WONDERWOMAN IN WONDERLOVE

WONDERWOMAN IN WONDERLOVE
TEMPAT MENUMPAHKAN KESEDIHAN



Hari itu sinar matahari terasa hangat menyentuh kulit Aera yang tengah memasukan koper ke dalam bagasi mobil,hari itu adalah hari rencana liburan keluarga Anggara setelah selama dua tahun tidak pernah berlibur bersama.


Tujuannya tidak jauh,hanya ke villa sederhana di kota sebelah dengan nuansa pegunungan yang asri.


Sepanjang perjalanan hanya ada canda antara mereka berempat.Aera berada tepat di belakang Ayahnya yang sedang mengemudi dengan kecepatan sedang,sementara adiknya Andra merengek sejak masuk mobil ingin berada di samping Ayahnya membuat Ibunya mengalah duduk di samping Aera.


Keriangan mereka hari itu adalah hadiah perpisahan pahit mereka.


Saat seorang anak kecil menyebrang lepas dari pengawasan orang tuanya,Ayah Aera membanting setir hingga mobil hilang kendali dan berguling,berhenti di posisi terbalik.


Semua tak sadarkan diri kecuali ibu Aera yang berusaha menarik Aera keluar dari mobil,beberapa orang sekitar ikut membantu menyelamatkan mereka.


Aera mengerjapkan matanya,merasa perih di dahinya dan melihat dia sudah ada beberapa meter dari mobilnya yang terbalik.


Andra dan Ayahnya sudah berlumur darah tak sadarkan diri,tubuh mereka sudah terhimpit di dalam mobil itu.


Ibu Aera berteriak histeris meminta siapapun menyelamatkan mereka,Aera bangkit dan berlari namun ditahan beberapa orang.


Lalu mobil itu meledak di depan mata Aera dan ibunya,api menghanguskan semuanya termasuk Ayah dan adiknya yang masih berada di dalam mobil.


Aera terjatuh lemas melihatnya,air matanya keluar tak tertahan.


Aera mengerang pedih menyaksikannya,meraung sejadi - jadinya meminta Tuhan mengembalikan Ayah dan adiknya.


****


Aera terkesiap bangun dari tidurnya di ranjang IGD,dia mencium bau rumah sakit yang sangat ia benci dan mulai merasa mual.


Alvarendra sedang membereskan beberapa administrasi dan sibuk menelpon orang tuanya.


Aera menatap sekelilingnya gelisah,dia berusaha turun dari ranjang itu dan berjalan melewati pasien lainnya.


Beberapa perawat menghadangnya namun Aera menepis mereka dan berjalan setengah berlari pergi dari keluar rumah sakit,dia tak mempedulikan rasa sakit dikepalanya.


Aera pun terhenti di trotoar jalan tanpa alas kakinya,melihat nanar ke arah mobil - mobil yang lalu lalang.


Suara deru mesin mobil - mobil yang melintas membuat kepalanya sakit,Aera memegangi kepalanya kuat - kuat.


Nafasnya kembali terengah - engah,suara itu membangkitkan kembali kenangan buruk itu.


Sampai sebuah tangan meraih tubuhnya dari belakang dan merengkuhnya,menyembunyikan kepala Aera di dalam dadanya yang bidang.


Aera tak peduli siapa itu,dia hanya merasa sakit kepalanya berangsur hilang dan nafasnya kembali normal.


Dia menengadahkan wajahnya ke arah orang yang memeluknya,Alvarendra menatapnya cemas.


"Aku mau pulang,ku mohon"


Aera memohon dengan air mata yang hampir jatuh,Alvarendra tak menjawab hanya mengiring tubuh Aera untuk mengikuti langkahnya.


Baru beberapa langkah Aera maju dia sudah hampir jatuh bila saja Alvarendra tak menahan tubuhnya,Alvarendra mendesah melihat kaki Aera yang lagi - lagi berlari tanpa alas kaki itu.


Alvarendra berjongkok di depan Aera dan menepuk pundaknya sendiri,menyuruh Aera naik ke punggungnya.


Aera tak bergeming dan menatap punggung Alvarendra ragu sesaat,namun akhirnya dia memutuskan untuk naik ke punggung Alvarendra.


Alvarendra mengangkat tubuh ringan Aera saat Aera telah melingkarkan lengannya di lehernya.


