
Clara tunggu. aku punya kejutan untuk mu!
Leon menahan tangan Clara yang akan beranjak dari Taxi.
kejutan apa? " tanya Clara dengan mengernyitkan dahinya ".
Leon mengulurkan secarik kertas terbal yang terlipat. Clara meraih kertas itu lalu membuka pelan isinya.
Astaga! ini.... undangan pernikahan. "gumam Clara tanpa bersuara".
Clara menoleh dengan cepat ke arah Leon, merasa tidak bisa berucap apapun. Clara lantas memutuskan untuk tidak mengomentari perihal undangan ini.
Aku akan masuk dan berisitirahat "pamit Clara ".
Leon mengangguk, ada sedikit kekecewaan yang Leon lihat dari raut wajah Clara. Leon tahu dirinya berada di jalur yang salah, namun tidak ada pilihan lain lagi selain ini. Leon tidak memiliki banyak waktu, hanya ini satu satunya cara.
Leon pergi meninggalkan halaman Mansion setelah memastikan Clara masuk ke dalam.
Clara masuk dengan menarik koper bawaannya, Clara tidak menemukan semua orang kecuali para maid yang tengah bekerja.
Clara mengabaikan kepergian semua orang, hingga salah satu maid memberinya ucapan selamat .
Nona Clara ,aku ucapkan selamat untuk mu! aku tidak menyangka kau akan menikah secepat ini,dan mendahului tuan muda Maxim. "ucap salah seorang maid ".
Clara menelan kasar ludahnya, bahkan kabar pernikahannya sudah tersebar di Mansion. Clara tidak menyahuti atau membantah perkataan maid itu.
Clara sendiri masih syok, dirinya akan menikah secepat ini. Clara di landa dilema yang teramat runyam. menolak pernikahan yang sudah di depan mata pasti akan menyakiti Leon, atau menerima pernikahan ini dengan hati yang terpaut untuk orang lain.
Kepala Clara berdenyut, Clara memilih mengistirahatkan pikirannya. Clara bergegas hendak ke kamar, Langkah Clara terhenti saat berpapasan Zavier.
Zavier apa yang kau bawa ? "Clara begitu penasaran dengan isi yang ada dalam kantung plastik di tangan Zavier .
ini pecahan gelas nona, apa kau memerlukan sesuatu? "tanya Zavier " .
Clara mengernyitkan dahi,saat mendapati bercak merah di tangan Zavier .
Clara menggeleng, tidak ada yang aku perlukan.
Zavier apa kau terluka? ada darah di tanganmu!"seru Clara ".
ini... uhm itu, ini darah tuan Devan "ucap Zavier terbata".
Clara merasa hatinya ikut merasakan sakit, mendengar Devan terluka saja,hatinya masih ikut merasakan perih.
apa sebaiknya aku katakan saja, jika tuan Devan telah membaca isi Note book nona Clara."gumam Zavier dalam hati".
Zavier dimana Devan? "tanya Clara dengan wajah yang sudah memucat".
dia ada di kamarnya, Tuan Devan baru saja tertidur. "ucap Zavier ".
sebaiknya aku tidak lancang ,dengan ikut campur urusan tuan Devan dan nona Clara. "Zavier bergumam dalam hati".
nona,aku akan melanjutkan tugasku !
"timpal Zavier, yang mendapat anggukan dari Clara".
Clara melangkah ke kamarnya ,dia meletakan kopernya. Clara memejamkan matanya,Logika memaksa ingin sekali melihat keadaan Devan ,sedangkan Hatinya bersikeras menolak permintaan logika itu sendiri.
cukup lama Clara merenungkan pilihannya, kini disini lah Clara.
Clara memandangi wajah Devan yang tertidur pulas, sungguh wajah polos ini sangat Clara rindukan.
Clara membungkukkan tubuhnya, Clara tidak lagi berseteru dengan logika dan hati. Clara hanya ingin menyampaikan rasa rindunya pada cinta masa kecilnya.
Clara mencium kening Devan dengan sangat lama, dan berpindah mengusap pipi Devan. Clara menahan air matanya, namun tak bertahan lama. air mata Clara tumpah ruah membasahi wajah polos gadis tomboi itu.
Clara bergegas keluar dari kamar Devan, Clara mengutuk dirinya sendiri yang masih saja lemah di hadapan Devan.
mengapa setiap kali Devan terluka, rasanya aku yang tak sanggup melihat setetes darah pun mengalir dari tubuhnya? seberapa besar pun Devan menorehkan luka, pada kenyataannya rasa cintaku masih lebih besar dari rasa kecewa ku.
