(Not) A Perfect Boy

(Not) A Perfect Boy
Part 13



Happy Reading


.


.


.


Masih terus memilih-milih tiba-tiba ada yang memegang pundaknya


"Adeeva!"


Adeeva pun berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya.


"Adeeva!! Ternyata beneran elo! Gue kangennnn!" Ucap Resya seraya memeluk Adeeva.


"Lo bareng siapa ke sini?" Tanya Resya.


"Sama Fandi," jawab Adeeva.


"Loh? Kok sama Fandi?"


"Lah? Emang kenapa? Ada masalah ya? Kalau gue sama Fandi!" Cetus Adeeva yang membuat Resya tersentak, pasalnya baru kali ini Adeeva bersikap ketus padanya.


"Ya gak masalah lah kan hak elo. Yaudah kalau gitu gue duluan ya Va, bye" pamit Resya dengan kikuk kemudian berbalik meninggalkan Adeeva.


Sedangkan Adeeva melanjutkan memilih baju. Entah sudah berapa lama Adeeva memilih baju tapi tak kunjung ada yang ia pilih membuat Fandi menghampirinya.


"Udah dapat Va?" Tanya Fandi.


"Belum Fan. Mending gak usah aja ya. Lagian aku juga nggak tau harus pilih yang mana."


"Yaudah kalau gak mau," ucap Fandi mengalah pada Adeeva.


"Kita ke gramedia dulu bisa gak Fan? Aku mau beli buku dulu."


"Ayo!! Apasih yang nggak buat kamu!" Ucap Fandi menggandeng tangan Adeeva menuju ke tempat yang diinginkan Adeeva.


"Kalau udah kenal ternyata Fandi orangnya menyenangkan. Dan mungkin apa yang Fandi bilang tentang Arsen itu benar. Harusnya dari dulu gue percaya. Harusnya gue nggak terjerat dalam pesona Arsen. Tujuan gue buat belajar yang bener di sekolah bukan malah buat pacaran," batin Adeeva sepanjang jalan.


Sesampainya di gramedia, Adeeva langsung ke bagian buku pelajaran.


"Kamu mau beli buku pelajaran?"


"Iya. Emang kenapa?"


"Aku kirain kamu mau beli novel. Kan sebagian besar cewek yang emang  suka membaca, sukanya baca novel apalagi kalau novel romantis," ujar Fandi.


"Dan aku termasuk dalam sebagian kecilnya, gue gak suka baca novel. Lebih baik gue manfaatin waktu baca novel dengan pekerjaan lain. Kalau Resya baru suka baca novel. Di kelas kalau nggak stalking idolanya di sosmed ya baca novel. Terus kalau di lupa bawa novel pasti baca di *******. Dia nggak bisa dalam sehari gak baca novel," ungkap Adeeva dengan senyum kecilnya mengingat Resya.


"Kok malah bahas Resya sih!" Keluh Fandi.


"Abis kamu sebut-sebut novel. Resya kan identik sama novel," balas Adeeva.


"Iya deh iya. Aku yang salah, Adeeva yang cantik selalu benar," canda Fandi.


"Paan sih gombal deh. Udah ah sekarang menurut kamu bagusan mana?" Tanya Adeeva sambil menunjukkan dua buku biologi pada Fandi.


Adeeva jadi ingat saat ia belajar biologi bersama Arsen. Dimana cowok itu yang serius belajar tapi gak masuk juga di otaknya.


Arsen bahkan bilang padanya kalau dia pengen jadi dokter tapi dia gak mau belajar biologi yang susah dia pahami di otaknya. Mana bisa coba? Dan juga-- lamunan Adeeva terhenti karena Fandi memanggilnya.


"Va... hey... Adeeva!"


"Eh apa Fan?"


"Tadi aku bilang bagusan yang ini. Lebih lengkap dan mudah dipahami."


"Kalau gitu aku pilih yang kamu maksud. Aku ke kasir dulu. Kamu mau beli buku juga?"


"Nggak. Udah banyak di rumah."


"Iya tau deh yang pinter!"


"Paan sih nggak kok."


Fandi dan Adeeva pun segera ke kasir membayar buku. Sempat berdebat siapa yang membayar. Tapi pada akhirnya Adeeva yang menang.


Setelah itu mereka makan dulu dan setelahnya pulang.


"Nih Va. Kamu pake ya. Nanti aku jemput jam 8. Gak ada penolakan!" Ucap Fandi memberikan sebuah kotak dengan hiasan pita di atasnya saat mereka telah sampai di depan rumah Adeeva.


"Tapi aku gak lagi ulang tahun loh," canda Adeeva.


"Jadi gak usah ya Fan?" Lanjut Adeeva dengan senyumnya


"Aku udah bilang gak ada penolakan. Okay!" tegas Fandi.


Baru saja Adeeva akan menolaknya lagi,tapi saat Fandi menatapnya tajam. Maka Adeeva pun menerima kotak itu.


"Ok ok. Tapi ini apa?" Tanya Adeeva.


"Ntar juga tau kok," jawab Fandi membuat Adeeva mendengus kecil.


