
Aera mengerjapkan mata pelan melihat langit - langit kamar,dan dia berusaha melepas jarum infus yang cairannya tersisa sedikit.
Alvarendra ikut terbangun setelah merasakan pergerakan disampingnya dia terbelalak kaget melihat Aera yang sedang berusaha mencabut jarum infusnya,dalam seketika tangannya bergerak menghentikan Aera membuat posisinya seperti sedang memeluk Aera.
Aera tersentak kaget menyadari Alvarendra berbaring tepat di sebelahnya
"Kau bisa melukai kulitmu!!!"
Alvarendra masih memegang erat tangan Aera yang sedetik lagi akan mencabut jarum itu,Aera mengurungkan niatnya mencabut jarum infusnya dan melirik Alvarendra yang masih memeluknya.
"Kenapa kau tidur di sebelahku?!"
tanya Aera tajam,Alvarendra langsung menjauhkan tubuhnya dari Aera.
"Ini tempat tidurku"
Jawabnya menutupi kegugupannya
Alvarendra bangun dari posisi tidurnya berjalan mendekati Aera di sisi tempat tidur yang lain,dia meraih tangan Aera dan mencabut jarum infus dengan hati - hati.
Aera tak menolak,dia masih bingung mengapa orang yang mengancamnya untuk tidak tidur di sampingnya terbangun tepat di sebelahnya.
Alvarendra menempelkan plester yang dia ambil dari laci,menutupi bekas infusan di tangan Aera.
"Jangan sakit lagi,merepotkan!"
Alvarendra berlalu menuju kamar mandi dengan wajah memerah.
Aera menatap plester di tangannya dengan bingung,dia tak mengerti sikap Alvarendra yang terkadang tajam dan juga hangat seperti tadi.
Dia beringsut mundur,menyandarkan tubuhnya di tempat tidur dengan posisi duduk.
Perutnya sudah tidak terasa sakit lagi,dan badannya tak selemas kemarin dia berniat untuk bekerja hari ini.
Baru aku akan menyingkap selimutnya,Alvarendra keluar dari kamar mandi.
"Tidur !"
Alvarendra berkacak pinggang seakan tahu Aera berniat untuk memulai aktifitasnya seperti biasa.
"Istirahat hari ini atau selamanya jangan pernah bekerja."
Ancam Alvarendra melihat Aera sudah menurunkan kakinya ke lantai.
Aera menaikan kembali kakinya ke tempat tidur dengan wajah muram,dan kembali duduk tersandar di tempat tidurnya.
Alvarendra mengetik pesan di ponselnya sambil duduk di tepi tempat tidur,menyuruh Revan mengantarkan sarapan ke kamarnya.
"Ada desaign yang harus selesai hari ini"
Alvarendra mengalihkan pandangan menatap Aera tajam
"Pikiranmu itu hanya kerja saja!Lagipula kau bisa mengirimnya lewat email kan?!"
Alvarendea jengkel melihat Aera yang selalu bekerja hingga tak mempedulikan kesehatannya.
"Tapi laptopku..."
Aera tak melanjutkan ucapannya,dia sudah di tusuk oleh tatapan tajam Alvarendra yang sedetik kemudian menempelkam ponselnya ke telinga.
"Kean...belikan laptop baru,antar ke kamarku sekarang"
Alvarendra tahu dia sudah merusak laptop Aera,dan Aera membutuhkannya untuk bekerja dari rumah.
"Terimakasih"
Ujar Aera dengan senyun tipis
"Jangan senang dulu,aku akan merusaknya lagi kalau kau tak mendengarkanku!"
Aera menganggukan kepala mengerti agar Alvarendra tak lagi mengancamnya,sudah cukup senang membiarkan Alvarendra membiarkannya bekerja dari rumah.
Kemudian,Revan masuk bersama beberapa pelayan yang membawa troly berisi makanan dan menyimpannya di atas meja.
"Tuan muda saya memasak sup krim untuk nona karena Dokter Prima mengatakan nona tidak boleh makan makanan yang kasar dulu"
Alvarendra hanya menganggukan kepala dan para pelayannya itu membungkuk hormat lalu berlalu dari kamar.
Alvarendra mengambil semangkuk sup krim dan mendekati Aera,Aera hendak meraihnya namun Alvarendra mengangkat mangkuk itu tinggi - tinggi.
Aera menatap wajah Alvarendra bingung,Jarak mereka kini dekat karena Aera yang berusaha meraih mangkuku itu.
Aera kembali bersandar dan merasakan wajahnya terasa panas setelah bersitatap dengan Alvarendra.
Alvarendra menyodorkan sesendok sup krim ke depan mulut Aera membuat Aera semakin bingung dengan sikap Alvarendra pagi ini
"Apa dia salah makan tadi malam?"
