
Alvarendra melempar buket bunganya ke lantai sesaat setelah dia melihat gadis yang ia cintai sedang bersama pria lain di atas tempat tidurnya.
Dia bahkan tak pernah menyentuh Javeline demi menjaga kehormatan gadis itu,tapi ternyata Javeline tak pernah menjaga kehormatannya sendiri.
Javeline masih gelagapan menutupi tubuh polosnya dengan selimut,pria disampingnya bahkan menatapnya marah menyadari bahwa teman kencannya itu sudah membohonginya dan mengatakan dia tak punya pria lain selain dirinya.
"Kosongkan apartemen milikku,jangan meninggalkan jejak apapun disini.Jangan pernah menampakan dirimu lagi!"
Alvarendra beranjak pergi dengan tangan terkepal tak mempedulikan Javeline yang berusaha mengejarnya.
Dia tak ingin di sentuh lagi wanita menjijikan itu lagi!
Alvarendra terdiam di balik kemudi dengan matanya yang menerawang saat ayah dan ibunya tak merestui hubungannya dengan Javeline,ternyata firasat mereka terhadap wanita itu benar adanya.
Hal itu membuatnya malu telah membela Javeline mati - matian selama ini,bahkan dia masih menyebut - nyebut namanya di depan istri sahnya.
Alvarendra tak sanggup menanggung malu kalau sampai Aera tahu seorang casanova sepertinya sudah diselingkuhi.
Seharian Alvarendra bahkan hanya menatap layar komputernya tanpa bergeming,hatinya sakit karena perselingkuhan kekasihnya itu.
Sekretarisnya Kean bahkan tak dia gubris,saat ini dia hanya ingin menyendiri dengan perasaannya yang hancur.
Kean selalu melaporkan apapun pada Tuan Dian mengenai putranya itu,termasuk ketidak hadiran Javeline yang biasa mengganggu moodnya setiap hari.
"Sepertinya Tuan muda sudah melihat taringnya"
Kean orang yang sangat teliti dan berhati - hati membaca ekspersi dan situasi,dia tahu persis Alvarendra sedang patah hati.
Di tambah dia bekerja untuk Tuan Jayadi sedari umurnya masih sembilan belas tahun,kini dia mampu memahami karakter masing - masing keluarga tuannya.
Tuan Jayadi yang mendapat laporan seperti itu tentunya senang,dia berpikir bahwa kesempatan Aera untuk menjadi wanita yang di cintai putranya kini nyata.
Alvarendra pun pulang dengan langkah gontainya ke rumah,dia bahkan tak berniat memberi salam pada orang tuanya yang duduk di ruang keluarga
Ayahnya menghentikan ibunya yang akan menanyakan sikap Alvarendra yang tak biasa,sudah tahu apa yang tengah terjadi pada putranya.
Saat memasuki kamar,dia kembali melihat Aera yang kini sedang menulis disebuah kertas.
Nampaknya,Aera masih bekerja walaupun tanpa laptopnya dan dia sama sekali tak mau menyambut suaminya.
Aera sudah tidak merasa pusing lagi setelah dia meminum obat yang di berikan pelayan untuknya.
Alvarendra mengendurkan dasi yang ia kenakan karena merasa tercekik dan duduk di sofa yang biasa Aera pakai untuk tidur,lalu dia memandangi Aera dari belakang.
"Wanita ini sedingin es batu!dia bahkan tak melihat ke arahku"
Sikap Aera yang acuh membuat Alvarendra semakin kesal,namun dia merasa tak berhak menuntut perhatian Aera mengingat perlakuannya terhadap Aera.
Aera merasa diperhatikan dari belakang,dia berbalik melihat wajah kusut suaminya itu.
"Ada masalah?"
Aera ragu untuk bertanya,tapi wajah Alvarendra yang biasanya cerah tiba - tiba mendung membuatnya penasaran.
Alvarendra melepas dasinya dan melempar ke sembarang arah tanpa menjawab Aera yang masih menatapnya bingung.
