WONDERWOMAN IN WONDERLOVE

WONDERWOMAN IN WONDERLOVE
BINGUNG



Alvarendra menyodorkan laptop baru yang di antar Kean pada Aera,Aera hanya meraihnya tanpa mengucapkan apapun lalu hendak beranjak dari tempat tidurnya.


"Kerjakan dari sana"


Alvarendra mendorong pelan bahu Aera hingga terduduk lagi di tempat tidur.


Aera tak melawan dan menatap Alvarendra yang masih berdiri mengawasinya dengan sikap protektifnya.


"Flashdiskku di tas"


Ujar Aera melirik ke tas miliknya di atas meja kerjanya,Alvarendra meraihnya dan menyodorkannya pada Aera.


"Waktumu dua jam,setelah itu kembali istirahat"


Aera mendelik kaget mendengar waktu singkatnya itu,namun tak ingin membuang waktu dan segera membawa flashdisk dari tas,mulai bekerja.


Sementara Alvarendra keluar dari kamarnya membiarkan Aera dengan pekerjaannya.


Alvarendra ijin tidak masuk kantor,dia memilih mengawasi istrinya yang workaholic itu untuk istirahat dan Ayahnya nampak senang mendengar itu demikan pula ibunya.


Alvarendra berjalan menuju dapur dan di sambut hormat oleh para pelayan yang sedang bekerja disana,mereka saling tatap bingung melihat tuan mudanya dengan pakaian santai berada di dapur.


Alvarendra tak menggubris mereka,hanya mencari sebuah cangkir dan coklat bubuk.


Salah seorang pelayan mendekatinya dengan perasaan segan


"Tuan muda sedang mencari apa,boleh saya bantu?"


Alvarendra mencari di bawah meja dapur namun tak menemukannya,dia tak pernah ada di dapur sebelumnya.


"Mana cangkir dan coklat bubuk?"


dengan sigap pelayan itu menyodorkannya pada Alvarendra,yang segera di raihnya dan mulai membuat secangkir coklat hangat.


"Ada pertanda apa tuan muda ke dapur ya?"


Batin para pelayan itu hampir bersamaan.


Alvarendra meninggalkan dapur sambil membawa secangkir coklat hangat di tangannya menuju kamarnya.


Aera fokus pada layar laptop dan tak menyadari kedatangan Alvarendra,Alvarendra menyodorkan cangkir itu ke arah Aera namun Aera masih fokus.


Sekejap mata Alvarendra meraih laptop dari pangkuan Aera,dan menyodorkan cangkir itu dengan tangan satu lagi.


"Apa itu?"


Tanya Aera yang masih sedikit kaget


"Coklat hangat"


Aera menatap wajah Alvarendra bingung,hari ini Alvarendra benar - benar membuatnya seperti seorang anak kecil.


"Kau ini hobynya membuat tanganku pegal ya?!"


Protes Alvarendra yang cangkirnya tak kunjung di terima oleh Aera


Aera meraihnya dan meminumnya dengan enggan,hanya seteguk dan hendak meletakannya di meja samping


"Habiskan"


perintah Alvarendra masih menahan laptop di tangannya,Aera meneguk habis sambil meringis seperti menelan sesuatu yang pahit dan memperlihatkan cangkir kosong ke arah Alvarendra yang langsung di tukar dengan laptopnya.


"Aku tidak suka coklat"


tutur Aera sudah kembali fokus ke laptopnya,membuat Alvarendra berdesah kesal


"Sama - sama "


Alvarendra berlalu dari hadapan Aera yang menutup mulut dengan tangannya,sesaat dia lupa siapa yang dia hadapi.


Aera memang tidak suka apapun yang manis dia hanya minum kopi tanpa gula untuk membuatnya fokus bekerja.


Aera pun akhirnya menyelesaikan desaignnya dengan cepat dan entah mengapa dia kembali mengantuk setelah meletak laptop di samping tubuhnya dan mulai tertidur.


Alvarendra yang masuk ke kamar melihat itu tersenyum senang.


"Baiklah,kau harus menuruti kemauanku hari ini"


lalu menyimpan segelas air di meja samping tempat tidur,dan merebahkan dirinya lagi di sebelah Aera setelah menyimpan laptop di atas meja kerja Aera.


