(Not) A Perfect Boy

(Not) A Perfect Boy
Part 22



'Coba pikirkan. Masih teman saja sudah mengecewakanmu berkali-kali. Bagaimana jika sudah lebih dari teman?'


Happy reading


.


.


.


"Udah ah gue mau pulang. Viel Glück Bruder. Yukk Fan pulang."


"Ok. Sekali lagi makasih ya. Hati-hati," ucap Arsen.


"Yo'i."


Arsen melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 19.15. Hal itu membuat Arsen duduk dengan 'tidak tenang'. Ia masih saja merasa nervous padahal ia sudah latihan. Tapi kenapa masih gugup?


Lama seperti itu akhirnya ia menarik napas pelan dan menghembuskannya. Ia melihat lagi jamnya yang ternyata sudah menunjukkan pukul 19.25. Dengan segera Arsen menyalakan semua lilin.


***


Adeeva mematut dirinya di depan cermin. Sungguh saat ini ia gugup. Berbagai pemikiran terlintas di otaknya tentang ajakan Arsen. Adeeva menggelengkan kepalnya menghilangkan pemikirannya tentang apa yang akan dilakukan Arsen nanti dan meraih handbagnya lalu keluar dari kamarnya.


"Yakin gak mau kakak antar?" Tanya Dion.


"Gak usah kak. Mmm kalau gitu Adeeva pamit dulu ya kak. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


***


Adeeva telah sampai di taman sesuai dengan yang dikatakan Resya. Adeeva dibuat begitu terpanah melihat taman yang begitu indah. Apalagi ditambah dengan cahaya lilin yang temaram membuat suasana romantis.


Namun ada yang kurang. Mana Arsen? Keadaan taman begitu sepi. Hanya ada Adeeva seorang.


"Ohh mungkin Arsen mau ngasih surprise buat gue," pikir Adeeva.


Akhirnya Adeeva memutuskan duduk di kursi yang tersedia. Ia tak henti-hentinya berdecak kagum melihat tempatnya berada saat ini.


Namun lama kelamaan Adeeva mulai bosan juga. Pasalnya Arsen belum nampak juga batang hidungnya. Entah sudah berapa menit, salah! Tapi entah sudah berapa jam Adeeva menunggu tapi Arsen belum datang juga. Tidak ada kabar dari Arsen.


Langit yang tadinya cerah pun kini sudah tidak ada lagi bulan dan buntang yang menghiasi. Seakan mewakili perasaan Adeeva saat ini.


Adeeva pun mencoba menghubungi ponsel cowok itu. Namun naas, ponselnya tak aktif. Berbagai pikiran negatif mulai singgah di otaknya.


Tiba-tiba sebuah tangan terulur di depannya membuat Adeeva tersentak. Ia pun mendongkak, dikiranya Arsen. Tapi ternyata bukan. Karena yang berdiri di depannya saat ini adalah... Dion.... kakaknya.


"Ayo pulang," ajak Dion masih mengulurkan tangannya.


Adeeva memandang Dion dengan mata berkaca-kaca.Ia tidak menerima uluran tangan Dion. Tapi ia langsung menubruk tubuh kakaknya dengan pelukan.


"Hikksss."


***


"Nak. Bangun! Sudah pagi. Kamu sekolah kan. Yukk bangun!" Ratna terus membangunkan anaknya.


"Iya ma," balas Adeeva mengiyakan tapi malah memperbaiki posisi tidurnya. Hal itu membuat Ratna geleng-geleng melihatnya.


"Bangun sayang!" Ratna mengguncangkan tubuh Adeeva hingga membuat Adeeva benar-benar bangun.


"Iya Mah. Ini Adeeva udah bangun kok," balas Adeeva yang mau tak mau terpaksa bangun dan bersiap-siap ke sekolah.


"Lho Dhea mana ma?" Tanya Adeeva saat tak mendapati Dhea di ruang makan.


"Dhea lagi pergi melayat. Ibu temannya meninggal katanya."


"Innaillahi wainnaillahi roji'un."


"Kamu sarapan cepet. Kasian Dion udah nungguin kamu dari tadi." Ratna mengusap kepala Adeeva. Sedangkan Adeeva memandang Dion yang balas menatapnya dan lagi-lagi disertai dengan senyumnya.


