
Nyonya Jayadi terperangah melihat anak dan menantunya tidur terpisah di dalam satu kamar,dia langsung menggoyang - goyangkan tubuh putranya yang masih tertidur sedikit kasar karena perasaan kesalnya.
"Rendra! kenapa kau tidur disini!"
Nyonya Jayadi mengatur volume suaranya agar tak membangunkan Aera.
Alvarendra mengerjapkan matanya dan segera duduk tegak melihat ibunya.Ia tahu benar ibunya sangat menginginkan seorang cucu darinya,dan melihat raut wajahnya Alvarendra tahu ibunya kesal setengah mati melihat posisi tidurnya dengan Aera yang berjauhan.
"Ibu!kenapa menerobos masuk ke kamar seperti ini?"
Alvarenda melirik Aera yang terlelap,tak ingin membangunkannya.
Nyonya Jayadi memukul punggung anaknya itu sedikit keras membuat Alvarendra meringis menahan sakit.
"Kalian tidur seperti ini setiap malam?!Sekarang aku meragukan kenormalan anak lelakiku sendiri!"
Nyonya Jayadi mengusap - usap dada nya kasar menahan emosinya yang meluap - luap.
"Ibu,aku tidak mencintainya...bagaimana aku bisa tidur bersebelahan dengannya?"
Nyonya Jayadi menutup mulut anaknya ia takut menantunya mendengar ucapan menyakitkan hati itu.
"Jangan berbicara seperti itu,dia istrimu!lupakan wanita picik itu dan mulailah melihat Aera!Dia jauh lebih menawan di banding Javelinemu!"
Aera sudah mendengar semua pembicaraan itu,dia beringsut bangun dari tidurnya dan menyandarkan tubuhnya ke tempat tidur masih merasa pening.
Nyonya Jayadi nampak kaget menyadari Aera mendengar semuanya.
"Nyonya,jangan memaksakan hati anak anda lagi.Walaupun dia menikahi saya,hatinya tetap untuk wanita itu.Saya menyadari saya hanya perusak di hubungan mereka,tapi saya tidak punya pilihan lain saat itu.Jadi maafkan saya,dan biarkan Alvarendra dengan perasaannya pada wanita itu."
Mendengar pembicaraan ibu dan anak itu,Aera tahu dia tengah merusak segalanya dalam rumah itu.
Saat ini,kalaupun dia di buang ke dalam lubang yang paling dalam dia akan pasrah karena tujuan hidupnya sudah tak ada lagi.Hanya rasa balas budi pada keluarga Jayadi yang menghantuinya.
ibunya sudah pergi meninggalkannya...
Nyonya Jayadi mendekati Aera dan memeluknya hangat
"Hentikan,aku yakin kau pasti bisa membuat si bodoh itu jatuh cinta padamu Aera ! dan jangan lagi panggil aku Nyonya,aku ibumu sekarang!"
Aera merasakan kehangatan saat Nyonya Jayadi tulus memintanya memanggilnya ibu,sementara Alvarendra mendengus kesal melihat adegan itu.
Pagi itu Aera makan dengan enggan,perutnya sudah terasa tak nyaman saat suapan pertama masuk.
Namun dia mencoba bersikap normal di depan mertua dan suaminya di meja makan,dia tak ingin menjadi racun di tengah sarapan yang damai ini.
Setelah sarapan Aera masuk ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh sarapannya,dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya dia keluar dari kamar mandi.
Alvarendra sudah menunggunya sambil berkacak pinggang.
"Kau benar - benar licik!sekarang kau ingin berpura - pura menjadi istri yang tersakiti agar ibu berpihak padamu ya?!"
Lagi - lagi tuduhan memuakan keluar dari mulut Alvarendra
Aera terduduk dikursi depan meja kerjanya dengan tubuh yang mulai melemah.
"Aku benar - benar ingin kau bertindak sesuai hatimu,tak ada maksud lain"
Aera akan membuka laptop namun kembali tertutup karena Alvarendra menutupnya kasar ,kini Alvarendra sudah berdiri disamping Aera dengan wajah marahnya.
Alvarendra tak ingin lagi di acuhkan ketika berbicara dengan Aera.
