
Aera menginjak sisa rokok yang dia hisap dengan sepatunya,lalu menghela nafas kasar di atap gedung perusahaan milik almarhum Ayahnya itu.
Dia sudah pasrah,mengetahui sekretaris Ayahnya berkhianat dan membuat dirinya berada di ambang kebangkrutan.
Lamunannya pecah saat dering ponselnya berdering nyaring.
"Halo,saya dari rumah sakit X memberitahukan keadaan Nyonya Anggara sedang kritis saat ini."
Aera mematikan ponselnya dan berlari tanpa mempedulikan apapun lagi yang ia lalui.
Sesampainya di rumah sakit Aera memarkir mobilnya dengan sembarang,beberapa orang meneriakinya namun Aera seakan tak mendengarkan apapun lagi.
Aera menatap penuh harap pada dokter yang keluar dari ruang ICU,dokter itu menghela nafas.
"Keadaan Nyonya Anggara memburuk,kita harus segera melakukan operasi jantung secepatnya"
Dokter dan para perawat itu meninggalkannya.
Aera terduduk lemas tak berdaya,nafasnya masih terengah - engah,dia bukan tidak tahu Ibunya diharuskan segera melakukan operasi tapi dengan keadaaanya saat ini Aera benar - benar tak punya biaya untuk operasi Ibunya.
Aera membuka ponselnya mencari kontak orang yang dia anggap bisa menolong Ibunya,dan dia berhenti menatap satu kontak di layar ponselnya.
Tuan Dian Jayadi...
pemilik Jayadi Group yang usahanya bergerak di segala lini kehidupan di negeri ini,Aera pernah menemuinya beberapa kali namun tak mengenalnya lebih jauh.
Aera hanya mengetahui betapa berkuasanya dia di antara para pengusaha sukses hingga semua orang tak berani menatapnya.
Aera memasukan ponselnya ke dalam saku,lalu masuk ke ruangan Ibunya.
Hati Aera tercabik melihat keadaan Ibunya yang kini kehidupannya disokong oleh selang-selang yang menyambung ke tubuhnya.
Namun tak setetes air matapun mengalir dari matanya.Bagi Aera menangis adalah hal yang sia - sia,menangis tak membuatnya bisa menolong ibunya ataupun perusahaannya.
Dia mengambil ponsel dari sakunya,dan memantapkan hati untuk meminta pertolongan pada Tuan Dian Jayadi.
"Selamat siang Tuan Dian,saya Aera dari perusahaan Anggara...ada yang saya ingin sampaikan secara langsung kepada anda,apa anda bisa menyempatkan waktu anda untuk saya?"
Ucap Aera tegar
Tuan Dian terkekeh mendengar ucapan Aera,lalu menghela nafas panjang
"Datanglah sekarang Nona Aera,saya menunggu anda di perusahaan Jayadi Gruop sekarang"
Suara berat pria berumur itu terdengar bagaikan angin segar untuk Aera.
"Baik Tuan"
Aera mematikan ponselnya dan berlari menuju mobil,lalu menjalankannya dengan kecepatan penuh.
****
Tuan Dian Jayadi sudah duduk di kursinya dengan tenang saat Aera masuk ke ruangannya setelah menunduk memberi hormat dengan langkah hati - hati dia mendekati meja besar itu.
"Apa kabar Aera?"
Tanya Tuan Dian dengan senyum ramah
"Kabar saya tidak baik Tuan"
Aera benci basa basi,dia akan berbicara pada intinya.
"Duduklah"
Tuan Dian menangkap kegelisahan dari raut wajah gadis muda di hadapannya,Aera duduk dengan wajah tegangnya.
"Saya datang kemari untuk meminta pertolongan anda"
Aera berterus terang,habis sudah rasa gengsi di hatinya saat ini.
Tuan Dian menatap Aera sedikit tak percaya ada seorang gadis muda yang berani meminta pertolongan dengan nada tegarnya,biasanya dia akan menemui pengusaha - pengusaha yang berlutut memohon bantuannya.
selidik Tuan Dian
"Selamatkan Ibu saya"
ada sedikit getaran di suara Aera,dia masih mengingat bagaimana ibunya,satu satunya keluarganya yang tersisa di dunia ini sedang sekarat.
