
Clara dan Maggie memasuki Mansion, disusul Maxim beserta Leon. ke empat orang itu berjalan bersamaan, Clara dan Maggie menuju dapur. Clara ingin membuatkan Maxim dan Leon makan malam. Maggie ikut membantu Clara di dapur.
Leon dan Maxim memilih duduk santai di sofa, di Mansion terlihat sunyi sekali.untuk pertama kalinya Maxim menyadari,suasana Mansion yang kembali menjadi sepi.
Maxim mengedarkan pandangannya, dimana semua orang? gumam Maxim.
Kau memikirkan sesuatu? tanya Leon yang melihat gelagat bingung Maxim. Maxim menggeleng tidak,bukan apa apa sahutnya datar .
Leon ikut melihat lihat isi Mansion ,Maxim kemana Devan. apa dia tidak bosan seharian di kamarnya ? tanya Leon.
aku tidak tahu tentang Devan, Maxim mengangkat bahunya acuh.
Leon, aku akan melihat keadaan Mommy sebentar! ucap Maxim.
Leon mengiyakan dia memilih memainkan game dalam ponselnya.
Maxim membuka pintu kamar Devan, kosong !
Maxim beralih ke kamar Mommy Nya, anehnya Aldrich juga Jasmine tidak ada di kamar mereka.
Maxim lantas memutuskan mengganti kemeja yang ia kenakan dengan T -shirt hitam.
Devan memegangi kepalanya yang mulai berdenyut. astaga! kepala ku bisa benar benar pecah jika begini caranya.
Devan kemari nak! suara Jasmine kembali menyeruak pendengarannya.
Ada apa Mom? tanya Devan dengan sedikit jengah dia benar benar lelah dan sumpek melihat pernak pernik seperti ini.
mana yang lebih bagus? merah atau hitam ? Jasmine bingung menentukan long dress untuk Clara.
Mommy, mengapa kau memilih Long dress seperti ini untuk Clara. gadis tomboi itu mana mau mengenakannya? Devan meringis saat tangan Jasmine menarik telinganya.
Mommy jangan seperti ini, kau tahu ini Boutique bukan Mansion. Devan mendengus kesal sedari tadi Mommy nya selalu saja memperlakukan dirinya seperti seorang anak anak.
Aldrich hanya menggeleng, jika sudah begini Aldrich bahkan tidak bisa menolak permintaan Istrinya Jasmine .Aldrich juga tidak bisa membantu Devan dari Jasmine mengubah keputusannya.
permintaan Jasmine seolah titah mutlak untuk Aldrich .Devan menyerah benar kata Aldrich tidak ada gunanya mendebat sang Mommy.
Mommy nya selalu benar, dia menyakini pepatah lama jika wanita selalu benar. Aldrich tidak mampu menolak keyakinan Jasmine, karena rasa cintanya pada Jasmine membuat Aldrich rela bertindak bodoh. sekalipun dia harus bertekuk lutut di hadapan Jasmine ,wanita yang ia cintai dan ibu dari anak anaknya.
Maxim kembali menemui Leon di sofa, mereka kembali bercakap cakap menghabiskan waktu.
Clara dan Maggie sudah hampir satu jam Lebih berkutat di dapur,Clara merasa seluruh badannya lengket dan gerah.
Clara mengibas lengannya, dia menggulung asal rambut sebahunya itu.
Maggie yang tengah mengamati gerak gerik Clara, hanya terkekeh geli.
Clara kau mandi lah terlebih dulu! aku akan menyelesaikan sisanya ucap Maggie.
Clara tampak berpikir, memangnya kau tidak apa menyelesaikannya sendiri? ucapnya ragu .
setelah mendapat anggukan dari Maggie, Clara berlalu meninggalkan dapur .
Maxim aku haus. tolong ambilkan aku minum! celoteh Leon.
apa ! enak saja menyuruhku, ambil saja sendiri.
Tolonglah, kali ini saja! aku akan kalah jika harus meninggalkan game ini pinta Leon.
Kau ini jika sudah main Game, menyebalkan sekali !
