang temaram membuat Adeeva merinding. Tapi ia selalu menguatkan diri hingga ia sampai di depan kelasnya.
Pintu sudah terlunci. Bagaimana ia bisa mengambil tasnya? Pandangan Adeeva tertuju pada jendela. Ia memeriksa setiap jendela barang kali ada yang tidak terkinci. Dan dapat. Adeeva segera membuka jendela itu dan memasuki kelasnya untuk mengambil tasnya.
Adeeva berlari menuju gerbang sekolah. Suara langkah kaki Adeeva terdengar begitu nyaring di tengah kesunyian. Pagar depan telah terkunci rapat. Akhirnya Adeeva memutuskan ke gerbang belakang. Terkunci juga. Tapi tak kehabisan akal. Adeeva memanjat gerbang belakang itu yang memang lebih pendek dari gerbang depan.
Dengan susah payah akhirnya Adeeva bisa melewati gerbang itu. Meski sikunya harus tergores. Tak apa lah daripada ia harus menginap di sekolah.
Adeeva mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya. Terdapat beberapa panggilan dan sms. Adeeva hendak menelpon mamanya namun tiba-tiba ponselnya mati karena kehabisan baterai.
"Sial banget sih. Gimana gue pulangnya coba? Udah gelap gini juga," gerutu Adeeva sambil berjalan menuju halte. Namun saat melihat terdapat dua orang lelaki yang penampilannya awut-awutan, Adeeva meneruskan langkahnya.
"Wuihhhh ada cewek cantik nih. Mau kemana neng," ucap salah satu preman menghalangi jalan Adeeva.
Adeeva berusaha menghindar namun tak bisa.
"Kalian mau apa? Minggir gak? Saya mau pulang!" Bentak Adeeva.
"Galak juga. Gak usah pulang dulu atuh neng. Main dulu sama Aa," goda preman yang lain sambil mencolek dagu Adeeva.
"Jangan sentuh gue!" Bentak Adeeva menepis tangab preman itu.
"Cantik-cantik galak ya," ucap preman itu lagi.
"Langsung sikat aja!" Ucap preman yang pertama tadi lalu menyeret tangan Adeeva.
"Lepasin gue! Tolong! Tolong!!" Jerit Adeeva meminta pertolongan. Namun keadaan yang sepi membuat teriakan Adeeva terasa percuma. Tidak ada yang bisa menolongnya. Adeeva semakin ketakutan. Ia diseret paksa oleh kedua preman itu menuju sebuah gedung tak terpakai lagi. Adeeva terus meminta tolong dan meronta.
Kemudian preman itu menghempaskan Adeeva di lantai yang berdebu. Mereka perlahan mendekati Adeeva hingga membuat Adeeva terus mundur hingga roknya kini sangat kotor karena debu.
Tiba-tiba ada yang menarik kedua preman itu hingga menjauhi Adeeva. Adeeva bernapas lega. Ada yang menolongnya.
Baku hantam pun terjadi anatara kedua preman itu dengan penolong Adeeva. Tak butuh waktu lama untuk membuat tumbang kedua preman itu. Adeeva segera berdiri dan berniat menghampiri lelaki jangkung yang menolongnya. Namun ia urungkan ketika melihat penolongnya itu mengeluarkan sebuah benda berkilau. Adeeva menahan napasnya ketika melihat benda itu. Sebuah belati.
Lelaki jangkung itu sengaja melemparkan belati itu dan tertancap sempurna di salah satu jari preman. Hal itu membuat sang preman berteriak kesakitan.
Adeeva memundurkan langkahnya untuk menjauh saat melihat lelaki itu kembali mengambil kembali belati itu dan melakukan hal yang sama ke preman lainnya. Setelah itu Adeeva sempat melihatnya ketika lelaki itu merobek mulut preman itu hingga ke telinga menggunakan belati. Adeeva tiba-tiba mual.
Ia tak peduli etika saat ini. Biarlah ia tidak berterima kasih kepada sang penolong daripada ia harus mendekati lelaki gila yang sayangnya telah menolongnya.
Napas Adeeva tersengal saat berlari sampai di jalan raya. Untung saja saat Adeeva sampai ia melihat taksi. Ia segera menahannya dan memasuki taksi itu untuk pulang ke rumahnya.
-TBC-