
"tenang saja lin aku yakin dia gak bakalan marah sama kamu" gio menenangkan kelin
"iya semoga aja" ucap kelin tidak yakin
Ketika kelin sedang dalam pikiran yang sedang berkeliaran tiba-tiba dimas duduk di sebelahnya dan berbisik di telinga kelin.
"sudah puas kangen-kangenannya" bisik dimas dengan nada menyindir
kelin hanya diam dan pokus sama makanannya. Sepertinya gio tau dengan kondisi itu.
"kenalin aku gio temannya kelin" ucap gio mengalihkan dimas
"oh iya salam kenal" ucap dimas sok manis padahal dalam hatinya kesal dengan kelakuan mereka berdua
"mau makan apa kak, aku akan pesankan" gio menawarkan tapi dimas menolaknya
"gak perlu aku sudah pesan sebentar lagi datang" ucap dimas
Lima menit dimas menunggu dan akhirnya makanan pun tiba yang di antarkan oleh amel.
"silahkan pak makanannya sudah siap" ucap amel
"makasih" balas dimas
"kalau begitu aku pamit dulu masih ada pekerjaan" pamit amel tapi sejurus kemudian gio menarik tangannya.
"tunggu dulu mending kamu duduk disini bareng kita" ucap gio menahan amel
"maaf aku gak bisa karena masih banyak kerjaan" ucap amel menolak
"sudah mel kamu gabung saja di sini lagian tadi kamu juga sudah izin" ucap dimas
"baik pak" ucap amel yang senang karena di perbolehkan bergabung dengan kelompok itu
dimas mengambil udang untuk kelin dan menyuapinya sembari memasang wajah sinisnya. Kelin begitu malu dia menundukan wajahnya sembari menutup mata dan menopang kepalanya mengalihkan pandangannya dari dimas.
"aaa .... Sayang buka mulutnya" ucap dimas memaksa. kelin hanya bisa menggelengkan kepalanya
"gak usah kak aku bisa makan sendiri" kelin menolak dimas
"lho kenapa bukannya kalau kamu makan harus di suapi ya. Tapi kenapa sekarang kamu malah menolaknya" ucap dimas sedikit menyindir
"jadi kamu lebih suka di suapi sama orang lain. Baiklah kalau begitu aku tidak akan mengganggu" bisik dimas di telinga kelin
Kelin menatap dimas tapi tidak dengan dimas dia malah beralih ke ponselnya dia tidak lagi menghiraukan kelin mungkin saja dimas masih kesal dan sakit hati dengan kelin.
Bagaimana dia tidak sakit hati kalau kelin menolak untuk di suapi sama dimas tapi kalau sama gio mau,malahan dia terlihat sangat bahagia.
Sepertinya dimas merasa bahwa kelin lebih bahagia sama gio di banding dirinya.
dimas memutuskan untuk pergi sepertinya kedatangan dia sangat mengganggu kebahagiaan mereka sepertinya mereka semua pada canggung.
"semuanya aku pergi dulu ya masih banyak pekerjaan. Senang bisa bertemu kalian" dimas berpamitan pada mereka semua
"iya kak" ucap farel
dimas pun pergi meninggalkan sekelompokan itu.
"wan aku pulang dulu" ucap dimas
"lho kenapa pak kan kita belum beres mengurus data-data semua kariawan belum lagi harus melihat laporan keuangan" tukas riswan
"kamu bereskan semuanya. Aku mau pulang dulu lagi gak enak badan" jelas dimas
"bapak kenapa, sakit apa" tanya riswan
"aku gak apa-apa cuma kecapean. oh iya wan kalau sudah beres dengan urusan di sini kamu ke restoran ya" titah dimas
"iya pak . Bapak hati-hati sampai di rumah makan obat dan istirahat" ucap riswan khawatir dengan kondisi dimas
"sudahlah jangan terlalu lebay aku gak kenapa-napa. Aku pulang dulu ya" dimas menepuk bahu riswan dan pergi meninggalkannya
***
sepeninggalan dimas. farel nyamperin kelin.