"Clara mengusap air matanya, meredam suara tangisnya .Clara memegangi dadanya yang terasa sesak, melihat perban di tangan Devan membuat tanda tanya untuk Clara".
apa yang membuat Devan melukai dirinya sendiri seperti itu? apa Devan sangat merindukan Stevy, hingga nekad melukai dirinya sendiri.
betapa beruntungnya menjadi Stevy, bahkan cinta Devan untuk Stevy tidak berkurang sedikitpun. sekalipun Stevy telah berada jauh dari Devan. "gumam Clara dalam hati ".
Clara yang sibuk berargumen, dikejutkan dengan ketukan di pintu kamarnya.
tok ...tok ...tok.....
Clara..... keluarlah!
suara bariton membuyarkan Clara dari lamunan nya.
Clara beranjak membuka pintu kamarnya, mata Clara membulat sempurna saat melihat sosok yang tadi tengah berkeliaran di dalam pikirannya.
Devan,,
Devan melangkah mendekati Clara, Clara memundurkan langkahnya. Devan menutup pintu kamar Clara dengan satu kakinya. Clara terus saja melangkah mundur, Devan tidak menghentikan langkahnya.
Clara tersudut di dinding, Devan memerangkap tubuh Clara dengan tangannya.
Devan apa yang kau lakukan? Clara mencoba melepaskan diri.
yang seharusnya aku lakukan dari dulu, Devan memandangi bibir Clara. Devan tersenyum miring, dengan tanpa ijin Devan menyerang bibir Clara.
Clara sempat tersentak dia bahkan hendak berteriak, namun Devan segera menciumnya. Clara tidak membalas, dia hanya diam.
Devan menyadari tindakannya, dia memperdalam lumatan nya pada bibir Clara. seolah Clara akan tersakiti, jika Devan terlalu kasar menciumnya.
Clara yang semula terdiam, sedikit terbawa suasana.bagaimanapun nalurinya ikut andil dalam hal ini. Clara berusaha mengimbangi Devan, Devan merasa sangat beruntung karena Clara tidak menolak tindakannya.
keduanya hanyut dalam pertautan bibir, Devan melepaskan pertautan bibirnya. Clara dan Devan saling memandang, kedua mata insan itu berkabut gairah yang sudah menggebu.
Devan berusaha mengendalikan dirinya, Clara terlihat terengah-engah selepas bertukar saliva dengan Devan. untuk pertama kalinya, Clara lagi lagi berciuman dengan Devan.
apa kau akan menikah dengan Leon? ...
Clara jawab aku, Devan mengusap bibir Clara yang kini menjadi favorit untuk nya.
Clara mengernyit.
untuk apa kau menanyakannya? jika memang iya, lalu kenapa?
Devan berdecih.
Ck. apa kau mencintainya?
apa peduli mu tentang itu? Devan hentikan, kita tidak seharusnya melakukan hal ini.Clara mendorong Devan.
Devan tersenyum sinis.
kau mengusirku setelah kita saling bertukar saliva. mengapa kau diam saja saat aku mencium mu tadi?
Kau .....
Devan pergi lah!
aku tahu kenapa kau diam saja saat tadi aku mencium mu.
Devan hentikan!
Kau yang datang ke kamarku dan mencium ku, harusnya kau tidak kemari. Clara mencoba membela diri.
Kau menyalahkan aku, namun kau sendiri menikmatinya."sergah Devan ".
Cukup...
aku tidak ingin mendengar apapun lagi. keluarlah!
Clara ...
Aku mencintaimu........
Clara terdiam, dia mematung di tempat.
Aku mencintaimu.....
kau dengar itu, ingat lah baik baik perkataan ku Clara.
Devan berbalik memunggungi Clara.
selamat untuk pernikahanmu dengan Leon !
aku baru menyadari perasaanku untuk mu Clara, saat kau pergi dari Mansion. dan saat aku telah menikah dengan Stevy ,bahkan aku tidak merasa bahagia. aku telah salah mengartikan perasaanku untuk Stevy.
kini aku tahu jika hatiku mencintaimu, aku terlalu bodoh untuk mengenali hatiku sendiri.
ah sepertinya aku terlalu banyak bicara, hanya itu yang ingin ku sampaikan.
untuk ciuman tadi dan malam itu, aku benar benar minta maaf. Devan meraih Note book Clara yang ia selipkan di kemeja nya.meletakkannya di ranjang Clara.
Maaf atas tindakan lancang ku ,aku membaca semua isinya.aku pria bodoh yang pernah kau cintai. terima kasih untuk cinta yang pernah kau berikan untuk ku.
Leon pria yang baik,dia pantas mendapatkan mu.
sekali lagi selamat untuk kalian!
Devan melangkah meninggalkan kamar Clara dan menghilang di balik pintu.
Clara menatap nanar kepergian Devan.mulutnya terkunci, Clara tidak berdaya dihadapan Devan bahkan untuk menyangkal perasaannya sendiri.
See You. ❤💓💓💓💓💓💓