You Heart Me

You Heart Me
Bonus Chapter



"Crystal, kemari lah Sayang " Mama harus menyiapkan makan malam Papah mu.


Cup


Di kecupnya pipi gembul milik Crystal, Clara meletakan Crystal di sebuah meja kecil yang sengaja di siapkan untuk mempermudah dia bergerak saat menyiapkan makan malam seperti ini.


Mama...


Rengekan Crystal lagi lagi membuat Clara, mau tak mau menatap putri kecilnya itu.


Gadis mungil itu selalu saja, ingin di manjakan kedua orang tuanya.


Crystal selalu ingin di perhatikan semua orang, ia tak senang jika di abaikan seperti ini.


Clara menggeleng saat melihat Crystal sengaja menumpahkan cake yang Clara letakan sebagai Camilan untuk putri kecilnya itu.


"Crystal sayang ,sebentar lagi papah pulang. mau kan Crystal menunggu sebentar ? " Clara mengusap kedua pipi putri kecilnya.


Crystal yang memang tahu perkataan mamanya, menganggukkan kepalanya dengan menunjukkan deretan gigi yang masih belum tumbuh dengan rata itu.


Papah Pulang!


Seketika, Crystal tertawa dia menatap Devan dengan kedua tangan yang terulur.


Hai Sayang!


Devan dan Clara memberikan kecupan sekilas di bibir Clara, Clara selalu tak melewatkan momen kiss yang selalu Devan berikan saat ia kembali dari kantor.


Bagaimana harimu? Apa hari ini Crystal merepotkan mu?


Devan mendekati putrinya, diraihnya Crystal dalam gendongan pria itu. Crystal tertawa bahagia saat Devan menggelitik tubuh mungilnya.


Aku akan memanaskan makanannya, Kau temani Crystal dulu!


Devan mengangguk, Sebelum Devan berlalu dari dapur dia sempat sempatnya membisikan sesuatu pada Clara.


Jangan Lupa untuk malam ini,


Seketika bulu kuduk Clara meremang, dia masih saja tersipu. Devan memang sudah menjadi suaminya, namun tetap saja Clara tidak memungkiri jika dia masih begitu canggung pada Devan.


Apalagi Jika Devan sudah mulai, berbicara tentang hal hal yang mengacaukan pikirannya seperti saat ini.


*Keesokan paginya.


Astaga, Devan!


Kau mengejutkanku, Clara berjengit kaget saat Devan memeluknya dari belakang.


Clara kembali melanjutkan kegiatannya, Clara akan meraih Spons untuk mencuci piring.


"Devan, Biarkan aku menyelesaikan tugasku! " Keluh Clara saat Devan menjauhkan sabun cuci piring yang akan diraih.


Devan menggeleng, dia menuntun tangan Clara dan meletakkannya di bahu Devan.


Clara menatap Devan dengan kening mengerut, pasalnya Devan mendadak mengangkat dirinya ke wastafel dan mendudukkan dirinya di sana.


Clara, pejamkan matamu!


Untuk apa?


Pejamkan saja, Clara!


"Baiklah, Kau memang keras kepala ! "Clara mengalah.


Buka matamu!


Perlahan Clara membuka matanya, matanya berbinar indah menatap sepasang liontin tergantung indah di lehernya.


Devan ini, Kapan Kau memesannya?


Dan ini foto Crystal, Astaga ini sungguh indah!


Devan menatap Clara dengan tatapan yang teramat dalam, bahkan dia meneteskan air matanya.


"Devan ada apa?" Clara memandangi wajah Devan, diusapnya air mata yang mengalir membasahi wajah Devan.


Devan menggeleng, dia menggenggam jemari Clara.


Terkadang aku masih merasa bersalah kepada Stevy, Semalam aku bermimpi tentangnya.


Devan tertunduk lesu, dia mengingat semua momen kedekatannya devan Stevy. Devan yang dulu masih belum pandai membedakan, mana Cinta dan Sahabat juga perasaan apa yang di milikinya pada Stevy kembali dihantui rasa bersalah.


Clara meraih wajah Devan, Clara menatap Devan dengan senyum yang selalu menyadarkan Devan, jika senyum ini lah senyum yang selalu Clara berikan padanya sewaktu mereka kecil dulu.


Kau hanya terlalu memikirkan rasa bersalah mu saja.


Devan yang tadinya muram, seketika memandang kearah Clara.


Devan melihat ke dalam mata Clara, tidak ada rasa cemburu yang mencuat di mata yang selalu menemani tiap detik dalam hidupnya selama ini.


Hanya ada ketulusan saat Clara mengucapkan kalimat yang lagi lagi membuat Devan terkesima mendengarnya.


