You Heart Me

You Heart Me
tiket liburan



selepas kepulangan seluruh anggota keluarga membuat Clara dan yang lainnya merasa kelelahan.


Jasmine dan Aldrich terlebih dulu menyeduh teh hangat, dimeja makan terlihat Jasmine dsn Aldrich tengah menghabiskan waktu bersama.


Clara yang sudah duduk tenang di kamarnya ,tengah asyik membuka kado yang di dapatnya dari seluruh anggota Keluarga.


Clara membuka kado pemberian Maggie, Clara mengerucutkan bibirnya saat melihat gaun tak berlengan yang di berikan Maggie.


ya ampun Maggie ini, dia memberiku gaun terbuka seperti ini. awas saja jika aku kembali bertemu dengannya. "gerutu Clara ".


Clara lantas membuka kado pemberian Kedua orang tuanya, satu paket sepatu serta Jaket kulit yang menjadi kesukaan Clara .


Clara begitu gembira, dia mencoba mengenakan kedua benda favoritnya itu, Clara mematut dirinya di depan cermin. senyum mengembang di wajah manis gadis itu.


aku nyaman dengan diriku yang seperti ini, seandainya memang aku harus merubah penampilanku . itu akan terjadi atas keinginanku sendiri. "Clara membatin ".


Clara mengingat saat Leon menyatakan perasaannya, Clara terpaksa mengiyakan pernyataan cinta Leon. Clara tidak ingin memperlakukan Leon, sama seperti saat dirinya tidak mendapat balasan dari Devan.


Clara mengusap wajahnya, urusan hati membuat kepalanya hampir meledak. dengan keadaan yang semakin menghimpit akal sehatnya, Clara gegabah dalam membuat keputusan .katakanlah seperti itu, Clara tidak sanggup mempermalukan Leon di depan kedua orang tuanya dan juga di depan seluruh tamu.


Maxim yang tengah berkendara selepas membeli pizza hendak kembali ke Mansion. Maxim melihat mobil Devan terparkir di area pemakaman.


Maxim menghentikan mobil nya tepat di belakang mobil Devan. Maxim keluar dari mobil, matanya menelisik area pemakaman.


Apa yang di lakukan Devan ditengah malam seperti ini? untuk apa juga dia tidur di makam Stevy seperti ini? Maxim menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya ini.


Maxim menepuk punggung Devan, Devan yang ternyata tidak tertidur menoleh. Devan mendengus saat tahu Maxim lah yang menegurnya.


untuk apa kau kemari Kak? Devan membuang wajahnya dari Maxim.


apa?


harusnya aku yang bertanya padamu, sedang apa kau tengah malam berada di makam seperti ini?


apa kau tak memiliki rumah ,hah! sekarang bersihkan dirimu dan ikut pulang bersama ku. "titah Maxim ".


Devan ingin sekali membantah, namun rasa kantuk telah menderanya hingga Devan menurut saja. Devan melangkah meninggalkan Maxim, Maxim sungguh tidak habis pikir dengan Devan.


Kau memang menyebalkan Devan, bukannya menghadiri pesta ulang tahun Clara. kau malah menghabiskan waktumu hingga larut dengan berada di makam Stevy.


Dasar pria menyebalkan, mungkin memang harusnya Clara bersama dengan Leon saja. aku meragukan perubahan Devan yang masih belum jelas. "gumam Maxim dalam hati".


keduanya mengendarai mobil masing masing Devan dan Maxim sampai di Mansion. keadaan lampu Mansion sudah di matikan, itu artinya seluruh penghuni telah terlelap.


Clara yang sudah tertidur pulas di kejutkan dengan suara mesin mobil yang mengganggu pendengarannya.


Clara merasa haus ,kerongkongannya terasa kering. Clara mencoba meraih gelas yang berisi air, terletak di sebelah nakas samping tempat tidur. sialnya gelas itu kosong.


Maxim masuk ke kamarnya setelah meletakkan Pizza yang tadi di belinya di lemari es. tadinya Maxim ingin memakan pizza itu bersama Clara dan Orang tuanya.


Maxim menyadari jika dirinya terlambat, dan menghabiskan banyak waktu di luar Mansion tadi. Devan menyusul Maxim ikut masuk ke dalam Mansion.


Clara yang memerlukan air untuk membasahi kerongkongannya, dengan malas menyeret langkah kakinya menuju dapur.


Devan berjalan dengan gontai, rasa kantuk telah melanda kedua matanya. saat Devan hendak menaiki tangga ,disaat yang bersamaan Clara menuruni tangga. kedua manik itu beradu, Clara mengernyit menyadari Devan seharian tidak berada di Mansion. Devan juga tidak menghadiri acara pesta ulang tahunnya tadi, lalu dimana Devan seharian ini? "gumam Clara dalam hati" .


Devan masih menatap manik hazel milik Clara.


aku sungguh pria terbodoh yang pernah ada? bagaimana bisa aku dulu mengabaikan perasaan Clara, yang jelas sekali memiliki ketulusan di dalamnya.


apa yang Kau katakan benar Kak, aku akan hidup dalam penyesalan. Leon bahkan sudah menyatakan perasaannya, dan aku tidak tahu bagaimana perasaan Clara untuk ku saat ini? apa dia masih mencintaiku, atau cintanya kini berubah haluan. Leon cukup dekat dengan Clara, dan aku yakin .sikap yang Clara tunjukkan adalah signal jika keduanya memiliki sebuah ikatan. " gumam Devan dalam hati".


setelah cukup lama saling beradu pandang Clara dan Devan tersadar dari lamunan masing masing, Clara merasa salah tingkah saat menyadari jarak dirinya dengan Devan hanya sejengkal saja.


