WONDERWOMAN IN WONDERLOVE

WONDERWOMAN IN WONDERLOVE
HARGA DIRI YANG TERKURAS



Sesungguhnya Kean tak bermaksud menggeledah tas milik nona mudanya itu,hanya tanpa sengaja tas itu jatuh hingga barang - barang di dalamnya berserakan saat dia akan pergi dari Club X.


Sepanjang perjalanan menuju rumah tuannya dia berpikir keras,bagaimana menyampaikannya pada Alvarendra.


Kean tahu persis tuan mudanya itu sedang mabuk kepayang pada wanita pemilik pil kontrasepsi itu,dari sudut pandangnya dia sebenarnya memahami mengapa nona muda memilih menunda kehamilannya.


Alvarendra yang tak segan melukai bahkan mengancam Aera di awal pernikahan tentu membuat Aera takut di jadikan hanya sebatas mainan.


Dengan kekuasaan Jayadi Group Alvarendra bahkan bisa memilih wanita manapun hanya untuk di jadikan mainannya,dan semua wanita di posisi Aera pasti mempunyai ketakutan yang sama.


Kalau begitu,mengapa nona muda memberikan semuanya kalau dia merasa takut akan di buang oleh tuan muda?Apa benar nona Aera sudah mencintai tuan muda ? atau dia hanya takut tidak bisa membalas budi pada tuan besar? Ah... mengapa aku jadi terlibat sejauh ini???


Kean akhirnya memutuskan untuk memberi tahu Alvarendra pagi ini.Toh, pada akhirnya tuan mudanya akan tahu sendiri dan itu akan lebih mengancam dirinya karena akan di anggap sebagai orang kepercayaan yang tidak becus.


***


Kean membuka pintu setelah Alvarendra menjawab ketukan pintunya,jelas terlihat sedang berbunga - bunga sambil menatap pintu kamar mandi.


Kean membungkukan badannya hormat saat tepat berada di samping Alvarendra,namun mata tuan mudanya itu masih menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat dan hanya ada suara gemiricik air dari dalam.


"Tuan muda,nampaknya saya masih butuh waktu menyelidiki semuanya."


Alvarendra menatap wajah Kean kesal,dia tahu Kean bukan orang yang gegabah untuk menyalahkan orang lain.Tapi dia sungguh tak sabar mendengar siapa orang di balik kekisruhan malam tadi.


"Maafkan saya tuan muda,sepertinya wanita yang memesan Club X itu adalah orang suruhan dan dia tidak meninggalkan identitas,dari CCTV pun saya tidak mengenali wajahnya"


Ucap Kean penuh penjelasan,Alvarendra menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya tegak di tempat tidur.


Kean masih membatu di samping Alvarendra,membuat Alvarendra heran dan menatapnya penuh pertanyaan.


"Tuan muda saya menemukan ini di tas nona Aera"


Menyodorkan tas dan pil kontrasepsi ke arah Alvarendra.


Alvarendra meraihnya dan mengernyitkan dahi dia tak pernah melihat obat seperti itu sebelumnya.


"Obat ? Obat apa ini?"


Tanyanya pada Kean,membuat Kean semakin menghela nafas berat.


Kean tahu pasti akan ada perang saat dia menyampaikan hal ini pada tuannya,tapi dia tak mungkin mundur sekarang.


"Itu pil kontrasepsi tuan,untuk menunda kehamilan"


Seketika ekspresi Alvarendra yang ringan menjadi marah dan rahangnya mengeras,Kean bahkan berdebar sangking kaget melihat ekspresi tuan mudanya.


"Aera menggunakan ini?"


Kean hanya menganggukan kepala pelan


"Jangan beri tahu ayah tentang hal ini,aku akan membereskannya!"


Ucap Alvarendra sambil memberikan isyarat pada Kean untuk pergi dari hadapannya,tanpa buang waktu lagi Kean segera berlalu dari hadapan tuan mudanya itu.


***


Sejak pengaduan tentang pil kontrasepsi itu,Nona muda dan tuan mudanya nampak sedang perang dingin.


Kean bahkan selalu merasa tak bisa bernafas saat berada di dekat mereka,bahkan tuan mudanya tidak mau berbicara sepatah kata langsung pada nona muda dan selalu menggunakan dirinya sebagai perantara.


Tentu saja dia ikut terseret dalam arus dingin itu,sementara nona mudanya nampak lesu dan sedih di perlakukan seperti itu.


Seperti hari sebelumnya Alvarendra selalu memulai harinya dengan omelan tentang hal - hal kecil sekalipun saat tiba di kantor,hampir semua yang lewat di depan matanya selalu ia kritik dengan alasan merusak moodnya.


