WONDERWOMAN IN WONDERLOVE

WONDERWOMAN IN WONDERLOVE
MASIH RAGU



Meski Alvarendra mengatakan mencintai Aera berkali - kali,Aera masih meragukan ucapannya itu dan tak berniat menyatakan cintanya.


Alvarendra tahu persis Aera sedang menjaga setiap ucapannya hingga dia tak banyak bicara,dan tanpa ia tahu Aera menyelinap dari kamar hotel untuk membeli pil kontrasepsi.


Aera tak mau ditinggalkan setelah mempunyai anak dari Alvarendra,anak itu sudah pasti akan menjadi keturunan Jayadi yang dia tak bisa di temuinya bila dia bercerai dengan Alvarendra.


Namun,untuk menolak Alvarendra di tempat tidur Aera sudah tidak bisa menahan tubuhnya sendiri.


Tubuhnya lebih peka daripada hatinya...


****


Melihat raut wajah Alvarendra yang cerah dan Aera yang nampak kelelahan seperti tersedot habis tenaganya itu,kedua mertua Aera paham betul rencana mereka berhasil seratus persen.


Sejak saat itu Aera benar - benar di jaga pola hidupnya oleh semua orang rumah,bekerjapun dia lebih banyak melakukannya di rumah,lebih tepatnya dikamar.


Namun,hari ini Aera tak bisa mengelak lagi untuk tidak hadir banyak berkas dan meeting yang tertunda.


Alvarendra,meski enggan melepaskan Aera dari pelukannya akhirnya melepas kepergian istrinya itu dengan tatapan rindu saat Aera masuk ke kantornya.


"Akhir - akhir ini nona nampak banyak pikiran "


Kean memberikan peringatan pada Alvarendra yang terlalu sibuk dengan perasaaannya yang berbunga - bunga.


"Benarkah?Apa karena banyak pekerjaan?"


Alvarendra merasa cintanya tak perlu di sambut dengan kata - kata kembali oleh Aera.


Gerak tubuh Aera sudah membuktikan,Aera sangat mencintainya.


Mengingat Aera yang mengusap rambutnya tadi malam pun sudah membuatnya merona.


***


"Nona,tuan Rafanza datang untuk menemui nona"


Ujar Reni setelah sambungan teleponnya di angkat oleh Aera,Aera menghela nafas.


"Suruh dia masuk"


Tak lama Rafanza masuk dengan setelan jasnya,nampak gusar mendekati Aera yang masih duduk di kursinya.


"Mengapa kau tak pernah mengangkat telepon dariku semenjak kau menikah?"


Marah dan kecewa tak lagi terbendung dari nada dan raut wajah Rafanza.


"Kak... aku sudah menikah,aku tak mau ada kesalahpahaman"


Ujar Aera memijat keningnya sendiri


"Menikah ? menikah karena sebuah syarat?itu bukan pernikahan Aera !"


Rafanza sudah tak lagi bisa mengontrol emosinya,dia sudah cukup sabar membiarkan Aera terus menolaknya.


"Kak...Awalnya memang pernikahan ini aku lakukan demi ibu,tapi dia mampu membuatku nyaman"


Aera tak berani menatap Rafanza lagi


"Lalu,kenyamananmu selama ini saat bersamaku tak ada artinya?"


Perasaannya sakit bukan main,Rafanza tahu saat Aera menyerahkan hatinya pada suaminya itu pintu harapannya untuk memiliki Aera akan tertutup rapat selamanya.


Aera menatap Rafanza yang masih berdiri di sampingnya


"Aku selalu bilang,kakak adalah orang yang ku anggap kakakku sendiri.Maafkan aku tak bisa membalas perasaanmu padaku kak"


Ucap Aera penuh penyesalan


"Kau mencintainya?"


Tanya Rafanza dengan mata berkaca - kaca,Aera hanya menganggukan kepala pelan.


"Kau tahu artinya?"


Rafanza mencengkram kedua lengan Aera dan mendekatkan tubuhnya pada Aera,Aera tak pernah melihat Rafanza semarah ini.


"Artinya kau harus siap bila suatu hari dia meninggalkanmu dan merampas anak yang kau lahirkan!"


Pernyataan Rafanza membuat Aera tertohok,kemungkinan itu sangat besar.


Alvarendra mungkin sedang menyusun rencana mencampakannya suatu hari bila dia sudah melahirkan anaknya.