"Apa Tuan Jayadi memarahimu lagi?"
Sejujurnya Aera merasa bersalah melihat dia dimarahi ibunya tadi pagi,Aera tak bermaksud membuat Alvarendra dalam posisi yang sulit.
"Kenapa?kau ingin menghiburku?"
tanya Alvarendra dengan tatapan tajam
spontan Aera menggelengkan kepalanya kuat - kuat
"Yang bisa menghiburmu kan hanya Javeline"
Aera dengan ringannya menyebut nama wanita yang tak ingin lagi Alvarendra dengar.
Rahang Alvarendra mengeras namun Aera tak menyadari dan mengambil segelas air di samping mejanya lalu meminumnya.
Alvarendra tak bergeming,masih menatap Aera lekat dari arah belakang.
Aera nampaknya sudah tak lagi sedih,dia sudah bisa menguasai emosinya sendiri.
Yang berlalu biarlah,dia hanya akan fokus untuk membalas budi,dan bagaimanapun dia masih CEO perusahaan Ayah mertuanya kini,kehidupan para pegawai lamanya bergantung pada kinerjanya.
Dia tak ingin mereka kehilangan pekerjaan karena kelalaiannya sebagai pemimpin.
"Layani aku!"
Suara Alvarendra membuat Aera berhenti menulis dan menatapnya heran
"Layani aku dengan baik!aku suamimu!"
Aera mengernyitkan dahinya tak mengerti dengan ucapan Alvarendra.
"Layani?layani apa?"
tanya Aera masih duduk di kursinya
"Buka kan sepatuku!"
Nampaknya Alvarendra sedang mencoba mainan barunya agar dia tidak merasa kesal lagi.
Aera menghela nafas tak kalah kesal,masih tak bergeming dari posisinya.
"Atau ku laporkan kau pada Ayah karena tidak menjalankan tugasmu sebagai istri!"
Ancaman itu membuat Aera bergetar.
Dia harus tahu cara berterimakasih pada tuan Jayadi yang telah membantunya,dengan laporan itu tuan Jayadi bahkan bisa memecat seluruh karyawan lamanya detik ini juga.
Aera mendekat dan berlutut di depan Alvarendra dan membukakan sepatunya,Aera tahu ini penghinaan untuknya namun dia berusaha tenang dan menuruti Alvarendra.
Aera menyimpan sepatu Alvarendra di tempatnya dan menatap Alvarendra yang masih duduk di sofa.
"Ambilkan aku minum"
Aera langsung mengambil segelas air dan menyodorkannya,namun Alvarendra tak meraih gelas itu.
"Aku mau minum"
meminta Aera mendekatkan gelas ke mulutnya
Aera mendesah kesal namun tetap menuruti Alvarendra,setelah selesai Aera menyimpan gelas di atas meja.
"Aku mau mandi"
Mata Aera melotot ke arah Alvarendra mendengar permintaannya,namun dia kembali tersenyum walau terpaksa.
"Tuan muda,kamar mandinya sebelah sana"
Aera menunjuk dengan cara santun pintu kamar mandi yang hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri.
"Tanganku sakit karena bekerja,aku ingin kau mencuci rambutku"
Aera menegarkan hatinya dan tersenyum pada Alvarendra
"silahkan ganti baju anda tuan muda"
Namun nada marah tak dapat dia sembunyikan lagi.
Alvarendra masuk ke kamar mandi dan mengganti bajunya dengan kimono handuk putihnya,dia duduk di lantai kamar mandi persis di pinggir bath tub dan mulai menyandarkan kepalanya.
"Aku siap"
Aera masuk dengan gugup,dia takut dengan pemandangan yang bisa membuatnya berteriak.
Namun dia menghela nafas lega melihat Alvarendra masih menggunakan kimononya.
Aera mendekati Alvarendra yang bersandar di bath tub yang memejamkan matanya perlahan sambil mencari cari shampo milik Alvarendra.
