
Aera bangun di pagi buta,bersemangat memulai harinya dengan blazer peach dan celana panjang senada dia mengikat rambutnya ke atas memperlihatkan jenjang lehernya yang mulus.
Alvarendra yang sedang memakai dasi di depan cermin menelan salivanya sendiri,Aera melihat ekspresi Alvarendra yang terperangah dengan heran.
"Apa ada yang aneh?"
Tanya Aera heran sambil mendekati cermin yang sedang dipakai Alvarendra.
Alvarendra menjauh sambil mengatur ekspresinya kembali,namun tak lama dia sudah di buat terhipnotis dengan wangi parfum vanilla yang keluar dari tubuh Aera.
Aera mendekatkan wajahnya ke cermin memeriksa riasan tipisnya namun tak menemukan hal yang aneh,dan kembali melihat ke arah Alvarendra yang masih menjaga jarak darinya.
"Pakai dasimu dengan benar"
Protes Aera yang menyadari Alvarendra tidak juga selesai memakai dasi,Alvarendra mengalihkan pandangannya.
"Pakaikan"
Entah sejak kapan Alvarendra menjadi begitu manja,Aera tak ingin membuat keributan dipagi hari yang membuat moodnya rusak dia menuruti perintah Alvarendra dan mendekat.
Alvarendra tak berani menatap Aera yang ada di dekatnya,dia mengalihkan pandangannya ke sudut - sudut kamar berusaha tidak salah tingkah.
Aera sendiri sebenarnya tak kalah gusar,dia tetap menjaga jarak saat memakaikan dasi Alvarendra dan segera menjauh setelah selesai.
"Jangan kebut-kebutan"
Aera yang sedang memasukan beberapa berkas terhenti mendengar larangan Alvarendra,dia menyadari pria itu sedang mengkhawatirkannya.
Alvarendra segera beranjak ke meja makan untuk sarapan tak ingin melewati batasannya lagi.
Sarapan yang tenang di meja makan keluarga Jayadi,semua nampak berkonsentrasi menyantap sajian di meja makan.
"Rendra,mulai sekarang kamu antarkan Aera ke kantornya lebih dulu dan menjemputnya pulang"
Ujar ibu Alvarendra santai,sambil mengunyah makanannya
"Tidak usah bu,aku bisa berangkat sendiri"
tolak Aera membuat Alvarendra menatapnya tak percaya.
Penolakan yang di dapat Alvarendra secara berulang mengikis kepercayaan dirinya,Ayahnya diam - diam memperhatikan ekspresi wajahnya.
"Dia suamimu bukankah dia harus menjagamu?kau sering kebut - kebutan Aera!"
Sergah Tuan Jayadi membuat Aera memperlihatkan deretan giginya yang rapih
"Aku hanya ngebut di saat tertentu kok"
mendengar jawaban santai Aera semua orang berhenti mengunyah makanannya
Pikiran mereka sama,bagaimana seorang gadis yang pernah mengalami kecelakaan fatal bersama keluarganya bisa berucap sesantai itu?
Aera memandang heran mertua dan Alvarendra yang kembali mengunyah makanan sambil menggelengkan kepala.
"Alvarendra,antar jemput Aera mulai hari ini.Jangan ada bantahan lagi!"
Ucap Tuan Dian tegas sambil meneruskan sarapannya.
Aera sendiri cemberut mendengarnya namun tak lagi berani protes,Alvarendra tidak memberikan ekspresi apapun dan sibuk mengunyah makanannya.
Setelah sarapan Aera dan Alvarendra pamit untuk berangkat bekerja dan mulai masuk ke mobil.
Aera sibuk dengan ponselnya mencari desaign terbaru yang barang kali bisa menginspirasinya,Alvarendra belum melajukan mobilnya dan menatap Aera kesal.
Aera segera menyadari hal itu dan menatap heran tatapan Alvarendra.
"Pakai seatbellmu"
Aera hampir lupa memakai seatbell sangking sibuknya dengan pikirannya sendiri,dia pun segera memakainya dan Alvarendra melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Alvarendra merasa Aera selalu mengacuhkan dirinya dan entah mengapa membuatnya kesal.
"Kau ini memang gila kerja ya?!"
Ucap Alvarendra masih berkonsentrasi mengendarai mobil itu
"hmmm..."
Aera lagi - lagi seakan acuh tak acuh dengan ucapan Alvarendra,Alvarendra memejamkan mata sesaat merasa frustasi.
Alvarendra memutuskan untuk tak lagi berbicara pada Aera yang masih sibuk dengan ponselnya hingga tiba di depan kantor perusahaan Anggara.
Dan Aera masih sibuk dengan ponselnya hingga tak menyadari dia sudah tiba di kantornya,Alvarendra menatap Aera dengan perasaan kesal.
Tanpa aba - aba Alvarendra membuka seatbell milik Aera membuat tubuh dan wajahnya berjarak beberapa senti dari Aera.
Aera terkesiap dan menahan nafasnya saat tubuh Alvarendra mendekatinya,dan dia mengerjapkan mata saat Alvarendra selesai melepas seatbellnya.
"Keluar sana! sudah sampai,masih saja asyik sendiri! Memangnya aku supirmu apa?!"
Ujar Alvarendra ketus
Aera tak menjawabnya dan segera keluar dengan acuh dari mobil
Alvarendra menatap tubuh Aera yang masih sibuk dengan ponselnya hingga masuk ke dalam gedung itu,lalu menghembuskan nafas kasar.