***


Sesampainya di pekarangan sekolah, Adeeva langsung turun setelah mengucapkan terima kasih kepada Dion tanpa menunggu balasan.


"Adeeva!" Panggilan dari Dion membuat langkah Adeeva terhenti tanpa membalikkan badannya.


Dion melangkah mendekati Adeeva yang masih berdiri menundukkan kepalanya. Ingatlah bahwa mood Adeeva masih buruk sampai saat ini.


Adeeva berniat melanjutkan langkahnya saat merasa tak ada yang akan diucapkan Dion padanya. Namun, sepasang sepatu mengkilat di depannya membuat Adeeva mengurungkan niatnya.


Tiba-tiba Adeeva dikejutkan dengan sebuah pelukan dari orang di depannya yang tak lain adalah kakaknya. Tepatnya kakak tirinya.


"Jangan mikirin cowok itu lagi. Lupain dia yang sudah nyakitin kamu. Tetep jadi Adeeva yang ceria. Okay?" Bisik Dion di samping telinga Adeeva.


Perlahan, Dion melepaskan pelukannya pada Adeeva. Adeeva mendongak melihat Dion yang tersenyum. Lalu kejadian tak terduga lagi ketika Dion mengecup keningnya. Adeeva gak habis pikir. Dion memeluk dan menciumnya di halaman sekolah! Sontak saja hal itu menarik perhatian para siswa-siswi yang mulai ramai.


"Yang semangat belajarnya." Itulah kalimat terakhir Dion sebelum meninggalkan Adeeva.


"I don't care! Mereka bukan siapa-siapa gue. Jadi buat apa gue peduli omongan mereka?"


Ya. Lama-kelamaan Adeeva mulai seperti Resya. Adeeva yang dulu selalu mendengar omongan orang yang mengatai tentang dirinya kini tak lagi. Itu karena Resya selalu bilang kepadanya 'jangan dengerin orang lain yang mengatai lo. Karena itu sama saja lo membenarkan ucapan mereka dan menghancurkan diri lo sendiri'. Apa yang dikatakan Resya memang benar. Ketika memiliki sebuah mimpi dan kita mendengarkan orang yang mengatai kita karena mimpi kita itu, maka sama saja kita membiarkan orang-orang menghancurkan mimpi kita.


"Ngomong-ngomong dimana Resya? Bentar lagi kan masuk," batin Adeeva melihat jam tangannya sambil melangkah.


Sebuah tarikan keras di lengannya membiat langkah Adeeva terhenti dan berbalik kepada sang penarik.


"Resya! Lo apa-apaan sih! Sakit tau!" Kesal Adeeva.


"Lo sadar nggak Va apa yang lo lakuin sama Kak Dion tadi, huh?" Ucap Resya dengan tenang.


"Ya gue sadar lah. Lo pikir gue kesurupan tadi?" Balas Adeeva.


"Va, lo tuh kayak nggak menghargai Arsen. Lo mesra-mesaraan tadi dan parahnya sama Kak Dion." Resya mencoba untuk tetap tenang.


"Arsen itu hanya temen gue kan? Jadi kenapa gue harus gak deket-deket sama cowok buat ngejaga perasaan Arsen? Itu gak wajar kan dalam sebuah pertemanan? Dan apa lo nyadar kalau kak Dion itu kakak gue? Jadi ya wajar-wajar aja dong dia meluk, cium kening gue karena dia sayang sama gue. Dia ngelakuin itu bukan sama gue doang tapi ke Dhea juga. Ya itu karena kami adiknya. Jangan lebay deh," jelas Adeeva.


"Iya gue tau Va itu tanda sayang seorang kakak ke adeknya. Tapi tatapannya beda Va. Lo tuh sebenarnya emang polos atau sok polos sih," balas Resya dengan suara naik satu oktaf.


Sedangkan Fandi yang sedari tadi di samping Resya hanya mengelus punggung Resya untuk meredakan emosi Resya yang mulai meningkat.


"Tau apa lo soal tatapan seorang saudara? Lo aja gak punya saudara kan?" Ucap Adeeva membuat hati Resya mencelos seketika.


"Lo?"