Aera tertidur lelap,dia seperti orang yang kekurangan tidur belakangan ini karena banyak yang dipikirkannya.


Kesedihan karena kehilangan ibunya juga adalah salah satu hal yang membuatnya sulit tidur di tambah dengan suasana asing di kamar Alvarendra,namun hari ini dia tertidur lelap dihadapan Alvarendra.


Alvarendra kembali menimbang perasaannya sambil memandangi wajah Aera yang nampak lugu dalam tidurnya.


Rambut Aera yang berserakan ke wajahnya membuat Alvarendra tak tahan untuk merapihkannya,dan melihat wajah Aera.


"Dia cantik,dan nampak sedih..."


Batin Alvarendra bergetar mengingat wajah Aera yang menangis di dalam lemari waktu itu.


"Dia bisa sakit kalau menyimpan kesedihan seperti itu"


Wajah Alvarendra memandang Aera sedih,mungkin kalau masih ada adiknya mungkin seumur dengan Aera.


Alvarendra menarik tangannya setelah merapihkan rambut Aera dan menatap dalam wajah Aera.


Bulu mata Aera yang lentik panjang dan alisnya yang terbentuk rapih membuatnya terlihat sempurna saat terlelap,hidung yang mungil tepat bersanding dengan bibir yang terbentuk sempurna membuat Alvarendra tersenyum tipis.


Perhatiannya kini berpusat ke bibir Aera, masih teringat bagaimana dia mencium Aera paksa tempo hari.


Entah berapa kali Alvarendra membayangkan ciumannya itu berbalas,bibir Aera yang manis selalu membuatnya mendambakan balasan ciuman dari Aera.


Alvarendra mendekat lagi ke arah Aera,memejamkan matanya agar tak bertindak lebih jauh.


Alvarendra ikut terlelap tidur bersama Aera,dia sekarang menyadari dirinya sedang tertarik pada Aera.


Aera kini seperti pusat magnet untuknya yang selalu menarik dirinya untuk lebih dekat dengannya.Namun,Alvarendra masih belum punya cara untuk mendekati Aera terlebih dengan keingin Aera yang ingin bercerai dengannya membuat Alvarendra gundah.


Ketukan di luar pintu kamar membangunkan Alvarendra,ia segera bergegas membuka pintu agar Aera tak terbangun.


Ibunya membawa semangkuk bubur yang pasti milik Aera itu dengan senyum manis,melihat wajah mengantuk Alvarendra membuatnya sadar anaknya benar - benar menjaga Aera seharian ini.


Nyonya Jayadi celingukan berusaha melihat kedalam kamar yang masih terhalang oleh tubuh Alvarendra.


"Biar aku saja bu,dia masih tidur"


Meraih mangkuk dari tangan ibunya dan menutup pintu pelan.


Ibunya terperangah setengah tak percaya,kini Alvarendra sudah membuat Aera miliknya seorang tanpa membiarkannya masuk melihat Aera.


Namun ada rasa senang di balik kekesalannya itu,Alvarendra perlahan mau menjaga Aera seperti seorang suami pada umumnya.


Alvarendra menyimpan mangkuk bubur di meja dekat tempat tidur bersebelahan dengan ponsel milik Aera yang sesaat kemudian bergetar karena sebuah panggilan masuk.


Kak Rafanza


Nama seorang pria terpampang di layar ponsel Aera,Alvarendra mengangkat panggilan itu tanpa bersuara.


"Aera,aku mencarimu di kantor tapi katanya kau tidak masuk hari ini.Aku baru pulang dari Jepang,mengapa kau tak menghubungiku?"


cecar suara seorang pria di seberang sana,membuat rahang Alvarendra mengeras.


"Aera sedang tidur,aku suaminya"


masih tetap menjaga suaranya agar tak membangunkan Aera.


"Ah... jadi benar berita tentang pernikahan Aera itu ya,baiklah sampaikan pada Aera untuk segera menghubungiku setelah dia bangun"


belum sempat Alvarendra protes,Rafanza sudah memutuskan teleponnya membuat Alvarendra semakin kesal dan menyimpan ponsel Aera dengan kasar.