Hangat punggung Alvarendra membuat Aera merasa nyaman dan lebih tenang hingga tanpa sadar Aera menempelkan wajahnya ke pundak Alvarendra.


Alvarendra tersentak namun tetap berjalan pelan menikmati Aera yang mulai menjadikannya tempat untuk bersandar.


"Biarkan aku seperti ini,sebentar saja..."


Ucap Aera lirih,Alvarendra menghentikan langkahnya.


Saat itu Aera berusaha terlihat tegar dan dingin agar dia tak membuat ibunya yang sedih semakin sedih karena kesedihannya.


Namun hanya dengan kehangatan punggung Alvarendra ia merasa tak bisa membendungnya lagi,ia sudah menyimpan kenangan itu jauh di dalam hatinya tapi alam bawah sadarnya tadi mengingatkannya kembali akan tragedi tragis itu.


Bentengnya runtuh seketika.


"Jangan menatapku"


Ucap Aera pada Alvarendra yang hendak menoleh melihat wajahnya.


Alvarendra terdiam dan mengalihkan pandangannya ke depan,ia merasakan Aera yang mulai terisak lirih di punggungnya.


Aera menangis keras memanggil keluarga satu persatu,beberapa orang yang melintas melihat dengan tatapan heran namun Alvarendra tak menggubrisnya,ia ingin membiarkan gadis di punggungnya itu menangis sejadi -jadinya meluapkan emosi yang ia yakini tak ingin di lihatnya langsung.


Setelah beberapa menit Aera mulai tenang,Alvarendra kembali melangkahkan kakinya.


Jas Alvarendra sudah lembab oleh air mata Aera yang mengalir deras seiring dengan kesedihannya.


"Aku mau pulang"


Ucap Aera dengan suara serak,dia benar - benar benci rumah sakit.


"Ayo kita pulang"


Ucap Alvarendra membuat Aera kembali diam di punggungnya.


Kedua kalinya Alvarendra mendengar tanpa melihat wajah Aera yang menangis seperti itu menyadarkan Aera bahwa dia hanya bisa menangis saat bersama Alvarendra,ia mengeratkan lengannya pada Alvarendra.


"Menangis tidak berarti lemah"


Ucap Alvarendra pelan pada Aera yang masih sedikit terisak.


"Artinya kau masih manusia yang bisa merasa sedih"


Tutur Alvarendra masih berjalan pelan


Aera tak menjawab,ia hanya membenamkan wajahnya ke pundak Alvarendra.


Alvarendra pun membawa Aera pulang ke rumah dan memasuki kamar masih dengan menggendong Aera di punggungnya,Aera tak menolak Alvarendra sedikitpun saat turun dari mobil.


Dia tak punya tenaga lagi untuk berjalan atau berbicara lantang.


Alvarendra merebahkan tubuh Aera pelan di tempat tidur dan menyelimutinya dengan lembut lalu menatap wajah sembab Aera.


"Tidurlah,nanti Prima akan memeriksa keadaanmu"


Aera menganggukan kepala pelan dan memegangi selimutnya erat,entah mengapa ada rasa cemas saat lepas dari tubuh Alvarendra.


Alvarendra hendak beranjak mengambil segelas air namun spontan tangan Aera meraih ujung jasnya membuatnya berbalik kembali ke arah Aera.


"Tetap disini sebentar saja,aku mohon..."


Walau ragu melakukan hal itu,nampaknya Aera masih merasa cemas kenangan itu datang lagi dan memilih menahan Alvarendra pergi.


Alvarendra duduk di samping Aera namun tak mengucapkan sepatah katapun,hanya membiarkan Aera yang mulai memejamkan matanya.


Terlelap nyaman di samping Alvarendra yang menatapnya sedih.


Alvarendra tak tahu bagaimana kesedihan yang menggila di pikiran Aera,namun dia dapat merasakan bahwa gadis mungil itu menderita karena menyembunyikannya setengah mati di hadapan semua orang.Ia ingin menjadi tempat Aera mencurahkan kesedihannya itu agar Aera tak lagi merasa sendirian,hatinya sakit setiap mendengarkan isakan gadis itu.


Walau tak yakin bisa membuat Aera mencintainya,Alvarendra bertekad ingin menjadi tempat yang Aera cari saat dia merasa sedih.


Alvarendra menyelipkan rambut Aera yang sedikit menutupi wajah cantiknya yang sembab lalu tersenyum lembut.