WONDERWOMAN IN WONDERLOVE

WONDERWOMAN IN WONDERLOVE
TEREKSPOSE



Alvarendra dan Aera tak saling berbicara saat berangkat ke kantor masing - masing membuat Kean yang ada di balik kemudi tegang dengan aura tidak menyenangkan itu.


Lingkar mata pada kedua pasang mata yang masing - masing melihat keluar jendela mobil memberitahukan dengan jelas pada Kean ada yang terjadi kemarin malam.


Kean penasaran,namun tak berani mengusik tuan dan nona mudanya itu.


Aera bahkan tak berpamitan saat keluar dari mobil hanya melangkahkan kaki gontai masuk ke area perkantorannya.


Dan lagi Alvarendra menggeram kesal melihat sikap Aera itu,membuat Kean terlonjak kaget mendengarnya.


Aera duduk sambil menyandarkan kepala di kursinya,dia memejamkan matanya mengingat kembali kilasan malam tadi membuat pipinya bersemu merah karena malu.


Apa yang ada dibenaknya? mengapa dia melakukan hal itu? mengapa dia terus terlihat kesal?


Mengulang pertanyaan itu hingga seseorang mengetuk pintunya pelan


"Masuk"


Reni masuk dengan beberapa berkas di tangannya dan berdiri di hadapan Aera


"Nona sebentar lagi ada agenda pemotretan untuk majalah X bersama Albert untuk desaign terbaru kita"


Aera menghela nafas pelan,dia hampir lupa agenda itu.


"Baiklah sebentar lagi aku kesana"


Reni tetap berdiri dengan wajah segan menatap Aera yang sudah memakai kembali blazernya


"Nona,majalah X meminta anda juga melakukan pemotretan hari ini"


Entah apa lagi ini,yang jelas Aera nampak jengah mendengarnya.


"Aku sudah katakan tempo hari,aku tidak setuju"


Semakin membuat ciut nyali Reni di hadapannya


"Tapi nona,mereka mengancam membatalkan pemotretan bersama Albert kalau anda tidak ikut serta"


Aera kembali terduduk memberi isyarat pada Reni untuk meninggalkannya sendirian.


Aera memegangi kepalanya yang terasa pening karena tak tidur semalaman ditambah dengan apa yang dia dengar barusan.


Aera meraih ponselnya dan menelpon pemilik asli perusahaan Anggara yang tak lain mertuanya sendiri


"Ayah,majalah X memintaku untuk melakukan pemotretan bersama Albert hari ini.Mereka mengancam akan membatalkan pemotretan untuk majalah mereka kalau aku tidak turut serta"


mendengar hal itu tuan Dian terkekeh


"Mengapa kau selalu meminta ijin padaku?minta ijinlah pada suamimu,dia yang berhak mengijinkanmu atau tidak"


ujar tuan Dian di seberang sana membuat Aera mengernyitkan dahi bingung


"Tapi Ayah,ini tentang perusahaan"


Kilah Aera mulai jengah


"Perusahaan itu aku percayakan padamu supaya bangkit dari keterpurukannya,kau pasti bisa memilih yang terbaik untuk perusahaan "


Ujar tuan Dian


Sedetik kemudian,panggilan terputus meninggalkan Aera yang kebingungan.


Aera melihat layar ponselnya yang tertulis nama Alvarendra,dia masih ingat jelas ucapannya yang mengatakan tak menyukai barang miliknya di sentuh oleh orang lain.


Aera menghela nafas dalam dan mulai menghubungi Alvarendra


"Ada apa?"


Walau dengan nada dingin nyatanya Alvarendra segera mengangkat panggilan dari Aera setelah dering pertama berbunyi.


"Majalah X memintaku melakukan pemotretan bersama Albert untuk mempromosikan desaign terbaru baju casual Anggara"


Ujarku hati-hati


"Siapa Albert?"


tanya Alvarendra mulai tajam


Aera masih tak percaya Alvarendra tak mengenal Albert,dia adalah salah satu top model di negeri ini.


Dengan wajah blasteran dan tubuh yang sempurna membuat dua sukses di usia muda dan sangat sering terlihat di majalah atau media sosial lainnya.


"Dia salah satu model pria"


jelas Aera singkat sambil memejamkan mata frustasi.


memangnya dia tidak pernah buka sosmed atau majalah apa?!


"Lakukan semaumu"


Ujarnya tak acuh membuat Aera menghela nafas lega sesaat.


Aera menghentak - hentakan kakinya kesal tanpa membuat suara,namun dia meredam kembali kekesalannya karena tak ingin mendengar lagi ancaman menakutkan itu.


"Baiklah"


Ujar Aera segera menutup panggilannya.


Alvarendra yang sedang berada di tengah meeting mendapat kabar itu semakin tak fokus,dia membayangkan tubuh mungil Aera mungkin akan di sentuh pria lain.


