You Heart Me

You Heart Me
kembali ke Mansion



Devan yang tengah menyeruput kopi menyemburkan kopinya karena air kopi yang menempel bibirnya masih sangat panas. Aww Devan meringis ,mengibaskan bajunya yang terkena cipratan kopi. Devan bangkit dari duduknya dia menuju ke wastafel,membersihkan baju dan tangannya dari kotoran kopi.


Devan memasang telinga nya baik baik, dahinya mengerut saat mendengar suara yang tak asing di indra pendengarannya Kak Maxim gumam Devan.


Devan merasa lega, saat tahu kakaknya kembali. setidaknya dia punya teman untuk bergantian menjaga Mommy Jasmine ,Devan mengeringkan tangan nya dengan tissue dan meninggalkan dapur.


Devan berpapasan dengan Zavier di ambang pintu dapur, terbesit rasa ingin tahu dalam benak Devan saat melihat raut wajah Zavier yang begitu bahagia hari ini. Zavier mengapa kau terlihat begitu bahagia ? tanya Devan.


Zavier tersenyum, kau juga akan bahagia saat melihat orang yang duduk di ruang tamu , setelah mengucapkan itu Zavier kembali melanjutkan niatnya membuat minuman untuk Ara serta Leon . Devan mendengus kesal, sungguh Devan bukanlah pria yang menyukai teka teki seperti ini. Devan yang hendak naik ke lantai atas merasa begitu penasaran dengan orang yang di maksud Zavier... Devan berdecak malas, dia melangkah menuju ruang tamu demi membunuh rasa penasaran yang hinggap di benaknya.


*Aldrich yang tengah menemani Jasmine duduk di sebelah nya, sesekali tangannya terulur mengusap kening Jasmine. ditengah kegiatannya itu, suara bariton menyelinap gendang telinganya. Aldrich tahu jika Maxim memberi kode padanya, putranya itu telah kembali. Aldrich masih enggan menoleh dia memerhatikan wajah Jasmine dengan seksama, Aldrich hendak mengusap kembali dahi istrinya namun sebuah suara merdu yang ia rindukan melintas di indra pendengarannya.


Daddy .....


Aldrich merasa heran, pasalnya dia begitu mengenal sang pemilik suara ini, ah rasanya tidak mungkin Ara ada disini ! Aldrich menepis pemikiran itu, namun panggilan itu kembali menyeruak bahkan terdengar jelas. tanpa ragu Aldrich menoleh betapa bahagia dirinya ,dia merasa seperti sedang bermimpi.


Aldrich melebarkan matanya, mulutnya bahkan menganga, dia mematung di tempatnya ,setelah mendengar suara yang berasal dari pintu kamarnya .


Daddy*......!


merasa seperti mimpi Aldrich mencoba memastikan diri menepuk pipinya dengan keras hingga terdengar suara yang cukup menggema di ruangan itu , beruntunglah Jasmine masih dalam pengaruh obat hingga tidak terganggu dengan semua suara tadi. mata Aldrich membulat sempurna, tangannya yang tengah memegang koran semakin menggenggam koran itu dengan begitu erat. kedua sudut bibirnya melengkung ke atas, matanya tak berkedip sekalipun,dengan sendirinya , kaki Aldrich melangkah mendekati orang yang tengah menatapnya dari ambang pintu.


Maxim ikut terharu melihat Aldrich kembali bahagia,setelah beberapa bulan terakhir raut bahagia ayahnya memudar. kini Maxim kembali melihat senyum ceria milik Aldrich, Aldrich berhenti tepat di depan pintu tangannya tergerak menyentuh wajah putrinya, putri yang sempat menghilang membawa separuh hidup Aldrich menghitam karena kepergiannya.


Aldrich hanya menatap Ara dengan mata yang sudah berair, demi apapun Ara. tolong jangan meninggalkan Daddy dan Mommy mu lagi! peluk Daddy sayang, Ara menghambur ke pelukan Aldrich keduanya terisak. Maxim mengusap ujung matanya yang sedikit berair, untuk pertama kalinya Maxim merasa lega hanya dengan melihat Ara memeluk Aldrich. Maxim menyadari betapa pentingnya Ara untuk kedua orang tua nya, jauh di dalam hatinya dia berjanji akan berusaha menyadarkan perasaan Devan untuk Ara. membantu Ara mendapatkan cintanya, dan jika bisa Devan juga harus mencintai Ara bukan hanya cinta sepihak.


Maxim meninggalkan kamar Jasmine, dia memberikan waktu untuk Ara dan Aldrich meluapkan kerinduan mereka. Aldrich meminta Ara mendekat pada Jasmine, sungguh Ara merasa begitu bersalah melihat kondisi Mommy nya yang jauh dari kata baik baik saja, untung saja dia mau kembali ke Mansion. jika tidak entah apa Ara bisa memaafkan dirinya sendiri untuk semua yang terjadi pada Jasmine karena dirinya. Ara duduk di sebelah Jasmine ,Ara meraih tangan Jasmine dan menggenggamnya. Ara mencium pelipis Jasmine, Mommy maafkan Ara !


