
*keesokan paginya .
Clara menguncir surau hitam pekat miliknya, lalu mengenakan jaket kulit kesayangannya. setelah merasa cukup rapi, Clara mematut dirinya di cermin. sungguh kemarin wajah Clara seperti seorang Snow White , yang tampak feminim dan anggun dengan gaun panjang terbalut di tubuhnya.
Clara lantas teringat akan badut yang ditemui di pesta itu. Clara mengerutkan kening, saat menyadari ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Clara melangkah membuka pintu,matanya melebar saat melihat Leon sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
Devan nampak keluar dari kamarnya yang berjarak dua kamar dari kamar Jasmine dan Maxim. dari sudut kamarnya Devan bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di depan kamar Clara.
Clara dari jauh memperhatikan Devan ,yang juga berdiri di depan pintu kamar dengan melipat kedua tangannya di dada.
Kau siap tuan putri ? . "suara Leon yang muncul dengan tiba tiba, membuat Clara menoleh ke arahnya".
Clara lantas mengangguk, dia tersenyum merasa tidak enak hati sempat mengabaikan Leon.
aku akan mengambil barang barang ku terlebih dulu" ucap Clara".
Clara tunggu! "Leon memegangi tangan Clara".
Clara melihat tangannya yang berada di genggaman Leon, Leon lantas mendekat. Clara hanya diam, dia tidak ingin mengabaikan Leon seperti tadi, namun dia juga tidak tahu harus seperti apa.
Devan memalingkan wajahnya dari keduanya.
Leon mencium kening Clara, cukup lama Leon mencium kening gadis itu . Clara lantas meminta izin Leon untuk segera mengambil keperluan yang akan di bawanya.
Devan kembali masuk ke kamarnya, dia meraih jaket serta dompet dan memilih pergi keluar Mansion terlebih dulu.
Devan melewati Leon begitu saja, tanpa berkata apapun Devan mengabaikan kehadiran Leon yang jelas ada di depan kamar Clara .
Selang beberapa menit ,Clara keluar dengan koper mini miliknya, Leon mengambil alih koper itu dari tangan Clara.keduanya menuruni tangga dan keluar dari Mansion setelah berpamitan dengan seluruh anggota keluarga.
Leon dan Clara menuju ke bandara, tanpa mereka sadari sebuah mobil putih mengikuti keduanya dari belakang.
Devan yang duduk di kursi penumpang, duduk dengan kesal karena dirinya harus menyamar dengan kumis palsu dan topi.
Devan diam diam telah memesan tiket untuk tujuan Venesia, dia bahkan sudah meminta Kamar yang persis di sebelah kamar Clara di hotel yang akan ditempati Leon dan Clara .
Devan mengambil keuntungan dengan nama Marga yang sama dengan Maxim. memudahkan dirinya meminta penambahan tiket dan pemesanan Kamar.
secara otomatis kamar yang seharusnya digunakan untuk Leon, kini Devan lah yang menempatinya.
ketiga manusia itu sudah berada di pesawat ,Clara memilih mendengarkan musik dengan earphone yang menyumbat telinganya.
Leon tampak bahagia, senyum yang terpatri di wajahnya tidak berkurang sedikitpun. Clara memejamkan matanya, dia begitu menikmati alunan musik yang di dengarnya.
Clara membayangkan saat dirinya tengah berdansa saat di pesta, Clara lantas tersenyum.
Siapa badut itu? dia sungguh berbaik hati mengajakku berdansa. "gumam Clara dalam hati".
terima kasih badut!
tanpa kau sadari,kau memenuhi impian ku untuk bisa berdansa. "timpalnya dalam hati".
Clara mengingat kenangan masa kecilnya, dimana dia dan Devan berlatih dansa. selama proses latihan Devan selalu menggerutu ,pasalnya Kaki Devan selalu terinjak oleh Clara.
hingga Clara berkata pada Devan.