"lin kenapa kamu gak ikut pulang" tanya farel
"dia pulangnya ke kosan kariawannya" ucap kelin dingin
"tapi sepertinya dia marah" ucap farel
"bagaimana dia gak marah kalau melihat tungannya lagi sama mantan pacarnya. Bahkan mereka berdua terlihat sangat bahagia" timbrung elsa
"apaan sih el dia saja yang terlalu cemburuan" ucap kelin membela diri
"masa sih mel. Lagian kenapa juga dia bisa di sini" ucap kelin
"dia menejer baru di cafe ini" terang amel
"hah kenapa kamu gak ngasih tau" kelin nampak kaget
"aku juga gak tau kalau dia tunangan kamu" ucap amel
"sudahlah lin mending kamu pulang susul dia" titah gio
"iya lin lagian kita juga akan pulang. gilang sama elsa juga mau pergi jalan-jalan dulu" ucap farel
"yasudah aku pulang dulu ya" pamit kelin
"iya. dah kelin sampai jumpa lagi" ucap mereka semua
Kelin pun meninggalkan mereka. di sepanjang jalan dia menelepon dimas tapi nihil dia tidak aktip.
"sittt....sitttt kemana dia. Apakah dia semarah itu, tidak dia tidak pernah marah kepadaku. Mungkin dia banyak kerjaan, aku akan ke restorannya" kelin pun pergi ke restoran diantar taxi
Sesampainya di restoran dia bertanya pada seorang pelayan
"mbak...apakah pak dimas ada" tanya kelin
"pak dimas lagi ke cafe mbak, mungkin balik lagi kesini nanti sore" jawab pelayan itu
"apa riswan ada" tanyanya lagi
"pak riswan juga ikut karena dia selalu membantu pak dimas dalam mengurus pekerjaannya" jawab pelayan
"oh kalau begitu makasih ya mbak"
"iya sama-sama"
Pelayan itu pun pergi meninggalkan kelin yang lagi kebingungan.
"sepertinya aku harus ke kosan riswan, mungkin kak dimas pulang" gemuruh kelin
kelin pun mencari dimas ke kosan riswan, terus kerumahnya, ke cafe tapi nihil dimas tak ada di semua tempat itu.
Kelin khawatir dia bingung harus mencari dimas kemana lagi waktu sudah menunjukan pukul 04.30 sore hingga dia kembali lagi ke restoran dan menemui riswan.
"wan... kak dimas kemana ya" tanya kelin
"dia pulang ke kosan katanya dia lagi gak enak badan" ucap riswan
"tapi dia gak ada disana" terang kelin
"lho terus dia kemana" tanya riswan
"aku juga gak tau, aku sudah cari dia kemana-mana tapi aku gak menemukannya" ucap kelin yang sedikit khawatir
"coba aku telepon dulu" riswan pun meneleponnya tapi gak ada jawaban
"dia tidak menjawabnya. Kakak ipar gak perlu khawatir mending kakan pulang dulu" titah riswan
"tapi aku harus mencari kak dimas" ucap kelin
"kakak ipar gak perlu mencarinya biar aku saja yang mencarinya nanti kalau sudah ketemu aku akan memberi tau kakak ipar" ucap riswan
"yasudah kalau gitu aku pulang dulu ya" pamit kelin
Sepeninggalan kelin riswan terus menelepon dimas. Dengan percobaan yang sudah puluhan kali akhirnya dimas pun mengangkatnya.
"hello.. Pak kamu dimana" tanya riswan
"maaf pak anda saudara pria ini bukan. Dia mabuk berat pak sekarang dia lagi gak sadarkan diri" ucap seseorang disebrang sana
Happy Reading😊
promosi halaman facebook sayangkuh👉Nura yulvani nur padilah
Written by: Nura
Dimas&kelin
Gio putra permana