You Heart Me

You Heart Me
panggilan paman



Clara mengernyitkan dahi, saat kilauan cahaya matahari menembus jendela kamar hotel ,yang mengenai tepat di sekitar area matanya.


Clara merentangkan kedua tangannya,dia menggulung asal surau hitamnya. Kaki jenjang Clara menyentuh lantai, Clara mencium sesuatu yang sangat familiar di indera penciumannya.


Clara segera menepis pikirannya yang lagi lagi tertuju pada Cinta masa Kecilnya.


Astaga! aku bahkan jauh jauh ke Venesia untuk berlibur, mengapa bayangan Devan selalu mengikuti ku?. " gerutu Clara ".


Clara menyentuh bibir nya, Clara merasakan aroma tubuh Devan memang ada di kamar ini.


Devan benar benar seperti hantu, dia bahkan selalu menghantuiku. semalam bahkan aku memimpikannya. dia datang padaku dan mencium bibirku seperti waktu malam itu."gumam Clara ".


sudahlah, aku bisa gila terus jika terus memikirkan nya.


Clara melangkah ke kamar mandi, Devan yang berdiri di balik balkon kamar Clara tersenyum. Devan merasa di atas awan, saat mendengar semua keluhan Clara tadi.


aku akan memperjuangkan mu Clara "tekad Devan ".


Devan lantas membayangkan saat semalam dirinya ,diam diam menyelinap ke kamar gadis itu. Devan berpikir akan ketahuan, tapi nyatanya Clara hanya mengigau saja !


Flashback off.


Devan segera kembali ke kamarnya sendiri, setelah membersihkan diri. Devan kembali memasangkan kumis palsu, untuk semakin menutupi penyamarannya ,Devan mengenakan kaca mata.


Clara menuruni lobi, dia mencari keberadaan Leon. Clara mencoba menghubunginya, namun Leon bahkan tidak mengangkat panggilannya.


Clara memutuskan untuk berjalan sendirian, gadis itu mulai keluar mencari tempat wisata. Clara berhenti di salah satu kedai makanan ringan,gadis tomboi itu memilih roti gandum dengan segelas minuman kemasan sebagai menu sarapan.


Devan masih dengan setia menguntit Clara, sejak tadi dia sudah menjaga jarak aman dengan Clara. setidaknya kali ini, Devan tidak tersulut emosi.


Clara pergi tanpa Leon, dan itu sangat melegakan untuk Devan.


Brukk!


Kesialan lagi lagi menimpa Devan, Devan yang terlalu memfokuskan matanya pada Clara. tidak begitu memperhatikan jalanan, Kakinya menginjak plastik dan membuat ia terpeleset jatuh menyentuh aspal.


pekikan suara Devan menyita perhatian Clara, Devan segera menutup rapat mulutnya .


keringat Devan memenuhi dahinya, saat Clara berbalik arah dan mendatanginya. Jantung Devan berdetak tidak karuan, Kakinya bahkan lemas sekali untuk di gerakkan.


apa kau baik saja saja paman ? "tanya Clara yang mulai membantu Devan berdiri, Clara ikut membersihkan kotoran di sekitar jaket Devan".


Devan mematung, saat mendengar panggilan Clara untuknya.


apa? aku baru saja dipanggil paman. "gumam Devan dalam hati ".


apa aku terlihat tua dengan kumis dan kaca mata ini. "timpalnya kemudian ".


paman ,apa kau baik baik saja? Clara kembali mengulang pertanyaannya.


Devan tersenyum kecut, dalam hati Devan mengutuk penyamarannya ini. anggap saja Devan berhasil, penyamaran nya sempurna tanpa cela. Clara memang tidak mengenalinya,namun pernyataan Clara itu sungguh melukai ego seorang keturunan Orlando.


Devan yang memang tidak bisa menutupi emosinya, mendengus kesal. Dia bahkan memasang wajah masam, dan menyahuti Clara dengan ketus.


aku baik baik saja! "ucap Devan ".


Clara mengangguk, baiklah! lain kali berhati hati lah paman.


Clara meninggalkan Devan yang kini sudah mendidih menahan emosinya.


Leon duduk di sebuah Kedai, dia tidak sendirian. Anna bersama dengan nya, dia duduk satu meja bersama.


jadi adik perempuan Maxim itu kekasihmu? "Anna menekankan setiap kalimat yang dia ucapkan " .


