
Aera mengerjapkan matanya dan merasakan sesuatu yang dingin di dahinya,dia meraih handuk kecil yang mengompres dahinya itu.
Alvarendra tidur disamping Aera dengan posisi duduk dan membenamkan wajah di lengannya sendiri.
Aera menghela nafas melihat baskom berisi air dan meletak handuk kompresnya disana,dia menyadari Alvarendra menjaganya semalaman.
Alvarendra menggeliat lembut,masih tertidur lelap dengan wajah lelahnya.
Aera menatapnya lekat,dan merebahkan diri di dekat wajah Alvarendra.Melihatnya dari dekat membuat dirinya tanpa sadar tersenyum tipis.
Garis wajah Alvarendra yang sempurna dengan bulu mata lebatnya,dan nafasnya yang lembut sampai ke kulit wajah Aera.
Aera meringkuk mendekati wajahnya ke wajah Alvarendra,entah kapan dia merasa pria itu bukan pria jahat lagi.
Alvarendra yang merasakan hembusan nafas Aera membuka matanya,membuat Aera terkejut dan gelagapan hendak menjauhkan wajahnya dari Alvarendra.
Dengan sigap tangan Alvarendra meraih kepala Aera dan balas menatapnya lekat - lekat.
"Aku terlihat tampan bukan bila sedang tertidur?"
Alvarendra tersenyum menang,membuat Aera tersipu malu dan ingin menghilang saat ini.
Tangan Alvarendra beralih mengelus rambut Aera lembut membuat Aera semakin gugup,dan langsung duduk tegak menghindari sentuhannya.
Alvarendra menahan dagunya sendiri dengan tangan,masih menatap Aera lekat - lekat.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Tanya Aera masih tak berani menatap balik Alvarendra.
"Apa aku tidak boleh menatap wajah istriku?"
Ujar Alvarendra santai,membuat dada Aera bergemuruh.
istriku????
"Ka..kau pasti sedang mempermainkanku!"
tuduh Aera yang masih gugup di tatap oleh Alvarendra
Alvarendra menggelengkan kepalanya masih dengan senyum cemerlangnya.
Rambutnya yang sedikit berantakan membuat wajahnya malah terlihat lebih tampan dan sexy,menggoda iman setiap wanita yang melihatnya.
Aera menelan salivanya dan menatap Alvarendra yang masih memperhatikannya dengan tatapan menghanyutkan.
"Hentikan"
Aera mengultimatumnya membuat Alvarendra menghela nafas frustasi.
Alvarendra berpikir bahwa metode memancarkan pesonanya itu tidak berefek apapun pada Aera,tanpa dia tahu jantung Aera sudah seperti genderang perang.
Ketukan pintu kamar menyelamatkan jantung Aera,kedua mertuanya menerobos masuk begitu pintu kamar di buka oleh Alvarendra.
Ibu sudah mendekati Aera dan duduk di sampingnya menatap menantunya khawatir.
"Aera,apa sudah lebih baik sekarang?"
Tanya Ibu khawatir sambil mengelus rambut Aera,lalu menatap tajam pada Alvarendra.
"Berkendaralah lebih hati - hati lagi saat bersama Aera !"
Menghardik anak semata wayangnya yang mulai merasa di duakan karena kehadiran istrinya sendiri.
Alvarendra memutar bola matanya kesal dan duduk di samping ayahnya di sofa menyaksikan adegan menantu dan mertua yang menjadi dambaan setiap orang.
"Setelah Aera sembuh kalian pergilah honey moon"
Ujar Ayah menyodorkan dua buah tiket penerbangan kepada Alvarendra.
Aera terbelalak mendengar kata honey moon,dia masih trauma dengan serangan Alvarendra yang mendadak.
"Anggap saja liburan ya"
Ibu terkekeh melihat ekspresi Aera dan menepuk - nepuk pundaknya menenangkan.
Alvarendra meraih tiket itu dengan senyum di wajahnya,mungkin dia hanya butuh waktu untuk lebih dekat dengan Aera berdua saja.
"Kean akan membantu membereskan pekerjaan kalian di kedua perusahaan,tak usah khawatirkan yang lain.Kalian butuh waktu berlibur sejenak"
Ujar tuan Dian tak ingin Aera atau anaknya menolak.
Aera menundukan kepala,tahu bahwa dia tak bisa membantah keinginan mertuanya itu.
"Selama Aera belum pulih,jangan dulu bekerja.Jaga istrimu"
Tambah tuan Dian menepuk bahu Alvarendra dan bangkit berdiri memberi isyarat istrinya untuk mengikutinya.
Meski nampak enggan,ibu pun bangkit berdiri mengikuti langkah suaminya itu.
Alvarendra menatap lekat tiket itu,pulau X tujuannya.Disana ada sebuah hotel milik keluarganya dengan pemandangan langsung ke arah laut.
Dia tak pernah segembira ini menerima sebuah tiket perjalanan,namun tidak dengan Aera yang merasa was - was.
Alvarendra melihat ekspresi itu,dan tahu apa yang dipikirkan istri mungilnya itu.
"Jangan berpikir macam-macam,aku tidak akan melakukannya dengan paksa"
Alvarendra mengalihkan pandangannya,wajahnya merah padam karena ucapannya sendiri.
Wajah Aera tak kalah merah menyadari pikirannya terbaca oleh Alvarendra.
"Kita kan hanya liburan"
Ucap Aera pelan menyangkal perkiraan Alvarendra.
Alvarendra menyimpan rapi tiket itu di atas meja Aera dengan senyum tipisnya.
Jangan memprovokasiku,aku bisa lepas kendali kalau kau membuatku gemas....
Alvarendra tahu dia sudah hampir di ambang batas untuk memiliki Aera sepenuhnya,dia hanya menahannya agar Aera benar - benar merasakan hal yang sama terlebih dahulu.
Jangan menebar pesona disana,ku mohon...aku bisa terkena serangan jantung!Mengapa sekarang tiap menatapnya jantungku berdebar?!Tidak... tidak... aku tak boleh jatuh ke dalam permainannya,aku harus ingat aku nantinya akan bercerai darinya!!!
Aera menutupi tubuhnya dengan selimut gusar dengan pikirannya sendiri,sementara Alvarendra menatap keluar jendela dengan perasaan tak sabar untuk segera berangkat honeymoon.
Aku semakin penasaran,seberapa sulitnya aku mendapatkan hatinya bila hanya di beri waktu dan ruang berdua saja!
Mereka tenggelam dalam pikirannya masing - masing.
Yang satu ingin menerjang pertahanan,yang satunya lagi sedang menyusun pertahanan agar hatinya tidak bertingkah semaunya.
Terkadang jatuh cinta itu membuat kita seperti prajurit yang akan maju ke medan perang...