WONDERWOMAN IN WONDERLOVE

WONDERWOMAN IN WONDERLOVE
Melindungi



Javeline menatap takut tuan Dian dan Alvarendra di hadapannya, percayalah saat ini dia menyesal setengah mati karena sudah mengandalkan Adrian untuk menyingkirkan Aera dari sisi Alvarendra.


Selembar cek melayang di hadapan Javeline membuatnya membelalakan mata melihat nominal yang tertulis di sana


"Pergi dari kehidupan anakku,jangan pernah kembali dan menampakan diri lagi!"


Perintah tuan Dian muak.


Aera menerobos masuk ruangan kerja Ayah mertuanya itu dengan tergesa,dia tahu Javeline pasti akan mendapatkan uang dari Ayah mertuanya agar Javeline tak mengusik kehidupannya dan Alvarendra.


Aera merampas cek yang sudah ada di genggaman Javeline dengan kasar dan meremasnya.


"Orang seperti dia akan kembali lagi meski Ayah memberikan seluruh Jayadi padanya!"


Ucap Aera menatap tajam pada Javeline yang terduduk.


"Aera,ayah sedang melindungi kita"


Alvarendra mendekati Aera


"Tidak!Ayah akan tertipu dengan muslihat musang betina ini!percayalah padaku Ayah,dia akan kembali mengusik setelah uangnya habis!"


Geram Aera


sudah ku bilang,aku tak pernah salah memilih Aera untuk Alvarendra.Bahkan tak ada rasa takut di sorot matanya


Tuan Dian membantin dan tersenyum puas


"Lalu ? apa yang akan kau lakukan nak?"


Tanya Tuan Dian menyerahkan keputusannya


Aera meraih dagu Javeline kasar dan menatapnya sinis


"Jefryan Khairandi,universitas X America serikat... aku tahu kau menyembunyikan adik jeniusmu"


ucap Aera penuh dengan nada mengancam


Tuan Dian dan Alvarendra terkesiap,setahu mereka Javeline tak punya adik.


"Aku tahu kau begitu ambisius agar adikmu bisa terus kuliah disana, tapi ini sudah keterlaluan..."


Tersenyum sinis menatap Javeline yang mulai takut


"Aku akan membuatmu merasa bersalah seumur hidup padanya kalau kau terus mengusik kami"


melepas cengkramannya dan kembali berdiri


"Kumohon,jangan! dia adikku satu - satunya"


Javeline mulai terisak


"Pergilah,jangan memaksa aku menjadi orang jahat padamu!aku sudah muak... dan jangan pernah berharap mendapat uang dari sini lagi"


Aera tak menatap Javeline


Hatinya sedih mendengar permohonan Javeline,dia tahu rasanya melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa.


Namun,dia tak ada pilihan lain selain mengancam perempuan ambisius itu.Yang sedari awal niatnya pada Alvarendra tidak tulus mencintai,dan terus semakin serakah.


Javeline masih bergetar hebat saat keluar dari ruangan itu,dia menyadari menginjakan kaki disini lagi sudah tak lagi mungkin kalau dia ingin adiknya tetap aman.


Bagi Javeline,sosok Aera masih misterius.


Dia terkejut saat tahu Adrian dan keempat pengawalnya babak belur di tangan Aera,ditambah dengan ancaman Aera nampaknya Aera sangat berbahaya baginya dan Jefry.


Selepas kepergian Javeline,Aera berdiri menatap Ayah mertuanya dengan wajah tanpa ekspresinya.


"Aera,nampaknya kau marah padaku?"


Tanya Tuan Dian terkekeh


"Ayah terlalu mudah di tindas oleh orang rendah sepertinya,Ayah mestinya percaya orang sepertinya tidak akan mampu mengusik Alvarendra atau aku sekalipun"


Ucapan Aera membuat Alvarendra terkejut,entah mengapa ucapannya itu agak sedikit kasar terdengar di telinga Alvarendra


Tapi Ayahnya malah tertawa terbahak - bahak mendengar ucapan menantunya itu


"Kau benar,aku terlalu menyayangimu hingga berniat segera membereskannya meskipun aku membayar mahal"


Aera tak bergeming menatap Ayah mertuanya


"Tapi ternyata menantuku ini punya cara sendiri untuk melindungi... ah... tidak ...menyerang balik lawannya"


Puji Tuan Dian bersemangat


"Maaf Ayah,aku hanya ingin meyakinkan Ayah,Aku bisa menjaga diriku,perusahaan juga Alvarendra"


Ucap Aera menyadari dirinya terlalu bersemangat.


"Baiklah... ayah percaya padamu.Tapi,kalau kau menemui jalan buntu kembalilah pada Ayah"


tutur tuan Dian hangat


"Terimakasih ayah,terimakasih juga sudah melindungi dan menolong saya selama ini.Tapi biarkan saya berbakti sebagai menantu ayah kali ini"


Ucap Aera menundukan kepalanya hormat


"OK... berbaktilah... lahirkan seorang cucu lucu untukku dan istriku"


Kekeh tuan Dian membuat wajah Alvarendra dan Aera memerah


"Ayah... jangan membebani Aera "


Protes Alvarendra tak ingin terburu - buru


"Ya ... baiklah aku akan sabar.Istirahatlah kalian"


Ucap tuan Dian tersenyum


Aera dan Alavrendra pun pergi dari hadapannya yang masih tersenyum puas.


****


Alvarendra memeluk tubuh mungil istrinya dari belakang sesaat setelah masuk ke dalam kamar membuat Aera kaget.


"Aku bangga padamu"


Bisiknya menciumi pundak Aera


Aera melepaskan pelukan Alvarendra dan menatapnya dalam


"Tapi kau tetap harus mengandalkanku"


Ucap Alvarendra lembut


"Selagi masih bisa ku tangani aku takan merepotkanmu"


Ujar Aera hendak pergi dari hadapan Alvarendra namun Alvarendra menarik kembali pinggangnya membuatnya kembali menatap wajahnya


"Aku tetap tak ingin kau terluka"


Ucap Alvarendra dengan wajah serius


"Baiklah"


Ucap Aera tersenyum tipis


"Aku tahu kau sudah terbiasa sendiri,tapi aku ingin melihat sisi lemahmu dan melindungimu"


Pinta Alvarendra membuat Aera terkekeh


"Aku selalu lemah di hadapanmu"


Ucap Aera tersipu


"Aku tanpa sadar selalu tak bisa menolakmu"


Melempar pandangannya ke sembarang arah


Cup...


Alvarendra mengecup bibirnya,lalu kembali mencium lembut bibir Aera dengan lembut sambil mengarahkan tubuh mereka ke tempat tidur.


Alvarendra menatap wajah merona Aera setelah mereka mendarat di tempat tidur


"Kau tak bisa menolakku sekarang?"


Menatap sayu lekukan wajah Aera yang sempurna di matanya itu.


Aera bungkam,mengiyakan pertanyaan Alvarendra.


"Kau menggemaskan !"


Alvarendra mencium lagi bibir Aera dengan penuh hasrat.


Aera memang sudah tidak bisa menolak kalau Alvarendra menyerangnya seperti ini,menyerang balik? itu hanya akan membuatnya dikurung di dalam kamar oleh Alvarendra seharian ...