You Heart Me

You Heart Me
semakin hancur



Kau ingin naik bianglala?" tanya Leon ".


iya, sepertinya menyenangkan ."Clara tersenyum hangat, seharian ini menikmati kegiatan berwisata nya bersama Leon".


apa kau keberatan? "Clara menatap penuh minat pada wahana yang satu ini ".


tentu saja tidak, jika kau ingin mencobanya.dengan senang hati aku akan menemanimu ."seru Leon yang sedari tadi memperhatikan Clara ".


Leon dan Clara ikut mengantri dalam barisan, Clara memandangi semua wahana yang ada di sana. Bianglala akan menjadi penutup perjalanan mereka sebelum kembali ke New York.


Clara dan Leon akhirnya mendapat giliran. Leon mengulurkan tangannya, Clara menyambutnya. keduanya masuk ke dalam sangkar besi itu.


tak lama wahana itu mulai berjalan pelan dan lamban, hingga tiba saatnya laju wahana itu semakin bergerak cepat.


Clara begitu menikmati pemandangan dari atas sana, Leon tak melepaskan satu detik pun untuk melepaskan matanya pada Clara.


Leon sangat ingin bisa di cintai oleh Clara, terkadang Leon menaruh rasa iri pada Devan. Devan dengan mudahnya mendapatkan cinta Clara, sedangkan Leon harus berjuang sekeras ini untuk mendapatkan hati Clara.


Leon, lihat lah!


teriakan Clara membuyarkan lamunan Leon.


mata Leon mengikuti arah telunjuk Clara.


indah bukan! "seru Clara dengan mata yang berkaca kaca".


Merpati... "gumam Leon".


Clara mengiyakan. aku sangat menyukainya!


"timpal Clara ".


mengapa kau menyukai Merpati?


"pepatah lama ,sebuah mitos atau fakta. entahlah Leon", tapi bagiku Merpati lambang kesetiaan dalam suatu hubungan, dan aku sangat ingin memiliki hubungan seperti sepasang merpati itu kelak.


Kau pasti akan mendapatkan apa yang kau inginkan Clara, kau hanya perlu menemukan orang yang tepat untuk mewujudkan itu. "seru Leon".


sekelebat bayangan Devan muncul terlintas dalam benak Clara. Clara segera menepis pikirannya itu. Clara mencoba mengabaikan isi kepalanya yang hanya berisi pria itu.


Clara mengangguk mengiyakan pernyataan Leon,rasanya Clara kehilangan selera. dia tidak tertarik lagi membahas hubungan, cinta atau hal berbau asmara lainnya.


Leon menatap raut wajah Clara yang telah berubah masam.seolah mengerti kegelisahan gadis itu, Leon mencoba mencairkan suasana.


hei.... apa aku termasuk kategori pria baik dan setia ? "tanya Leon dengan menaik turunkan alisnya ".


Clara mengernyit, sedetik kemudian dia tertawa.


memangnya kenapa?"tanya Clara ".


Aku kan saat ini kekasihmu, aku hanya ingin tahu pendapatmu tentang aku. "ucap Leon".


hening beberapa saat..


Clara mengalihkan pandangannya dari Leon. Clara menatap jauh ke langit, Clara lalu kembali menatap Leon.


Kau pria baik, aku yakin kau pria yang setia dan akan melindungi orang yang kau sayangi. "ucap Clara ".


Semoga suatu saat nanti, kau menemukan wanita yang tulus mencintai mu Leon. maafkan aku yang menempatkan mu di titik ini "timpal Clara dalam hati".


Leon dan Clara sibuk dengan pikiran masing masing, tanpa mereka sadari bianglala sudah semakin melamban dan akhirnya berhenti .


Clara dan Leon kembali ke hotel, tidak ada percakapan apapun sepanjang perjalanan keduanya kembali ke hotel.


***


Devan mengusap kedua matanya, Devan benar benar terpuruk. Kenyataannya Devan tidak bisa mengendalikan emosinya. Devan melampiaskan amarahnya pada minuman keras, Pria itu tampak kacau. kamar Devan bahkan sudah seperti medan perang. Hancur dan berantakan, dua kalimat yang menggambarkan kondisi kamar Devan saat ini.


Maxim mengernyit, saat pagi tadi Devan tidak ikut sarapan bersama. bahkan hingga siang ini, adiknya itu belum juga keluar dari kandangnya.


Maxim hendak mengecek kamar Devan. namun panggilan Daddy nya Aldrich, membuat Maxim mengurungkan niatnya.