"Kau tidak terluka dengan semua yang kukatakan?" Devan ingin memastikan kembali.


Untuk apa terluka, Kau hanya mengingat Wanita yang memang pernah hadir dalam hidupmu sebelum aku, sebelum kau menyadari perasaanmu waktu itu.


Devan aku bukan lagi Clara yang akan menangis, saat Kau tidak berkata jujur padaku!


Waktu mengajarkanku banyak hal, Seperti kehadiran Stevy. Jika dulu, Kau dan Stevy tidak menikah terlebih dulu mungkin kau tidak akan menyadari perasaanmu padaku!


Devan menatap Clara, kembali ia mendaratkan Kecupan hangat di kening wanita yang telah memberinya buah hati seperti Crystal.


Terima Kasih untuk Kepercayaan mu padaku yang begitu besar Clara.


Clara mengangguk, dia mengeratkan pelukannya pada Devan. Devan mengangkat tubuh Clara, dia membawa Clara ke kamar pribadi mereka.


Perdebatan mereka akan selalu berakhir dengan hal manis, baik Clara dan Devan selalu menyempatkan komunikasi kecil seperti ini.


Hingga terkadang, Devan dan Clara harus mencuri Waktu hanya untuk sekedar bercerita atau menghabiskan waktu bersama seperti ini.


Semenjak kehadiran Crystal, terkadang Devan dan Clara hanya memiliki sisa waktu yang sedikit karena keduanya sibuk dengan kegiatannya.


Devan kerap kali menghabiskan waktunya di kantor, sehingga saat pulang dia akan menemui Crystal terlebih dulu.


Lalu sisa Waktunya, akan ia gunakan untuk menanyakan kegiatan Clara.Devan tahu melaksanakan peran sebagai Ibu, adalah hal yang paling berat yang di lalui semua wanita.


Devan cukup bangga, dia tidak pernah berpikir Jika Wanita tomboi yang selalu di ejeknya dulu kini menjelma bidadari paling ia kagumi di hidupnya.


Devan memandangi wajah Clara yang sudah terpejam sejak satu jam yang lalu, sedangkan dirinya masih menatap wajah Wanita yang sampai saat ini menemani hari harinya.


Devan yang mulai menguap, akhirnya memejamkan matanya.


**


Sesuai dengan yang Clara katakan, jika dia akan menemani Devan berkunjung ke pemakaman Stevy.


Mama....


Hiks.... hiks...


Tangis Crystal pecah, gadis kecil itu mulai merasa tidak nyaman karena sinar matahari membuat kulitnya berkeringat.


Clara mencoba menenangkan Crystal yang mulai merengek.


Stevy tolong maafkan kesalahanku di masa lalu, aku mungkin pernah menyakiti perasaanmu. Sungguh Jika aku bisa mengembalikan waktu, aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu.


Devan mengungkapkan semua permintaan maafnya dari dalam hati.


Devan membuka matanya, sekelebat sosok Stevy berdiri di hadapannya. Senyum Stevy yang pertama di lihatnya, membuat Devan merasa bisa bernapas lega. Rasa bersalah yang terus menerus menghampirinya, kini perlahan lenyap sedikit demi sedikit.


Papah....


Papapah ..


Devan menoleh ke arah putri kecilnya yang ada dalam gendongan Clara.


Devan melemparkan senyum pada buah hatinya, dia kembali menatap nisan Stevy. Devan mengusapnya, lalu meletakan sebuket bunga untuk di makam Stevy .


Devan berjalan menemui Clara dan Crystal yang sudah berdiri di bawah Sinar matahari, Clara menatap pemakaman Stevy sekilas dengan tersenyum.


Tenanglah Kau di sana Stevy, Terima Kasih atas kebahagian yang kau berikan padaku lewat semua yang terjadi.


Clara ayo masuk, Sepertinya Crystal mulai lapar!


Suara Devan membuat Clara tersadar, dia segera memasuki mobil bahkan Clara tidak tahu kapan Crystal berpindah dari gendongannya dan Kapan Devan meraih Crystal dari tangannya.


Devan memberikan Crystal pada Clara, Clara mengecup pipi gembul Crystal dengan gemas.


Devan yang melihat itu tersenyum dengan tampan, di kecup nya Clara dan Crystal bergantian.


Dua malaikat yang selalu ia jaga, dan ia rawat dengan penuh Cinta.Mobil yang ditumpangi Devan dan Clara berlalu meninggalkan pemakaman Stevy.


...


~End~


Mendadak author pengin ngasih satu chapter tentang Clara sama Devan.ada yang kangen mereka nggak, kaya author misalnya?