
Beberapa hari ini Aera sudah merasa bosan setengah mati berdiam diri di kamarnya,bahkan untuk duduk di meja makan pun Alvarendra tidak mengijinkannya.
Walaupun Aera nampak lebih sehat Alvarendra tidak ingin kecolongan Aera bekerja lagi hingga lupa waktu sampai dia menyita ponsel Aera.
Beberapa kali pesan singkat dari Rafanza masuk,dan jelas Alvarendra yang membacanya tanpa memberi tahu Aera sedikitpun apalagi membalas pesan Rafanza itu.
Alvarendra sudah sangat geram membaca pesan itu yang memperlihatkan Rafanza setiap hari datang ke kantor Aera untuk menemui istrinya itu.
Tentu saja tak ada kabar apapun karena Kean sudah menyuruh semua orang di kantor tutup mulut mengenai alasan Aera absen.
Aera beberapa kali meminta agar Alvarendra mengembalikan ponselnya namun tak di gubris sedikitpun.
Akhirnya Aera hanya membaca buku - buku milik Alvarendra dari rak buku untuk membunuh kebosanannya.
Alvarendra pun ikut berada di dalam kamar selama itu,bekerja memantau Kean dari rumah tanpa banyak berbicara.
Dia sedang mengalihkan pikirannya yang semakin tak sabar menunggu Aera pulih.
Prima membenahi stetoskop dan tensi meternya usai memeriksa kondisi Aera
"Kakak ipar sudah sehat kok.Tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi,dan jangan berkendara sendiri dulu ya"
Ucap Prima sambil tersenyum pada Aera.
Aera menghela nafas lega,Alvarendra pun tersenyum di dalam hati mendengar hal itu.
Mertua Aera yang duduk di sofa ikut merasakan kegembiraan itu,mereka tahu bagaimana Aera murung setelah di kurung di kamar beberapa hari.
"Besok kalian berangkat honeymoon"
Ucap Ibu penuh semangat,membuat Aera yang tersenyum mulai merasa was - was kembali.
Prima membulatkan matanya mendengar kata honeymoon,dan mendekati Alvarendra.
"Bro... Kali ini jangan terlalu memaksa OK?Dia baru pulih"
Saran Prima berbisik pada Alvarendra,Alvarendra langsung mendelik marah pada Prima yang menatapnya jahil.
"Saya pamit dulu Paman,bibi"
Prima berlalu dari ruangan itu bersama perawatnya.
Ibu menghampiri Aera yang masih terduduk di tempat tidurnya dan mengusap kepalanya lembut.
"Aku akan menyiapkan semuanya,kau tak perlu repot - repot packing ya"
Ucap ibu penuh rencana dan meninggalkan Aera bersama suaminya.
Aera terdiam masih memutar otak mencari cara untuk bertahan dari pesona Alvarendra yang semakin hari semakin menggiurkan itu.
"Jangan banyak berpikir,kau itu baru pulih"
Ucap Alvarendra yang melihat ekspresi Aera itu.
Aera tak menjawabnya hanya kembali merebahkan tubuhnya dan menutupi kepalanya dengan lengan.
****
Aera meraih koper yang di sodorkan ibu padanya saat berada di pintu utama rumah itu.
Kedua mertuanya melepas kepergiannya bersama Alvarendra,dan Kean sudah bersiap di depan pintu mobil.
Merekapun melaju menuju bandara,karena berangkat di waktu yang pas mereka tak terlalu menunggu lama dan segera masuk ke pesawat.
Aera duduk di dekat jendela dan melempar pandangannya ke arah luar tak berniat berbincang dengan Alvarendra yang mulai bingung cara mendekati Aera,hingga dia terlelap sepanjang perjalanan itu.
Alvarendra menepuk lembut lengan Aera untuk membangunkannya karena mereka sudah sampai di tujuan.
Aera segera bangun,dia nampak tidak terlalu nyenyak tertidur dan hanya sedang menghindar dari Alvarendra.