Kean hanya menanggapinya dengan ucapan taat tanpa bantahan,dia masih kuat hati menanggapi mood swing bossnya ini.


Tapi saat makan siang beberapa hari ini Alvarendra selalu melewatkannya dan itu membuatnya khawatir.


"Tuan muda,anda seharusnya tidak melakukan hal - hal menyiksa diri anda "


Kali ini Kean sudah tak tahan melihat Alvarendra hanya mengacak-acak makan siangnya.


bantah Alvarendra tak mau menunjukan kegalauannya.


"Boleh saya berpendapat,tuan muda?"


Kali ini Kean mengumpulkan keberanian di hadapan Alvarendra demi mengakhiri perang dingin ini.


"Pandangan saya terhadap nona Aera..."


Kean menghela nafas sekali lagi mengumpulkan keberaniannya


Alvarendra menghentikan jemarinya yg sibuk mengacak - acak makanan dengan sendoknya,lalu menatap Kean dengan pandangan menusuk.


Tapi Kean sudah turun ke medan perang itu dan tak ingin berbalik


"Nona Aera pasti mencintai anda,dia menghindari bertemu dengan Rafanza setelah anda melarangnya,dan saya selalu melihat binar bahagia saat anda menjemputnya pulang bekerja akhir - akhir ini."


Alvarendra terdiam membiarkan Kean melanjutkan apa yang dia lihat dari matanya.


"Terlebih lagi,kalau nona muda sudah memberikan segalanya artinya dia sudah mencintai anda dan membiarkan anda memilikinya seutuhnya."


Kean menundukan kepala,dia tidak mungkin tidak tahu hal itu kalau setiap dia menjemput nona dan tuan mudanya selalu terlambat keluar dari kamar di pagi hari dan bertingkah seperti pengantin baru,bukan?


"Dia hanya takut aku menghancurkan Anggara "


Ucap Alvarendra getir


"Anggara sudah jadi milik tuan Dian sejak pernikahan anda di selenggarakan"


Kean mengingatkan kembali


"Nona Aera,memang nampak terlalu perduli dengan Anggara hanya karena pegawai lama atau hutang budinya pada Jayadi Group.Tapi seandainya dia meninggalkannya,dia hanya perlu bertahan sendiri dari nol dan membangun perusahaan lagi.Kemampuannya sebagai desaigner tidak di ragukan lagi tuan...selain rasa hutang budinya saya tidak melihat alasan untuk ingin terus di sisi tuan muda"


Kean memberikan penjelasan bukan tanpa bukti dia sudah mengerahkan orang - orang kepercayaan Jayadi untuk melihat keseharian Nona mudanya itu.


"Tapi dia meragukanku,dia bilang dia takut aku meninggalkannya dan membawa buah cinta kami kalau kami benar - benar di berikan anak!"


Alvarendra tak mampu menahan kegalauannya di hadapan Kean,dia menutup wajahnya dengan tangan kanannya.


"Saya rasa itu perasaan yang wajar tuan muda,dan menurut saya itu perasaan takut akan kehilangan tuan muda bukan hanya takut akan kehilangan anak kalian nanti."


Kata - kata membuat Alvarendra menatap Kean dengan penuh arti.


"Anda hanya perlu menyakinkannya lagi tuan muda.Nona tidak pernah pacaran sebelumnya,ada kemungkinan nona muda hanya menganalisa semuanya dengan logika untuk melindungi dirinya"


Alvarendra memegangi keningnya yang tiba - tiba terasa pening setelah mendengar kata - kata itu


"Si bodoh itu terus - terusan tidak peka,apa dia pikir aku akan memperlakukan semua wanita seperti aku memperlakukannya selama ini?!"


Kean tersenyum mendengar ucapan tuan mudanya itu


"Saya tidak pernah melihat anda seperti ini sebelumnya,bahkan dengan Javeline"


Ucap Kean setengah terkekeh membuat Alvarendra mendelik marah ke arahnya,diapun segera menutup rapat mulutnya.


"Aku merindukannya,tapi dia seperti tak ingin menjelaskan apapun lagi setelah pertengkaran itu"


Alvarendra menyandarkan kepala dikursinya sambil memejamkan mata.


"Tuan muda tetaplah membuat hatinya bergetar saat bersamamu"


Kean menundukan kepala dan berlalu


Alvarendra seakan tak punya cara apapun lagi untuk meyakinkan perasaannya pada Aera,dia bahkan sudah kehabisan harga diri di hadapan wanita itu.


Tapi wanita itu meragukannya ?


Itu membuatnya frustasi,bukan hanya karena dia ingin segera memiliki keturunan,toh dia dan Aera masih sangat muda.


Terkadang cinta itu menguras harga diri, bukan???