"Mmm... yaudah deh ntar aku pake apa isi kotak ini," putus Adeeva pada akhirnya.


"Ok sampai jumpa nanti malam."


***


Di lain tempat, tepatnya di salah satu cafe. Arsen bersama sahabat-sahabatnya sedang berkumpul-kumpul. Tapi sedari tadi Arsen hanya diam tak seperti biasanya.


Sedangkan Ken yang memang sudah tau penyebab Arsen seperti itu tak menghiraukan. Biarlah Arsen sendiri yang berpikir apa yang harus dilakukannya.


Tak lama kemudian, datanglah Resya yang sedari tadi ditunggu-tunggu.


"Halo gaessss. Omg gue kangen banget sama kalian!" Ucap Resya merentangkan tangannya ke arah Arsen, Ken dan Sevanya.


"Gak ada yang mau peluk?" Tanya Resya menaikturunkan alisnya dengan tangan yang masih direntangkan.


Arsen -> diam.


Vanya -> "nggak".


Kenan -> geleng-geleng.


"Bilang kek daritadi kan jadi pegel nih tangan gue!" Kesal Resya.


"Tau tuh dari tadi diam mulu. Sariawan kali!"  Balas Vanya.


"Muka lo kenapa Ken? Kayak baju belom di setrika aja!" Ejek Resya.


"Malah pake nanya lagi. Gak nyadar apa kalau lo ngaretnya kebangetan. Mana oleh-oleh buat gue!" Balas Ken.


"Lo sebenarnya nungguin gue apa oleh-oleh dari gue sih?" Tanya Resya sebal.


"Ya oleh-oleh lo lah!" Jawab Ken cepat.


"Canda Sya canda. Pulang dari Jerman baperan amat!" Sambung Ken saat melihat wajah Resya yang sedih. Mendengar itu, Resya langsung gak sedih lagi. Aslinya Resya emang moodyan.


"Nih buat lo! Lo! Lo!" Ucap Resya dengan cerianya membagikan oleh-oleh dari Jerman.


"Kok lo bisa telat banget Sya? Bukannya tadi siang lo nyampenya? Kita tuh janjiannya jam 7 eh lo malah datangnya jam 9?" Tanya Vanya menerima pemberian dari Resya.


"Hehe tadi gue ke mall dulu jadi telat deh. Tapi gue cepat pulang kok jalan aja yang macetnya naudzubillah," cengir Resya.


"Jangan-jangan yang lo kasih ini bukan dari Jerman lagi!" Celutuk Ken.


"Enak aja lo. Itu semua original dari Jerman yaa. Gue tadi ke mall buat refreshing aja. Eh Sen gue tadi ketemu Adeeva di mall loh!" Ucap Resya memandang Arsen.


Arsen yang sedari tadi diam langsung memandang balik Resya mengernyit.


"Ck! Kalau ngomong Adeeva baru di respon. Tau gitu dari tadi gosipin Adeeva. Hm...hm... tau gak Adeeva itu orangnya--" ...pukkk...


"Diem lo cunguk!" Ucap Resya dengan sarkatik pada Ken yang mengelus kepalanya lalu memandang Arsen serius.


"Dari ekspresi lo gue tebak lo nggak tau kalau Adeeva ke mall. Emang bukan masalah sih kalau Adeeva ke mall tapi yang jadi masalahnya itu dia bareng sama FANDI!" Ungkap Resya menekan kata Fandi.


Resya terus memandang Arsen berharap balasan dari cowok itu.


"Kok lo diem aja?" Tanya Resya pada akhirnya.


"Ya gue harus apa? Itu hak dia kan? Mau jalan sama siapa?" Jawab Arsen sekenanya.


"Lo kok gitu sih? Harusnya ya lo sebagai calon pacar Adeeva, lo yang nemenin Adeeva!" Ucap Resya.


"Harusnya lo berjuang Sen. Kalau lo cuman diam kek gini, apa bisa lo dapetin Adeeva?" Imbuh Ken.


"Apa terjadi sesuatu saat gue nggak ada disini? Gue ngerasa Adeeva berubah. Dia ngomong ketus sama guee. Dia kayak gak seneng gitu ngeliat gue," ucap Resya.


"Gak ada" jawab Arsen.


"Emang lo beneran suka sama Adeeva?" Tanya Vanya yang sedari tadi diam.


"Ya," jawab Arsen singkat.


"Kalau gitu jangan gantungin Adeeva. Cewek butuh kepastian. Lo harus perjuangin dia Bro. Apapun masalah lo sama Adeeva lo selesaiin. Kalaupun nanti dia gak milih lo, setidaknya lo sudah tau apa yang namanya perjuangan!" Nasihat Ken menepuk bahu Arsen.


"Kalau lo perlu bantuan, kami selalu ada buat lo!" Imbuh Resya.


"Gue cabut dulu"pamit Arsen tiba-tiba.


"Kok cepet banget! Kan gue baru nyampe!" Protes Resya.


"Gue ada urusan."


"Kalian gak ngerti. Bukannya gue gak mau ngasih Adeeva kepastian. Tapi gue gak mau dia sampai ikut dalam masalah gue," batin Arsen berlalu dari hadapan teman-temannya.


