WONDERWOMAN IN WONDERLOVE

WONDERWOMAN IN WONDERLOVE
TIDAK PEKA



"Hubungi aku kapanpun kau mau,aku akan marah kali ini kalau kau melewatkanku saat kau butuh pertolongan"


Ucap Rafanza serius saat berada di luar restoran,Aera menganggukan kepalanya.


"Aku harus pulang sekarang,ini sudah lewat jam makan malam"


Aera melirik jam tangannya resah,dia menyadari orang rumah akan bertanya dari mana dia.


Rafanza menatapnya lagi,rindunya masih tak tersalurkan hanya dengan pertemuan ini.


"Aera,perasaanku padamu masih sama.Kau bisa datang padaku kapan saja"


Rafanza menatap lekat mata Aera dengan serius,Aera tersenyum seakan sudah terbiasa dengan kata - kata itu.


"Kak...kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku,lagipula kalau orang lain mendengarnya kau akan di tuduh mengajak istri orang berpacaran"


ujar Aera terkekeh


"Aku tak peduli,lagi pula kau menikah hanya karena permintaan tuan Dian kan?"


Aera berhenti terkekeh melihat raut wajah Rafanza yang semakin serius,tak ingin membahasnya lebih jauh lagi.


Rafanza memang keras kepala mengenai perasaannya meskipun Aera berulang kali menolaknya.


"Aku pulang dulu kak"


Ujar Aera melambaikan tangannya,Rafanza melepas kepergian Aera dengan berat hati namun tak mampu menahan kepergian Aera ia hanya menatap Aera dari belakang hingga lenyap di tengah keramaian trotoar kota itu.


****


Aera menghela nafas lega setelah seorang pelayan mengatakan kedua mertuanya sudah pergi tidur,dia berlalu ke kamarnya berharap Alvarendra belum pulang atau sudah terlelap lebih dulu.


Dia membuka pintu kamar pelan,di dalam hanya terlihat samar - samar Alvarendra yang duduk di tepi tempat tidur dalam kegelapan.


Cahaya rembulan yang masuk lewat jendela - jendela besar kamar yang tertutup balutan tirai putih bersih membuat suasana sedikit mencekam untuk Aera.


Aera berusaha bersikap normal,dia menyimpan tas di atas meja dan bersiap membersihkan diri ke kamar mandi.


Alvarendra tak bergeming,membiarkan Aera untuk mandi dan menunggunya di depan pintu kamar mandi dengan tatapan marah.


Aera yang masih mengenakan kimono handuknya terperanjat kaget melihat sosok Alvarendra yang berdiri tegak saat dia membuka pintu kamar mandi.


"Dari mana?"


Tanya Alvarendra dingin,Aera menatap wajah Alvarendra yang samar karena redupnya cahaya kamar itu.


"Aku berbincang dengan teman lamaku tadi"


Jawab Aera jujur


Baginya tak ada yang harus di tutupi,karena dia tak melakukan kesalahan apapun.


Aera hendak melangkah dari hadapan Alvarendra namun dalam sekejap mata tubuh mungilnya terserat ke dinding.


Alvarendra menatap marah Aera yang mulai ketakutan dengan gerakannya,Alvarendra meremas pundak Aera hingga Aera meringis kesakitan.


"Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak dekat dengan lelaki manapun!"


Bentak Alvarendra membuat Aera memejamkan mata takut.


"Aku hanya bertemu Kak Rafanza dan makan malam bersamanya,dia temanku sejak aku sekolah"


jelas Aera berusaha melepaskan diri


"Hanya ?!"


Alvarendra mendekatkan wajahnya hingga Aera dapat merasakan hembusan nafasnya yang tak beraturan karena emosi.


"Kau ingin aku menandaimu sebagai istriku?"


Ucap Alvarendra serius,Aera menggelengkan kepala kuat - kuat mengerti arah ucapan Alvarendra.


Alvarendra membopong tubuh mungil Aera di pundaknya yang lebar dan menjatuhkannya di tempat tidur.


Rambut Aera yang masih basah menyentuh tempat tidur membuatnya berserakan,belum sempat Aera bangkit Alvarendra menindih tubuh Aera hingga ia tak bisa bergerak.


Alvarendra menciumi leher dan lekuk tubuhnya,Aera berusaha mendorong Alvarendra walaupun nampak sia - sia.


Alvarendra meninggalkan jejak di leher dan dada Aera tanpa ampun,dia sudah tak lagi memikirkan apapun kecuali amarahnya pada Aera.