Clara lantas memilih melewati Devan meneruskan niat awalnya. baru saja Clara berjalan menuruni satu tangga. Kakinya tersandung sepatu Devan, sontak saja Clara kehilangan keseimbangan tubuh nya detik itu. gelas yang ada dalam genggamannya terlepas dan terjatuh ke lantai.


Devan refleks memegangi bahu Clara, Clara pun melakukan hal yang sama. tangan Clara dengan sendirinya bertumpu di leher Devan.


Devan dan Clara kembali berpandangan, namun hanya sebentar. Clara segera melepaskan tangannya menjauhkan tubuhnya dari Devan. Devan merasa kehilangan saat Clara menjauh darinya, Devan ingin sekali meraih Clara dan memeluk teman masa kecilnya itu. Devan merindukan saat dimana, dirinya tak memerlukan alasan untuk memeluk Clara sepuas hatinya. kini Devan kehilangan hak itu ,karena ulahnya sendiri.


hati Clara masih terikat kuat dengan Devan, meski ratusan kali Clara mencoba mengelabuhi nya. hati wanita adalah rahasia paling dalam.


Aww.....


Clara memekik saat pecahan itu menggores jarinya.


Devan langsung meraih jari Clara yang terluka dan menyesap lukanya. Clara memandangi Devan dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan.


Devan menuntun Clara untuk duduk di sofa, Devan berlalu ke dapur. dia mengambilkan segelas air untuk Clara. Clara menerimanya, dia menenggak habis air itu hingga tandas.


Devan membersihkan pecahan gelas itu dan membuangnya ke tempat sampah,Clara duduk dengan memandangi Devan. tak lama Devan kembali, dia membawa plester untuk menutupi luka di jari Clara.


Devan dan Clara duduk bersebelahan, Clara mengalami rasa canggung yang luar biasa. Clara mencoba menormalkan sikapnya, agar Devan tak berpikir jika Clara masih memiliki rasa untuk nya.


"lain kali berhati berhati lah Clara ! Devan mengucapkannya dengan lembut" .


Clara sedikit tersentak ,sejak hari dimana Devan menikah dengan Stevy. malam ini untuk pertama kalinya, kedua insan itu kembali terlibat percakapan.


meski singkat ,tidak bisa di pungkiri .Clara sedikit merasa bahagia, bisa mendapat perhatian kecil dari Devan seperti ini. karena dalam lubuk hatinya, Clara merindukan sosok Devan yang dahulu selalu melindungi dan menjaga nya.


Clara hanya mengangguk ." Devan lantas menatap dalam mata Clara , Clara menatap Devan".


"hening" tidak ada yang bersuara. Devan menatap wajah Clara di dalam suasana yang sedikit gelap, karena lampu utama Mansion telah dimatikan. Wajah Clara terlihat sungguh manis, Devan terkesima menatap kecantikan alami paras gadis tomboi itu.


Devan mendekatkan wajahnya pada Clara, dengan bodohnya Clara memejamkan matanya. Devan meraba wajah Clara, dan setelah itu mendaratkan bibirnya di bibir Clara.


Clara diam saja, dia tidak menolak atau ikut membalas, Devan menciumnya dengan begitu lembut seolah mengantarkan rasa sesal yang mendera hatinya.


Clara merasakan gugup dan takut, dia tidak ingin kembali terluka oleh harapannya sendiri.


Clara mendorong tubuh Devan agar menjauh darinya, Devan lantas melepaskan pertautan bibirnya.


Clara berlari menaiki tangga, dia masuk ke dalam kamarnya. Clara berbaring di tempat tidur sembari memegangi bibirnya, tangis Clara pecah mengingat dirinya yang diam tanpa penolakan saat Devan menciumnya.


Devan mengacak rambutnya kasar, Devan yang kesal menghentakkan kakinya dengan begitu keras ke lantai.


Devan menyusul Clara, Devan pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


*keesokan paginya.


suasana Canggung kembali di rasakan ,kedua manusia yang semalam terlibat suasana yang sulit dijelaskan.


Clara menunduk, dia bahkan tidak berani menatap wajah Devan. Devan mencoba mengabaikan Clara ,meski matanya ingin menatap lekat gadis itu. Devan sadar apa yang dilakukannya pada Clara, seharusnya tidak ia lakukan.


Maxim berdehem ,membuat fokus semua orang tertuju padanya. Maxim mulai membuka suaranya, hingga Clara dan yang lainnya mendengarkan ucapan Maxim.


Clara ini hadiah untuk mu, "ucap Maxim " .


Clara mengernyit saat melihat amplop coklat pemberian Maxim.


bukalah Sayang! ''timpal Jasmine".


Clara mengiyakan. mata Clara membulat sempurna saat melihat tiket liburan sebagai hadiah.


Devan ikut mengerutkan keningnya, dalam hati Devan bertanya. mengapa Kakak memberi Clara tiket liburan? .


Clara semakin dibuat bingung saat melihat dua tiket di dalam amplop.


baru saja Clara ingin bertanya, tapi Maxim sepertinya bisa membaca pikiran Clara.


Ajaklah Leon bersama mu, Kau akan berlibur dengan nya ke Venesia. Nikmati waktu kalian yang hanya 3 Hari di sana, Leon akan menjaga mu selama kalian di sana."ucap Maxim panjang lebar ".


Devan mendengus, dia mengepalkan kedua tangannya yang berada di bawah meja makan.


Clara hanya diam, Clara tampak berpikir. lantas dia tersenyum dan berterimakasih pada Maxim.


See You ❤