Ada apa Dad? " seru Maxim sembari melihat arloji di tangan kanannya ".


Daddy ingin mengajakmu ikut mempersiapkan pernikahan Adikmu Clara. "ucap Aldrich ''.


Maxim seketika mendongakkan kepalanya,


Maxim menatap tidak percaya pada sang ayah. yang tampak tenang,setelah mengatakan berita yang hampir membuat Maxim terkena serangan jantung.


lelucon apa ini Dad? "tanya Maxim "


siapa yang sedang bergurau dengan mu!


Ayolah Maxim ,jangan berpura pura tidak tahu apapun. Kau dan Leon kan bersahabat sejak lama."seru Aldrich ".


Daddy benarkah yang kau katakan! "tanya Maxim dengan melihat wajah Ayahnya" .


Anggukan kepala Aldrich menjelaskan semuanya.


hanya ada keseriusan di bola mata ayahnya itu, Maxim benar benar tidak tahu apa apa. semua yang terjadi di luar kendalinya, Maxim tidak tahu jika pada akhirnya Leon akan meresmikan hubungan secepat ini.


Maxim bahkan tidak tahu menahu, kapan Leon memberitahukannya pada Aldrich.


Maxim, apa yang kau pikirkan? "tanya Aldrich".


tidak ada Dad... aku hanya syok saja mendengar berita besar ini. "jawab Maxim seadanya ".


Ayo, masih banyak hal yang harus di persiapkan!


Daddy, apa kau tidak mengajak Devan ? "tanya Maxim ".


tidak, biarkan Devan istirahat ,semalam dia meminta untuk tidak mengganggu nya. Daddy rasa Devan sedang kelelahan. jadi biarkan saja dia memulihkan tenaga nya terlebih dulu.


"ucap Aldrich ".


Maxim semakin bingung mendengar Devan sakit.rasanya tidak mungkin, alasan sakit adalah pilihan yang terdengar klise."gumam Maxim dalam hati ".


Maxim dan Aldrich keluar dari Mansion. selepas kepergian keduanya.Devan yang ternyata berdiri di dekat pembatas tembok lantai atas, mencuri dengar percakapan Kakak dan Daddy nya itu.


.Devan semakin terpukul, melihat Daddy nya begitu bersemangat menyiapkan pesta pernikahan untuk Clara. Devan yang semakin kesal pada dirinya sendiri ,mencengkeram gelas kaca yang dia genggam. darah segar mengalir dari telapak tangan Devan, pecahan gelas kaca itu mengenai telapak tangan Devan.


Devan tidak merasakan perih luka di tangannya, memar bekas pukulannya pada dinding pun tidak dia hiraukan.


Zavier yang mendengar kegaduhan segera menyusul ke lantai Atas, Zavier tertegun melihat darah yang mengalir dari tangan Devan.


tuan Devan ,apa Kau baik baik saja?


Zavier membuang sisa pecahan yang ada dalam genggaman Devan.


Devan hanya diam tak bersuara,Lukanya kian menganga. Devan kini tahu betapa sakitnya hati Clara saat itu, saat dirinya kini merasakan berada di posisi gadis itu.


Devan mengutuk dirinya sendiri, atas semua tindakan yang benar benar membuat hati Clara pernah terluka sebegitu dalam oleh dirinya.


Zavier menuntun Devan ke dalam kamar nya.Zavier meraih kotak p3K, membalut perban di tangan Devan. Zavier sempat terkejut melihat kondisi kamar Devan, namun sesegera mungkin dia bersikap biasa.


ada apa dengan tuan Devan? dia menyakiti dirinya sendiri? "gumam Zavier dalam hati ".


Zavier bangkit, dia merapikan seluruh isi kamar Devan. Zavier membuang botol bekas minum Devan yang berceceran di mana mana.


Devan sendiri telah memejamkan matanya, saat Zavier mengobatinya. kantung hitam terlihat di kedua mata Devan, dua malam sudah tidur Devan terganggu.


Zavier menggelengkan kepalanya, dia tidak mengerti. untuk pertama kalinya Zavier melihat Devan begitu terpuruk seperti saat ini.


Zavier akan melangkah meninggalkan kamar Devan, mata Zavier menangkap sesuatu.


mata Zavier membulat sempurna saat melihat benda yang sangat familiar dalam pandangannya , bukankah itu?


Astaga! apa jangan jangan..."gumam Zavier ".


See You ❤