Kimono handuk yang menutupi tubuh Aera sudah setengah terbuka karena gerakan Alvarendra itu,membuat Aera mulai merengek meminta Alvarendra menghentikannya.


"Mengapa kau menangis?"


tanya Alvarendra menyentuh pipi Aera yang mulai basah,namun Aera memalingkan wajah menghindari sentuhan Alvarendra.


"Ku mohon,lepaskan aku...aku hanya ingin melakukannya dengan lelaki yang mencintaiku"


Iba Aera masih terisak,wajahnya bersemu merah menyadari tubuh bagian atasnya sudah terlihat jelas oleh Alvarendra.


Alvarendra jelas marah mendengarnya,dan mencengkram dagu Aera


"Akupun tidak akan melakukannya dengan wanita yang tidak aku cintai!"


pengakuan tidak langsung Alvarendra membuat Aera bungkam seribu bahasa,masih tidak merasakan perasaan dibalik ucapan Alvarendra


Walau masih marah,Alvarendra merasa iba melihat Aera dan menutupi tubuh Aera kembali dengan kimono yang masih melekat ditubuhnya lalu berdiri di hadapan Aera yang menutupi dadanya dengan tangan.


"Kalau kau tak ingin hal ini terjadi lagi jaga sikapmu saat bersama lelaki lain!aku tidak suka sesuatu yang aku miliki di sentuh orang lain!"


Ujar Alvarendra tanpa menatap Aera


Aera tertunduk diam,tak berani menjawab Alvarendra yang masih terlihat marah.


"Maafkan aku,aku hanya bertemu dengan teman lamaku"


masih membela diri,membuat Alvarendra menghela nafas kesal.


Dia jelas melihat cinta di mata lelaki bernama Rafanza itu saat ia memeluk Aera,dan itu membuatnya marah sekali.


Tapi Aera dengan polosnya mengatakan lelaki itu hanya temannya.


"Kau bisa jadi bahan pergunjingan,Ayah pasti tidak akan suka kalau tahu itu"


Alvarendra mengatur nafasnya dan duduk di sofa tepat di sebrang tempat tidur yang Aera tempati.


Aera pun menyadari apa yang dikatakan Alvarendra benar,perilakunya bisa mencoreng nama besar Jayadi.


"Maafkan aku... tapi jangan hukum aku seperti ini,aku tak ingin kau melakukan itu padaku hanya karena kau marah"


Ujar Aera masih cemas dan meremas kimononya erat -erat.


Alvarendra yang frustasi mendengar Aera yang tak menyadari perasaannya mengacak rambutnya kasar.


Aera menatap ekspresi itu penuh pertanyaan dalam hatinya,tapi tak berani menanyakan lebih lanjut.


"Tidur sana !"


Alvarendra melempar bantal sofa ke arah Aera dengan kesal,Aera segera berdiri di samping sofa menunggu Alvarendra beranjak dari sana namun Alvarendra tak bergeming masih memegangi dahinya.


Alvarendra melirik ke arah Aera,dan menghela nafas kesal


"Apa lagi???"


Tanya Alvarendra jengah


"Ini kan tempatku"


ujar Aera pelan sambil menunjuk sofa yang masih diduduki Alvarendra.


"Tidur disana!aku yang tidur di sini!"


Ucap Alvarendra kembali memegangi dahinya,ada perasaan sesal karena telah membuat Aera menangis


Dia benar - benar gelap mata setelah menunggu Aera yang tak kunjung mengabarinya saat bersama pria lain,hingga melakukannya dengan paksa.


Aera tak membantahnya,hanya meringsek masuk ke dalam selimut dengan hati was was dia bahkan takut untuk sekedar mengganti kimononya dengan baju tidur.


Malam itu Aera tak nyenyak karena perasaan takut,sementara Alvarendra merasa pening karena hasrat lelakinya yang tak tersalurkan.


Bagaimanapun dia lelaki normal,dia masih bisa membayangkan tubuh Aera yang baru saja hampir ia lahap bila saja dia tak mendengar isakan Aera.


Nampaknya,Alvarendra benar - benar harus bersabar dengan ketidak pekaan Aera membaca perasaannya kalau tidak ingin melukai gadis itu.


Hal itu sudah cukup menjadi bebannya ditambah lagi bayangan tatapan Rafanza pada Aera tadi sore yang selalu membuatnya menggeram kesal berkali - kali saat berusaha tidur di sofa.


Geraman Alvarendra tentu terus membuat Aera tersentak kaget dan bertanya - tanya mengapa Alvarendra sekesal itu.


Cinta kadang membuat orang menjadi kesal...