WONDERWOMAN IN WONDERLOVE

WONDERWOMAN IN WONDERLOVE
IJIN



"Apa Rendra mengijinkan?"


Tanya Tuan Dian sesaat Aera mengutarakan keinginannya untuk bekerja seperti biasa di perusahaan Anggara.


Walau sudah berpindah kepemilikan,tuan Dian belum mengganti nama perusahaan yang dulunya milik Aera tersebut beliau tahu dengan mengubah nama perusahaan akan ada gosip bahwa Aera menjual dirinya kepada keluarganya,meskipun nyatanya gosip itu sudah menyebar jauh sebelum ia mengganti nama perusahaan.


Bagaimanapun Aera sekarang adalah menantu keluarga Jayadi,nama baiknya di pertaruhkan bila Aera di pergunjingkan.


Aera mengusap tengkuknya gelisah,dia belum bicara apapun pada Alvarendra mengenai niatnya itu.


"Kalau Rendra mengijinkan,pergilah bekerja.Karena bagaimanapun dia suamimu"


Ucapan tuan Dian ada benarnya,bagaimanapun Aera harus meminta ijin terlebih dahulu pada Alvarendra mengenai keputusannya itu.


"Saya akan bicarakan malam ini tuan..."


Ucap Aera santun


"Sampai kapan kau memanggilku tuan ?Aku ayah mertuamu kan?"


Aera tersenyum mendengar ucapan hangat tuan Dian.


Tuan Dian ternyata sehangat ini saat berhadapan dengannya,walau beliau tahu hati anaknya belum terpaut pada Aera.


"Alvarendra mood nya sedang tidak bagus malam ini,tapi hari ini aku senang"


tuan Dian tertawa renyah,membuat Aera kebingungan


"Orang kepercayaanku melaporkan Javeline tertangkap basah saat berselingkuh"


Aera menutup mulutnya kaget mendengar berita itu.


Sekarang ia memahami mengapa Alvarendra bersikap seperti tadi,rupanya karena kegalauannya dia melampiaskannya pada Aera.


"Dia tidak bersikap aneh?"


selidik tuan Dian


"Sedikit aneh"


tutur Aera jujur,tuan Jayadi tersenyum sambil menyandarkan tubuh ke kursinya.


"Ini kesempatan bagus,kau bisa mengisi kekosongan hatinya"


Aera tersenyum kecut


Aera sama sekali tak berniat merebut hati Alvarendra,dia hanya menikah untuk menyelamatkan ibu dan perusahaannya.


Namun,dia tahu harapan tuan Dian padanya dan tuan Dian tahu Aera tidak mencintai anaknya.


"Kau pun tak berapa lama lagi akan jatuh pada pesonanya"


kata - kata tuan Dian penuh percaya diri dan kepastian,membuat Aera lagi - lagi tersenyum kecut.


"Tak ada seorang gadis yang mampu menolak pesona Alvarendra Jayadi"


tuan Dian nampak sengaja menanamkan kata - katanya untuk Aera.


"Jangan terburu - buru,aku dan istriku hanya mengharapkan seorang cucu yang dilahirkan dengan penuh cinta dari kalian "


Membayangkannya saja membuat Aera memerah.


"Saya akan fokus untuk mengembalikan produktifitas perusahaan Anggara saat ini,saya tidak mau memaksakan perasaan Alvarendra"


kejujuran itu membuat tuan Dian sedikit muram,dia menyadari gadis dihadapannya adalah gadis kuat yang berhati baja.


Ucapan Aera pun membuatnya ragu,apa anaknya bisa membuat Aera berbalik mencintainya dalam waktu dekat,mengingat karakter yang di ceritakan orang suruhannya yang ia utus mengawasi Aera sebelum gadis itu datang meminta pertolongannya.


*Beberapa bulan lalu...


Tuan Dian sedang mencari seorang gadis yang layak untuk anaknya,awalnya dia tak ingin menjodohkan Alvarendra dengan siapapun namun,saat Alvarendra melawannya dan memintanya merestui dengan seorang model cantik bernama Javeline dia mulai gelisah.


Dia tahu persis Javeline yang selalu terlibat skandal,dia pun menerima laporan bahwa Javeline sangat ambisius mencapai tujuannya.


tuan Dian tak ingin punya menantu seperti itu,jadi dia memutuskan menjodohkan Alvarendra.


