
Clara menunggu Leon di lobi, tak lama Leon muncul dari balik lift .Clara tersenyum membalas senyum yang diberikan Leon.
Devan berjalan dengan penyamarannya, meski dia sempat mengutuk penampilannya yang terkesan bertambah tua dengan kumis palsunya itu.
Leon dan Clara memasuki sebuah restoran seafood. sepanjang perjalan mereka berdua berjalan kaki, dan yang membuat Devan kesal adalah Leon tak sedikitpun merenggangkan genggaman tangannya pada tangan Clara.
Devan memilih kursi yang tak jauh dari keduanya, Devan bahkan tidak fokus dengan makanan yang ia pesan.
Clara terlihat menikmati makanan yang di pesannya, Leon sesekali menyuapkan makanan yang di pesannya pada Clara. Clara dan Leon saling bertukar makanan, Clara sesekali tertawa akan lelucon yang dibuat Leon.
wajah Devan merah padam, semakin kemari kedekatan keduanya semakin tampak akrab. Devan takut dirinya tak memiliki kesempatan kedua, untuk bisa menjadi pria yang menjaga Clara.
Clara tampak berpamitan pada Leon,Leon terlihat menganggukkan kepala .selepas kepergian Clara ke toilet ,Devan hendak menyusul Clara. namun kedatangan seorang wanita di hadapan Leon ,membuat Devan mengurungkan niatnya.
Leon tampak tidak begitu menanggapi wanita itu, mereka bahkan terlihat tidak bersahabat. Devan mengerutkan dahi, pasalnya dia tak pernah tahu siapa wanita ini.
ketika Leon dan wanita itu terlibat percakapan kecil. Clara yang sudah menyelesaikan urusan nya di toilet, Clara kembali menghampiri Leon. Clara dibuat terkejut dengan kehadiran wanita asing di meja mereka.
Leon yang melihat raut bingung dari wajah Clara, segera memberi penjelasan pada gadis itu.
Clara dan wanita itu saling bertukar pandang,
Leon cukup bisa memahami situasi.
Clara menjatuhkan bokongnya kembali ke kursi,Leon menengahi situasi canggung itu.
Clara, kenalkan!
dia teman kampus ku dulu, tadi kami tidak sengaja bertemu. "ucap Leon".
Clara mengulurkan tangannya pada teman Leon itu.
aku Clarissa, kau bisa memanggilku Clara saja! "ucap Clara ".
Aku Anna James. "ucap Anna".
Aku akan kembali ke hotel saja!
sepertinya aku menganggu waktu kalian berdua. "timpal Anna".
Clara yang tidak terganggu dengan kehadiran Anna,memaksa Anna untuk tetap bersama mereka.
Anna dan Clara sesekali saling bertanya satu sama lain. Clara mencoba bersikap ramah pada teman Leon ini.
Clara tiba tiba merasa aneh ,saat Anna menanyakan tentang Maxim pada Leon.
Leon ,apa kau masih berkomunikasi dengan Maxim?" tanya Anna".
Leon membeku, dia tidak nyaman dan terlihat gugup .Clara menatap penuh tanya akan perubahan sikap Leon yang mendadak itu.
Leon tidak memberikan jawaban apapun pada Anna.
Anna,Maxim siapa yang kau maksud? "tanya Clara yang di penuhi rasa penasaran ".
Anna tersenyum, Maxim teman satu kampus kami.aku sudah lama tidak berkomunikasi dengan nya, dan aku pikir. Leon adalah sahabatnya ,dia pasti mempunyai nomor telepon atau alamat rumahnya. "ucap Anna" .
Wah menarik sekali!
Kakak ku mempunyai teman satu kampus yang cantik seperti dirimu."ucap Clara ".
Anna mengernyit mendengar ucapan Clara.
Leon membuang kasar napasnya, dia lantas bersuara.
Clara adalah Adik perempuan Maxim."ucap Leon pada akhirnya".
Anna melebarkan matanya, dunia benar benar sempit rupanya."ucap Anna".
Clara aku akan kembali ke hotel dulu, senang bertemu dengan mu. "timpal Anna" .
Clara mengernyitkan dahi,namun segera bersikap biasa dengan menorehkan senyum pada Anna.
Anna pergi meninggalkan Leon dan Clara, Anna memutuskan untuk kembali ke hotel tempat ia menginap.
Devan yang sudah tersulut emosi memilih kembali ke hotel, dia benar benar tidak berselera makan karena melihat wanitanya bertukar makanan di hadapannya dengan orang yang menyebalkan seperti Leon.
Devan meninggalkan restoran begitu saja, Clara yang masih mengobrol bersama Leon. mereka kembali bercengkrama sebentar, menuntaskan percakapan yang sempat terhenti.