Maggie yang menyadari seseorang masuk ke dapur, segera menoleh. Maggie kira itu Clara yang sudah menyelesaikan ritual mandinya.
mata Maggie dibuat terpana saat melihat Maxim lah yang masuk ke dapur, Maxim melewati Maggie begitu saja! .
Maggie masih betah memandangi punggung Maxim, dengan mata yang tak beralih satu senti pun dari punggung kokoh itu.
Maggie merasa kehilangan kendali jika harus berhadapan dengan Maxim. Maxim yang tengah meraih air mineral dingin mencium aroma hangus yang menusuk indera penciumannya.
Maxim menoleh dan mendapati Maggie tengah menatap ke arahnya, Maxim maju mendekati Maggie .Maggie semakin merasa salah tingkah dibuat Maxim.
Maxim berdiri tepat di depan Maggie, Maggie merasa mati kutu. Maggie memilin ujung gaunnya. Maggie mencerna otaknya baik baik, dengan Maxim yang sedekat ini dengannya. otak Maggie seolah tumpul, tangan Maxim terulur mematikan kompor yang masih menyala.
lain kali memasak lah dengan hati hati nona Maggie ,kau bisa menghancurkan seluruh dapur jika seperti itu. Maxim berlalu dengan menenteng dua botol mineral di tangannya.
Maggie menepuk dahinya, -
bodoh, bodoh kau bodoh Maggie gerutunya. melihat Kak Maxim mengenakan T-Shirt saja kau hampir hilang akal Maggie merutuki kebodohannya sendiri.
Maggie.....!
kenapa aku mencium aroma gosong dari kamarku? tanya Clara dengan alis terangkat.
Maggie hanya menunjukkan deretan gigi putihnya, Clara memeriksa teflon nya benar saja telur dadarnya berubah menjadi hitam.
Maggie, kau melupakan telur dadarnya? tanya Clara heran, tidak mungkin kan Maggie melakukan kesalahan seperti dirinya yang ceroboh.
aku hanya tidak fokus saja tadi saat memasak telur itu, aku akan mengganti nya dengan telur yang baru ucap Maggie.
Clara mengiyakan, dia kembali meraih telur dan Maggie kembali menggoreng telur itu hingga matang.
Maggie kau mandilah, gunakan bajuku yang sudah aku siapkan di kamarku seru Clara dengan menata semua makanannya di atas meja.Maggie tidak membantah, dia juga tidak nyaman dengan bau tubuhnya yang sudah seharian ini berkeringat.
Devano, Aldrich dan Jasmine sampai di Mansion pada saat makan malam. Maxim mengernyit saat mendengar deru mesin berhenti di depan Mansion.
Clara yang berniat memanggil semua orang, merasa aneh mendengar suara mesin mobil. Devan Aldrich ,serta Jasmine melangkah masuk.
Mommy ,Daddy ....
kalian seharian kemana? tanya Maxim yang menatap bingung, karena tidak ada satupun barang belanjaan yang di bawa Devan ataupun Jasmine . Aldrich pun hanya menenteng jaket dan tas selempang Jasmine .
Mommy hanya ingin jalan jalan ,karena kau pergi dengan Clara ,jadi Mom memutuskan untuk meluangkan waktu dengan Ayah dan adikmu.
dimana Clara? tanya Aldrich ,Maggie...! timpal Jasmine .
Devan menoleh ke arah tangga ,siapa wanita asing ini? gumam Devan.
Clara muncul dari balik dapur, Kak Maxim..!
sontak semua orang menatap ke arah Clara.
semua orang berkumpul di ruang makan Devan menahan kegeramannya melihat Clara yang selalu menampilkan senyum nya di hadapan Leon.
seharusnya senyuman itu milikku, otak Devan seolah memprotes keinginan pemiliknya. otak Devan semakin membuat bingung sang pemilik, entahlah bisikan itu kembali terngiang dalam benak Devan.
Clara hanya milikku, milikku...... !
Devan menatap Clara dengan tatapan setajam pedang kesatria, jika ini ditengah pertempuran mungkin Devan adalah prajurit yang siap menghunus lawannya kapan saja hingga gugur.
See you ❤