WONDERWOMAN IN WONDERLOVE

WONDERWOMAN IN WONDERLOVE
TERSELAMATKAN



Alvarendra terhenyak mendengar nama Oktora dari mulut Reni dan semakin geram mendengar Aera menandatangani kontrak di sebuah Club bersama orang dari pihak Oktora.


Dia langsung memerintahkan Kean untuk melaju menuju Club tersebut,sambil menghubungi Adrian dengan geram.


"Apa yang kau lakukan?!"


Setengah berteriak saat Adrian mengangkat teleponnya.


"Hei... Apa maksudmu?"


Jawab Adrian Santai


Alvarendra memejamkan mata menahan emosinya yang meluap.


"Kau akan menyesalinya!"


Ancam Alvarendra sambil menutup sambungan teleponnya.


***


Alvarendra menerobos masuk bersama Kean yang segera mendorong tubuh seorang pelayan ke arah tembok.


"Dimana dia?!"


Jawab Alvarendra sudah tak sabar,membiarkan Kean yang hampir mencekik pelayan itu


"Maaf Tuan apa maksud anda?"


Pelayan itu gemetar ketakutan,Kean melempar tubuhnya ke lantai.


"Cari setiap ruangan"


Perintahnya pada Kean sambil mengambil arah yang berbeda.


Semua ruangan VVIP kosong,hampir saja mereka kehilangan harapan kalau tak mendengar suara ramai dari ruang VVIP di ujung lorong itu.


Alvarendra menendang pintu itu kuat hingga terbuka,memperlihatkan Aera yang sudah tak sadarkan diri bersama beberapa lelaki.


"Menyingkir dari istriku!!!!"


Kean segera menorobos dan membuat para lelaki itu terkapar tak berdaya dan melemparkan kartu namanya pada mereka,membuat mereka sadar siapa yang sedang mereka hadapi.


Setelah membenarkan posisi Aera,Alvarendra menghampiri salah seorang dari mereka yang sudah bergetar ketakutan.


"Siapa yang menyuruhmu?"


Ujar Alvarendra menahan emosinya


"Ka...kami tidak tahu tuan,kami hanya di panggil kesini untuk melayani Nona ini,dia hanya sendirian saat kami kemari"


Ujar pria yang sudah babak belur itu


"Tutup mulut busukmu itu!"


Mendengar kata melayani membuat amarah Alvarendra makin berkobar.


Seseorang yang lainnya sudah berlutut sambil mengatupkan kedua tangannya memohon pengampunan.


"Kami belum menyentuhnya Tuan,maafkan kami,kamu tidak tahu Nona adalah istri Tuan"


Menggosok - gosok telapak tangannya sendiri memohon ampun.


Alvarendra mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memperlihatkan layar ponselnya pada pria itu.


"Apa dia orangnya?"


Memperlihatkan foto Adrian pada pria yang berlutut itu,lalu ia menggelengkan kepala


"Bukan Tuan,ku dengar dia seorang wanita"


Masih dengan tangan mengatup berusaha lolos dari amukan singa di hadapannya.


Alvarendra mengernyitkan dahinya dan menggeser layar ponselnya lagi,memperlihat wajah sekretaris Adrian.


Lagi - lagi lelaki itu menggelengkan kepalanya,membuat Alvarendra bingung


"Kami sempat berpapasan dengan seorang wanita,tapi bukan dia orangnya,Tuan"


Aera menggeliat merasakan panas di tubuhnya dan mulai mengerang membuat Alvarendra segera menghampirinya,Aera masih terpejam.


"Pergi kalian!"


Segera menyuruh pria - pria itu pergi mendengar erangan Aera berubah menjadi desahan menggoda.


Pria - pria itu berlarian keluar meninggalkan ruangan itu


"Kean,selidiki hal ini,hubungi Prima segera.Aku akan membawa Aera pulang"


Kean pun meninggalkan ruangan itu sambil membawa tas milik Aera yang tertinggal,tak ada jejak apapun di sana.


***


Beruntungnya,ibu dan Ayah Alvarendra sedang berlibur dan tak ada di rumah.Entah terjadi kepanikan seperti apa bila mereka melihat Aera pulang dengan kondisi seperti ini.


Prima pun tak lama datang,dia tahu semenjak Aera hadir di rumah ini dia harus lebih siaga dari biasanya.