Keluar dari bandara mereka sudah di sambut oleh manager hotel milik keluarga Jayadi dan segera di antar menuju hotel.
Hotel dengan nuansa minimalis menyambut kedatangan mereka,mereka langsung di antar menuju lantai ke tujuh hotel itu yang hanya bisa di masukin keluarga Jayadi.
Saat pintu kamar di buka Aera tercengang melihat luas dan indahnya pemandangan yang ia dapat lihat dari jendela besar di kamar itu.
Aera yang melihat tubuh atletis Alvarendra beringsut mundur ke sudut ruangan,Alvarendra mengambil segelas air dari meja tak jauh dari tempat Aera berdiri.
Alvarendra menelan bulir - bulir air itu sampai habis,memperlihatkan leher kekarnya pada Aera yang mulai menelan salivanya.
Astaga mengapa dia terlihat sexy?!
Aera menatap Alvarendra tanpa berkedip hingga Alvarendra balas menatapnya sambil menyimpan gelas.
"Kenapa?kau ingin bulan madu yang sesungguhnya ?"
Ucap Alvarendra mendekati Aera dan menyudutkannya ke dinding.
Aera menggelengkan kepala kuat - kuat,aroma parfum Alvarendra memenuhi indra penciumannya.
"Tidak?kau yakin?"
Masih mencoba membuat Aera goyah.
Aera menggelengkan kepala lagi tak berani menatap Alvarendra,Alvarendra meraih dagu Aera dan mempertemukan tatapannya.
"Katakan kalau kau tidak mencintaiku"
Ucap Alvarendra serius,dia sangat penasaran dengan isi hati Aera sesungguhnya.
Aera masih berusaha tak menatap Alvarendra namun Alvarendra mengejar tatapannya membuatnya menatap bola mata Alvarendra lekat.
Aera menghela nafas,menenangkan jantungnya yang sudah dari tadi bagaikan genderang perang.
"Hentikan"
Aera berusaha mendorong tubuh Alvarendra,tangannya menyentuh dada bidang Alvarendra yang kekar itu.
Namun Alvarendra tak bergeming,malah menangkap kedua tangannya yang masih menempel lekat di dada Alvarendra.
Wajah Aera merah padam,genggaman Alvarendra yang cukup kuat tak membiarkan tangannya lolos.
"Kau terus mempermainkanku"
Ucap Aera kembali memalingkan wajahnya
Alvarendra menghela nafas melepaskan genggamannya dari tangan Aera.
"Kau yang sedang bermain - main denganku".
ucap Alvarendra mulai tak sabar,kembali dia meraih dagu Aera dan menatapnya lekat.
"Hentikan atau aku akan benar - benar menyukaimu"
Ucap Aera jujur kali ini meski wajahnya terasa panas saat mengatakan hal itu.
Alvarendra tersenyum senang dan mengecup cepat pipi Aera yang bersemu merah,membuat Aera terkejut.
"Lakukanlah... sukai aku segenap hatimu"
Ucap Alvarendra masih tersenyum senang
Aera menutup mulutnya rapat menyesali ucapannya tadi
"Jangan menyesali ucapanmu sendiri,kau tak bisa menariknya kembali"
Alvarendra menangkap ekspresi Aera yang menyesali ucapannya.
Aera meloloskan diri kebawah lengan Alvarendra dan berlari menuju kamar mandi,meninggalkan Alvarendra yang tersenyum senang dengan ekspresi malu - malu.
Kucing liar,kau tertangkap sekarang!kau tak bisa lari lagi!
Sementara Aera membasuh wajahnya di wastafel karena merasa panas mendengar ucapan Alvarendra
Aku menyukainya? apa ini tak apa?apa dia akan meninggalkanku setelah aku menyukainya ?hatiku ini tidak bisa di ajak kompromi sekali!!!
Aera menutupi wajah merahnya dengan tangan,selama seminggu dia harus siap menerima pesona Alvarendra.
Dia sama sekali tak yakin dengan dirinya sendiri kali ini.