WONDERWOMAN IN WONDERLOVE

WONDERWOMAN IN WONDERLOVE
PERCIKAN API CEMBURU



Pukul 01.00 dini hari


Aera terbangun mendengar seseorang masuk ke dalam kamar dengan langkah sembarangan dan segera menyalakan lampu meja.


Nampak Alvarendra dengan wajah merah dan kusut mendekatinya,duduk di sampingnya dengan aroma alkohol yang kuat.


"Kau mabuk?"


Tanya Aera beringsut menjauhi Alvarendra


Alvarendra menatap Aera dengan mata sayunya,lalu tertawa terbahak - bahak membuat Aera takut.


"Apa ada masalah?"


tanya Aera pelan


"Kau... kau masalahnya"


Alvarendra menunjuk wajah Aera kesal,Aera mengerjapkan mata bingung


"Aku?"


Tanya Aera menunjuk dirinya sendiri


"Mengapa kau ingin berpisah?"


Tanya Alvarendra muram


"Ya jelas,karena kita tidak saling mencintai"


Jawab Aera tanpa basa basi,membuat Alvarendra berdecak kesal.


Alvarendra mendekatkan wajahnya ke arah Aera,membuat Aera merapatkan tubuhnya ke dinding.


"Kau tidak mencintaiku?"


Tanya Alvarendra sengaja menebar pesona dengan wajah dinginnya,Aera spontan menggelengkan kepala.


Alvarendra memang tampan,tapi hati Aera belum merasakan apa - apa padanya.


Alvarendra masih menatap lekat Aera,tak percaya seorang gadis menolaknya mentah - mentah di depan matanya sendiri.


"Apa yang harus ku lakukan agar kau mencintaiku?"


Tanya Alvarendra serius


"Kau mabuk Alvarendra."


Aera mengira Alvarendra sedang mabuk dan berbicara omong kosong.


Alvarendra mencium bibir Aera lembut membuat Aera berusaha mendorong tubuh Alvarendra yang kini menariknya ke posisi tertidur di bawahnya.


Tangan Aera yang berusaha mendorong tubuh Alvarendra di raihnya pelan dan di letakan di samping kepala Aera.


Kini tangan mereka saling berpaut bersamaan dengan ciuman Alvarendra,membuat Aera tak berdaya untuk menghindar.


"Alvarendra,hentikan...kau mabuk!"


Ucap Aera di sela serangan Alvarendra yang semakin menjadi.


Alvarendra menatap kembali wajah Aera yang bersemu merah mendapat perlakuan itu dan berusaha memalingkan wajahnya.


Alvarendra semakin gemas melihat wajah Aera yang nampak malu - malu itu,baginya ini adalah harapan membuat Aera mencintainya.


"Kau bahkan tak melakukan ini karena mencintaiku"


Ucap Aera sambil mengigit bibirnya kelu,ia menyangka ini hanya taktik Alvarendra agar dia jatuh cinta padanya setelah itu Alvarendra akan menertawakannya dan mencampakannya.


"Kau tidak merasakannya?"


Tanya Alvarendra masih mencari - cari manik mata Aera yang tak ingin menatapnya.


"Merasakan apa?!"


Tanya Aera kesal,menatap Alvarendra marah.


"Menyingkir atau aku akan menendangmu!"


Ancam Aera tak tahan lagi


"Tendang aku,maka aku juga akan menendang karyawan - karyawan lama di Anggara!"


Ancam balik Alvarendra,membuat nyali Aera menciut.


Bayangan wajah para karyawannya terutama Reni yang masih harus menghidupi dua adiknya yang masih kuliah bergelantungan dipikirannya.


"Katakan!"


Ucap Alvarendra tak sabar,membuat Aera menatap tak mengerti


"Katakan!kau ingin aku mencintaimu!"


Perintah Alvarendra pada Aera yang memalingkan wajahnya.


Aera bungkam,heran mengapa Alvarendra ingin dia mengatakan hal itu.


"Mengapa kau ingin aku mengatakan hal itu?Agar kepercayaan dirimu naik!?"


Cecar Aera tak mengalah,membuat Alvarendra meremas telapak tangan Aera.


"Katakan!atau kau takan melihat karyawan-karyawan mu pagi ini!"


Kembali mengancam Aera dengan wajah serius


"Aku ingin kau mencintaiku"


Ujar Aera dengan nada terpaksa,Alvarendra tersenyum menang mendengarnya.


"Baiklah,aku akan mencintaimu sesuai keinginanmu"


Menatap Aera dengan senyuman manisnya dan membelai rambut Aera lembut.


"Baiklah,turuti saja dia sekarang toh dia sedang mabuk kan? dia pasti lupa saat terbangun nanti"


Aera menenangkan hatinya sendiri setelah menyatakan hal memalukan itu pada Alvarendra.


"Cium aku"


Alvarendra melepaskan tangan Aera dan menunjuk bibirnya sendiri.


Aera ragu namun secepat kilat memberi kecupan di bibir Alvarendra yang lembab itu,membuat wajahnya semakin bersemu merah.


Alvarendra mencubit gemas ujung hidung Aera,dan menjatuhkan tubuhnya di samping Aera.


Aera menghela nafas lega setelah tubuhnya sedari tadi tak bisa bergerak bebas,Alvarendra memejamkan mata sambil berguman tak jelas dan terlelap dengan senyum penuh kemenangan di bibirnya membuat Aera kesal melihatnya.


"Apa sih maunya ?!"


Aera membelakangi tubuh Alvarendra setelah menyelipkan guling di antara tubuh mereka yang seakan menjadi benteng pertahanannya kalau - kalau Alvarendra menyerang tanpa peringatan lagi.