"Menyingkir! aku ada pekerjaan"
Tangan Alvarendra tak bergeming dari atas laptop saat Aera berusaha menyingkirkannya.
"Nampaknya aku salah karena sudah mengasihanimu!"
Nafasnya berburu karena emosi yang meluap,Aera hanya menunduk menahan perasaan kesalnya.
"Aku sudah bilang tak ada maksud lain!"
pekik Aera kesal dengan tangan mengepal
Alvarendra membungkukan badannya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Aera
"Jangan pernah berencana untuk membuatku semakin jauh dengan Javeline! kau tahu? aku bertemu setiap hari dengannya dikantor!"
Hal itu tidak membuat Aera tak terluka sedikit pun,Aera tersenyum sinis menatap wajah Alvarendra dari dekat.
"Kau punya percaya diri yang besar Tuan Muda,tapi itu sama sekali tak membuatku terusik sedikitpun.Lanjutkan kencanmu,aku mendukungmu"
Ucapan Aera membuat harga diri Alvarendra terluka,dia menebak wanita itu akan marah atau menangis mendengar suaminya berkencan di belakangnya diam - diam.
Tapi .... dukungan?!
Alvarendra adalah pewaris tunggal perusahaan ayahnya,semua wanita menginginkannya dan tak pernah ada yang tidak cemburu melihat bahkan mendengar Javeline bersamanya.
Semua wanita itu berlomba menginginkan posisi Javeline dihatinya.Tapi hari ini,istrinya sendiri membiarkannya dengan Javeline dan mendukung perselingkuhannya.
Alvarendra tertawa terbahak - bahak di hadapan Aera,membuat wanita itu sedikit menciut.
"Mendukung?!Aku ingin kau lebih dari sekedar mendukungku dengan Javeline!!!Aku ingin kau merasa tercabik setiap aku mengucapkan nama Javeline!!!!"
Alvarendra merengkuh leher Aera dan mencium bibir Aera kasar,Aera mendorong tubuh Alvarendra dengan sisa kekuatannya dan menampar keras pipi Alvarendra.
Alvarendra kaget dengan reaksi Aera,bagaimana pun dia lah casanova yang tak pernah di tolak pesonanya oleh wanita manapun.
"Menjijikan!"
Ucap Aera mengusap bibirnya kasar dengan punggung tangannya,Alvarendra semakin marah dengan perkataan dan penolakan itu.
Alvarendra berdiri tegak di hadapan Aera dan menghela nafas kasar.
"Kita akan lihat bagaimana kau akan jatuh padaku dan merasakan kecemburuan yang akan membuatmu ingin mati!"
Alvarendra berniat menyiksa Aera dengan perasaan cemburu Aera sendiri terhadapnya,dia mengusap bibirnya dan melirik ke arah Aera yang merasa terhina dengan perlakuannya
"Lakukan sesukamu! itu malah akan membuatku semakin jijik denganmu!!!"
Air mata Aera menggenang dan hampir jatuh.
Aera yang masih muda bahkan tak pernah berpacaran dengan lelaki manapun apalagi berciuman,ciuman pertamanya bahkan di curi oleh orang yang tidak dia harapkan.
Alvarendra tersenyum penuh kemenangan melihat Aera nampak marah,ini pertama kali melihat Aera dengan emosi yang meluap - luap.
Dia melenggang pergi,meninggalkan Aera yang kini memukul mukul meja dengan kesalnya.
"Aku tidak akan pernah menyukainya setitik pun!!!!Dia iblis dalam kehidupanku!!!!"
pekik Aera hingga suaranya memenuhi seluruh kamar itu.
Sementara Alvarendra dengan suasana hati senangnya berangkat lebih awal dari rumahnya dan membeli sebuah buket bunga besar kejutan untuk kekasihnya.
Dia berniat membuat kejutan untuk Javeline dengan kehadirannya di apartemen yang dia belikan untuk Javeline beberapa bulan lalu,selain itu untuk menebus perasaan bersalahnya telah mencium wanita lain tanpa sepengetahuan Javeline.
Namun,nampaknya Javeline tengah sibuk di dalam apartemen itu bersama pria lain dan itu akan membuka mata Alvarendra yang selama ini tertutup oleh cinta palsu Javeline.
****