WONDERWOMAN IN WONDERLOVE

WONDERWOMAN IN WONDERLOVE
MASIH TIDAK PEKA



Aera memegangi kepalanya,dia mengerjapkan mata dan segera bangun dari tidurnya.


Melihat tubuhnya yang hanya tertutup selimut dan mencoba mengenali ruangan di sekelilingnya.


"Aku disini"


Alvanrendra menarik Aera kedalam pelukannya,membuat Aera sedikit bernafas lega.


"Apa yang terjadi?"


Tanya Aera,dia hanya mengingat dirinya berada di dalam ruangan VVIP Club X terakhir kali.


"Kau dalam masalah"


Alvarendra menatap tajam pada Aera


"Kenapa? apa aku mabuk?aku hanya minum segelas!"


Ucap Aera masih tak menyadari bahaya yang mengancamnya semalam


"Hanya?! Kau di larang minum alkohol walau setetes!"


Memperat pelukannya


"Lalu bagaimana aku bisa disini?"


Aera semakin kebingungan,tubuh Aera sangat kuat terhadap alkohol dia tidak mudah mabuk berat seperti itu.


"Siapa yang mengajakmu bertemu?"


Memastikan kecurigaannya pada Aera


"Nona Hany dari Oktora group,mereka mengajak bekerjasama dengan Anggara.Apa kau bertemu dengannya?"


Aera merasa menyesal karena mungkin kerjasama itu gagal.


Alvarendra menggelengkan kepala dan menghela nafas kesal mengetahui Aera tak menyadari dirinya yang hampir saja celaka.


"Kau hampir celaka kalau aku tak datang bersama Kean"


Rahang Alvarendra mengeras membuat Aera mengernyitkan dahi,masih tak mengerti.


"Orang yang bersamamu kemarin memasukan sesuatu dalam minumanmu hingga kau tak sadarkan diri,dan meninggalkanmu bersama beberapa pria"


Alvarendra membalikan tubuh Aera hingga Aera kembali berbaring.


Aera membulatkan mata tak percaya,dia bergidik ngeri sesaat dan kembali menatap Alvarendra


"Lalu bagaimana aku sampai di kamar dan bangun dalam keadaan seperti ini?"


Menatap tubuh Alvarendra yang sama-sama hanya terbalut selimut di atasnya itu.


"Kau tau apa yang dia masukan dalam minumanmu?"


Tanya Alvarendra membuat Aera menggelengkan kepala pelan


"Obat perangsang dosis tinggi,aku sangat kewalahan saat kau mulai mendesah bahkan di hadapan Kean dan Prima,kau bahkan berusaha membuka bajumu di depanku dan Prima"


Ucap Alvarendra kesal


"A...Apa??? lalu bagaimana ..."


Wajah Aera merah padam mendengarnya


"Kau menyerangku tadi malam"


Ucap Alvarendra sambil menyeringai membuat Aera semakin malu.


"Aku tak ingat apapun..."


Ucap Aera pelan sambil kembali mencoba mencari ingatan semalam,namun dia tak menemukan apapun di memorinya.


"Mau aku ingatkan?"


Masih dengan seringai jahilnya menatap dalam wajah Aera yang bersemu merah


"Yang pasti aku tak menyangka istriku ternyata punya sisi yang liar seperti itu"


Tersenyum senang


"Hentikan!aku di bawah pengaruh obat!"


Aera merapatkan matanya sangking malu mendengar kata-kata nakal Alvarendra itu.


"Berhenti menatapku!"


Ujar Aera masih memalingkan wajahnya,namun Alvarendra masih menatapnya dalam.


Senyum terus tersungging di bibir Alvarendra.


"Berhenti!"


Alvarendra mengecup bibir Aera sekilas,dan mungkin saja mereka masih terus ada di kamar kalau saja Kean tidak menelpon Alvarendra.


Alvarendra beranjak dari tidurnya melepaskan Aera yang masih tersipu malu,lalu kembali berbalik


"Oktora Group itu blacklist,jangan berhubungan dengan mereka lagi!"