Aera berada tepat di depan Alvarendra saat memeriksa isi laci - laci di bawah washtafel,Alvarendra membuka matanya dan menatap Aera yang nampak kebingungan.
Wajah polos Aera terlihat menawan dan membuat darah berdesir,tanpa di sadari ekspresi itu selalu keluar saat Aera kebingungan dan itu membuat semua orang gemas,termasuk Alvarendra.
Alvarendra menarik tangan Aera dan membuat Aera duduk tepat di pangkuannya yang hanya memakai kimono itu.
Aera segera berontak namun Alvarendra memegang pinggulnya erat dan menatapnya lekat - lekat.
"Apa yang kau lakukan?!"
Aera melotot ke arah Alvarendra yang nampak tak menggubrisnya
Alvarendra sedang sibuk menyapu garis wajahnya dengan tatapan sayunya membuat wajah gadis itu memerah.
"Kau polos sekali tak seperti perkiraanku"
Ucap Alvarendra setengah berbisik
Nafas Alvarendra menyapu kulit wajah Aera yang hanya berjarak beberapa senti dengannya membuat Aera meremang.
"Hentikan"
Sekarang Aera nampak memelas agar Alvarendra melepaskannya,dia benar - benar gelisah dengan tatapan dan ucapan Alvarendra.
"Kau tak berhak memintaku berhenti"
Alvarendra menyelipkan rambut Aera yang terurai ke telinganya,membuat Aera semakin merinding merasakan sentuhan halus Alvarendra.
"Ayah sudah membelimu,maka aku harus menghargai pemberian ayah bukan?"
Alvarendra bagaikan terhipnotis dengan gadis dipangkuannya,nafasnya kini terdengar berat.Sesaat dia lupa dengan apa yang sedang terjadi namun dia segera mengendalikan diri dan melepaskan Aera.
Aera segera bangkit berdiri,dengan wajah merah padam dia mencari shampo dan menemukannya di pojok laci.
Aera berusaha bersikap biasa dengan segera mencuci rambut Alvarendra,Alvarendra pun terpejam mengusir gairahnya jauh - jauh.
Sentuhan Aera di kepala Alvarendra membuatnya nyaman hingga setengah tertidur.
"Sudah selesai"
Aera meletakan handuk di kepala Alvarendra sambil beranjak meninggalkannya yang masih terpejam.
Alvarendra membuka matanya perlahan,dia sadar ada sesuatu yang salah dengan tubuh dan perasaannya saat ini.
Hanya melihat gerak - gerik Aera dia sudah di buat gelisah bukan main,dan itu tak pernah terjadi saat dia bersama Javeline.
Javeline cantik,namun entah mengapa Alvarendra tak pernah segelisah ini saat berdekatan dengannya bahkan ketika Javeline menggodanya.
Alvarendra dapat mengendalikan pikiran dan tubuhnya di hadapan Javeline tapi tidak di depan Aera,seakan ada magnet yang membuat tubuhnya ingin lebih dekat.
"Mungkin aku sedang melampiaskan kekecewaanku pada Javeline kepadanya...tapi,ini tidak benar.Tidak boleh terjadi lagi"
Aera mengatur nafasnya saat keluar dari kamar mandi,dia yakin perasaanya ini karena pertama kali di perlakukan seperti itu.
"Sepertinya,aku harus menjaga jarak dengannya,lagi pula aku juga ingin kembali bekerja,lebih baik aku meminta ijin pada Tuan Dian untuk mengurus perusahaan di kantor"
Aera keluar kamar untuk menemui ayah mertuanya,dia mulai jenuh dengan rutinitas di dalam kamar.
Ditambah dengan Alvarendra yang selalu mengusiknya,dia hanya ingin fokus membalas budi pada Tuan Dian.
Setelah semua berjalan baik,dia berencana untuk mundur dari perusahaan juga pernikahannya bersama Alvarendra.
Dia hanya ingin kembali ke titik nol setelah membalas budi,dan setidaknya memposisikan para karyawan lamanya di zona aman terlebih dahulu.
****