Alvarendra baru membaringkan tubuh Aera ke tempat tidur saat Prima masuk ke dalam kamarnya yang masih terbuka.


"Kenapa? Kenapa Kakak ipar pingsan lagi?"


Prima tak kalah panik melihat Aera yang sudah berpeluh dan menggeliatkan tubuhnya,Alvarendra langsung menutupi tubuh Aera dengan selimut tak ingin Prima sekalipun melihat tubuh istrinya.


"Periksa dia dengan cepat!"


Prima segera mendekat dan memeriksa tubuh Aera yang terasa dingin,namun Aera selalu berkata panas dan berusaha beberapa kali membuka kancing kemejanya bila tak di tahan Alvarendra.


"Siapa yang memberikan kakak ipar obat perangsang?!"


Prima menatap tajam Alvarendra,awalnya curiga namun dia tahu dari tatapannya sahabatnya itu tak mungkin melakukannya.


"Obat perangsang katamu?!"


Alvarendra menggeram kesal,siapapun harus hancur karena telah melakukan ini pada Aera.


"Kakak ipar pasti sangat tersiksa!"


Ucap Prima tak bisa menutupi kepanikannya,membuat Alvarendra kembali menatap Aera khawatir.


"Kau suaminya kan?!Kau hanya perlu melakukan itu,agar reaksi obatnya tidak berlebihan"


Alvarendra mengernyitkan dahinya bingung


"itu?"


Prima memejamkan mata kesal


"Kau ini pura - pura ya?!Aku hanya meninggalkan obat untuk menambah tekanan darahnya.Tapi kau yang bisa menolongnya sekarang!"


Alvarendra berdehem kaget mengetahui maksud Prima,Prima serius dengan ucapannya dan berlalu sambil menutup pintu kamar Alvarendra rapat.


Sepeninggal Prima,Alvarendra masih menatap khawatir Aera dan bertanya - tanya kalau memang Oktora yang melakukannya apa tujuannya hingga menarget istrinya itu.


"Panas...."


Aera mendesah dan membuka kancing bajunya


"Air..."


Aera mencengkram tangan Alvarendra,Alvarendra menggendong tubuh Aera dan membawanya ke kamar mandi.


Tubuh Aera yang masih terbalut bajunya yang sudah berantakan mulai basah karna air dari shower yang sengaja Alvarendra buka,Aera menahan tubuhnya dengan kedua lengannya ke dinding,masih setengah sadar.


Alvarendra melihatnya dari belakang,berharap air bisa meredakan efek obat itu.


Namun Aera kembali terhuyung membuat Alvarendra menangkap tubuhnya yang basah itu,tanpa peringatan Aera menciumi bibir Alvarendra penuh hasrat.


Alvarendra membalas ciuman itu,dia tak pernah merasakan gairah itu sebelumnya.


Dia tak tahu apa yang akan terjadi bila dia terlambat datang,Aera melepaskan ciumannya menatap nanar wajah Alvarendra.


"Tolong aku ... panas ..."


Alvarendra menciumi tubuh Aera dengan perasaan khawatir,namun hasratnya ikut terbakar mendengar desahan - desahan menggoda istrinya itu.


Sampai Aera meremang,dan mendorong tubuh Alvarendra menjauh.Dia tak sepenuhnya sadar,namun terbesit di pikirannya takut bahwa orang lain yang sedang bersamanya itu.


Alvarendra mendekat pelan,mendengar suara nafas Aera yang memburu.


"Tenang,ini aku"


Suara itu nampak teduh saat terdengar oleh Aera hingga Aera kembali memeluk Alvarendra dan menciumnya kembali.


Kau datang... aku tahu kau pasti datang...


Malam itu Alvarendra menyelamatkan Aera dari efek menyakitkan obat itu, dengan cara yang lembut.


Hingga Aera terlelap Alvarendra masih menatapnya khawatir,dia tak tahu bahwa musuhnya itu sudah mengetahui sosok Aera dan mulai mengincarnya.


Nampaknya aku lengah kali ini,aku akan membuat siapapun yang melukainya hancur !


Alvarendra memeluk tubuh Aera yang sedang terlelap dengan tatapan penuh kebencian,dia tak akan mengampuni siapapun yang berniat mencelakai istrinya .


****