"Siapa dia sampai berani menyuruhku?!"


Geram Alvarendra dalam hati,dan menatap Aera kesal.


Dia memang tak tahu banyak tentang Aera,tapi entah mengapa saat ini dia gusar karena panggilan dari lelaki yang bernama Kak Rafanza itu.


Dia menepuk lengan Aera beberapa kali membuat Aera mengerjapkan matanya pelan,dan segera beringsut duduk ditempat tidur.


"Ibu membawakanmu bubur,makanlah !"


Alvarendra hanya menunjuk bubur itu dengan dagunya.


Aera meraihnya dengan enggan,dan memaksakan diri untuk makan.


Alvarendra masih bersidekap di hadapan Aera dan memasang wajah kesalnya membuat Aera berhenti makan.


"Kau mau?"


Tanya Aera sambil menyodorkan sesendok bubur ke arah Alvarendra,dalam sekejap Alvarendra menyambutnya dan mengunyahnya cepat membuat Aera kaget.


Ia hanya berbasa basi karena Alvarendra terus menatapnya,tapi dia sama sekali tak menyangka Alvarendra makan dari sendok miliknya.


"Kenapa kaget? kau kan menawarkannya!"


Ucap Alvarendra masih kesal


Aera tak menjawabnya dan kembali makan dari sendok yang baru saja masuk ke mulut Alvarendra dengan ragu.


"Selama kau masih istriku,kau harus menjaga agar kau tidak berselingkuh!"


Aera tersedak mendengarkan kata - kata itu,dan menutup mulutnya menahan batuk.


"Apa maksudmu?"


tanya Aera heran


"Jangan berselingkuh"


ucap Alvarendra penuh penekanan dan bernada ancaman.


"Kenapa kau tiba - tiba berkata seperti itu.Lagipula kita bukan suami istri sepenuhnya,kau pun masih menjalani hubungan dengan Javeline beberapa hari yang lalu kan?!"


protes Aera kesal


"Jadi kau berniat berselingkuh?!"


Semakin marah dengan protes Aera.


"Aku tidak akan berselingkuh di belakangmu,aku akan berterus terang bila ada orang yang kusukai dan akan menggugat cerai agar tidak ada kata-kata berselingkuh"


Tutur Aera penuh kejujuran,membuat Alvarendra memejamkan matanya kesal.


"Kau akan tahu akibatnya kalau kau dekat dengan pria lain!"


Ancam Alvarendra sambil beranjak berdiri


Aera semakin tak berselera makan,dia menyimpan mangkuk di atas meja dan balas menatap kesal Alvarendra.


"Kita ini menikah karena permintaan Ayahmu,tidak ada perasaan apapun antara kita.Kalau kau bilang aku harus menunggumu mengambil keputusan dan tidak boleh dekat dengan lelaki manapun,lalu apa yang harus ku lakukan? menunggu sampai kau tak menginginkanku disini?!"


Emosi Aera meluap di depan Alvarendra


Entah mengapa Alvarendra selalu berhasil memancing setiap emosinya yang selalu tersembunyi di balik wajah tenangnya.


"Sebenarnya apa maumu?! kau kadang baik padaku dan terkadang kau menjengkelkan bahkan kasar padaku!aku benar - benar bingung dengan sikapmu!"


Aera tak lagi bisa menyembunyikan kebingungannya lagi.


Alvarendra tak bergeming,dia kesal dengan ucapan Aera yang selalu menyebut ingin berpisah darinya namun tak bisa menjawab semua pertanyaan Aera.


"Setelah kita berpisah,aku juga masih ingin punya kehidupanku yang baik "


ucap Aera lirih


"Hentikan!!!!"


Suara Alvarendra menggelegar bergema hingga memenuhi kamar itu membuat Aera terbungkam.


"Aku tak ingin mendengar lagi kata perpisahan lagi!!!"


Belum sempat Aera bertanya Alvarendra berlalu dengan langkah cepatnya,meninggalkan Aera yang masih tak mengerti mengapa ia begitu tak ingin membahas perceraian.