WONDERWOMAN IN WONDERLOVE

WONDERWOMAN IN WONDERLOVE
RENCANA JAHAT



Javeline melihat pantulan dirinya di cermin,berantakan dan kosong.


Selama satu bulan dia berdiam diri di kamar apartemen miliknya,dia merenungi perlakuan Alvarendra yang dengan mudah perpindah hati pada wanita seperti Aera.


Tatapan Javeline penuh kebencian dia juga tak percaya rencana yang ia rancang sejak dulu itu gagal hanya karena perselingkuhannya dengan Adrian,lelaki yang hanya beberapa kali dia temui di club malam.


Tapi,sepertinya Javeline punya rencana licik lainnya...


Javeline keluar apartemen dengan dress hitam mini yang memperlihatkan jelas bentuk tubuhnya menuju club biasa dia bertemu dengan Adrian.


Dan matanya langsung tertuju pada seorang lelaki di pojokan yang sedang menenggak minumnya.


Javeline mengibaskan rambutnya dan mendekati Adrian.


"Halo baby... Apa kabarmu?"


Ujar Javeline genit sambil merangkul lengan Adrian.


Adrian terkesiap dan segera menghela nafas jengah melihat kedatangannya namun membiarkan Javeline merangkulnya erat.


Adrian masih kecewa setelah mengetahui Javeline memiliki kekasih,tapi dia tak bisa membohongi perasaannya yang memang menyukai Javeline sejak awal pertemuan mereka.


"Kau masih marah?"


dengan sikap manjanya membuat goyah Adrian.


"Mengapa kau datang lagi kesini?bukankah pacarmu akan marah?"


Ucap Adrian tak senang


"Kau tahu? sebenarnya aku lebih menyukaimu"


melepas rangkulannya dari tangan Adrian,mencoba melihat ekspresi pria di sampingnya itu.


Adrian berhenti meminum minumannya dan menyimpan gelas itu di meja lalu menatap Javeline


"Lalu?"


Adrian menatap tajam wajah Javeline yang nampak menarik dari sudut manapun.


"Aku hanya ingin hartanya"


Javeline tersenyum licik,dan menahan dagunya dengan tangan.


"Aku tahu dia si anak bangsawan itu kan? Jayadi group?"


Meminum kembali minumannya tahu bahwa rivalnya adalah orang yang berada jauh di atasnya.


"Aku tak keberatan menjadi nyonya Oktora"


Javeline menghampiri Adrian bukan tanpa persiapan.


Dia tahu Adrian adalah pewaris dari Oktora Group,meski tak sebesar Jayadi group namun sepertinya Adrian adalah satu - satu jalan baginya untuk bisa kembali mendekati Alvarendra dan mencapai tujuannya.


"Dia sudah menikah bukan?"


Adrian pun sama - sama menyelidiki Alvarendra setelah ia bertemu dengannya di apartemen.


"Menikah karena perjodohan.Dian Jayadi nampak hati - hati memilih menantu.Si picik itu tahu aku mempunyai niat mengambil alih Jayadi Group"


Ucap Javeline penuh kebencian.


"Lalu apa rencanamu?"


Mulai membaca Javeline memilik rencana lainnya.


Oktora Group adalah rival Jayadi sejak jaman mendiang kakek Alvarendra,dan Oktora tidak bisa berada di garis yang sama hingga saat ini membuat Adrian kesal.


"Buat mereka bercerai,aku akan masuk lagi ke dalam kehidupan mereka dan menghancurkannya.Setelah mereka hancur,aku akan menikah denganmu.Bagaimana?"


Javeline menyandarkan kepalanya pada pundak Adrian,membuat darah Adrian berdesir.


"Kau serius?"


Javeline menatap kedua bola mata Adrian dan mengecup bibirnya.


"Pertama - tama apa yang harus kita lakukan?"


Tanya Adrian tersenyum licik,Javeline berbisik ke telinga Adrian memberi tahukan rencana jahatnya itu sambil tersenyum senang.