Ara susah payah membendung air matanya, namun sekuat apapun air matanya menetes begitu deras membasahi pipinya.


Aldrich hanya diam mengamati putrinya yang kini berinteraksi dengan Jasmine. Aldrich merasa tenang setidaknya dengan kehadiran Ara, istrinya akan kembali pulih dan hanya itu yang Aldrich inginkan.


Devan sampai diruang tamu, Devan mengerutkan kening What the hell?


Leon, Astaga!


Zavier keterlaluan , dia mengerjai ku dengan mengatakan lelucon ini.


jika aku akan bahagia saat melihat orang yang ada di ruang tamu, Devan bergegas meninggalkan ruang tamu.


Maxim menegur Devan, hai bergabunglah dengan aku dan Leon duduk di sana, ayo!


Baiklah!


aku akan menemui Leon, Maxim berlalu melewati Devan. Devan kembali teringat akan kopinya, dia bergegas ke dapur dan berniat membawakan kopi untuk dirinya dan Aldrich ayahnya.


Zavier tersenyum dengan nampan di tangannya berpapasan dengan Devan, sungguh menyebalkan! hanya kedatangan Leon saja, Zavier nampak begitu bahagia gerutunya dengan kesal .


Sayang, kau istirahat saja! kau pasti lelah bukan. Aldrich melepaskan pelukannya, dia merapikan rambut Ara.


Daddy bisakah aku meminta sesuatu? Aldrich mengangguk, apapun yang kau inginkan sayang Daddy akan mengabulkannya. katakan saja!


Daddy, mulai saat ini tolong panggil aku dengan sebutan Clara saja! aku ingin mengenakan nama itu mulai saat ini.


Aldrich tidak begitu mempermasalahkan, dia setuju saja dengan permintaan sederhana putrinya itu. baiklah ! Daddy akan memanggilmu dengan nama itu mulai sekarang.


benarkah? terima kasih / Daddy aku ingin ke kamarku, beritahu aku jika Mommy terbangun! Ara bangkit dari duduknya, dia melihat Jasmine sekilas setelah mengecup keningnya Ara berlalu ke kamarnya.


Devan membawa dua cangkir ke kamar atas, Devan bersiul dia menaiki anak tangga satu persatu. Devan menghentikan langkahnya, matanya menatap ragu pada punggung seseorang yang di kenalnya. Devan menepis pikirannya, tidak mungkin kan Ara ada di Mansion ini. Devan kembali melanjutkan langkahnya, dia melihat Aldrich masih duduk di dekat ranjang Jasmine.


Daddy, aku membawa kopi untuk mu Devan menyodorkan gelas kopi itu pada Aldrich. Minumlah!


Aldrich menerimanya, dia tersenyum pada Devan. Devan mengernyit, Daddy nya tersenyum seperti sebelum Ara pergi. senyuman itu telah kembali! Devan menempati tempat kosong di sebelah Aldrich.


Daddy, aku bahagia melihat mu kembali tersenyum, Devan menyesap kopi miliknya.


Aldrich mengangguk dia ikut menyeruput kopi pemberian putranya, tentu saja Daddy bahagia. terima kasih telah membawa kembali Ara ke Mansion. Devan membulatkan mata, dia tersedak saat Aldrich berbicara tentang Ara. jadi yang tadi itu bukanlah bayangan Ara, namun benar benar Ara yang sudah kembali.


Aldrich menatap Devan dengan bingung, hati hati nak! Aldrich meraih air putih di nakas, dan memberikannya pada Devan.


Devan menenggak air putih itu, terima kasih Daddy! Aldrich mengangguk. Devan termenung dia duduk dengan tanda tanya yang memenuhi otaknya, kapan Ara kembali? Devan memikirkan semua itu. Leon dan Maxim, iya pasti mereka yang telah berhasil menemukan Ara.


aku akan kembali ke kamarku Daddy! Aldrich mengiyakan. Devan berjalan ke kamar Ara, tangannya tergerak ingin mengetuk pintu kamar Ara, namun Devan kembali mengurungkan niatnya saat terlintas ucapan Stevy di telinganya. "Kau bahkan menyebut nama Ara setiap kali kita selesai berhubungan ". Devan meremas rambutnya, dia memutar langkahnya dia kembali ke kamarnya sendiri. Devan membanting pintu kamarnya, terdengar suara gaduh di lantai atas.


Maxim dan Leon saling pandang mendengar suara gaduh itu ,Ara mengerutkan kening saat mendengar suara yang begitu menganggu telinganya.


Ara menatap seisi kamarnya dengan tatapan sayu, dia menyentuh semua perabotan ,foto dan semua barang barang yang sempat di tinggalkan. Ayah, Ibu pada akhirnya aku kembali ke tempat dimana hatiku terluka!


Ara menyakinkan dirinya sendiri ,mulai saat ini dia akan bersikap seperlunya saja di depan Devan .


See you ❤