Aera masih terdiam tak membuka mulutnya,membuat Alvarendra menghela nafas kesal
"Tanganku sakit!"
Walau ragu akhirnya Aera menerima suapan dari Alvarendra,dan membiarkan Alvarendra menyuapinya.
"Maafkan aku,aku tak bermaksud bertengkar dengannya"
Ucap Aera sambil menelan sup krimnya.
"Bukan kau yang memulainya"
Masih bersikap acuh dengan ucapan Aera dan terus menyodorkan sup krim pada Aera.
Aera terdiam kembali tak membuka mulutnya dan menatap Alvarendra dalam - dalam.
"Dia tak pantas untukmu,maaf aku sudah lancang mengatakan ini.Tapi kau berhak mendapatkan wanita lain yang lebih baik dari dia dan aku."
Ada perasaan sedih membayangkan Alvarendra yang begitu mencintai Javeline malah mendapatkan pengkhianatan.
Alvarendra menghela nafas,menyimpan sendok ke dalam mangkuk dan balas menatap Aera dalam.
"Aku akan memutuskan sendiri siapa wanita yang berhak untukku.Jadi buang niatmu untuk menjodohkanku dengan wanita lain!"
Aera menundukan kepalanya,dia merasa bersalah membuat Alvarendra menikahinya.
"Aku akan menggugat cerai beberapa bulan lagi"
Alvarendra yang sedang menyimpan mangkuk dimeja mematung mendengar ucapan Aera yang membuat hatinya marah.
Dia mendekati Aera kembali dengan tatapan tajam.
"Jadi kau ingin membuangku setelah kau mendapatkan segalanya?"
Aera menggelengkan kepalanya pelan lalu menghembuskan nafas sambil menundukan kepala
"Aku hanya tidak mau menikah dan menjalani sisa hidupku bersama lelaki yang tidak akan mencintaiku,aku rasa kau pun merasa begitu"
Alvarendra meremas selimut ditangannya,jelas bukan itu yang ingin dia dengar.
"Bercerai denganku artinya kau siap melepas semuanya termasuk perusahaan Anggara!"
berharap Aera mengurungkan niatnya,namun Aera mengangguk mengerti.
"Perusahaan Anggara bukan milikku lagi,aku hanya bekerja di sana sebagai balas budiku tuan Dian sudah menyelamatkan orang - orangku dulu"
Alvarendra memejamkan mata frustasi mendengar ucapan Aera.
"Setelah perusahaan Anggara benar - benar stabil,aku akan menggugat cerai.Jadi ku mohon kita harus bersikap baik satu sama lain hingga akhir supaya semua di akhiri dengan baik"
Aera menatap Alvarendra penuh harap,dia hanya ingin hidup damai tanpa pertengkaran di rumah ini.
"Nona Aera Anggara,kau lupa ya ? aku ini pihak yang membantumu,kenapa kau yang membuat keputusan secara sepihak?!"
Alvarendra menatap Aera marah membuat Aera bergidik ngeri.
"La...lalu... bagaimana se...harusnya ?"
Tanya Aera masih tak paham keinginan Alvarendra.
"Yang boleh memutuskan pernikahan ini berakhir atau tidak hanya aku,kau tak berhak apapun di sini!"
Nada Alvarendra meninggi dan membuat Aera semakin merasa frustasi mendengar hal itu.
"Lalu? kau ingin selamanya menjalani pernikahan ini?!"
Aera menaikan nadanya
"Sudah ku bilang aku yang akan memutuskannya!"
Keputusan Alvarendra tak goyah dengan nada suara Aera.
"Aku juga ingin di cintai oleh orang yang aku cintai!!!"
Aera merasa ingin menangis mengatakannya,yang dia tahu hati Alvarendra takan mungkin menjadi miliknya dan dia takan pernah mungkin mendapatkan cinta yang dia harapkan dari Alvarendra.
Alvarendra berdiri dengan kesal merasa dirinya tidak di inginkan oleh Aera.
"Hentikan!keputusan ada di tanganku,jangan mencoba mencampakan orang yang sudah menolongmu!"
Alvarendra beranjak meninggalkan Aera
"Ayahmu pun ingin cucu yang di lahirkan karena cinta !"
pekik Aera tak tahan lagi,namun Alvarendra tak menggubrisnya dan berlalu sambil membanting pintu keras - keras.
Aera memukul lututnya kesal dengan apa yang Alvarendra inginkan,dia seperti memakai bom waktu yang kapan saja bisa meledak.
Dia tidak ingin hidup seperti ini,dia hanya ingin memulai semua dari nol lagi dan bertemu pria yang mencintainya dengan tulus.
Aera tidak ingin hidup bersama pria yang tak pernah mencintainya,apalagi sampai memiliki keturunan yang lahir tanpa cinta.
****