"Benar - benar es batu! setidaknya ucapkan terimakasih karena aku sudah mengantarmu!"
Geram Alvarendra sambil meremas setir mobilnya,Alvarendra pun segera berlalu menuju kantornya.
Ada perasaan teriris saat mengenang Ayah,ibu dan adiknya.Namun lamunannya pecah saat Reni asistennya berhambur masuk dan duduk di depannya.
"Nona!aku kira tidak akan melihat nona lagi karena nona sudah menjadi menantu keluarga Jayadi!"
Reni adalah asistennya dikantor,dia orang yang mengenal Aera dan bekerja paling lama bersama Ayahnya.
Saat terjadi penggelapan dana di perusahaan Anggara,Reni tak luput Aera selidiki dan ternyata dia bersih dari uang haram itu.
"Ka Reni aku akan bekerja seperti biasa,suami dan mertuaku sudah setuju"
Ucap Aera gembira dan menatap Reni dengan tatapan rindu.
"Nona selamat atas pernikahannya,nona pasti sangat cantik saat memakai gaun pengantin sayang aku tidak melihatnya"
bibir Reni mengerecut penuh kecewa di hatinya
Aera tersenyum sedih mendengarnya,dia bahkan tak mengundang siapapun saat pernikahannya.
"Maafkan aku,Alvarendra ingin segera menikah jadi aku tak banyak mengundang orang"
Aera berbohong menutupi kejadian yang sebenarnya dari Reni
"Tak apa nona,yang terpenting nona sudah mendapatkan lelaki yang di idamkan setiap wanita dan keluarganya yang baik"
Reni kembali tersenyum cerah ke arah Aera,sementara Aera tersenyum kecut.
Reni tidak tahu seberapa mengerikan Alvarendra saat marah,dan fakta bahwa pernikahannya itu hanya karena Aera ingin menyelamatkan ibu dan orang - orangnya.
"Dan ... aku turut berduka atas meninggalnya Nyonya,aku harap nona tidak berlama-lama dalam kesedihan.Nyonya pasti bahagia melihat nona di cintai suami nona".
Aera menahan air matanya,dia tahu,ibunya pun tahu Alvarendra tak mencintainya.
"Ayo mulai bekerja"
Aera menyudahi ucapan Reni tak ingin memperlihatkan kesedihannya,Reni berdiri dan memberi hormat pada Aera dan berlalu di balik pintu ruangan Aera.
Hari itu benar - benar hari yang sibuk untuk Aera dia kembali membuka laporan - laporan dan memeriksanya,tak ingin lagi kecolongan apalagi sekarang perusahaan itu berada di bawah naungan Jayadi Group.
Dia tidak ingin mengecewakan Tuan Dian,karena kinerja buruk dirinya atau orang - orangnya.
Aera melewatkan makan siangnya dan hanya beberapa menit berada di atap untuk merokok dan menghirup angin segar,dia tak menggubris sakit di perutnya yang kian menjadi saat petang menjelang.
Saat semua karyawannya pulang dia masih berhadapan dengan komputer dengan wajah yang mulai pucat,Aera bahkan tak menghiraukan dering ponselnya.
Nomor tidak dikenal yang masuk ke ponsel Aera memang selalu di abaikannya,Aera merasa tak perlu berhubungan dengan orang yang bahkan tak di ingat ponselnya.
Reni mengetuk pintu ruangannya dan masuk menatap Aera penuh keraguan,Aera menangkap kegelisahan asistennya.
"Ada apa ka?"
Tanya Aera mulai lemas,Reni mengigit bibirnya kelu.
"Nona... diluar ada yang ingin bertemu nona..."
Ucap Reni ragu
"Siapa?"
Tanya Aera,menyadari bahwa ada tamu tak di undang yang memaksa masuk menemuinya.
Tiba- tiba pintu ruangannya kembali terbuka dengan keras membuat Reni terkesiap,namun Reni tak ingin meninggalkan nonanya sendirian bersama tamu tak di undang itu.
Aera bangkit berdiri dari tempat duduknya,dan menatap wanita cantik itu dengan tajam.
"Kau membuatku membuang waktu hanya untuk menemui perempuan murahan ini!"
Aera mendekati Reni dan menghalangi tubuh Reni yang mulai bergetar.
"Kau tak berhak memarahinya!dia orangku!"
ujar Aera tak kalah sengit.
"Siapa kau?!"
Tanya Aera masih tak menyadari siapa wanita yang berdiri di hadapannya itu.
"Kau tak mengenalku?!Aku model papan atas,Javeline... sekaligus kekasih Alvarendra!!!"
Javeline setengah berteriak menyebut nama Alvarendra,membuat Reni yang berada di belakang Aera terperanjat kaget.
"Ka Reni pulang saja "
Tutur Aera tanpa melihat Reni,membuat Reni segera beranjak pergi dari ruangan itu meski ada kekhawatiran di matanya.
Selepas kepergian Reni,Aera kembali menatap Javeline.
"Halo nona Javeline,saya sudah sering mendengar nama anda.Maaf baru mengenali anda"
Ujar Aera santai namun masih dengan tatapan tajamnya.
Javeline menyilangkan tangan di dada,seraya tersenyum menang.
"Apa kau sering mendengar namaku dari mulut Alvarendra?"
Aera menyeringai mendengar ucapan Javeline yang penuh percaya diri,membuat
Javeline sedikit kaget dengan ekspresi Aera yang diluar perkiraannya.