
Nampaknya tuan Dian tidak main - main dengan ucapannya,setelah ibu Aera menjalani operasi jantung dengan lancar dia segera mempersiapkan pernikahan untuk putra tunggalnya.
Alvarendra terkurung di dalam rumahnya tanpa bisa berbuat banyak,posisinya sebagai penerus keluarga akan di lengserkan bila dia membantah Ayah dan ibunya kali ini.
Bagaimanapun Javeline menginginkan Alvarenda sebagai Direktur utama Jayadi Group nantinya,demi keinginan wanita di hatinya itu dia harus menuruti kemauan orang tuanya.
Dia pikir setelah dia menikah dan Ayah mempercayakan perusahaan untuknya dia bisa kembali bersama Javeline dan menceraikan gadis yang dia sama sekali tak tahu wajahnya itu.
Acara pernikahan yang hanya di hadiri orang - orang terdekat keluarga Jayadi menjadi saksi tidak adanya kebahagiaan di raut wajah kedua mempelai.
Tuan Dian sengaja mengundang orang - orang dekat saja dan membuat pengamanan seketat mungkin,dia tak ingin rencananya gagal dengan aksi nekad putranya atau Javeline,yang mempunyai aura ambisius itu.
Rangkaian acara itu berlangsung singkat,dan benar - benar tanpa senyuman baik dari Alvarendra maupun Aera.
Bahkan sesampainya di kediaman Jayadi,mereka berdua diam seribu bahasa tak menghiraukan satu sama lain.
Setelah selesai mmebersihkan diri Aera kembali membuka laptopnya untuk mendesain produk perusahaan yang kini di ambil alih oleh mertuanya,bagaimanapun Aera sudah berjanji akan bekerja dengan baik untuknya.
Sementara Alvarendra bersandar di tempat tidur dengan tatapan benci kepada Aera,namun Aera tak menyadarinya dan tetap bekerja.
Alvarendra melempar bantal dan tepat mengenai kepala Aera yang sedang fokus di depan laptopnya,Aera memandang Alvarendra dengan dingin.
"Kau benar - benar tak punya harga diri,jadi kau menjual dirimu agar perusahaanmu tidak bangkrut?!"
Alvarendra menahan kata - kata itu sejak pertama dia bertemu dengan Aera di altar pernikahan mereka,namun melihat sikap Aera yang dingin dia seakan merasa terabaikan.
"Anggap saja begitu"
Ujar Aera datar
Aera merasa tidak ada gunanya menjelaskan semuanya pada orang yang langsung mengecapnya sebagai orang yang tak punya harga diri itu.
Alvarendra menggeram kesal melihat sikap Aera yang dingin dan santai.
"Apa kau berencana menusuk Ayahku dari belakang setelah ini,wanita licik?"
pertanyaan Alvarendra terdengar seperti tuduhan
Aera menghela nafas jengah dengan pertanyaan tajam itu
"Pikirkan aku seperti apa yang kau mau"
lagi - lagi jawaban Aera tak membuat hati Alvarendra puas.
Kali ini Alvarendra tak lagi bisa menahan emosinya yang meluap,dia meraih vas bunga kecil di sampingnya dan melemparkan ke arah Aera.
Dalam sekejap dahi Aera mengeluarkan darah ,vas bunga itu pecah berserakan.
"Jaga sikapmu di depanku!!! jangan mencoba merubah apapun di rumah atau di perusahaan kalau kau tak ingin mati di tanganku!Dan jangan pernah bermimpi tidur di sampingku!"
Alvarendra menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tak mempedulikan Aera yang memegangi dahinya.
Aera berlari ke kamar mandi,segera membasuh lukanya dengan air di wastafel yang segera berubah menjadi merah karena darah yang mengalir dari dahinya.
Dia sedikit meringis menahan sakit saat mengoleskan obat pada lukanya dan menempelkan plester,lalu dia menatap wajahnya di pantulan cermin menyibakan rambut hitam hingga menutupi dahinya yang terluka.
