
Hari ini senyum menghiasi sepasang wajah suami istri yang tak lagi muda, Aldrich dan Jasmine saling melempar senyum milik mereka. Maxim nampak turut bahagia melihat kembali semangat hidup dalam diri Jasmine yang kembali bangkit .
Maxim mengingat semalam saat malam Jasmine mengigau nama Ara, Maxim dan Aldrich mengetuk kamar Ara dan meminta Ara untuk melihat kondisi Jasmine.
seperti yang Aldrich pikirkan sebelumnya, benar saja Jasmine kembali memiliki semangat hidup setelah melihat Ara putrinya.
flashback off.
selamat pagi semuanya ......
Devan duduk dan ikut bergabung di ruang makan, Devan bisa melihat jika Daddy dan Mommy mereka tersenyum. Devan pun menyunggingkan senyum ,kebahagiaan orang tuanya telah kembali .
Maxim dan Aldrich juga Jasmine menatap ke arah pintu, Devan mengikuti arah pandang semua orang. mata Devan tak berkedip sedikitpun, pandangan Devan terkunci pada Ara.
Maxim berdiri dia menarik kan kursi untuk Clara nya duduk ,tepat di sebelah Jasmine.
duduklah di sini Ara!
selamat pagi Daddy, Mommy, Kak Maxim....sapa Ara dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
Devan mengerjap saat menyadari Ara tidak menyapanya, dia ingin berkomentar namun Aldrich menyuruhnya untuk segera duduk dan mulai menyantap makanan.
tidak ada pilihan lain, Devan mengangguk dia tidak ingin membuat mood bahagia Daddy dan Mommy nya menurun.
Devan mencuri pandang pada Ara, sedangkan Ara bertekad dalam hati untuk mencoba mengacuhkan Devan.
saat ini Clara membantu Jasmine meminum obatnya, Mommy kau istirahatlah! aku akan disini menemanimu Clara mengembangkan senyumnya. Devan berdehem dia memasuki kamar Jasmine, Devan menatap ke arah Ara sekilas. Clara mengalihkan pandangannya.
Devan ada apa sayang? apa kau perlu sesuatu tanya Jasmine dengan suara yang masih terdengar lirih tak bertenaga. kondisi Jasmine masih dalam masa pemulihan, dan Devan bersyukur setidaknya Mommy nya terlihat lebih segar dari sebelumnya.
Mom, bisakah aku meminjam Ara sebentar? Clara tentu saja merasa kaget mendengar permintaan Devan .Clara berusaha bersikap tenang dia hanya diam mendengarkan Devan melanjutkan kalimatnya.
Clara begitu bingung menyikapi ini, dia mengiyakan atau menolak. Ara berdebat dengan isi hatinya tekadnya kembali mencuat dari otak namun hatinya tahu sang pemilik nya tengah memanggil serta mengetuk kembali pintu hati Clara. Clara mengambil keputusan impulsif dia tidak mau menjadi gadis lemah lagi karena perasaannya selalu mendominasi.
kau dengar itu sayang, Pergi lah Clara! Mommy akan beristirahat. Devan kembali menatap Ara. Ara bangkit dia keluar terlebih dulu dari ruangan kamar Jasmine. Ara terus berjalan hingga ke dapur, Devan yang membuntuti Ara merasa kesal pasalnya Ara malah mencuci piring dan mengabaikan kehadiran Devan.
Devan memperhatikan Ara, Devan mendekat dia hendak mengusap surau Ara dari belakang. Ara membeku di tempat, dia mengeratkan genggamannya pada spon yang ada di tangannya. hatinya mencair jika saja Ara tidak teringat dengan tekad dan niat awalnya kembali kemari.
hentikan Devan jangan mendekati ku! sergah Ara dengan menjauhkan tubuhnya dari Devan, Devan tentu saja tidak mengerti dengan perubahan sikap Ara padanya. Ara kembali melanjutkan mencuci piringnya, Ara! Devan memanggilnya. Ara mencoba mengacuhkan Devan.
Devan mencengkram bahu Ara menariknya agar menghadap pada Devan, mata Devan terkunci dengan manik mata hazel Ara. panggil aku Clara mulai saat ini. Clara mencoba melepaskan genggaman Devan di bahunya, Devan semakin tajam menatap Ara. bagiku kau akan tetap Ara ku dan akan tetap seperti itu selamanya. Devan menarik lengan Ara dengan paksa, Ara memberontak dia menggigit tangan Devan yang begitu kencang menariknya.
