
Aera menghisap rokoknya sambil memandangi matahari yang mulai termaram diselimuti senja di atap gedungnya,pekerjaan hari ini selesai lebih awal karen Aera mengerjakannya tanpa makan siang.
Tidak ada nafsu makan yang menghampirinya semenjak pertengkarannya dengan Alvarendra,bahkan satu buah apel sudah membuatnya ingin mengeluarkannya lagi dari perut.
Sudah beberapa hari pula di tiap malam dia menangis dalam diamnya,hatinya hancur saat Alvarendra ikut mengacuhkannya.
Aera menghela nafas panjang masih menengadahkan wajahnya menatap warna lembayung di langit yang kian redup.
Aera menginjak puntung rokoknya,bahkan seleranya merokok pun ikut memburuk karena suasana hatinya.
"Kau seharusnya lebih meyakinkan aku bukan malah mengacuhkanku!!!! Dasar bodoh!!!!"
Aera dengan kesal meneriakan isi hatina ke udara.
"Si bodoh datang!"
Kehadiran Alvarendra di samping yang tiba - tiba membuat tubuhnya oleng dan hampir jatuh bila Alvarendra tak menahan tubuh mungilnya itu.
Alvarendra menatap dalam kedua bola matanya dan mengembalikan posisi berdiri Aera.
"Kenapa kau kesini?"
Tanya Aera pura - pura tak mengerti arti ucapan Alvarendra
"Aku menunggumu di mobil,tapi kau tak kunjung keluar.Setelah Kean menanyakan pada Security katanya kau selalu diatap sebelum pulang kerja"
Jelas Alvarendra menatap langit yang termaram berganti dengan taburan bintang.
Mereka diam merasakan hembusan angin yang berhembus kencang,Alvarendra melirik Aera yang mulai sedikit menggigil menahan angin dingin.
Alvarendra melepas blazernya dan menyampirkannya di bahu mungil istrinya itu,Aera menatap Alvarendra yang merapatkan blazernya yang cukup besar di tubuh Aera.
"Aku akan meyakinkanmu,maafkan aku atas segala perbuatanku di awal pernikahan kita.Aku sungguh - sungguh ingin menjalani pernikahan ini selamanya denganmu"
Ucap Alvarendra lembut dengan wajah menunduk malu.
Aera tersenyum tipis mendengarnya
"Maafkan aku juga yang tidak bisa mengungkapkan ketakutanku,aku hanya ingin melihat perasaanmu lebih jauh"
Aera memilin jemarinya sambil menunduk
Dia menyadari,dia bukanlah orang yang pintar berkata - kata apalagi mengekspresikan perasaannya.
Alvarendra merengkuh tubuh mungil Aera dalam dekapannya,ada nafas lega saat dia memeluk tubuh istrinya itu.
Egois rasanya bila dia memaksa Aera percaya secepat ini tentang perasaannya,Alvarendra sadar dia harus lebih sabar dengan segala karakter Aera yang tertutup rapat itu.
"Aku merindukanmu"
Alvarendra menciumi rambut Aera sambil memejamkan mata,merasakan kehangatan dari tubuh istrinya itu.
Aera tak menjawab dia hanya mengeratkan pelukannya.
Bahasa tubuh Aera lah salah satu komunikasi yang dapat Alvarendra rasakan,bahasa bahwa cinta Aera pun sama besarnya dengan cinta miliknya dan hanya dia yang dapat mengartikannya.
****
Dia mengantar Alvarendra dan Aera menuju rumah utama dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya.
Nampaknya harapan Nyonya dan Tuan besar untuk mendapatkan cucu mungkin akan segera terwujud ...
Gumannya melepas kepergian Alvarendra dan Aera sesampainya di depan pintu.
****
Alvarendra yang sudah merindukan Aera pun tak mau melepaskan Aera sedetikpun,bahkan memilih makan malam di dalam kamar agar bisa memandangi Aera sepuasnya tanpa gangguan siapapun.
Aera hanya tersipu saat Alvarendra terus menatapnya,bagi Aera... Alvarendra adalah lelaki tersempurna yang pernah dia temui,parasnya selalu membuatnya ingin tersenyum dan mata sayunya selalu menghanyutkan.
Saat tidurpun Aera dan Alvarendra masih bertatapan lekat mereka seakan sedang merekam momen ini perlahan dan tak ingin berlalu begitu saja.
"Apa kau menganggumi parasku?"
Tanya Alvarendra masih menatap wajah istrinya.
Aera tak menjawab hanya terkekeh malu-malu,membuat hati Alvarendra bergejolak sangking gemasnya.
"Jawab aku!atau setidaknya berikan satu kecupan untuk jawaban iya!"
Alvarendra merajuk membuat Aera kembali tersenyum
"Baiklah,aku yang lebih dulu mengatakannya.Kau itu selalu membuatku gemas,tingkahmu,senyummu,semuanya membuatku ingin memelukmu,menciummu dan ..."
Aera mengecup bibir Alvarendra membuatnya berhenti berucap berganti dengan sebuah senyum kemenangan.
"Hentikan..."
Aera menenggelamkan wajahnya di bawah selimut,menyembunyikan wajah merahnya itu.
Alvarendra ikut masuk ke bawah selimut dan menangkap Aera dengan ciumannya,tangannya sudah secara naluri meraa lekuk tubuh istrinya itu.
Semua yang ada di Aera membuatnya seperti sedang meminum alkohol paling memabukan di dunia.
Aera pun sama,dia selalu menyambut setiap sentuhan suaminya itu dengan lembut walau berkesan hati - hati tapi Aera tak bisa mengendalikan nalurinya saat berhadapan dengan Alvarendra,ada magnet yang terus membuatnya tertarik.
Malam itu,kembali deru nafas mereka bersatu di dalam dinginnya malam itu menciptakan suasana hangat yang memabukan.
Jangan pergi dari sisiku...
Aera
Jangan berpikir pergi dari jerat cintaku yang ku ikat kuat - kuat
Alvarendra
Aera yang introvert,Alvarendra yang meluap-luap bagaikan magnet dengan kutub berbeda selalu tarik menarik dan akhirnya menyatu.
Cinta memang menyatukan hal yang berbeda.