***


Di rumah Adeeva tepatnya kamar. Adeeva sedang bersiap-siap. Dia sudah memakai gaun yang diberikan Fandi.


"Apa Fandi mau ngajak gue ke ultah temannya?" Gumam Adeeva.


"Adeeva!!! Teman kamu udah di depan" panggil Intan.


"Iya Ma bentar!" Sahut Adeeva.


"Kamu beli baju baru? Kenapa terbuka begitu?" Tanya Intan pada anaknya.


"Ini dikasi sama Fandi Ma. Dia minta Adeeva pakai malam ini."


"Semoga teman kamu dapat dipercaya," ucap Intan dan berlalu dari kamar Adeeva.


Disini Adeeva dapat menyimpulkan bahwa Mamanya tidak suka dengan Fandi. Hanya saja Mamanya tidak mengatakan langsung padanya. Beda dengan Arsen, Mamanya langsung menyukainya. Harusnya kan kebalik. Arsen itu tipikal bad boy sedangkan Fandi ya masuk golongan good boy lah. Tapi yasudalah. Adeeva gak boleh ke-gr-an. Belum tentu juga Fandi menyukainya. Adeeva pun memutuskan menemui Fandi.


"Silahkan Tuan Putri," ucap Fandi membukakan pintu mobil untuk Adeeva yang membuat gadis itu langsung teringat dengan Arsen.


Ya. Arsen pernah melakukan hal ini juga padanya.


"Astaga! Kenapa gue malah mikirin Arsen disaat gue lagi sama Fandi!" Batin Fandi menggelengkan kepalanya.


"Adeeva! Heiii kamu kenapa?" Tanya Fandi cemas melihat Adeeva geleng-geleng kepala.


"Ah! Gpp kok!" Jawab Adeeva dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Makasih," ucap Adeeva setelah Fandi masuk juga di dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi.


"For?" Tanya Fandi sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Untuk semuanya."


"Gak usah bilang makasih. Cukup kamu selalu bersamaku, itu saja!" Balas Fandi lalu menatap Adeeva yang hanya menunduk.


Fandi menghela napas sejenak lalu menggenggam tangan Adeeva masih dengan tangan satunya menyetir.


"Kita ke pesta teman Aku dulu, setelahnya Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat."


"Iya."


Sesampainya di tempat tujuan, tepatnya di salah satu club.


"Fandi kita ke club?" Tanya Adeeva.


"Iya, teman Aku ngerayainnya disini."


"Aku nggak ikut kan?" Tanya Adeeva memastikan.


"Ya ikut lah Va!" Jawab Fandi lembut.


"Tapi ini club, Fan. Aku nggak pernah ke club. Kalau Mama aku tau, Mama bisa marah besar sama aku."


"Bentar aja kok Va kita nggak akan minum-minum. Cuman ngucapin selamat, ngasih kado. Gitu aja. Mama kamu nggak bakalan tau kalau kamu nggak bilang," bujuk Fandi.


"Ayolah Va bentar aja. Aku cuma mau kenalin kamu sama teman-teman Aku."


Setelah lam menimbang-nimbang akhirnya Adeeva menyetujuinya.


"Happy birthday Claudia!" Ucap Fandi memberikan selamat kepada temannya yang sedang berulang tahun.


"Iya. Makasih Fan udah dateng," balas Claudia lalu mengecup pipi Fandi dan hal itu tak luput dari pandangan Adeeva.


Tapi kenapa Adeeva tidak merasakan sakit.


"Ohh iya kenalin ini Adeeva" ucap Adeeva memperkenalkan Adeeva pada Claudia.


"Hai Adeeva gue Claudia!" Sapa Claudia.


"Hai juga Claudia. Hbd yaa."


"Iya makasih Adeeva."


"Oh iya ini kado buat lo semoga suka ya," ucap Fandi memberi kado pada Claudia.


Setelah itu, Fandi membawa Adeeva ke sofa yang terdapat sekumpulan cowok.


"Hai guys!" Sapa Fandi bertos dengan teman-temannya.


"Kenalin ini Adeeva, Adeeva mereka teman aku," ucap Fandi memperkenalkan Adeeva dengan temannya.


"Cewek baru Fan?" Celutuk teman Fandi tapi Fandi tidak mendengarnya.


Tapi berbeda dengan Adeeva, cewek itu mendengarnya dengan jelas.


"Fan! Gue ke toilet dulu!" Pamit Adeeva yang dijwab anggukan dari Fandi.


Setelah bertanya pada pelayan club dimana letak toilet, akhirnya Adeeva sampai pada tujuannya. Adeeva membasuh mukanya.


"Cewek baru? Apa Fandi selalu gonta-ganti cewek? Kenapa juga Fandi maksa gue ke club? Pokoknya gue harus pergi dari tempat ini!" Gumam Adeeva dan langsung keluar dari toilet.


Baru saja beberapa langkah Adeeva dari toilet, tiba-tiba ada yang menarik tangannya dan...


-TBC-


Hello guys...


Gimana part ini?bagus gk?


Hmmm


Jangan lupa like dan comment yaa


Okay see u next part