Sambil menunjuk dengan jari telunjuknya,baru saja Aera membuka mulutnya untuk menanyakan kenapa Alvarendra sudah menjawab telepon dari Kean dengan wajah serius.


Aera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya,dia menghela nafas melihat berapa banyak jejak yang Alvarendra tinggalkan di tubuhnya hanya dengan satu malam.


Setelah selesai mandi,Aera keluar dengan kimono handuknya.


Alvarendra terduduk di tepi tempat tidur dengan wajah marah,membuat Aera mendekatinya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Ada apa?"


Tanya Aera pada Alvarendra yang tak menatap wajahnya


Alvarendra melempar pil kontrasepsi milik Aera ke arahnya membuat Aera bergetar kaget.


"Kau tak mencintaiku?"


Tanya Alvarendra penuh amarah,Aera tak menjawab hanya tertunduk takut.


"Aku bertanya padamu!"


Alvarendra yang sudah marah tak menyadari suaranya sudah menggelegar membuat nyali Aera menciut.


"Aku hanya... takut kau meninggalkanku saat seorang anak sudah hadir"


Ujar Aera sambil memilin jemarinya


"Aku hanya tanya,apa kau mencintaiku?!"


Lagi,Alvarendra membentak Aera membuat Aera memejamkan mata sesaat.


Aera tak menjawabnya,hanya terus memilin jemarinya sambil menggigit bibirnya kelu.


"Kau tak pernah menyatakannya,aku tak pernah menuntutmu untuk menyatakannya.Aku pikir kau pun mencintaiku,tapi ternyata aku salah "


Alvarendra berdiri di hadapan Aera dan menatap tajam Aera yang masih menunduk.


"Aku hanya takut kau meninggalkanku"


Air mata Aera menggenang di kelopak matanya dan jatuh tanpa ijinnya.


Alvarendra meraih dagunya pelan membuat pandangan mereka bertemu


"Aku ragu... sejujurnya aku ragu terhadap perasaanmu"


Ucap Aera sambil menangis membuat Alvarendra menahan emosinya,dia terdiam ingin mendengarkan lanjutan ucapan Aera itu.


"Karena di awal kita tidak saling kenal dan tiba - tiba menikah,lalu kau juga menyatakan perasaanmu tak berapa lama setelah putus dengan Javeline.Aku merasa kau hanya menjadikanku tempat pelampiasanmu"


Meluap sudah apa yang selalu mengganggu pikirannya selama ini.


Alvarendra memejamkan mata sesaat dan kembali menatap Aera dalam.


"Aku takut setelah kau bosan,kau akan pergi dariku"


Ucap Aera getir


"Aku pikir selama ini aku sudah cukup menunjukan perasaanku,tapi kau masih tak mengerti?"


Alvarendra geram setengah mati dengan pikiran Aera itu.


"Aku tak mau salah mengartikan,bisa saja perasaanmu itu masih untuknya dan hanya membuatku menjadi tempat pelampiasanmu"


Aera menahan air matanya yang terus meluap,hatinya sakit saat mengucapkan hal itu.


Alvarendra melepas dagu Aera dan tertunduk dia tak habis pikir bagaimana Aera bisa menilai cintanya seperti itu.


Dia meninggalkan Aera yang masih menyeka air matanya,dan memutuskan menghentikan pertengkaran mereka.


Bukan hanya Aera yang merasa tersakiti,tapi Alvarendra pun merasa sedih karena di nilai seperti itu oleh satu - satu wanita yang di cintai saat ini.


Dia kini tak punya kepercayaan diri yang cukup untuk menghadapi Aera.Aera yang meragukan cintanya,yang entah mencintai atau hanya sekedar melakukan perannya dengan baik sebagai seorang istri.


Kenyataan Aera yang sama sekali tak menginginkan seorang anak darinya,membuatnya sadar Aera masih tak mengerti perasaan tulusnya.


Hari itu Aera tidak di perbolehkan bekerja,Alvarendra tak berbicara padanya sejak pertengkaran itu dan itu semakin membuat Aera merasa sedih.