
Aera menyilangkan tangan di dada tanda dia sedang tidak nyaman dengan orang di hadapannya dan dia maju selangkah lebih dekat ke arah Javeline.
"Tapi belakangan ini Alvarendra nampak tak ingin namamu disebut,apa mungkin karena dia tahu siapa dirimu sebenarnya?"
masih dengan nada tak sukanya.
Entah mengapa pertemuan pertamanya dengan Javeline membuatnya tak menyukai gadis itu,mungkin dari aura sombong dan ambisiusnya yang bertentangan dengan karakter Aera.
Javeline mendelik marah pada Aera,dia nampak gusar tak menyangka rivalnya ini sudah mengetahui niat hatinya yang ingin memanfaatkan Alvarendra.
"Tadinya aku ingin mendukungmu,dan memang berniat meninggalkan Alvarendra karena pernikahan ini memang tak di landasi cinta.Tapi melihat siapa wanita yang dia puja selama ini rasanya aku ingin menjodohkannya dengan wanita yang lebih baik darimu,nona Javeline"
"Plak!!!!"
Javeline menampar pipi Aera keras hingga sudut bibir Aera mengeluarkan sedikit darah,lalu mencengkram dagu Aera kuat - kuat.
"Katakan berapa tuan Dian membayarmu hingga kau seberani ini?!"
Javeline sudah tak lagi berpikir jernih,dia sudah tertutup amarahnya sendiri.
Dan seseorang membuka pintu ruangan itu membuat Javeline terperanjat,namun dia masih tetap mencengkram dagu Aera kuat - kuat.
"Kau takan mungkin bisa membayarnya seandainya kau tahu"
Aera menyeringai mengetahui pikiran Javeline sebenarnya sudah tersudut.
"Hentikan Javeline!!!"
Bentak Alvarendra melihat dagu Aera yang masih di cengkram keras oleh wanita itu.
Kean sudah siap menerima perintah dari tuan mudanya dengan pandangan siap menyerang.
Javeline melirik Kean dan menyadari dia dalam bahaya bila terus mencengkram Aera,dia melepaskan wajah Aera kesal.
Lalu dengan tingkah manjanya mendekati dan memeluk lengan Alvarendra,dalam sekejap Alvarendra menarik tangannya kasar dan merangkul Aera.
Aera kaget dengan reaksi Alvarendra itu namun tetap diam dalam rangkulannya.
"Keluar dari sini!ini peringatan terakhir,jangan sampai kau menyesalinya"
Javeline bergetar tak percaya hati Alvarendra telah berubah,dia melewati Kean dengan wajah sedih dan marah.
Alvarendra melepas rangkulannya dan langsung melihat wajah Aera yang sudah terlihat pucat.
"Kau tak apa?"
Dia tak bisa lagi membohongi ekspresinya,dia khawatir setengah mati dan itu di rekam jelas dalam memory sekretarisnya yang terpaku menyaksikan adegan itu.
Aera tak menjawab,dia meraih tas di mejanya dan berjalan keluar ruangannya.
"Aku mau pulang"
Aera memegangi perutnya yang semakin sakit,tak mempedulikan Alvarendra dan Kean yang membuntutinya.
Di mobil Aera memalingkan wajahnya ke kaca jendela mobil tak ingin Alvarendra melihat ekspresinya yang sedang menahan sakit,sementara Alvarendra merasa bersalah telah membiarkan Javeline menerobos masuk kantor Aera dia harusnya tahu persis Javeline akan melakukan hal semacam itu dengan sifatnya yang naif.
Aera bahkan tak memberi aba - aba saat turun dari mobil dan setengah berlari memasuki rumah kediaman keluarga Jayadi yang segera di sambut oleh para pelayan.
"Bawakan obat penahan sakit ke kamar"
Ucapnya pada Revan,kepala pelayan rumah itu
Revan nampak kaget mengetahui ada yang tidak beres dengan nonanya namun tak sempat berkata apa-apa karena Aera sudah berlalu dari hadapannya dan disusul oleh Alvarendra yang nampak cemas.
