
Alvarendra menatap tegang Ayahnya yang baru duduk di kursi dengan wajah marah,dia bahkan tak berani duduk di hadapan Ayahnya itu.
"Ini terakhir kalinya aku mendengar Javeline membuat masalah!"
ujar tuan Dian setengah mengancam,Alvarendra tak menjawab.
Ia tahu persis ucapan Ayahnya bukan hanya ancaman semata,Javeline bisa saja di seret keluar negara ini bila Ayahnya mau.
"Kau masih mencintainya?!"
Alvarendra lagi - lagi tak menjawab,kini dia bingung dengan perasaannya.
Bagaimanapun Javeline adalah wanita yang pernah ada di hatinya,meskipun akhirnya dia berkhianat dengan pria lain.
Melihat Alvarendra yang tak menjawab membuat tuan Dian tak senang dan menggebrak meja keras.
"Kau masih mencintainya meskipun dia sudah berkhianat?!"
Alvarendra menatap Ayahnya heran namun dia sadar Ayahnya ternyata lebih tahu segalanya di banding dia
"Mengapa Ayah tidak memberi tahu aku?"
Tanya Alvarendra dengan tatapan sedih.
Hatinya masih hancur mengingat pengkhianatan Javeline,begitu pula harga dirinya.
"Kau yang terlalu bodoh sampai tak menyadarinya!"
Tuan Dian membuang muka kesal.
"Aku sudah memutuskan hubunganku dengannya Ayah,tapi hari ini dia menerobos masuk ke kantorku dan memohon agar aku mengampuninya."
Jujur Alvarendra sambil meremas tangannya
"Lalu ?"
penasaran dengan cerita anaknya itu
"Aku mengusirnya ... aku tak berpikir dia akan datang menemui Aera,beruntungnya seorang karyawan Aera mengenaliku dan memberitahukan Javeline menerobos kantor Aera"
Ada rasa penyesalan dari raut wajah Alvarendra,dia harusnya tahu Javeline seberani itu.
Dia beruntung bisa berpapasan dengan Reni yang keluar dari kantor dan memberi tahukan tentang kehadiran Javeline.
"Saat aku akan membuka pintu nampaknya sudah terjadi pertengkaran antara Aera dan Javeline."
Alvarendra menundukan kepalanya lesu.
"Jadi sekarang,kau tentu akan memilih Aera kan?"
Tanya tuan Dian penuh harap
"Entahlah Ayah"
keraguan nampak jelas dari raut wajah Alvarendra
"Kenapa ? apa karena kau tidak bisa melupakan Javeline?!"
Tuan Dian sudah mulai lagi dengan wajah murkanya,Alvarendra menggelengkan kepala.
"Sepertinya Aera berencana bercerai denganku"
Ucapan itu membuat tuan Dian kaget dan tak percaya
memastikan dengan nada tajamnya
"Aera pernah meminta ibu untuk membiarkan aku dan Javeline,dan saat pertengakarannya dengan Javeline dia juga bilang akan menjodohkanku dengan seorang gadis yang lebih baik dari Javeline"
Entah mengapa perasaan sedih dan kecewa merebak di hati Alvarendra.
"Kau kecewa pada Aera?"
Ayahnya mengetahui kegundahan anaknya itu dengan cepat,secepat Alvarendra menggelengkan kepalanya kuat - kuat membantah dugaan Ayahnya yang tepat menusuk hatinya.
Tuan Dian tertawa renyah membuat Alvarendra bungkam seribu bahasa lagi.
"Kau kecewa Aera tidak ingin terus bersamamu."
Alvarendra diam,memeriksa hatinya sendiri yang carut marut mendengar ucapan Ayahnya itu.
Secepat itu kah hatinya berpaling pada Aera ?
"Tidak Ayah,hanya saja hal itu tidak pantas di katakan oleh Aera yang saat ini adalah istriku"
Bantah Alvarendra dengan wajah yang berpura - pura tenang.
"Teruslah membantah perasaanmu sendiri,dan perasaanmu itu hanya akan menjadi kuat!"
Tuan Dian terkekeh geli melihat wajah anaknya yang pura - pura untuk tetap tenang itu.
"Aku beri kau satu saran yang baik,kalau kau ingin Aera tak meninggalkanmu buat dia mencintaimu selama sisa umurnya"
Alvarendra tak menjawab masih bertanya - tanya dalam hati apa yang sebenarnya dia inginkan.
"Bila tak ada yang lain,aku ijin istirahat Ayah aku lelah hari ini"
Pamit Alvarendra muram
"Istirahatlah,dan ikuti hatimu nak"
Masih dengan tawa renyahnya mengantar kepergian Alvarendra dari ruangannya.
Alvarendra berjalan gontai menuju kamarnya,dan dia menatap lekat Aera yang sedang tertidur pulas di bawah selimut.
Dia mendekat ke arah tempat tidur dan duduk di samping Aera,suara nafas lembut Aera terdengar olehnya.
Alvarendra menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya,pipinya masih merah dan luka disudut bibirnya membuat Alvarendra merasa bersalah
Tangannya tanpa sadar menyentuh luka di bibir Aera dengan lembut,sekejap kemudia dia menarik tangannya tak ingin membuat Aera terbangun.
Aera berguman tak jelas dalam tidurnya,ini pertama kali Alvarendra melihat Aera tertidur sepulas itu membuatnya terlihat menggemaskan.
Alvarendra merebahkan tubuhnya di samping Aera menatap lekuk wajahnya seraya bertanya pada diri sendiri.
"Apa yang Ayah katakan benar ? aku mulai kecewa saat dia mengatakan akan pergi dari pernikahan ini?"
"Lalu,apa perasaanku sebenarnya pada Aera?"
Alvarendra mengulang - ngulang pertanyaannya itu di kepalanya sambil menatap Aera yang masih lelap dalam mimpinya,hingga dia ikut tertidur di samping Aera.
Perasaan nyaman berada di dekat Aera membuat Alvarendra pun tertidur pulas.
Untuk pertama kalinya pernikahan ini terasa tidak begitu buruk bagi Alvarendra,wajah Aera bagaikan obat penenang yang membuatnya tertidur pulas dengan perasaan nyamannya .
****