*aku ingin sekali bisa berdansa dengan benar di acara ulang tahunku nanti *.
Devan mendengus, lalu berkata.
"Kau hanya harus bersikap tenang Ara, dan ikuti gerakan orang yang melatih mu berdansa. aku yakin suatu saat nanti, kau pasti bisa berdansa dengan benar".
flashback off!
Clara mengernyit, saat merasakan seseorang mengusap wajahnya. Clara membuka matanya, dia melebarkan matanya saat melihat Devan di kedua matanya.
Devan disini . "gumam Clara dalam hati".
Leon mengernyit saat melihat Clara melamun,Leon melambaikan tangannya di depan wajah Clara.
Clara mengerjapkan matanya, dia lantas menepis bayangan Devan yang muncul di pikirannya. ternyata Leon yang mengusap wajah Clara.
ayo Clara, kita sudah sampai ! .
"ucap Leon ,yang mendapat anggukan dari Clara".
Leon dan Clara kini sudah berada di kamar masing masing, Clara sempat merasa aneh. saat petugas hotel memberikan kunci kamar pada Leon dan dirinya, pasalnya Maxim bilang jika kamar mereka bersebelahan.
Leon tidak mempermasalahkan, dia dengan santai menerima jawaban petugas itu.kamar itu dengan terpaksa di berikan pada tamu istimewa hotel ini, hingga Clara tidak memperpanjang masalah itu.
Devan merebahkan tubuhnya di ranjang, dia sempat merasa kesal. pasalnya Clara yang biasanya diam, sempat memprotes petugas hotel . namun untungnya, petugas itu bisa memberikan alasan yang masuk akal.
Devan sibuk memikirkan bagaimana caranya, dia menganggu waktu Leon dan Clara, yang sudah pasti akan dihabiskan bersama.
Maxim menertawakan ulah Devan, yang menggunakan marga keluarga sebagai alasan Klasik.
Maxim tahu, dengan memancing sedikit ia pasti bisa mengetahui isi hati adik lelaki nya ini.
Maxim lantas berpura tidak tahu saat Devan keluar lebih dulu dari Mansion, Maxim memilih membiarkan adiknya mengambil langkah sendiri. Maxim ingin Devan berjuang sendiri untuk mendapatkan cinta Clara, dan Maxim hanya akan menjadi jembatan diantara kedua adiknya itu.
Tanpa Maxim sadari Maxim menghancurkan hati sahabatnya sendiri Leon, karena Maxim tak pernah tahu isi hati Leon yang sebenarnya sungguh mencintai Clara.
Leon ikut beristirahat ,dia akan mengajak Clara berkeliling setelah rasa lelah sedikit hilang dari tubuh mereka.
Clara yang tidak merasa mengantuk, memilih melihat pemandangan dari balkon kamarnya.setelah membuka pintu balkon, Clara berdiri menikmati angin yang menyapa tubuhnya,dia memejamkan mata.
Devan yang mendengar pergerakan dari arah balkon, ikut menyusul keluar. Devan tersenyum, saat mendapati Clara berdiri memunggunginya.
Devan bertekad akan kembali mendapatkan tempat di hati gadis itu, Devan bahkan akan melakukan berbagai cara agar kembali bisa menempati ruangan khusus di hati Clara .
Devan segera berbalik dan masuk ke dalam kamarnya, saat Clara hendak menoleh ke arahnya.
Devan memegangi jantungnya yang hampir meledak, Devan menormalkan deru napasnya.
Astaga! untuk mendapatkan cinta Clara saja aku harus menjadi seorang penguntit. "gerutu Devan ".
Clara mengangkat kedua alisnya.mengapa aku merasa ada seseorang yang memperhatikan aku? "gumam Clara ".
Clara memilih kembali ke dalam kamarnya, dia lantas memilih membersihkan diri.
Leon mengirimi pesan pada Clara untuk mengajaknya makan malam diluar hotel.
See You ❤