"Ibu saya membutuhkan biaya untuk operasi jantungnya,saya akan membiarkan anda memiliki perusahaan Anggara"
Aera mengepal erat tangannya
"Hmmm...bukannya perusahaan Anggara akan bangkrut?"
Ujar Tuan Dian mengerecutkan bibirnya
Masih ada gurat ketampanannya di balik wajahnya yang sudah menua itu,dia masih nampak gagah dengan setelan jasnya.
"Walaupun begitu,perusahaan Anggara dikenal dengan usaha fashionnya yang sukses,saya yakin anda mampu membuat perusahaan Anggara bangkit dari keterpurukan ini.Kebangkrutannya bukan karena penjualan produk yang berkurang,tapi karena penggelapan uang oleh staff terpercaya almarhum Ayah saya.Saya juga akan bekerja untuk anda Tuan"
Hanya itu yang bisa Aera janjikan untuk ganti nyawa ibunya yang berada di ujung tanduk saat ini.
Tuan Dian tersenyum seakan memikirkan sesuatu yang lebih hebat dari sekedar mengambil alih perusahaan Anggara,dia tahu persis mendiang Sandi Anggara adalah pengusaha yang tak di ragukan lagi pada masanya,dia mendidik anak - anaknya dengan baik dan displin termasuk gadis muda di depannya.
Dia pun tahu Aera Anggara selama setahun ini mati - matian bertahan dan menyelidiki sendiri dana gelap yang di seludupkan sekretaris almarhum Ayahnya.
"Saya akan menolong ibumu,dengan satu syarat lagi"
Ucap Tuan Dian sambil mengacungkan satu telunjuk di samping wajahnya,masih dengan wajah ramahnya.
Ucapannya itu membuat mata Aera berbinar,entah apa itu syarat selanjutnya tapi kesempatan untuk melihat ibunya sehat kembali membuat hatinya lega.
"Menikahlah dengan Alvarendra,anakku satu - satunya"
Bagai petir yang menyambar,wajah Aera redup seketika mendengar syarat itu.
Umurnya saat ini belum genap 22 tahun,dia pun tak pernah mengenal sama sekali sosok Alvarendra.
"Kau hanya perlu menikahinya,dan memberikanku cucu..."
Aera masih tak menjawab,hatinya bimbang dan terus membayangkan wajah ibunya.
"Istriku sedang dalam keadaan kurang sehat belakangan ini,Alvarendra terus memberontak karena dia berpacaran dengan wanita licik dan itu membuat istriku meminta agar aku menjodohkannya dengan wanita yang lebih baik dan Alvarendra segera mempunyai anak,agar sikap kekanak - kanakannya berkurang"
Aera menatap wajah Tuan Dian yang nampak kesal,masih dengan perasaan bimbangnya.
"Tuan... anak tuan tidak akan menyukai hal ini"
tutur Aera lemah
"Aku tak peduli lagi kalau dia tak menyukainya sekarang,aku yakin dia akan menyukainya nanti"
Tuan Dian tersenyum penuh rencana dalam pikirannya
Aera masih terdiam,berperang dengan pikirannya sendiri.Tuan Dian memperhatikan kegelisahan Aera,tuan Dian tahu persis bagaimana hati anaknya yang nampak dingin di luar itu,dia yakin gadis ini bisa meluluhkan dan menggantikan Javeline di hati Alvarendra.
"Bagaimana?"
Tanya Tuan Dian tak sabar
"Baiklah Tuan,saya akan menikah dengan anak tuan"
Aera tak tahu apa ini keputusan yang benar,tapi untuk saat ini nyawa ibunya adalah hal paling penting di banding hidupnya.
"OK,setelah operasi ibumu selesai kita akan melangsungkan pernikahan"
keputusan tuan Dian semakin membuat Aera gelisah,artinya dalam waktu dekat dia akan menjadi istri seseorang yang dia tak tahu rupanya.
****