"Dia menyuruhmu apa ?"
Melihat Aera yang biasanya tak pernah berkomunikasi dengan para pelayan membuatnya curiga.
"Nona minta di bawakan obat penahan sakit ke kamar,tuan muda"
Ucap revan sopan
Semakin panik Alvarendra,benaknya sudah berkeliaran jauh menuduh Javeline memukul Aera,dia berlari menyusul Aera.
Aera menutup pintu kamar mandi asal dan membasuh wajahnya dengan air,sudut bibir nya terasa perih dan bekas tamparan Javeline masih terasa panas di pipinya.
Dia berpegangan pada sisi wastafel,rasa nyeri diperutnya semakin terasa menyiksa di tambah kepalanya yang terasa berat membuatnya tak mampu membuka matanya.
Aera jatuh pingsan tergeletak di kamar mandi tepat saat Alvarendra menerobos pintu kamar mandi dengan penuh kecemasan.
"Aera!"
Alvarendra meraih tubuh mungil Aera dan mengguncangnya berharap Aera sadar,namun Aera tidak bergeming.
Dia mengangkat tubuh Aera dan meletakannya di tempat tidur
"Panggilkan Dokter sekarang!"
perintahnya pada Revan yang baru masuk membawa segelas air dan obat penahan sakit
Revan yang melihat hal itu segera menyimpan air dan obat di meja dan langsung berlari untuk menghubungi Dokter Prima,dokter kepercayaan keluarga Jayadi sekaligus sahabat Alvarendra.
Alvarendra mengusap dahi Aera yang penuh peluh lembut dengan wajah cemasnya,suhu tubuh Aera yang dingin membuatnya gusar menunggu Prima datang.
Sampai beberapa menit kemudian Prima datang bersama seorang perawatnya,Alvarendra bergeser membiarkan Prima memeriksa Aera.
Prima menatap Alvarendra setelah selesai memeriksa dan menyuruh perawatnya memasang infus di tangan Aera.
Aera mengerjapkan matanya pelan merasakan linu saat jarum infus menembus kulitnya,dia kembali sadar dan kaget melihat jarum infus telah tertancap di tangannya.
"Kau sadar?Apa yang terjadi? Apa dia memukulmu"
cecar Alvarendra sambil duduk disamping Aera,Aera hanya menggelengkan kepala seraya duduk bersandar di tempat tidur.
Prima membuka suara,membuat Alvarendra menyadari kekhawatirannya salah.
"Aku akan meresepkan obat dulu,kalau keadaannya tidak membaik istrimu harus diperiksa di rumah sakit"
Ucap Prima sambil menuliskan resep untuk Aera.
"Kalau begitu aku pulang dulu,jangan lewatkan jam makan lagi kakak ipar dan habiskan obatnya"
Prima mengedipkan mata pada Aera sambil memberikan resep pada Alvarendra membuat Alvarendra mendelik kesal melihat tingkah dan mendengar panggilan Prima pada Aera,sementara Aera tersenyum lemah.
Prima memang tidak menyukai Javeline,dia senang akhirnya sahabatnya ini menikahi wanita pilihan ayahnya.
Setelah Prima dan perawatnya berlalu Tuan dan Nyonya Jayadi masuk dengan tatapan cemas dan langkah terburu - buru hingga mengabaikan Prima yang berpapasan dengan mereka,membuat Prima menyadari sesepesial apa istri sahabatnya itu di rumah ini.
"Aera kenapa Rendra?"
Nyonya Jayadi dengan cepat menggantikan posisi anaknya yang baru beranjak dari samping Aera,namun matanya mencecar anaknya.
"Pencernaannya bermasalah karena melewatkan jam makan"
Ibunya itu mengelus pundak Aera yang merasa tak enak hati di khawatirkan seperti itu,dia makin merasa gelisah saat Alvarendra dan Ayah mertuanya ikut menatap cemas kepadanya.
