WONDERWOMAN IN WONDERLOVE

WONDERWOMAN IN WONDERLOVE
MENGUSIK



"Nona... Ada tuan Adrian dari Oktora group ingin menemui anda langsung"


Ucap Reni takut - takut,dia ingat betul saat Kean menginstruksikan padanya supaya tidak membuat kerjasama bersama Oktora dengan wajah mengerikan.


Aera terdiam sejenak,dia langsung teringat kejadian di Club X.Memang tak ada bukti langsung yang mengarah pada CEO oktora Group,namun nampaknya Alvarendra dan Adrian tidak berhungan baik mengingat peringatan Alvarendra untuk tidak mendekati Oktora.


"Biarkan dia masuk"


Ucap Aera dingin


"Ta...tapi Nona?"


Reni gamang,di sisi lain orang - orang yang dibawa CEO Adrian menakutkan,disisi lain dia tak ingin terjadi sesuatu pada Nonanya.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri"


Memastikan Reni lebih tenang.


Dan dengan gaya sombongnya Adrian datang di kawal oleh empat pengawal pribadi,entah mengapa Adrian merasa dibawah ancaman setelah kejadian di Club X hampir terbongkar kalau saja dia tidak menyuruh Hani keluar negeri malam itu juga.


Aera berdiri dari kursinya memandang tajam Pria dengan badan tegap dan wajah antagonisnya yang memuakkan.


"Ada perlu apa Oktora datang kesini?"


Aera bertanya dingin pada Adrian yang duduk dan mengangkat kakinya ke atas meja Aera.


"Nona Aera,malang sekali nasibmu harus menjadi pekerja di perusahaan yang Ayahmu bangun sendiri"


Mulai memprovokasi Aera


"Saya tak butuh belas kasihan siapapun"


Aera mengepalkan tangannya,dia benci di kasihani


Adrian terbahak,dan menepuk tangannya kuat kuat di hadapan Aera.


"Jaga sikap anda Tuan Adrian "


Ancam Aera menatap Adrian tajam


"Wa...Kau membuatku merinding,nona... Ini kah sebab Jayadi memintamu menjadi menantunya?"


Tatapan menantang Adrian membuat Aera makin muak


"Sepertinya CEO Oktora sedang tidak ada pekerjaan ya!Apa mungkin kejadian di Club X tempo hari juga ulah anda?"


Aera tersenyum sinis sambil menyilangkan tangannya di dada


"Club X? Wa ... ternyata anda masih suka ke club ya !"


Ledek Adrian lagi tak patah arah.


"Oh ... maaf Tuan Adrian,saya salah menuduh"


Ujar Aera sengaja mempermainkan Adrian.


"Tapi ketika semua terbongkar jangan harap Oktora selamat!"


Aera menekankan kata Selamat pada Adrian sambil menyeringai.


"Tuan,nampaknya anda masuk kesini dengan paksa dan merusak beberapa barang perusahaan"


Aera mendekati Adrian namun di tahan oleh badan tinggi besar pengawal - pengawalnya


"Kalian ini berlebihan sekali menghadapi seorang wanita,aku bahkan tak punya pistol"


Aera mengangkat kedua tangannya dan menunjukannya di depan mata pengawal - pengawal itu.


"Biarkan dia mendekat"


Adrian bersuara


mereka membuka jalan untuk Aera,dan Aera mendekati Adrian yang masih duduk di kursinya.


"Tuan... Aku paling tidak suka barang - barangku dirusak,apalagi sampai memukul pegawaiku..."


"Kami tidak di biarkan masuk ke sini,jadi aku agak memaksa sedikit "


Membenarkan tuduhan Aera itu.


Tanpa peringatan Aera membanting tubuh Adrian ke lantai dan mencekiknya hingga ia tidak bisa bersuara.


Pengawal - pengawal itu hendak bereaksi namun menahan karena melihat tuan mereka dalam posisi terdesak.


"Bagaimana kalau aku membuatnya satu sama saja ?"


Aera menarik kerah baju Adrian,memaksa dia berdiri dengan tubuhnya yang terasa remuk.


"Kau datang padaku karena beranggapan aku mudah kau tindas ? "


Ujar Aera geram


"Coba saja menindasku ,siapa yang memberimu informasi ? Javeline???"


Aera melayangkan tinjunya hingga Adrian jatuh tersungkur


Kompak keempat pengawalnya mulai menyerang Aera,dan kali ini sabuk hitam itu berguna dalam kehidupannya.


kelima orang itu pulang sambil menutupi wajahnya karena babak belur di hajar oleh Aera,pegawai disana nampak menghela nafas lega ternyata Aera tak selemah yang mereka kira .


Aera yang mungil dan nampak lemah justru mampu membuat lima pria dengan badan tegak babak belur,dan itu sampai di telinga Alvarendra.


Walau tahu istrinya baik - baik saja,dia tanpa membuang waktu langsung melangkah menuju kantor Aera untuk memastikan.


Alvarendra geram setengah mati melihat kantor Anggara yang berantakan,dia menyusuri kantor itu dan langsung membuka pintu ruangan Aera yang sama berantakannya.


Aera sedang membersihkan pecahan vas bunga di bantu Reni pun terperanjat kaget melihat kehadiran Alvarendra yang masih terengah - engah.


Alvarendra memeluk Aera erat,bahkan Reni yang kaget melihat hal itu segera keluar dari ruangan itu.


"Kenapa kau tak menelponku? aku sudah bilang kan ? dia bahaya ..."


Memandangi wajah Aera penuh rasa khawatir


"Dia itu gegabah dan bodoh,tidak semengerikan itu"


Ucap Aera santai membuat Alvarendra semakin frustasi,dia mendekap kembali tubuh istrinya itu


"Ayah harus tahu,agar kau tetap aman !"


Senjata terakhir Alvarendra.


Dia tahu Ayah nya selalu tegas dalam menghadapi sesuatu,bahkan cenderung mengerikan.


"Javeline terlibat"


Ucap Aera sedikit ragu


"Apa?!Dari mana kau mengetahuinya"


Alvarendra menatap kembali wajah Aera khawatir


"Yang mengetahui bahwa aku adalah wanita yang Ayah pilihkan untukmu hanya orang rumah,Kean dan dokter Prima bukan? juga Javeline..."


Ucap Aera ,hanya Javeline yang tidak ada di pihaknya.


"Kau benar,aku hanya memberi tahukannya pada nama-nama itu.Dan Javeline lah yang belum bisa menerima dia sudah ku putuskan "


Alvarendra menerawang,dia memeluk kembali istrinya


"Jangan khawatir aku dan Ayah akan mengurusnya"


Alvarendra mengusap lembut kepala Aera


"Jangan libatkan pegawai,ini hal pribadi...beritahukan itu pada Adrian dan Javeline!"


Aera menitipkan kalimat peringatannya itu pada Alvarendra.