Dari sekian banyak gadis,tuan Dian hanya melirik seorang gadis yang baru satu tahun terpaksa menjabat sebagai seorang CEO perusahaan di usianya yang masih belia karena kecelakaan tragis orang tuanya.


Awalnya,dia hanya prihatin mendengar kisahnya.namun setelah beberapa laporan dan foto yang masuk,tuan Dian sungguh ingin Aera menjadi menantunya.


Tak seperti kebanyakan anak orang kaya lainnya,Aera mandiri dan tidak banyak bertingkah.


Hiburan Aera hanya merokok di atap gedung sambil melamun dan beberapa laporan yang dia terimanya Aera tidak suka berada di tempat ramai seperti club.


Di usianya yang seharusnya bersenang - senang ,Aera fokus menjaga ibu dan perusahaannya.


Hingga kesempatan menjadikan Aera menantunya datang*....


Aera menunggu reaksi tuan Dian yang sibuk dengan kilasan masa lalunya sendiri,tuan Dian meliriknya dan tersenyum.


"Nampaknya aku tak salah memilihmu,Alvarendra sepertinya akan mendapatkan kejutan - kejutan berkat pemikiranmu yang langka"


Aera mengerjapkan matanya tak mengerti maksud mertuanya itu.


"Pergilah...minta ijinnya dulu"


tuan Dian menyudahi percakapannya dengan Aera.


Aera menunduk sopan dan berlalu dari hadapannya.


Aera kembali ke kamar,dan melihat Alvarendra bersandar di tempat tidurnya sambil memainkan ponsel.


Pikiran Aera berlarian ke pembicaraannya bersama mertuanya barusan,dia mengamati wajah Alvarendra yang murung lalu duduk di ujung tempat tidur dengan ragu.


"Alvarendra..."


Aera memanggil dengan suara pelan tak ingin mengusik pria yang sedang galau itu.


"hmm..."


Acuh menjawab panggilan Aera,namun Aera sudah mengumpulkan niat untuk meminta ijin pada Alvarendra.


"Aku minta ijin untuk bekerja di kantor Anggara,tuan Dian sudah mengijinkan dan bilang harus minta ijin juga padamu"


tutur Aera tanpa basa -basi


Alvarendra menyimpan ponselnya dan mengalihkan pandangan ke arah Aera.


"Lakukan sesuka hatimu,aku tidak peduli"


ujar Alvarendra tajam seraya menarik selimutnya dan berbaring.


"Terima kasih"


Ungkapan tulus yang keluar dari mulut Aera membuat Alvarendra yang sudah memejamkan mata membuka matanya,namun tak bergeming.


Dia pikir ucapan tajamnya hanya akan membuat Aera bersungut - sungut namun Aera malah berterimakasih dengan tulus,membuat dirinya merasa kalah karena sudah salah menebak reaksi gadis itu.


Aera tersenyum senang,akhirnya dia diperbolehkan lagi bekerja di kantornya.


Dia sudah sangat merindukan tempat itu,tempat dia dulu mengganggu almarhum Ayahnya saat bekerja dan bermain dengan almarhum adiknya.


Aera mulai meringkuk di sofa dan mulai terlelap,dia butuh tidur cukup kali ini supaya bisa beraktifitas dengan baik di perusahaan Anggara.


Tanpa di sadari Alvarendra menatapnya dalam kegelapan,merasa resah dengan posisi tidur Aera yang nampak sangat tak nyaman.


Hingga beberapa jam kemudian Alvarendra membawakan selimut dari lemari untuk Aera dan menyelimutinya.


Melihat tubuh mungil Aera yang meringkuk di atas sofa sedang terlelap,membuat Alvarendra merasa dia sudah membuat gadis itu menderita.


"Bagaimana mungkin kau tertidur pulas dengan posisi itu seperti kucing liar "


Alvarendra naik ke tempat tidurnya,mengingat kembali perlakuannya pada Aera yang sebenarnya hanya ingin menyelamatkan ibu dan perusahaannya.


"Apa aku terlalu keras padanya?"


Entah mengapa melihat Aera yang tertidur membuat Alvarendra berhenti memikirkan Javeline yang baru saja dia blokir nomor ponselnya.


Tanpa sadar perhatiannya teralihkan,sedikit demi sedikit