"Aku hanya terlalu sibuk hingga lupa makan saja bu"
Aera berusaha meredakan kekhawatiran itu,Nyonya Jayadi menyibak poni Aera yang menutupi wajahnya lembut dan terperangah melihat pipi dan sudut bibir Aera yang luka.
"Kenapa ini?!Siapa yang melakukannya!"
Aera berusaha menutupi pipi dan bibirnya namun sia - sia,kedua mertuanya sudah melihatnya.
"Siapa yang telah melakukannya Aera?!"
Nada Nyonya Jayadi semakin panik tak mendapat jawaban dari menantunya itu.
"Javeline"
Jawab Alvarendra dengan nada tak suka
"Apa?!beraninya dia menyentuh menantu keluarga Jayadi!lalu apa yang kamu lakukan Rendra?!membiarkannya?!"
Aera menarik lembut lengan nyonya Jayadi berusaha menenangkannya
"Ibu,Alvarendra membelaku, jangan menyalahkannya"
Ibu Alvarendra sedikit tenang mengetahui anaknya membela istrinya,namun hatinya masih marah pada wanita mengerikan itu.
"Rendra,ikut Ayah!"
Tuan Dian yang sedari tadi diam berlalu di ikuti dengan Alvarendra yang membuntutinya.
"Ibu..."
Aera melihat kemarahan di mata ibu mertuanya dan ingin meredamnya.
"Ibu,Alvarendra tidak bersalah.Wanita itu yang datang padaku dan aku sedikit memprovokasinya"
Nyonya Jayadi menatap wajah menantunya heran
"Kenapa kau memprovokasinya?Dia mengerikan Aera,kau harus berhati - hati"
Kini tangan mereka saling berpegangan erat bagai ibu dan anak perempuan sejatinya.
Aera mengalihkan pandangannya,dia tanpa sadar telah memprovokasi Javeline dengan kata-katanya.
"Entahlah bu,mungkin karena aku tidak menyukai auranya"
Aera tersenyum sinis,Nyonya Jayadi tertawa tertahan mendengar jawaban Aera.
"Aku tahu gadis itu memang punya kesan tidak menyenangkan,tapi sepertinya Aeraku ini sedang merasa cemburu dengan kehadiran Javeline hingga semarah itu ya?"
Aera tersenyum lemah mendengar Ibu mertuanya menggodanya tentang perasaanya terhadap Alvarendra,Aera merasa dia tidak sedang cemburu.
Dia memprovokasi Javeline karena melihat betapa percaya dirinya wanita itu datang kepadanya setelah berselingkuh dari Alvarendra.
"Dia begitu tidak tahu malu"
Aera jujur mengutarakan penilaiannya terhadap Javeline,membuat mata ibu mertuanya membulat.
"Ibu seandainya aku dan Alvarendra berakhir,aku harap anak ibu tidak memilih dia sebagai istrinya"
Ucap Aera tulus,membuat Nyonya Jayadi muram
"Aera,tak bisa kah kau menyukai Alvarendra?walaupun pernikahan ini di awali dengan syarat dari suamiku,aku benar - benar menyukaimu dan ingin kau selamanya menjadi satu - satunya menantuku"
"Kau mengingatkanku dengan almarhum adik Rendra "
Ucap Nyonya Jayadi sedih sambik mengusap rambut Aera.
Aera kaget mendengar Alvarendra pernah mempunyai seorang adik,setahunya Alvarendra adalah anak tunggal.
Nyonya Jayadi segera menyadari keingin tahuan menantunya itu dan tersenyum lembut .
"Biar Alvarendra yang menceritakannya nanti untukmu,sekarang kau harus beristirahat"
Ujarnya sambil meninggalkan Aera di kamar.
Aera penasaran mengapa dirinya bisa membuat Nyonya Jayadi mengingat almarhum anaknya itu,namun dia memilih untuk kembali merebahkan tubuhnya saat kepala dan perutnya mulai kembali protes.
****