****


Aera berharap Alvarendra lupa dengan kejadian subuh tadi,dia berangkat kerja pagi buta agar bisa menghindar dari Alvarendra.


Tanpa sarapan terlebih dahulu dia melajukan mobilnya sendiri ke jalanan ibu kota dengan kecepatan sedang,mengikuti saran mertuanya untuk tidak mengemudi dengan tidak hati - hati lagi.


Sesampainya di kantor dia langsung berkutat dengan perkerjaannya.Aera tidak suka menumpuk pekerjaan apalagi berkaitan dengan desaign,baginya perkerjaannya itu adalah seni yang harus selalu tepat waktu.


Fokusnya terpecah saat ponselnya berdering menunjukan nama Kak Rafanza.


Kak Rafanza adalah kakak kelasnya saat di sekolah menengah atas,dan dia kuliah di jepang setelah lulus.


Mereka cukup dekat,tapi saat ibunya membutuhkan pertolongan nama Rafanza terlewat dalam list orang yang bisa membantunya saat itu karena Rafanza sedang menyelesaikan pendidikannya di jepang.


Aera tak ingin mengganggu Rafanza dengan keadaannya.


Walau ragu,Aera akhirnya menjawab panggilan itu.


"Aera!"


Sambut Rafanza dengan nada gembira.


"Kak... apa kabar?"


tanya Aera ragu


"Mengapa kau tak menghubungiku?aku sudah bilang pada suamimu kemarin"


tutur Rafanza polos.


Aera mengerjapkan mata tak mengerti,dan dapat menyimpulkan Alvarendra mengangkat telepon dari Rafanza kemarin saat dia tertidur.


Aera memejamkan matanya kesal,dia tak menyangka Alvarendra seberani itu.


"Maaf kak aku lupa"


Aera tak ingin membahas Alvarendra pada Rafanza.


"Aera,aku melihat beritamu yang menikah dan tentang ibumu"


Ujar Rafanza muram


"Hmmm..."


Aera menjawab enggan ucapan Rafanza


"Aku ingin menemuimu di kantor,apa boleh ?"


tanya Rafanza tak kuasa menahan kerinduannya.


"Setelah aku pulang ya kak,aku masih banyak pekerjaan."


Ujar Aera


" Baiklah,aku akan menunggu di loby kantormu sore nanti,bye..."


Ucap Rafanza memutuskan panggilannya.


Aera memejamkan mata frustasi,entah dari mana dia akan menceritakan pada Rafanza.


Rafanza mungkin hanyalah satu - satunya sahabat yang dapat di percaya dalam kehidupan Aera dulu maupun sekarang.


Setidaknya ada satu orang yang bisa menjadi tempat untuk Aera berbagi cerita,agar dia tak memendamnya sendirian lagi.


****


Aera berjalan keluar dari lift,petang sudah menjelang menyisakan cahaya semburat lembayung yang masuk lewat kaca - kaca besar loby kantornya.


Tanpa aba - aba sosok Rafanza yang di rindukan Aera memeluk erat tubuh Aera tak kalah rindunya.


Aera mendorong tubuh Rafanza,sadar hal itu bisa menjadi pergunjingan di dalam kantornya mengingat dirinya yang sudah berstatus istri orang.


"Kak Rafanza!!! aku merindukanmu..."


ucap Aera setengah berbisik mengucapkannya tak ingin orang lain mendengarnya.


Rafanza menatapnya rindu dengan matanya yang bulat.


Rafanza masih sama seperti dulu,selalu rapih dengan gaya rambutnya yang sederhana serta tubuhnya yang tinggi membuat semua wanita ingin memiliki wajah tampannya.


"Kau semakin kurus"


Rafanza menatap Aera sedih,masih memegang kedua lengan Aera yang nampak mungil di tangannya.


"Kalau begitu,traktir aku makan sekarang"


Ucap Aera ceria yang langsung di sambut anggukan setuju Rafanza.


Mereka melenggang pergi dari kantor tanpa menyadari sepasang bola mata menatap mereka penuh amarah di balik kemudi mobilnya.


Alvarendra meremas setir kuat - kuat,berusaha menahan amarahnya dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah.


***


Aera makan dengan lahap steak yang selama ini dia inginkan,karena dari kemarin dia hanya makan makanan lembut buatan Revan di rumah.


Rafanza mengunyah makanan sambil menatap lekat Aera.


Aera baginya semakin cantik setelah beberapa tahun tak dia jumpai,Rafanza bahkan tak bisa menyerah begitu saja meskipun tahu Aera sudah berstatus istri orang lain dan walau Aera selalu menjelaskan bahwa ia hanya menganggapnya kakaknya sendiri sejak dulu Rafanza tak mampu mengalihkan perasaannya pada gadis selain Aera.


Malam itu,Aera menceritakan semuanya pada Rafanza.


Kisah sedih saat ibunya pergi,juga siapa suaminya yang adalah anak tunggal dari keluarga Jayadi yang merupakan rival keluarga Prasetya,keluarga Rafanza yang hampir mengimbangi kedudukan Jayadi Group di mata para pengusaha.


Dengan cerita Aera yang jujur,Rafanza masih memiliki harapan besar membuat Aera menjadi istrinya.


Tanpa Aera sadari waktu berlalu cepat saat dia berbincang dengan Rafanza,dia melupakan seseorang yang sedang menunggunya penuh kecemburuan di dalam kamar dan terus menerus menatap layar ponsel berharap Aera menghubunginya,namun tak kunjung terjadi karena Aera sedang asyik berbincang.


Aera tak menyadari dia akan pulang ke kandang harimau yang sedang mengamuk malam ini


****