Ara memegangi lengan nya yang merah akibat cengkraman Devan, Devan merasa bersalah dia hanya ingin bertanya mengapa Ara tak menyapa pagi tadi. namun Devan pria yang nol akan mengendalikan emosi bukan.
Devan mengibaskan lengannya yang terkena gigitan Ara, melihat Ara yang tengah menaiki tangga Devan berusaha mengejar langkah gadis itu.
Ara berpegangan pada tumpuan tangga, Ara mengernyit dia menoleh dan melihat tangan Kekar Devan menindih punggung tangannya. Devan berdiri tepat di belakang Ara, Ara merasa tembok pertahanan yang ia bangun akan runtuh jika Devan selalu bersikap dominan dan itu tidak baik untuk hatinya.
Ara menarik paksa tangannya, dia mengabaikan Devan dan berlari menuju kamarnya. Devan menatap punggung Ara yang semakin menjauh dari pandangan nya, ada apa dengan Ara? mengapa dia berubah? Devan lantas kembali melangkah ke lantai atas, baru saja dia akan melangkah suara Leon menghentikan langkahnya.
Devan tunggu!
Leon mendekat ke arah Devan, Devan memutar bola matanya untuk apa kau kemari? ini masih terlalu pagi pengacau ,jadi pergi lah bertamu saja lain kali Devan meninggalkan Leon begitu saja! .
Leon terkekeh, dia sudah terbiasa mendengar kata kata cabai dari mulut Devan semenjak mereka mengenyam bangku pendidikan. Maxim yang baru saja keluar dari dapur, tidak menyangka Leon sahabatnya akan datang sepagi ini.
Leon ! apa kau sudah lama menunggu?
sapa Maxim dengan suara yang teramat lantang. Ara bahkan bisa mendengar suara Maxim dari lantai atas, Ara mengernyit saat Maxim meneriaki namanya dari bawah.
Ara bergegas turun, dia melihat Leon dan Maxim menatap intens padanya .
entah apa yang ada dalam pikiran dua pria ini? Ara tidak ingin membebani kembali pikiran nya yang memang sudah bebal.
Kakak, kau memanggilku? Clara mendekati Maxim, Maxim mengiyakan dia menepuk kursi agar Clara duduk di sebelahnya.
Leon mengatakan padaku, jika dia mencintaimu Clara. Clara menatap Maxim serta Leon bergantian, Clara menatap Maxim dengan tatapan yang sukar untuk di cerna. Maxim tahu akan seperti reaksi adik tomboinya itu.
Leon hanya diam membiarkan Maxim yang berbicara, Leon mencoba bersikap gentleman ,dia berdiri dan mendekat pada Clara. Leon meminta izin pada Maxim, seperti biasa Maxim hanya mengangguk patuh.
Clara terperanjat saat Leon mencium punggung tangan nya dengan lembut. Leon apa yang kau lakukan? Clara merasa tidak nyaman di perlakukan seperti itu apalagi di depan kakaknya Maxim.
Leon tersenyum simpul, seperti yang Maxim katakan sebelumnya. Aku mencintai mu Clara!
Clara terkesiap dia melebarkan bola matanya, pupil nya terlihat membesar. kini Maxim lah yang menjadi pendengar, Clara menoleh pada Maxim. Maxim mengendikkan bahunya acuh, itu artinya Clara harus memutuskan sendiri pilihan nya.
Devan yang berdiri di lantai atas berpegangan pada pembatas balkon, Devan mencuri dengar serta melihat semuanya dengan mata terbuka. Devan begitu tidak suka dengan Leon yang terang terangan selalu merebut apa yang dia punya.
tunggu, apa baru saja aku menganggap Ara adalah milikku, gumam Devan. Devan tersenyum dia merasa menang atas Ara, Ara memang milikku bukan sejak kecil dia selalu bersama ku dan dia memang milikku.
Devan melangkah turun dia akan ikut bergabung bersama Maxim dan Ara serta Leon di lantai bawah.
tanpa Devan sadari, Devan selalu mengklaim Clara sebagai miliknya. Devan hanya terlalu bodoh mengenali perasaan dirinya sendiri yang dia miliki untuk Clara.