"Kau tahu? Kau akan menghancurkan dirimu sendiri!"


Rafanza menatap Aera yang masih tercengang mendengar perkiraannya yang sama persis dengan perkiraan Rafanza.


"Sadarlah ! sebelum kau lebih jauh mencintainya!"


Mengguncang tubuh Aera lagi.


"Aku sudah tak lagi bisa mundur kak,tanpa adanya diapun perasaanku terhadap kaka tetap sama"


Tentu saja,karena Aera sudah memberikan segalanya untuk Alvarendra.


Lagi pula,untuk berjaga - jaga Aera sudah teratur minum pil kontrasepsinya.


Rafanza menghela nafas berat sambil tertunduk.


"Aku akan menunggumu datang padaku,seperti biasanya "


Rafanza beranjak pergi dari hadapan Aera dengan perasaan kecewa.


****


Alvarendra sudah duduk di tempat tidur dengan rambut basahnya,menunggu Aera keluar dari kamar mandi.


Dia suka pemandangan saat Aera keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya dan rambutnya yang basah.


"Kau selalu melihatku seperti itu"


Protes Aera yang sedang memilih baju untuk tidur.


Alvarendra mendekatinya dan memeluknya dari belakang dan menciumi tengkuknya yang masih basah itu.


"Hentikan,geli!"


Aera berusaha menghindar dari serangan Alvarendra.


Alvarendra menempelkan pipinya ke bahu Aera yang masih memilih baju tidur,bergelantung manja di tubuh mungil Aera.


Matanya menyusuri bahu Aera yang terlihat jelas dan berhenti di ujung handuk yang di selipkan Aera,dengan jahilnya ia menariknya hingga Aera berbalik ke arahnya dan memeluknya.


Tarikan handuk Alvarendra nampak sedikit kasar hingga membuat tubuh Aera ikut tertarik,Alvarendra masih memegangi handuk Aera yang masih menutupi tubuh bagian belakangnya.


"Aku lebih suka melihatmu seperti ini"


Menatap Aera dengan senyum nakalnya,lalu mencium lembut bibir Aera.


"Aku mau pakai baju"


Tolak Aera saat Alvarendra melepaskan ciumannya,namun Alvarendra masih menahan tubuh Aera dengan handuk itu.


"Aku merindukanmu,kau tak merindukanku?"


Wajah Alvarendra cemberut membuat Aera terkekeh melihatnya.


Melihat Aera yang tersipu,bagi Alvarendra seperti melihat lampu hijau.Dia mengangkat tubuh Aera dan merebahkannya di tempat tidur.


Tubuh polos Aera yang di tatap Alvarendra itu membuat Aera malu dan berusaha menutupinya.


Alvarendra meraih tangan Aera dan menatap kembali Aera.


"Jangan lihat seperti itu!"


Aera tak berani menatap wajah Alvarendra sangking malunya.


"Aku sudah melihatnya,hanya sedang memeriksanya lagi"


Ucap Alvarendra menyentuh jejak - jejak cintanya di tubuh Aera dengan telunjuk membuat Aera merasa geli.


"Aku mencintaimu"


Alvarendra kembali mencium bibir ranum Aera,dalam ciuman yang dalam Aera bertanya - tanya apakah Alvarendra selalu tulus mengatakan hal itu.


Pikirannya teringat ucapan Rafanza,dan tanpa sadar tangannya meraih rambut Alvarendra lembut.


"Alvarendra..."


Suaranya nyaris pelan bersatu dengan sedikit desahan karena Alvarendra sedang menciumi lehernya.


Alvarendra berhenti,selama beberapa kali tidur dengan Aera dia tak pernah mendengar Aera menyebutkan namanya di sela - sela aktifitas itu.


Dia menatap Aera lembut dan mengecup bibirnya.


"Sebutkan namaku seperti itu,aku suka"


Alvarendra tersenyum senang dan meneruskan kegiatan itu.


Aera yang akan bertanya,mengurungkan niatnya tak ingin merusak mood Alvarendra setelah melihat binar di matanya.


Mengapa kau se-addicted ini? kau membuatku mabuk Aera,aku mencintaimu...


Kegundahan itu tak terbaca oleh Alvarendra,karena tubuh Aera secara spontan menerima dan memberikan seluruhnya dengan tulus.


Terkadang naluri lebih peka dari pada perasaan,bukan?