Devan yang masih merasa gerah memilih mandi air dingin ,Devan lantas mengguyur tubuhnya dibawah kucuran air. Devan mengusap kepalanya ,dia memejamkan matanya.
bayangan Leon yang mencium Clara, membuat Devan mengepalkan tangannya .
mengapa aku baru menyadari nya sekarang?
apa aku terlambat?
apa aku masih punya kesempatan kedua ?
pertanyaan itu terus saja memenuhi isi kepala Devan .
Clara yang sudah kembali ke hotel memilih menghubungi Maxim, sekaligus ingin menuntaskan rasa penasarannya tentang seorang Anna James.
panggilan yang Clara lakukan pada Maxim tidak mendapat jawaban. Clara mendengus kesal, saat melihat jam yang tertera di layar ponselnya.
sedangkan di Mansion, Maxim tengah melakukan panggilan dengan Leon menggunakan telepon rumah.
Pantas saja tidak ada sahutan, ini hampir pukul 12 malam. Clara menguap, dia memilih merebahkan tubuhnya ke ranjang.
Devan yang tidak bisa tertidur memilih keluar balkon ,dia menoleh ke arah balkon Clara. terlintas di pikiran Devan untuk menengok Clara, setelah beberapa waktu Devan bahkan tidak bisa berdekatan dengan gadis itu seperti dulu.
tidak ada salahnya kan, aku hanya ingin melihat Clara sebentar saja! Devan melangkah mengendap seperti seorang maling, dia bahkan berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun.
Devan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, saat Kakinya terbentur meja yang berada di sebelah pintu. seolah keberuntungan sedang berpihak padanya, pintu kamar Clara tidak terkunci. Devan dengan mudah melancarkan aksinya tanpa harus merusak fasilitas hotel.
Devan menahan nyeri yang melanda kakinya, suasana kamar Clara begitu temaram .Devan tersentak saat kepalanya terbentur dinding.
Astaga! nasibku mengenaskan sekali,ingin melihat Clara saja harus mendapat kesialan bertubi tubi seperti ini. "gerutu Devan ".
Devan kembali melangkah, kali ini tidak terjadi apapun pada dirinya. Devan kembali mengendap, dia bahkan menahan napasnya. tepat di hadapan Clara dia berhenti, Clara memunggunginya. Devan melihat bahu Clara yang bergerak teratur, pertanda Clara telah tertidur pulas.
Devan memberanikan diri memutari ranjang itu ,agar bisa melihat wajah Clara yang akhir akhir ini menganggu pikirannya.
Devan memandangi wajah Clara, wajah ini kah yang pernah aku sia siakan?
Senyum inikah, yang sempat abaikan selama ini?
Ara kecilku kah, yang sering aku tolak kehadirannya . semenjak aku kuliah bersama Stevy ?
Devan mengusap puncak kepala Clara cukup lama, dia bahkan mengecup bibir Clara sekilas.
Clara sempat terbangun, dia membuka matanya. Clara yang masih separuh mengantuk, menganggap Devan hanyalah bunga tidur.
Devan merasa jantungnya hampir tidak berfungsi, saat Clara tiba tiba membuka matanya.
Clara yang masih dilanda rasa kantuk, kembali memejamkan matanya dengan melingkarkan tangannya di leher Devan.
Devan memejamkan matanya, dia semakin kesulitan melepaskan dirinya dari Clara.cukup lama Devan dan Clara dalam posisi seperti itu,demi apapun rasa pegal mulai melanda Devan.
Devan cukup puas memandangi wajah Clara yang ada tepat di hadapannya, bahkan kecantikan alami Clara bertambah dua kali lipat dari biasanya.
perlahan Devan melepaskan tangan Clara yang melingkar di lehernya, Devan kembali mengecup bibir mungil Clara yang sangat disayangkan jika di lewatkan .
bibir ini milikku. "gumam Devan ".
hanya aku yang berhak merasakan rasa manis bibirmu .Ara kecilku, Devan lalu melangkah meninggalkan Clara.
baru beberapa menit Devan melangkahkan kakinya,terdengar suara Clara yang membuat langkah Devan mematung di tempat.
Devan .....
aku mencintaimu. "ucap Clara ".
punggung Devan menenggang hebat, dia merasa seperti penjahat yang tengah tertangkap basah saat melancarkan aksinya.
Astaga! kenapa Clara terbangun secepat ini."gumam Devan dalam hati" .
See You ❤
maaf yah buat Deep You belum juga update, mood nya lagi pengin di You Heart Me.
sekalian aku mau kasih tahu, Nayla My Future ada versi audio nya loh . barangkali mau baca ulang 🤗.