Bahkan setelah meeting tanpa keputusan apapun darinya dia berjalan cepat menuju ruangannya dan mengambil kunci mobil dari Kean,melaju menuju kantor Aera.


Ia gundah hingga ingin sekali langsung mengawasi Aera saat pemotretan.


Sementara Aera sudah siap dengan balutan jeans dan t-shirt casual rancangannya sendiri,wajahnya sudah dipulas kembali oleh make up artis membuat setiap orang melihatnya takjub.


Aera menolak saat penata rambut ingin mengikat rambutnya,dia masih ingat ada jejak Alvarendra di sana.


Pemotretan pun di mulai,Aera memang cocok berada di depan kamera hingga membuat photografer berdecak kagum dengan gerakan Aera yang natural dan nampak elegan.


Albert yang melihat pertama kali sosok Aera menyadari hal itu dan sempat beberapa kali tertangkap kamera sedang menatap kagum pada Aera yang berada di sampingnya.


Dan tanpa di sadari,Alvarendra melihat semuanya sambil mengepalkan tangannya.


Albert bahkan tak menyentuh Aera sedikitpun mengingat jelas Aera yang memberikan syarat itu dengan wajah serius sebelum mengenakan busana hasil desaignnya sendiri,namun tatapan Albert berhasil membuat Alvarendra merasa panas.


Saat pemotretan usai,Aera terperanjat saat seseorang meraih pinggangnya mesra dari belakang


"Alvarendra"


Alvarendra merapatkan tubuh Aera ke tubuhnya di depan semua mata yang menatap mereka iri.


"Aku merindukanmu"


Ujar Alvarendra agak lantang membuat hampir semua orang mendengarnya dan semakin iri.


Aera mendekati telinga Alvarendra dengan geram


"Apa yang kau lakukan disini?!"


berbisik sambil menggertakan giginya menahan malu.


Photografer pun langsung menghampiri mereka dan menganggukan kepala hormat.


"Tuan Alvarendra,terimakasih sudah mengijinkan nona Aera ikut serta dalam pemotretan kali ini.Desaign Anggara pasti akan sangat terkenal melihat Nona Aera yang sangat natural dan cantik saat pemotretan tadi"


Menjilat sebisa mungkin pada Alvarendra


"Ini yang terakhir kali aku membiarkan kalian mengeksposnya"


Mata Alvarendra tajam menatap Photografer itu hingga ia membungkuk dalam dan berlalu dari hadapan mereka,tak ingin mencari masalah lagi.


Aera menatap Alvarendra heran,akhir - akhir ini Alvarendra benar - benar over protektif padanya.


"Ayo pulang,aku lelah"


Ajak Alvarendra menarik tangan Aera yang masih mematung di sampingnya


"Tapi aku..."


Alvarendra tak menggubris ucapan Aera hanya terus memegangi tangan Aera yang kewalahan mengikuti langkah kakinya yang panjang.


Aera sempat memberi isyarat pada Reni sambil meraih tasnya untuk menghubunginya saat keluar dari pintu ruangan itu yang di sambut anggukan sigap dari Reni.


Alvarendra bahkan membukakan pintu mobil untuk Aera,menunggu Aera benar - benar duduk di kursinya dan menutup kembali pintu mobil lalu memutari mobil dan duduk di balik kemudi.


Tingkahnya itu membuat Aera terperangah tak mengerti.


"Apa yang kau lakukan?"


tanya Aera pada Alvarendra yang mulai fokus mengemudikan mobilnya.


Alvarendra tak menjawab,sebenarnya dia saat ini bingung untuk menggambarkan perasaannya sendiri,dia tidak suka lelaki yang menatap penuh perasaan pada Aera.


Tapi dia tak mungkin mengungkapkan perasaannya secara romantis saat Aera belum membuka sedikitpun hati untuknya.


Tiba - tiba sebuah mobil di depan mobil Alvarendra berhenti mendadak,membuat Alvarendra menginjak pedal rem dalam - dalam,spontan tangan kanannya menghalangi bahu Aera agar tidak ikut tersentak kedepan.


Mobil depan Alvarendra sudah agak hancur mencium bemper mobil di depannya itu,dan seorang lelaki paruh baya keluar dari mobilnya sambil memegangi leher belakangnya.


"Kau baik - baik saja?!"


Alvarendra menatap Aera cemas,Aera menganggukan kepala pelan masih merasa kaget.


Kilasan kecelakaan bersama keluarganya kembali terlihat jelas membuatnya merasa sesak.


Alvarendra keluar dari mobilnya dengan marah menghampiri pria itu tanpa menyadari Aera sedang kesulitan bernafas.


Aera melihat samar punggung Alvarendra dari dalam mobil dengan pandangan nanar dan mulai menggelap


Berganti dengan kenangan mencekamnya di detik - detik kecelakaan maut yang menewaskan Ayah dan adiknya.