Aku punya senjata bagus kali ini,Wanita itu harus segera pergi dan Jayadi group akan dalam genggamanku.


Entah apa yang di rencanakannya,tapi yang jelas Aera adalah target utamanya saat ini.


****


Penawarannya nampak baik hingga membuat Aera berbinar sambil menganggukan kepalanya,dia menatap Reni kembali.


"Hubungi Oktora Group,penawarannya bagus."


Sambil menyerahkan berkas itu pada Reni.


"Baik nona"


Reni memberi hormat dan berlalu dari hadapan Aera yang masih sibuk dengan berkasnya hingga petang menjelang.


Reni kembali masuk ruangan Aera dengan wajah senang.


"Ada apa kak?"


melihat wajah Reni yang gembira tiba - tiba menerobos masuk.


"Anda di minta langsung untuk menandatangani kontrak kerjasama sekarang bersama sekretarisnya"


Ujar Reni setengah berjingkat girang


Aera tersenyum,mungkin dengan kerjasama ini Anggara bisa pulih lebih cepat jauh dari perkiraannya.


"Dimana tempatnya?"


Aera berdiri meraih blazer panjang yang tersampir dikursinya dan memakainya cepat tak kalah girang.


"Di Club X ..."


Aera langsung ragu mendengar tempat yang tak biasa dia kunjungi itu.


"Ayolah nona,sekretaris perempuan kalau tidak salah namanya Hany"


Keraguannya pupus seketika mendengar itu dan segera bergegas.


"Alvarendra mungkin sedang sibuk,tolong sampaikan aku kesana dulu sebelum pulang dan akan pulang dengan taxi"


Pesan Aera pada Reni sebelum berlalu dari ruangannya tanpa menunggu jawaban Reni.


****


Club X 18.00


Club itu masih sepi pengunjung saat Aera memasukinya,membuat Aera sedikit lega melihat tempat yang nyari kosong itu.


"Aku ada janji dengan seseorang bernama Hani,dari Oktora group"


Ujarnya pada seorang pelayan yang langsung mengantarnya ke ruang VVIP.


Seorang wanita cantik yang sedang duduk santai berdiri melihat kedatangan Aera dan membungkuk hormat,Aera tersenyum dan duduk di hadapannya.


Beberapa gelas minuman sudah tertata disana seakan menyambutnya,di samping minuman Hany terdapat sebuah map berkas berwarna hitam.


"Baiklah kita langsung saja menandatangani kontrak"


Ujar Aera to the point,Hany tersenyum tenang sambil menyodorkan minuman pada Aera.


"CEO sangat suka desaign anda dan ingin kita berkerjasama dengan waktu yang lama.Saya di utus untuk memberi sedikit salam pembuka darinya"


Aera menatap gelas itu,dia sudah lama menjauhi alkohol sejak menikah dengan Alvarendra.


"Maaf tapi saya tidak minum"


Tolak Aera halus membuat Hany muram


"CEO orang yang tidak suka pemberiannya di tolak,Nona... setidaknya hanya segelas ini"


Hany tersenyum sambil memainkan map berkas di tangannya


Aera terdiam,dan berpikir satu gelas ini takan membuatnya mabuk tubuhnya sangat kuat terhadap alkohol jenis manapun.


Aera meminumnya dengan sekali tegukan membuat Hany tersenyum cemerlang dan menyodorkan map berkas yang segera Aera raih.


Aera mulai membacanya dengan hati - hati,dan pandangannya mulai tak jelas.


Aera jatuh pingsan,tubuhnya terasa panas saat mendengar beberapa pria berkerumun di dekatnya.


Aera mulai berusaha menjauh namun pandangannya gelap,dia tahu dalam bahaya namun tubuhnya lemas tak berdaya.


Ku mohon,datanglah...tolong aku!


Bayangannya hanya Alvarendra,dia berharap Alvarendra datang di saat genting ini.


***