WONDERWOMAN IN WONDERLOVE

WONDERWOMAN IN WONDERLOVE
LULUH



Aera mengobrak abrik isi koper yang disiapkan ibu mertuanya itu dengan perasaan gusar.


Bagaimana Aera tak gusar,kalau baju tidur yang di siapkan ibu hanya lingerie sexy.Aera pun baru menyadari niat hati ibu mertuanya itu yang tak ingin dia mempacking bajunya sendiri setelah melihat isi kopernya yang hanya baju untuk pergi dan lingerie.


Tak ada satupun baju normal untuk dia kenakan,bahkan baju untuk bersantai pun adalah dress mini yang memperlihatkan punggung dan dadanya.


Aera langsung menutup kopernya saat Alvarendra keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Aera tak berani memandang Alvarendra dan langsung membawa kopernya masuk ke dalam kamar mandi,Alvarendra yang melihatnya nampak tahu isi koper Aera.


Di banding dengan Ayahnya,ibunya memang lebih ingin cepat mempunyai cucu dan ucapannya yang mengatakan Aera tak perlu packing terdengar sarat akan makna baginya.


Alvarendra menggelengkan kepala sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Setelah mandi Aera mengenakan lingerie putih yang menurutnya agak menutupi tubuhnya karna ada kimononya,dia bercermin dan merasa malu sendiri melihat dirinya.


Kimono tipis itu tidak membuat tubuh tertutup,Aera meraih kembali handuknya dan menutupi bagian atas tubuhnya.


Dia keluar dari kamar mandi dengan langkah mengendap - endap,melihat lampu kamar yang redup Aera berharap Alvarendra sudah terlelap.


Dia berjingkat kecil mendekati tempat tidur,dan menghela nafas lega melihat Alvarendra yang tengah terlelap.


Selamat aku malam ini...


Aera meraih ponselnya dan mulai memeriksanya,setelah sekian lama di sita oleh Alvarendra akhirnya ponsel itu kembali padanya saat perjalanan menuju bandara.


From : Kak Rafanza


Aku mengkhawatirkanmu,hubungi aku** ...


Aera mulai membalas pesan Rafanza


Aku sedang liburan kak,maaf membuatmu khawatir.


Aera tahu,Rafanza pasti mencarinya dan Alvarendra tentu tidak akan bilang kalau Rafanza menghubunginya,seperti waktu itu.


Tiba - tiba Rafanza menelponnya,walau ragu dan sempat melirik Alvarendra yang masih terlelap Aera mengangkatnya.


"Ya kak? Aku baru akan tidur"


Ucap Aera berbisik


"Kenapa kau berbisik seperti itu?"


Kata Rafanza penasaran,hatinya merasa senang walau hanya mendengar suara Aera yang nyaris tak terdengar oleh telinganya.


"Aku mengkhawatirkanmu,mengapa kau tak membalas pesanku?"


Cecar Rafanza


"Kak,aku baik - baik saja.Alvarendra sedang tidur aku tak mau membangunkannya,aku akan menghubungimu nanti"


Aera langsung menutup panggilan itu tak ingin Alvarendra mendengarnya.


Tanpa Aera tahu,malam itu hati Rafanza tercabik mendengar Aera sedang bersama dengan wanita yang ia cintai itu.


Aera menyimpan ponsel di atas rakas pelan,tak ingin menimbulkan suara apapun.


Alvarendra menarik handuk yang tersampir di pundak Aera,dan menjatuhkan Aera ke kasur bersamaan dengan tubuhnya yang menindih Aera.


Aera terkejut dan ingin berontak namun menggerakan tangan pun sudah tak bisa karena kedua tangannya di genggam erat oleh Alvarendra.


"Sudah ku bilang jangan berhubungan dengan lelaki lain"


Alvarendra menatap Aera tajam.


Lingerie yang di pakai Aera itu sudah terlihat jelas oleh Alvarendra,membuatnya pusing dengan hasratnya sendiri.


"Aku hanya mengangkat telepon dari Rafanza sebentar"


Ucap Aera yang mulai meremang,matanya sudah tak berani menatap Alvarendra yang hanya menggunakan kimono berbahan katun lembut itu.


"Jangan sebut nama lelaki lain di hadapanku"


meremas jemari Aera,hasrat dan emosinya sudah menyatu.


Aera bungkam,pikirannya sibuk mencari cara lepas dari Alvarendra.


"Mengapa?mengapa aku tidak boleh menyebut nama lelaki lain saat bersamamu? dan mengapa aku tidak boleh dekat dengan lelaki lain?"


mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menanyakan pertanyaan yang selalu membuatnya bingung.


Alvarendra ******* bibir Aera,nafasnya sudah terdengar berat namun Aera masih tak membalas ciumannya.


Alvarendra melepaskan ciumannya dan menatap dalam mata Aera yang mulai sayu.


"Kau yakin tak tahu alasannya?"