"Tak apa Aera,yang penting ibumu sekarang akan baik - baik saja"
Dia menyemangati dirinya sendiri dari dalam hati dan segera keluar dari kamar mandi.
Kamar itu sudah gelap,Alvarendra mematikan lampunya saat Aera pergi ke kamar mandi.
Alvarendra sendiri sudah terlelap di bawah selimut,Aera meraba dalam kegelapan mencari letak sofa di sebrang tempat tidur besar yang tak mungkin ia tempati setelah ancaman Alvarendra tadi.
****
Fajar belum muncul saat ponsel Aera berdering,Aera segera bangun dari tidurnya dan meraih ponsel itu.
Dia hanya mengatur nada dering untuk nomor rumah sakit yang merawat ibunya.
Setelah orang di seberang telepon berbicara dengan Aera,Aera nampak mematung dan menyimpan ponselnya kembali di meja.
Perasaan saat ini terlalu membingungkan untuk dia ungkapkan dalam sebuah ekspresi dan tanpa dia sadari,dalam kegelapan Alvarendra memperhatikan gerak gerik Aera yang nampak kaku itu.
Sekejap kemudian Aera berlari kencang setelah mengambil kunci mobilnya di samping laptop.
Tanpa Alas kaki Aera berlari menuju mobil dan melajukannya dengan kecepatan penuh,dia masih belum menyadari bahwa seseorang membuntutinya.
Alvarendra mengira,Aera sedang merencanakan sesuatu yang licik untuk menghancurkan keluarganya,gerak gerik Aera membuat kecurigaannya bertambah.
Tanpa dia tahu dia akan melihat kehidupan sebenarnya gadis ini.
Aera berlari menuju ruang rawat ibunya,hanya ada beberapa dokter dan perawat yang menunduk lesu menyambut kedatangannya.
"Maafkan kami Nona,kami sudah berusaha semaksimal mungkin"
Aera tak menghiraukan ucapan dokter itu dan menorobos masuk lalu menyibak kain putih yang menutupi wajah ibunya.
Aera menatap kosong wajah pucat itu,lalu dia menghela nafas sambil tertunduk seakan ada perasaan yang tak dapat dia utarakan lagi untuk ibunya.
Dia menutup kembali wajah pucat ibunya lalu keluar dari ruangan dengan langkah gontainya,dia bahkan tak menghiraukan Alvarendra yang terkejut bahwa kehadirannya dipergoki Aera.
Aera duduk di kursi sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok,Alvarendra sedikit aneh melihat sikap Aera.
"Yang meninggal tadi ibunya kan? kenapa dia tidak menangis sedikitpun?"
Alvarendra menebak - nebak dalam hatinya
Dia mendekati Aera yang terdiam di kursi perlahan,lalu menatap wajah sendu gadis itu memastikan bahwa Aera benar - benar sama sekali tak menangis.
"Kau baik - baik saja?"
Alvarendra ragu menanyakan keadaan Aera saat ini,dia tak tahu apa yang ada di benak wanita itu.
Aera tersenyum sinis tanpa melihat Alvarendra.
"Tolong siapkan pemakaman untuk ibuku"
Alvarendra hendak protes pada Aera saat permintaan tolong Aera bernada memerintahnya,namun dia menahannya melihat keadaan Aera saat ini.
Alvarendra segera menghubungi orang tuanya tanpa berani lagi bertanya apapun pada Aera.
Hingga pemakaman usai Aera masih dengan wajah mendungnya tak meneteskan air mata setetespun.
Ekspresinya itu membuat Alvarendra justru bertambah bingung,dan membuat mertuanya khawatir.
Aera tidak sedang baik - baik saja,dia menahan perasaan sedihnya untuk ibunya.
Berharap ibunya akan melihat bahwa dia memiliki seorang anak gadis yang tegar yang tak perlu dia khawatirkan lagi.
"Pergilah bu,aku akan baik - baik saja disini"
Batin Aera meninggalkan makam ibunya.
****