Leon hanya mengangguk, dia enggan kembali berurusan dengan wanita licik ini. Leon tidak pernah menyukai Anna, dia begitu sentimen pada wanita ini sejak mereka kuliah dulu.


hanya karena Maxim lah, Leon mau berbaik hati meladeni wanita ini. meski Leon melakukannya dengan keterpaksaan.


Leon , berikan aku nomor ponsel Maxim "ucap Anna ".


Jangan Konyol Anna, jangan lagi merusak sahabatku. Kau memanfaatkan duka Maxim untuk kesenangan pribadimu !


Kau memperalatnya, menjadikan dia sumber penghasilan mu, aku tidak akan membiarkan itu kembali menimpa Maxim.


Leon bangkit dan meninggalkan Anna, si wanita ular.


Anna menggebrak meja dengan keras, membuat seisi pengunjung kafe melihat ke arahnya.


Sial "umpat Anna ".


Leon mengecek ponselnya,beberapa panggilan tak terjawab dari Clara .


Leon lantas menghubungi Clara ,dia merasa bersalah tidak memberi kabar apapun pada gadis itu sejak pagi.


drrt.... drt..... drtt....


Clara merogoh saku jaketnya, Leon Calling.


Clara segera menggeser layar ponselnya, dia menempelkan benda pipih itu di telinganya.


aku sedang di bioskop, baiklah aku akan memesan dua tiket untuk kita. cepatlah datang! aku tidak mau tertinggal satu menit pun filmnya ."ucap Clara dengan menahan tawa".


Devan yang masih dalam penyamaran ikut berdiri dalam antrian, saat Clara telah menerima dua tiketnya .Devan terus saja memperhatikan Clara.


Paman? apa kau akan melihat film ini, ini film untuk anak muda? "tanya Sang penjaga tiket".


memang nya siapa yang melarang ku? akan ku buat dia merasakan pukulan maut seorang orlando "gerutu Devan ".


penjaga tiket itu bergidik ngeri, dia tidak lagi mengatakan apapun.


Leon sampai setengah jam setelah menelpon, dia segera menemui Clara yang sudah memesan dua makanan dan minuman.


Clara duduk bersebelahan dengan Leon, Devan menggerutu sejak tadi ia mengetahui genre film romantis menjadi pilihan Clara.


sejak kapan Clara menyukai film berbau romantis seperti ini "gerutu Devan dalam hati".


Leon sesekali melihat Clara, Leon tidak membuang kesempatan menatapnya saat Clara begitu menikmati film nya.


Clara merasa risih saat adegan romantis banyak terputar di film itu ,dia meminta maaf pada Leon karena hanya film ini yang tiketnya masih tersisa.


Devan yang menonton film itu merasa geram, dalam adegan film itu berubah yang Devan lihat adalah Clara dan Leon yang tengah bermesraan .


saat Devan meremas popcorn di tangannya ,Devan mulai menyadari jika tidak terjadi apapun pada Clara dan Leon.


pikirannya saja, yang terlalu berlebihan.


Clara dan Leon memutuskan kembali ke hotel, Clara mengeluhkan perutnya sakit. hingga Leon dengan terburu buru membawa Clara kembali ke hotel.


Devan ikut merasakan panik, saat melihat Clara memegangi perutnya .Clara meringis, menahan rasa sakit di area perutnya.


sesampainya di hotel, Clara bergegas menuju kamar mandi. setelah menyakinkan Leon jika dirinya baik baik saja, hanya ingin berbaring. Leon mengalah, dia tidak memaksakan kehendaknya.


Devan yang mengetahui Clara sakit, dilanda rasa panik . Devan hanya ingin melihat kondisi Clara saat ini, memastikan gadis itu baik baik saja.


Devan tak bisa menahan dirinya, dia mengendap menuju balkon dan berniat memantau gadis itu.


Devan menahan dirinya, saat terdengar ketukan di pintu kamar Clara.


tok.... tok.... tok.....


Clara tampak memegangi perutnya, dia dengan tertatih berjalan menuju pintu.


Leon, apa yang kau bawa? "tanya Clara, saat melihat kantong penuh belanjaan di tangan pria itu"


Leon tersenyum ,dia menyerobot masuk ke kamar Clara .


See You ❤