"Kenapa? Gak nyangka gue ngomong kek gitu? Gue tanya deh. Sekarang apa lagi yang lo rencanain sama Arsen? Tadi malam kan lo sama Arsen udah berhasil buat gue nunggu berjam-jam di taman kayak orang ****" ucap Adeeva memandang Resya lekat yang dibalas kernyitan oleh Resya.


"Lo bilang dateng jam 7.30 malam. Gue udah dateng pas jam segitu tapi Arsen gak ada. Puas lo sekarang?" Sambung Adeeva sambil menghentakkan tangan Resya di lengannya.


"Lo kok nuduh gue sama Arsen yang nggak-nggak sihh. Kepuasan apa yang lo maksud? Lo pikir gue puas lo nunggu berjam-jam? Nggak Va! Gue pikir kita udah saling mengenal tapi nyatanya nggak. Ternyata seburuk itu pikiran lo tentang gue. Dan Arsen nggak mungkin ngelakuin itu tanpa alasan. Jelas-jelas tadi malem Arsen udah ada disana sebelum jam 7.30. Ya kan Fan?" Ungkap Resya.


"Iya," balas Fandi membenarkan ucapan Resya.


Tapi Adeeva tidak mendengarkannya malah melanjutkan langkahnya.


"Lo jangan nyesel kalau udah tau alasan Arsen!" Teriak Resya pada Adeeva.


"Dasar ****. Kenapa sih cewek kalau urusan asmara menye-menye. Lebay deh. Hal kecil aja dibesar-besarin," sambung Resya dengan cibirannya.


"Heyyy jadi lo gitu juga ya? Kan lo cewek," ejek Fandi.


"Nggak! Gue pengecualian kan gue limited edition yang dicipatakan hanya untuk Aldrian!" Balas Resya.


"Ngarep! Emang si jangkung itu mau sama lo?" Balas Fandi masih dengan ejekannya.


"Ckk. Bilang aja lo sirik. Udah ah sekarang lo temenin gue nyari coklat. Karena yang gue butuhin itu sekarang coklat," ucap Resya dengan otoriternya menarik lengan Fandi yang hanya pasrah diseret oleh gadis itu.


"Untung cantik!" Cibir Fandi.


"Makasih lho. Gue emang cantik."


***


"Kak Dion gak perlu repot-repot jemput Adeeva kek gini. Adeeva bisa pulang sendiri," ucap Adeeva pada Dion yang sibuk menyetir.


"Kakak cuma khawatir sama kamu," balas Dion.


"Makasih sebelumnya, kak Dion udah khawatirin Adeeva. Tapi please gak usah berlebihan. Lagian kak Dion juga banyak kerjaan 'kan."


"Udah sampai."


"Hhuuffttt....makasih kak. Hati-hati."


Adeeva baru saja memegang handle pintu berniat membuka pintu. Namun, Adeeva merasa menginjak sesuatu. Sebuah amplop? Disitu tertera untuk Adeeva.


"Siapa yang ngirim? Gak ada nama pengirimnya," batin Adeeva membolak-balikkan amplop coklat itu.


Adeeva melihat sekitar berharap kurirnya masih ada. Tapi nihil. Akhirnya Adeeva memutuskan masuk ke dalam rumah. Sepi. Tak ada orang. Adeeva melanjutkan langkahnya menuju kamarnya untuk mandi karena badannya terasa begitu lengket.


Setelah mandi, Adeeva berbaring di ranjangnya. Ia lelah. Lelah fisik maupun batin.


Baru saja ia memejamkan matanya, matanya langsung terbuka lebar kembali saat ia mengingat amplop tadi.


Adeeva segera beranjak menuju meja belajarnya untuk mengambil amplop coklat itu. Untuk menuntaskan rasa penasarannya, Adeeva segera merobek bagian atas surat amplop itu dan mengeluarkan isinya.


"Ternyata sebuah foto. Foto apaan coba? Buat apa ngirimin gue foto? Apa ini salah kirim ya? Ehh tapi jelas-jelas tertera to : Adeeva Quanecia," batin Adeeva yang dengan lerlahan membalikkan foto itu untuk melihat gambarnya.


"OMG! Ini... ini maksudnya apa ngirimin gue foto kek gini?" Gumam Adeeva memandang foto satu per satu.


"Arsen," lirih Adeeva dengan mata yang memanas.


-TBC-


HALOOO


Jangan lupa like ya