Ucapnya dengan suara rendah,suara deburan ombak dari luar menambah keromantisan suasana kamar itu.


Aera menggelengkan kepala pelan,memberanikan diri menatap kedua bola mata Alvarendra lebih dalam mencari alasan pria itu bersikap seperti ini bila dia berhubungan dengan Rafanza.


Ujar Aera lugas meski dengan nada pelan.


"Lihat aku... apa aku seperti lelaki yang akan mencium sembarang wanita?"


memandang Aera dengan wajah yang mulai frustasi


Aera mengigit bibir bawahnya sendiri sambil mengalihkan pandangannya ke kanan dan ke kiri,sambil berpikir.


Kau takan selamat malam ini kucing liar!


Ekspresi itu semakin membuat hasrat Alvarendra naik,namun Alvarendra masih menunggu jawaban Aera dengan sabar.


"Apa kesimpulanmu?"


Penasaran tentang apa yang di pikirkan Aera dengan ekspresi itu.


"Mungkinkah... kau..."


Ragu mengatakannya dan tak melanjutkan perkiraannya itu,masih ada perasaan takut dipermainkan oleh Alvarendra.


"Ya ... aku mencintaimu,aku ingin memiliki hati dan dirimu seutuhnya"


ucap Alvarendra tulus


Aera membulatkan matanya,tak percaya bahwa perkiraaan konyolnya itu benar.


"Apa tidak boleh aku menginginkanmu?"


Alvarendra masih mencari jawaban Aera yang samar di pikirannya.


Aera tetap bungkam,masih kaget dengan pernyataan Alvarendra.


"Kau istriku,aku berhak atas dirimu"


Ucap Alvarendra lagi penuh penekanan setelah melihat keraguan di mata Aera.


"Tapi ... awalnya kita menikah bukan karena saling mencintai,dan kau pernah mengancamku akan mempermainkanku"


pecah sudah segala hal yang mengganjal dari dalam hati Aera


"Aku tahu"


Alvarendra muram mengingat hari - hari awal pernikahan mereka.


"Entah sejak kapan,tanpa sadar hatiku tertarik padamu,aku tak memikirkan wanita lain lagi "


Wajah Alvarendra merona merah mengakui segala kebodohannya yang tak menyadari perasaaannya lebih awal.


"Hatiku sakit mendengarmu menangis,aku ingin menjadi tempat kau mengadu tentang segala bebanmu"


Aera menatap mata Alvarendra yang berkaca - kaca.


Setelah orang tuanya pergi,akhirnya seseorang mengatakan itu dengan tulus di depan matanya dan membuat hatinya bergetar.


Alvarendra menyeka ujung mata Aera yang mulai basah


"Kau menangis?"


Khawatir membuat Aera takut lagi,dan mulai melepaskan genggamannya.


"Aku tahu ini terdengar lemah dan bodoh,tapi aku senang mendengar seseorang ingin menjadi tempatku berbagi beban di hatiku"


Aera menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum kecut.


Alvarendra tersenyum dan menyelipkan rambut Aera ke telinganya,mencium pipi Aera sekilas.


"Ijinkan aku menjadi tempat untukmu berbagi segala perasaan yang ada di hatimu"


Alvarendra mencium lembut bibir Aera yang sudah membuatnya ketagihan itu dan kali ini Aera membalasnya,membuat Alvarendra tersenyum dalam ciuman dalam mereka


Aera memeluk Alvarendra lembut,dia tak lagi menahan nalurinya untuk mengekspresikan perasaannya.


Sekeras apapun Aera berusaha untuk menahan perasaannya pada Alvarendra dia sebenarnya tak berdaya,dia berusaha mengalihkan perhatiannya pada pekerjaan namun dengan satu kalimat yang terlontar dari mulut Alvarendra pertahanannya runtuh seketika.


Meski masih ada keraguan,Aera sudah larut dan masuk ke dalam hasratnya dan mulai bersatu dengan Alvarendra.


Alvarendra yang merasakan Aera memberikan lampu hijau padanya dengan gerakan tubuhnya pun mulai menciumi tiap lekuk tubuh istrinya.


Dia merasa bersyukur bisa melampiaskan hasratnya pada wanita yang telah sah menjadi istrinya itu setelah sekian lama dia menjaga hasratnya pada wanita manapun yang menggodanya.


Malam itu,hanya ada suara deburan ombak dan deru nafas kedua insan yang sedang mengekspresikan bentuk cintanya satu sama lain.


Alvarendra seakan seperti tak ada lelahnya,meski dia menjaga agar Aera tak terluka dan berlaku lembut tetap saja itu membuat Aera kelelahan dan terlelap di dadanya.


Karena malam itu,Aera harus bersiap menghadapi suaminya yang mulai kecanduan dengan setiap jengkal tubuhnya itu.


Satu gerak geriknya saja mampu membangkitkan hasrat Alvarendra yang tak lagi terbendung.


Cinta memang selalu memabukan...